oleh

Bersosial Media dengan Bijak, Melawan Hoaks yang Marak Beredar

-Opini-32 kali dilihat

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi terbukti telah menstranformasi seluruh aspek kehidupan (pendidikan, budaya, sosial, ekonomi, politik, hankam), sangat masif sehingga perlu dibarengi dengan literasi teknologi dengan segala dampaknya.

Hal ini dimaksudkan agar teknologi informasi dan komunikasi yang diibaratkan “pedang bermata dua” dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya dan meminimalisir kerugiannya.

Generasi milenial yang lebih banyak menggunakan teknologi informasi untuk sarana komunikasi, sumber informasi, membangun relasi dan komunitas, perlu mendapat edukasi dan literasi, agar tidak “tersesat” dalam belantara informasi.

Berkaitan dengan generasi milenial, di Inna Garuda Yogyakarta tanggal 25 Oktober 2018,  Kominfo RI dan Dinas Kominfo Kota Yogyakarta menyelenggarakan Forum Diskusi Publik bertajuk: “Bijak Bermedia Sosial untuk Indonesia Maju”.

Peserta berasal dari komunitas blogger, Kompasiana Yogya (KJOG), pendidik, mahasiswa, peserta Kirab Pemuda 2018 dari seluruh Indonesia, dan masyarakat umum. Sasaran utama diskusi ini generasi milenial yang menghadapi tantangan “tsunami” informasi baik yang memberi manfaat, maupun mengandung mudarat dan bohong (hoaks).

Informasi tidak sehat, berisi ujaran kebencian, perudungan, “bullying”, mengadu domba, melalui media sosial, berpotensi merugikan yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan.

Namun kita juga tidak dapat mengelak bahwa informasi sebagai kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan, mengharuskan  memakai gadget sebagai alat untuk mencari informasi.

Setiap orang sangat tergantung dengan gadget, akibatnya bila listrik mati, jaringan ngadat, infrastruktur  minim, tidak ada koneksi internet, maka pemilik gadget seperti “mati gaya”, bingung, canggung, resah, gelisah, bosan, “merasa” di dunia lain karena tahu informasi.

Begitu dibutuhkannya Informasi, bisa menjadi “komoditas” yang dapat diperjual belikan, dan senjata  mengalahkan persaingan yang semakin ketat. Siapa yang menguasai informasi dialah yang menang dalam persaingan. Masalahnya tidak semua informasi itu benar, sehat, dan bermanfaat. Sering informasi yang diterima itu tidak benar, bohong (hoaks), sehingga membingungkan.

Untuk mencari informasi perlu jaringan intenet, yang penggunanya terus meningkat signifikan. Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet di Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia tahun 2017 meningkat menjadi 143,26 juta jiwa (54,68 persen) dari jumlah penduduk sebesar 262 juta. Sebelumnya (2016) pengguna internet sebesar 132,7 juta, artinya dalam satu (1) tahun naik sebesar 10,56 juta jiwa (https://apjii.or.id/).

Mereka memerlukan pulsa dan kuota, untuk dapat menggunakan internet. Daya beli masyakarat untuk pula tinggi, sebulan rata-rata  Rp 100.000,-, untuk membeli informasi yang dibutuhkan, dan  bermedia sosial. Namun sering informasinya  ternyata hoaks, sehingga merugikan secara material, moral, dan rasa tidak aman dan tidak nyaman.

Kebutuhan masyarakat terhadapa informasi mengalami transformasi dari off line ke online. Pengguna internet generasi muda (usia 19 – 34 tahun) ternyata mendominasi yaitu sebesar 49,52 persen, dan jenis kelamin laki-laki 51,43 persen, perempuan 48,57 persen.

Mereka menggunakan internet untuk bermedia sosial (Line, Washapp, Facebook, Instagram). Media sosial sebagai  identitas, sehingga ramai-ramai membuat akun untuk membuktikan esksistensi kepada publik, bahwa generasi milenial itu ada.

Apalagi pada masa pilpres dan pileg generasi milenial menjadi harapan para kandidat untuk menarik simpati agar memberikan suaranya dalam pemilu 2019. Masalahnya tidak semua informasi yang berseliweran di media sosial itu benar, tetapi banyak yang hoaks.

Untuk mengatasi informasi hoaks dalam media sosial, siapapun harus bijak mensikapinya. Kesalahan terbesar yang tidak pernah disadari adalah: “Keinginan menjadi orang pertama yang menyebarkan informasi, padahal informasinya belum tentu benar”.

Anehnya, sebagai alibi supaya seseorang itu bukan “peserta” penyebar informasi bohong , selalu mencantumkan: “dari grup (tetangga) sebelah”, seolah dapat lepas tangan bila informasi itu ternyata hoaks.

Sebagai orang yang bijak dalam bermedia sosial, semestinya memilih dan memilah terlebih dahulu informasi yang diterima sebelum menyebarkannya kepada orang lain. Jadi, jari tangan ini jangan lebih cepat dari pikiran. Artinya, tahan dulu sebelum copy paste (copas) kepada orang lain siapapun dia, karena menyebar berita hoaks berarti secara  sengaja atau tidak disengaja (karena ketidaktahuan) dapat dikena pasal 28 (1 dan 2) UU No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Isi pasal pasal 28 ayat 1 dan 2 intinya: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan serta mengakibatkan kerugian. Menyebarkan informasi untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu bedasarkan atas suku, agama, ras dan antar golongan (SARA)”.

Bila perbuatan seseorang memenuhi kriteria tersebut, maka dapat dipidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah).

Oleh karena itu baik di pembuat informasi hoaks maupun penyebarnya bila terbukti, ada saksi, dan pengakuan dapat dijatuhi pidana penjara maupun denda. Jadi hati-hatilah dan bijak dalam bermedia sosial.

 

Yogyakarta, 26 Oktober 2018 Pukul 08.55
Ditulis oleh: Sri Rumani

Tulisan ini terbit di KOMPASIANA dengan judul “Melawan Hoaks, Bijak dalam Bermedia Sosial”

Indira Mulyasari

Komentar