oleh

Buku Kelong-Kelongna Tau Mangkasaraka karya Dr. Kembong Daeng di Launching

-Budaya-199 kali dilihat

BERITAKU.ID, MAKASSAR – Malam sajak Makassar dan Launching buku Kelong-Kelongna Tau Mangkasaraka buah tangan Dr. Kembong Daeng usai dilaksanakan di Cafe Turatea Jl. Mallengkeri, Rabu (26/12/2018).

Buku berbahasa Makassar dengan tulisan lontara ini berisi kearifan lokal yang sangat kental.

Dalam sambutannya, penulis mengungkapkan jika buku ini merupakan karyanya yang ke 16. Ia berharap semoga buku yang ini bisa dijadikan media pendidikan karakter kepada anak-anak.

Lebih lanjut, Dr. Kembong Daeng menjelaskan bahwa anak-anak saat ini banyak yang mengaku orang Makassar, tetapi bahasa Makassar sendiri menjadi lebih asing dari bahasa asing.

“Akhirnya, banyak anak-anak kita yang mengaku suku Makassar tetapi bahasa Makassar bagi mereka lebih asing dari bahasa asing. Tentu kita sudah menyadari hal itu,” ungkap ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah UNM ini.

Saat ini kebanyakan bahasa daerah, sastra daerah, budaya daerah termasuk Makassar hanya dijadikan objek penelitian.

“Karena itu saya mencoba bukan hanya penelitian tetapi mari kita berbuat, berkreasi mencipta karena siapa lagi kalau bukan kita.” harapnya.

Pada launching ini, menghadirkan penulis dan penggiat literasi Sulsel, Andhika Mappasomba sebagai pembicara dengan menggunakan bahasa Konjo sebagai pembuka. Hadir juga Damar I Manakku, dan Muh. Fadli yang juga sebagai pembicara.

Dalam sesi tanya jawab, penulis beberapa kali membacakan kelong yang ada dalam buku yang ditulisnya itu.

Dr. Kembong Daeng

Andi Agus Salim, dosen FBS UNM yang turut hadir mengungkapkan bahwa buku ini adalah jendela kedua yang dibuka seluas-luasnya oleh penulis untuk masyarakat terutama anak-anak muda di Makassar yang semakin kehilangan identitas.

Sementara itu, Asis Nojeng berharap ada buku yang isinya bukan hanya kelong-kelong (nyanyian-nyanyian) tetapi juga tentang orang Makassar.

“Kita menemukan banyak orang bugis tetapi sangat kurang referensi tau mangkasarak (orang Makassar). Saya berharap penulis agar bisa menulis kelong-kelong na tau mangkasara. Bukan hanya tahu kelong-kelong-nya tetapi juga tau Mangkasarak-nya. Sehingga tidak lagi mencari referensi yang lain bagaimana orang Makassar itu,” harapnya.

Kusuma Jaya Bulu sebagai pelaksana launching ini mengungkapkan kebanggaan karena buku seperti ini sangat berharga. Buku yang berisi 101 kelong ini memiliki pelajaran yang sangat tinggi di dalamnya.

Saat ini, Dr. Kembong Daeng masih memiliki tulisan kelong-kelong sekitar 1500 judul yang memiliki karakter sendiri dan berbeda dengan buku yang dilaunching ini.

Indira Mulyasari

Komentar