oleh

Kenali Perjuangan Arung Palakka, Raja Bone Penuh Kisah

-Feature-14 kali dilihat

BERITAKU.ID, FEATURE – Roman geram tampak pada wajah pria muda itu. Awal tahun 1660, dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan lebih dari 10.000 orang dari negeri asalnya dijadikan pekerja paksa. Orang-orang Bone itu dipekerjakan untuk menggali kanal di sepanjang pesisir Makassar sebagai garis pertahanan dalam rangka peperangan melawan VOC.

Lelaki yang menahan murka tersebut bernama Arung Palakka. Ia adalah putra mahkota Bone. Sejak usia 11, sang pangeran sudah menjadi tawanan Kesultanan Gowa di Makassar. Maka tidak heran, impian untuk bisa melepaskan diri dari kekuasaan Gowa selalu tertanam di hati dan pikirannya.

Kelak, cita-cita itu akhirnya terwujud meskipun harus dilakukan dengan pertaruhan yang amat besar. Arung Palakka terpaksa bekerjasama dengan kaum penjajah untuk membebaskan rakyat Bone dari penjajahan Gowa. Itulah sebabnya citra Arung Palakka hingga kini terbelah menjadi dua, antara pahlawan atau pengkhianat, antara surga dan neraka.

Dendam Sang Putra Mahkota Arung Palakka (sering pula ditulis Aru Palaka) lahir pada 15 September 1634. Ia adalah putra Raja Bone ke-XIII La Maddaremmeng Matinro’e Ri Bukaka. Meskipun berstatus sebagai pangeran, bukan berarti Arung Palakka bisa menikmati hidup enak. Sebaliknya, ia terlahir dalam suasana konflik antar-kerajaan di Sulawesi Selatan.

Baca Juga:  Kunci Sukses Pemimpin Dalam Berbisnis

Polemik tersebut sebenarnya terjadi jauh sebelum Arung Palakka dilahirkan. Setidaknya ada 4 kerajaan yang terlibat, yaitu Bone, Soppeng, Wajo, dan Gowa-Tallo. Dari keempatnya, Gowa-Tallo adalah kerajaan yang paling berpengaruh dan bernafsu untuk memperluas wilayah kekuasaannya.

Puncak pertikaian terjadi saat Gowa-Tallo resmi menjadi kerajaan Islam pada 1605. Seperti dicatat dalam Sejarah Nasional Indonesia, Volume 3 (2008), Kerajaan Gowa—yang sudah berganti corak menjadi kesultanan—mulai memaksa tiga kerajaan lainnya untuk menganut agama yang sama sekaligus meluaskan pengaruh politiknya (hlm. 83).

Bone yang berpuluh-puluh tahun sebelumnya cukup merepotkan Gowa akhirnya harus menyerah pada 1611. Sejak saat itu, Bone ikut menganut ajaran Islam dan menjadi taklukan Gowa. Meskipun begitu, kedudukan raja Bone masih diakui dan sempat dimerdekakan kendati rangkaian konflik masih saja terjadi di era-era setelahnya.

Tahun 1643, Bone benar-benar jatuh dan wilayahnya diperintah langsung oleh Sultan Gowa. Peristiwa tersebut terjadi ketika Bone dipimpin Sultan La Maddaremmeng yang tidak lain adalah ayahanda Arung Palakka.

Baca Juga:  Kisah Haru Andini, Bocah 14 Tahun yang Hidupi Dua Adiknya Seorang Diri

Takluknya Bone kepada Gowa membuat Arung Palakka dan keluarganya dijadikan tawanan. Sejak umur 11, ia sudah merasakan bagaimana pedihnya hidup tanpa kebebasan kendati perlakuan keluarga Kesultanan Gowa terhadapnya tidak terlalu buruk.

Menurut Palloge Petta Nabba dalam Sejarah Kerajaan Tanah Bone (2006), Arung Palakka dan keluarganya dijadikan pelayan di kediaman Perdana Menteri Gowa, Karaeng Pattinggaloang. Namun Pattinggaloang tetap menaruh respek kepada keluarga Arung Palakka, dan Arung Palakka pun tumbuh menjadi seorang pemuda cerdas dan gagah di bawah bimbingannya (hlm. 124).

Hingga suatu ketika, Arung Palakka akhirnya bisa terbebas dari cengkeraman Gowa setelah terjadi aksi pemberontakan orang-orang Bone yang dipimpin Tobala. Tobala sebenarnya adalah orang Bone yang ditunjuk sebagai Regent atau Bupati Bone sebagai kepanjangan tangan dari Gowa.

Lari dari Gowa, Arung Palakka kemudian berlindung di Kesultanan Buton. Selama tiga tahun tinggal di Buton yang saat itu dipimpin La Sombata atau Sultan Aidul Rahiem, Arung Palakka bersiap untuk melakukan pembalasan.

Penulis: Iswara N Raditya

Editor: Sy

Komentar