Mengenal Komunitas Tobonga

07/08/2019-Komunitas-138 dilihat

BERITAKU.ID, KOMUNITAS – Pematang sawah menghampar, dengan liukan-liukan yang menjadi bangunan mewah dipandang mata, gemersik air adalah bagian dari sejuknya pagi hari dipedesaan, Selasa (6/82019).

Sanggar seni Sikamaseang berubah bentuk menjadi Komunitas Tobonga, dengan program-program menarik dan pengembangan seni dari penyatuan pemain dengan alam.

sebagai bentuk evolusi dari komunitas ini, Komunitas Tobonga membentuk empat kelompok atau semacam pembagian fokus kegiatan yakni;

  • Sanggar Seni dan Budaya Tobonga;
  • Kelompok Pemuda Tani Tobonga;
  • Sikola Budaya Tobonga; dan
  • Kelompok Usaha Bernama Tobonga.

Jadi, ke empatnya menggalang anggota komunitas sesuai minat dan potensinya masing-masing.

Kelompok pemuda Tani Tobonga, mewadahi kecintaan anak-anak muda pada pertanian. Di komunitas inilah, anak-anak muda dimotivasi untuk menjadi petani. Komunitas Tobonga ikut bercocok tanam secara berkelompok. Visi utamanya adalah bagaimana tumbuh kecintaan terhadap dunia pertanian sebagai sebuah potensi besar di desa.

Kelompok Usaha Tobonga, menampung bakat dan skill anak-anak muda kampung yang selama ini tidak tersalurkan. Mereka membentuk Kelompok Usaha Bersama (Kube) Tobonga.

Sejauh ini, berbagai kegiatan telah mereka lakukan seperti bengkel, las, pembuatan kursi sofa, variasi jok mobil dan lainnya. Sekadar informasi, sudah ada anggota komunitasnya yang mulai mandiri dengan mendirikan usaha sendiri.

Sementara sikola Budaya Tobonga dijadikan kelompok belajar budaya. Pesertanya adalah anak-anak remaja.

Mereka belajar tentang budaya lokal dan bagaimana mengolah nilai-nilai lokal yang otentik seperti mengeq (ketelatenan), sabbaraq (kesabaran), parrang (kuat mental), assibali’i (gotong royong), gattang (teguh pendirian) dan nilai-nilai lokal lainnya. Dari belajar kearifan lokal, anak-anak muda itu diharapkan memiliki karakter kuat serta etos kerja bertanggungjawab di lingkungan sosialnya.

Nah, bagaimana dengan Sanggar Seni Budaya Tobonga. Komunitas ini concern mengolah bahkat seni anak-anak remaja dan masyarakat. Melalui teater, Komunitas Tobonga telah mengharumkan nama baik desa Bonto Salama.

Awalnya, aktivitas Kak Abi dicemooh warga karena sering berlakon seperti “orang sinting”, berteriak-teriak di pematang sawah. Padahal, mereka sebetulnya sedang belajar “olah vokal”—latihan inti dari pemain teater.

Menariknya, latihan teater melibatkan anak-anak dan warga dari semua profesi tanpa harus melihat latar belakang pendidikannya. Kak Abi, sangat tekun melatih mereka.

Sebagai seorang aktor kawakan dan penyair, Kak Abi memang punya pengalaman di kampus dan sejumlah kelompok teater. Panggung pementasan pun diciptakan yang awalnya secara swadaya, sekadar menghibur warga desa.

Dari remaja yang bandel, pembalap liar, bahkan seorang remaja yang akrab disapa pepe (tuna runggu) juga jadi aktor teater. Mereka berbaur melakonkan pelbagai naskah dengan konten performance yang jelas yakni mencerahkan warga dengan jenaka.

Walhasil, mereka disulap layaknya pemain teater jagoan. Mereka percaya diri. Pementasan tahunan di tingkat Kabupaten Sinjai, tiga tahun berturut-turut sejak 2015, dimenangi Komunitas Tobonga.

Komunitas Tobonga juga berhasil mendapat Hibah Cipta Perdamaian dari Yayasan Kelola (2018). Dengan bantuan Kelola, Komunitas Tobonga mementaskan “Teater Pematang Sawah” di desa Bonto Salama—sebuah pementasan yang mengangkat masalah petani.

Pementasan ini mendapat respon positif dari stakeholders pemerintah Sinjai dan terutama masyarakat. Kebanggaan yang luar biasa, tidak saja karena nama Bonto Salama yang terus berkibar, tetapi karena adanya perubahan karakter dari anak-anak muda di Komunitas Tobonga.

Anak-anak nakal, pelan-pelan berubah menjadi baik dan mau belajar. Seorang pepe yang tidak ingin disunat padahal sudah beranjak dewasa akhirnya bisa disunat berkat teater.

Dari waktu ke waktu, semakin banyak anak-anak muda yang tertarik bergabung di Komunitas Tobonga. Energi positif mulai menyala di pedalaman.

Sebuah rumah sederhana berhasil dibangun secara gotong royong dan dijadikan sebagai markas berkegiatan. Di situ juga ada Taman Baca. Jadi, anggota komunitas dapat berkumpul setiap saat, membaca, dan berdiskusi. Teater jalan terus.

Belum lama ini, Komunitas Tobonga memenangi sebuah perlombaan teater bergensi di tingkat Provinsi Sulawesi-Selatan (18-19 September lalu). Komunitas Tobonga pun berhak mewakili Sulawesi-Selatan ke tingkat nasional yang akan mentas di Banten pada 29 November mendatang.

Desa kecil pedalaman bernama Bonto Salama yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Kabupaten Sinjai kini terus jadi bahan perbincangan. Komunitas Tobonga menginspirasi banyak orang, bagaimana teater bisa mengubah cara pandang masyarakat.

Warga desa Bonto Salama, setidaknya paham tentang teater. Anak-anak desa mulai berbangga hati bila berkomunitas di Tobonga. Para stakeholder desa juga mulai aktif melibatkan Tobonga dalam pembahasan masalah-masalah kemasyarakatan.

Kak Abi telah menapaki jalan terjal berkesenian, tetapi ia sukses memanen kebaikan demi kebaikan. Sebuah buku berjudul “Filosofi Masalah” (Kearifan-Kearifan Komunitas Tobonga dalam Menyelesaikan Masalah) terbit Januari 2018 lalu ditulis Kak Abi.

Di buku inilah kisah inspiring mengenai perjalanan penuh liku Kak Abi dan Komunitas Tobonga dibicarakan. Saya termasuk yang terpesona membacanya, tidak saja karena akhirnya paham tentang Komunitas Tobonga, tetapi juga saya paham tentang perlunya kegigihan dalam berjuang.

Tak ada masalah tanpa masalah, semua harus dihadapi dengan bersikap wajar dan tenang. Ini prinsip yang ditanamkan Kak Abi pada dirinya (yang narasi cintanya juga lumayan cadas) juga pada komunitasnya.

Semua akhirnya berbangga bisa menjadi bagian dari Komunitas ini. Sebuah kaos bertuliskan judul pementasan terbarunya laris manis di pasaran. Seperti mimpi seorang Abidin Wakur pada anak-anak kampung: “suatu saat semua orang akan membicarakan dan akan berbangga bila memakai hal-hal yang berbau Tobonga”.

Ini sudah terwujud. Tentu, yang terberat adalah merawat dan mempertahankannya. Apa pun itu, Tobonga telah menginspirasi, bahwa seni dapat dijadikan sarana berjuang.

Khususnya teater, semestinya mendirikan panggung di pusat persoalan masyarakat (di desa misalnya), tidak justru hanya mendehem di ruang empuk dengan bayaran menggiurkan.

Penulis: Anis Kurniawan
Editor:
Sumber: https://www.kompasiana.com/aniskurniawan/5bbafe50ab12ae20dd555d05/abidin-wakur-komunitas-tobonga-dan-panggung-teater-di-pedalaman?page=all

PILIHAN Beritaku

Komentar