oleh

Perebutkan Sawah, Duel Parang Antar Warga Pinrang Dua Orang Tewas

-Peristiwa-34 kali dilihat

BERITAKU.ID, PINRANG – Dua warga tewas saat duel menggunakan parang akibat memperebutkan sawah seluas 20 Hektare di kampung Ujung Kelurahan Tirong, Kabupaten Pinrang, Minggu Pagi (11/11/2018).

Duel Parang yang dipicu perebutan sawah sengketa ini melibatkan dau kelompok. Kelompok pertama beranggotakan 2 orang dan yang kedua berjumlah 7 orang.

Nasir alias Lakilu (50), warga dusun Padang Desa Padangiloang, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pingrang meninggal dunia akibat tertususk di bagian dadanya.

Sementara Nasir dan H Massi (60) dari kelompok pertama, Warga dusun Padang, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang menderita sabetan parang pada bagian tangannya, saat ini masih dirawat di RSUD Lasingrang Pinrang.

Sementara kelompok kedua Puang Lambulang (70) warga Takkallal Timur, Kelurahan Maccarinna, Kecamatan Patampanua, Pinrang, meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju Puskesmas Tiroang.

Kejadian maut tersebut terjadi sekitar pukul 09.00 Wita. Adu Parang kedua pihak ini diawali dengan perang mulut antar kedu kelompok. Merka saling mengklaim tanah sawah yang di sengketakan.

Pada saat adu mulut tidak didapatkan kesepakatan sehingga emosi kedua pihak terus membara. Pihak kedua Lambulang mencabut parang dan menebaskan Nasir alias Lakilu namun sempat dItangkis.

Lambulang jatuh terkapar tak berdaya setelah Nasir melayangkan serangan balasan. Melihat kejadian tersebut, empat anggota Lambulang secara bersamaan menyerang Nasir.

Nasir sempat melakukan perlawanan namun kewalahan menghadapi empat serangan parang. satu tusukan parang masuk kebagian dada hingga Nasir tersungkur dan tewas di tempat kejadian.

Sedangkan duel parang H Massi dengan Puang Lobi mengankibatkan luka sabetan parang pada bagian tangan kiri H Massi dan dilarikan ke RSUD Type C Lasinrang.

Kasat Reskrim Polres Pinrang AKP Suhadi membenarkan peristiwa tersebut, kasus perkelahian ini sedang ditangani pihak aparat Polres Pinrang.

 

Editor: Syahrul

Indira Mulyasari

Komentar