Seberapa Buruk-Kah Ekonomi Indonesia?

03/03/2019-Opini-49 dilihat

Oleh : Arifudin

Kecemasan mulai terasa akibat rupiah yang melemah. Namun, seberapa buruk ekonomi Indonesia saat ini? Walau perbandingan situasi saat ini dengan Krisis Keuangan Asia 1998 mungkin terlalu dini atau terlalu mengkhawatirkan, namun terdapat alasan untuk khawatir. Utang publik meningkat tajam, naik 40 persen menjadi $295 miliar dari $210 miliar ketika Jokowi menjabat empat tahun lalu. Penguatan dolar, kenaikan suku bunga AS, dan depresiasi rupiah, tidak akan membantu angka-angka tersebut.

Selama beberapa minggu, bulan terakhir, kekhawatiran telah muncul akibat melemahnya mata uang Indonesia, rupiah, di mana nilainya mendekati titik terendah sejak Krisis Keuangan Asia 1998. Memang, Indonesia bahkan telah disebutkan dalam lingkup yang sama dengan pasar negara berkembang lainnya seperti Argentina dan Turki, di mana utang yang tinggi dan kurangnya kepercayaan di kalangan investor internasional mengancam sebuah kegagalan ekonomi.

Mengingat statusnya sebagai negara ekonomi terbesar di ASEAN, dan rekor sebelumnya dalam berkontribusi terhadap jenis pengaruh yang membuat kawasan ini bertekuk lutut dua dekade yang lalu, Indonesia selalu menjadi kekhawatiran utama dalam hal ini. Tapi para analis, pejabat pemerintah, dan Bank Indonesia (BI) belum mengumumkan kewaspadaan.

Semuanya berusaha keras untuk menekankan bahwa ekonomi Indonesia dalam kondisi yang jauh lebih baik daripada saat Krisis Keuangan Asia, yang memicu gangguan ekonomi yang meluas di Asia Tenggara, dan menyebabkan kerusuhan politik dan bahkan sosial yang lebih luas di Indonesia, termasuk kerusuhan anti-China.

Tidak ada keraguan untuk pemikiran ini. Satu contoh saja, misalnya, rasio utang terhadap ekuitas Indonesia pada saat itu menggelembung menjadi di atas 100 persen, dan sekarang hanya 29 persen, yang lebih baik dibandingkan dengan Thailand pada 42 persen dan Malaysia pada 54 persen. Pada indikator lain, seperti peringkat dan cadangan kredit, Indonesia berada pada posisi yang jauh lebih sehat daripada di akhir tahun 1990-an.

Namun, pada saat yang sama, terdapat alasan untuk khawatir. Sebagai contoh, utang publik meningkat tajam di bawah Presiden Joko Widodo, naik 40 persen menjadi $295 miliar dari $210 miliar ketika ia menjabat empat tahun lalu.

Melakukan pengelolaan lebih menantang dari kelihatannya: salah satu pemicunya adalah rencana Jokowi untuk menghabiskan $350 miliar pada proyek-proyek infrastruktur yang sangat dibutuhkan, yang merupakan inisiatif khas dari masa kepresidenannya.

Penguatan dolar, kenaikan suku bunga yang ditandai dengan baik oleh Federal Reserve Amerika Serikat (AS), dan depresiasi rupiah, tidak akan membantu angka-angka tersebut. Begitu juga perang perdagangan AS-China, maupun kebijakan yang tidak koheren dari Presiden AS Donald Trump yang bertentangan dengan situasi di tingkat global, di mana investor menghindari pasar negara berkembang.

Tapi, tidak seperti dua dekade lalu—ketika rupiah jatuh ke titik terendahnya sepanjang waktu—BI belum putus asa. Dengan rupiah turun delapan persen untuk tahun ini, bank sentral telah menaikkan tingkat kebijkannya (policy rate) sebesar 1,25 poin persentase dalam lima bulan terakhir.

“Komitmen Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas ekonomi, terutama rupiah, sangat kuat. Oleh karena itu, kami telah meningkatkan intensitas intervensi kami,” kata Gubernur Perry Warjiyo baru-baru ini kepada para wartawan, terkait dengan intervensi pasar.

Meskipun ini mungkin cukup untuk saat ini, namun pertanyaan kuncinya adalah bagaimana situasi berjalan dalam beberapa bulan ke depan, jika beberapa pemicu eksternal dan internal meningkat. Juga perlu dicatat bahwa ini bukan periode biasa: ini adalah waktu yang intens dalam politik Indonesia, di mana negara itu bersiap untuk apa yang diharapkan menjadi pemilihan presiden yang diperebutkan tahun depan yang akan menguji Jokowi.

Jadi, walau itu mungkin terlalu dini atau terlalu mengkhawatirkan untuk membandingkan situasi saat ini dengan Krisis Keuangan Asia, namun terdapat alasan untuk khawatir tentang situasi ekonomi Indonesia saat ini.

 

Editor: Sy

PILIHAN Beritaku

Komentar