Bertekad Hapus Stigma Buruk, 1 Komunitas Niqab Squad Ungkap Hal Ini

10/11/2019-Komunitas-41 dilihat

Beritaku.Id, Jakarta – Identitasmu terbentuk dengan hijab kalam Allah terukir dengan sangat sempurna jaga pandanganmu dari yang bukan halal bagimu bentengi hati demi menjaga kesucian cintaNya, Minggu, (10/11/2019). Stigma Buruk kadang dilabelkan kepada wanita berniqab.

Menjadi pilihan banyak wanita Indonesia, untuk berpenampilan. Wanita cadar yang kini tergabung dalam Niqab Squad pun ingin membuktikan bahwa hal tersebut bukan menjadi halangan untuk seseorang dalam bekerja, sehingga Stigma Buruk bisa di hapus.

Komunitas Niqab Squad, yang didalamnya terdiri dari kumpulan wanita yang ingin mengenakan niqab atau cadar dari berbagai latar belakang dan macam profesi. Ada yang bekerja sebagai fotografer, kepala sekolah, perancang busana hingga berprofesi sebagai seorang dokter.

Stigma Buruk kadang menerpa wanita bercadar
Wanita memakai Niqab

Ide Awal Untuk Melawan Stigma Buruk Wanita Bercadar

Indadari Mindrayanti adalah seorang pencetus, dari terbentuknya komunitas tersebut, ia menceritakan bahwa, ide awal untuk membentuk komunitas Niqab Squad, terjadi pada 2016 saat sedang mengobrol dengan desainer bercadar Diana Nurliana. Mereka merasa diperlukan, untuk menjadi wadah silaturahmi wanita bercadar yang kini jumlahnya semakin banyak, demi menepis Stigma Buruk tentang cadar.

“Ambu (diana) yang menjadi orang, yang menyemangati saya ketika bercadar. Diana yang terlebih dahulu sudah memakai cadar. Dan ketika melihat banyak wanita di luar sana yang bercadar seperti saya dan Diana. Jadi ya sudah kita bikin aja komunitas,” kata Indadari.

Indadari juga menjelaskan bahwa tujuan untuk membentuk komunitas bercadar atau niqab tersebut untuk merangkul wanita berhiqab maupun yang belum berhiqab.

“Namanya hijrah itu kan susah, jadi kita kalau bareng-bareng itu kan lebih mudah dan kami menfasilitasi,” jelas Indadari.

Wanita yang berusia 36 tahun tersebut menambahkan bahwa pemilihan nama Niqab Squad yang lebih kekinian, karena pada saat itu komunitas dengan nama depan hijab sudah banyak digunakan.

“Karena aku berniqab ya sudah aku pilih namanya niqab aja. Nama itu kita sering dibully karena memang lebih diterima masyarakat di luar dan orang awam sekalipun. Biar lebih ear catchy, lebih beda aja gitu,” ucap ibu dua anak ini.

Berdiri ditahun 2016 hingga saat ini, Niqab Squad semakin berkembang, dan istri dari Andre Saddam ini memaparkan bahwa anggota Niqab Squad jumlahnya sudah hampir 5.000 orang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Ada juga anggota yang tinggal di Malaysia dan Taiwan.

“Alhamdulillah nama Niqab Squad juga diterima sampai ke luar negeri. Mereka jadi tahu ada komunitas bercadar di Indonesia dari namanya Niqab Squad, yang rutin nanyain kegiatan kita itu dari New York Times, ramai banget minta liputan kegiatan kita, dari Jepang, Belanda, Australia, dan Malaysia mereka rutin nanyain kabar Niqab squad. Jadi bisa lebih berdakwah lebih luas kalau pakai nama yang universal. Dan karena target kita itu menjadi cahaya ditempat yang gelap. Bukan menjadi cahaya ditempat yang sudah terang,” ungkap Indadari panjang lebar.

Indadari dan para anggota Niqab Squad selalu membuka kesempatan untuk wanita bercadar lainnya atau yang belum bercadar untuk menjadi bagian komunitas mereka. Biasanya jika ada orang baru yang ingin membuat komunitas Niqab Squad di tingkat lokal, akan ada proses wawancara dengan yang bersangkutan.

“Diinterview dulu visi misinya harus disamakan. Pertama mereka bikin medsos, grup Whats App, begitu sudah ramai lalu buat gathering. Nah, dari situ mereka saling kenalan. Sambil menggaet member baru setiap tahun, mereka bikkin gathering untuk sosialisasi,” tutur pemilik dari brand Muslimah by Indadari itu untuk kampanye melawan Stigma Buruk bagi pengguna cadar

Saat gathering anggota Niqab Squad digelar, para anggota akan mendengarkan kajian. Selain itu momen tersebut juga menjadi ajang untuk saling menyemangati satu sama lain untuk konsisten berhijrah.

Desainer Diana Nurliana yang juga pendiri Niqab Squad menambahkan, memang tujuan gathering adalah agar para anggota yang sudah berhijrah selalu semangat menjalankan hijrahnya.

“Ada banyak cerita yang lucu dan menyedihkan. Ternyata kita nggak sendiri. Kita suka merasa kita sendiri akhirnya patah semangat. Kalau ketemu gitu akhirnya lebih semangat. Kita juga ada divisi kajian, keterampilan, karena ada yang jago masak, ada yang anak SMA,” cerita wanita lulusan Jurusan Psikologi Pendidikan Universitas Islam As-Syafiiyah itu.

Diana berharap dengan hadirnya Niqab Squad juga bisa membuka pikiran orang lain. Wanita bercadar tidak selalu kaum ekstrimis atau istri teroris tapi sama seperti wanita lainnya, sebagai salah Stigma Buruk yang selalu melekat bagi mereka.

“Aku pengen mengenalkan cadar ini menjadi sunnah yang dipakai istri Rasullullah bukan sesuatu yang menakutkan. Dengan ini kalian tetap bisa berprestasi, melakukan aktivitas apa pun. Percaya dengan melakukan ini pasti akan jadi kebaikan. Pengen ngajak orang-orang jangan skeptis ya karena sering memperlihatkannya seperti itu. Isu teroris pakai niqab, kalau sudah pesakitan baru cadaran. Masyarakat sudah mendengarnya negatif. Kita pengen mencoba mengubah pandangan itu,” harapnya.

Penulis: Wawan
Editor:
Sumber: Detik.Com

PILIHAN Beritaku