Teknologi Vs Pembangunan Karakter Pada 1 Bangsa

08/12/2019-Beritaku, Kolom, Opini, Pendidikan, Sekolah, Sorot-79 dilihat

Oleh Redaksi Beritaku.Id

Teknologi tidak bisa, menjadi hal yang utama, untuk program pembangunan karakter generasi bangsa, sebab teknologi dengan proses instan, akan melampaui proses motorik manusia.

Sehingga apabila seluruh upaya pendidikan, jika menjadikan teknologi sebagai ujung tombak tombak pendidikan, akan menghasilkan generasi robot. Inilah realitas sosial, yang terjadi dibeberapa dasawarsa terakhir ini.

Rektor ITB Prof Akhmaloka melihat, bahwa jika terdapat sebuah bangsa yang maju, maka ipteks (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni) bangsa tersebut juga maju.

Ipteks  pada suatu bangsa diibaratkan, tiga perwujudan yaitu sebagai penerobos kemajuan, mesin ekonomi, dan cahaya pencerah.

Argumentasi tersebut diatas adalah benar, sebab ilmu pengetahuanlah yang mengangkat derajat seseorang, menjadi manusia yang bermartabat, dengan seluruh keilmuan, yang melekat pada kepribadiannya.

Ilmu merupakan hasil uji, terhadap hipotesa pengetahuan, merupakan penemuan, yang membentuk serangkaian peradaban Negara, sementara peradaban Negara tercipta, dari culturisasi pendidikan bangsanya.

Namun tidaklah bijak, ketika yang dipandang berilmu, hanyalah yang telah menyelesaikan pendidikan bangku perkuliahan.

Tidak bijak, ketika para petani yang bekerja di sawah dan kebun, dianggap tidak berilmu, sebab mereka punya ruang dan dimensi lain, dalam hal belajar ilmu, yang empirisme atau naturalistic, mereka belajar bersama alam.

Entah, kalau ilmu yang dipelajari dan diadopsi, oleh para akademisi dan mengajarkan dibangku kuliah, saat ini adalah dasar pengetahuan, dari masyarakat, seperti petani yang teliti dan menjadikannya sebagai sebuah konsep ilmu.

Teknologi, merupakan pendukung dan juga sebagai tolok ukur, kemajuan ilmu pengetahuan, yang menjadi ekspektasi dari riset, untuk berguna sebagai fasilitas dalam mendukung.

Atau menopang aktifitas manusia yang dalam hal ini, memenuhi seluruh kebutuhan-kebutuhannya (kebutuhan dasar menurut Maslow).

Seni sebagai ruang-ruang penggambaran nurani, yang mengalir pada etika dan kemanusiaan, sebab seni mampu menciptakan suasana emosi, yang damai.

Seni mampu meredam kedangkalan berpikir, dalam suatu ruang yang imajinatif, seni mampu mengayun penikmatnya, hingga terlelap dalam proses mengikuti aliran alurnya.

Dalam kemajuan, ilmu pengetahuan sekarang ini, dengan beriringan kemajuan teknologi, sebagai hasil-hasil temuan terbaru.

Mampu membawa dunia, menjadi tanpa batas-batas wilayah, yang jelas dalam koneksitas yang terhubung dengan internet.

Kurturissasi dan enkulturisasi, adalah dua hal yang selalu melakukan transaksional, pada interkasi antar budaya.

Bahwa teknologi, mampu membawa berita di dusun, tentang kemajuan di belahan dunia seketika, tanpa harus membaca surat kabar atau buku atau kiriman melalui pos.

Teknologi yang merupakan, produk ilmu pengetahuan semakin gencar, dan teknologi menciptakan mesin-mesin robot dan memanjakan penggunanya.

Demosntrasi juga bagian dari Pembangunan Karakter
Salah satu kegiatan kaum terpelajar untuk Pembangunan Karakter

Bagaimana Pembangunan Karakter dalam Pendidikan

Dalam hal pendidikan, ada tiga 3 komponen utama dalam proses pembelajaran, yakni ; kognitif, attitude dan psikomotor.

Koginitif mengarah pada kemampuan logika, attitude mengarah pada kejujuran, kemandirian, etika dan sebagainya, sementara psikomotor melatih untuk mengaplikasikan keilmuan.

Ketika, salah satu dari ketiga komponen ini hilang, maka akan terjadi imbalance (ketidak seimbangan) pendidikan.

Jika hanya kognitif, yang di berikan kepada peserta didik, tanpa attitude, akan menghasilkan peserta didik, yang kurang memahami lingkungan adaptasi.

Jika hanya memberikan attitude, kepada pelajar tanpa psikomotor, maka akan menghasilkan peserta didik yang tidak terampil.

Indeks prestasi (IP), dengan angka-angka kuantitatif, selalu menjadi ukuran, bahkan dianggap mutlak bahwa pelajar, dengan IP tinggi adalah cerdas, sehingga banyak perusahaan mempersyaratkan, IP dalam hal menerima karyawan.

Ini adalah suatu kekeliruan, sebab IP yang tinggi, bukanlah jaminan attitude dan psikomotor yang dimiliki oleh setiap sarjana.

Sebab IP banyak ditopang, oleh kemampuan kognitif mahasiswa, belum lagi terdapat beberapa kampus, yang mendesain para pengajarnya, agar “hanya” memberikan nilai 3,5 keatas, kepada mahasiswa.

Kenyataannya, banyak sarjana yang menganggur, sehingga pemerintah memandang, bahwa selama ini pendidikan di Indonesia, dianggap tidak mengikutkan, pendidikan berbasis karakter atau caracter building.

Dilahirkanlah konsep tersebut, dengan harapan menjadikan mereka sarjana terampil, yang dengan skill dimiliki akan mampu bersaing dipasar kerja atau menciptakan lapangan kerja (berani itu juga karakter).

Teknologi telah mampu, mengurai psikomotor manusia, dari pekerjaan rumit menjadi pekerjaan yang simple, teknologi pula mampu “memalaskan” manusia pemakainya, dan teknologi tersebut banyak mengendalikan sistem, dan pranata sosial yang ada,

Bahkan teknologi mampu sekejab merubah peradaban, dari yang tabuh menjadi hal yang lazim.

Jika para pelajar, akan dibentuk karakter mereka, dibutuhkan desain yang unik untuk melatih psikomotor, tanpa kebergantungan terhadap teknologi, sebab kebergantungan inilah, tidak menghasilkan daya kreatifitas, para pelajar secara alami.

Kebergatungan terhadap teknologi telah menyulap independensi menjadi dependen terhadap alat canggih tersebut.

Pembangunan karakter, bukanlah upaya tatap muka, dan ceramah secara menoton, dari pendidik kepada peserta didik, bahwa pula, pendidikan berbasis karakter, adalah bukan copy paste ilmu dari pendidik, kepada mahasiswa.

Tetapi, harus mampu menciptakan, kreatifitas berpikir, pada generasi muda bangsa, yang dalam hal ini, menemukan pola baru yang positif tanpa melupakan nilai-nilai budaya, yang santun untuk Pembangunan Karakter.

Dimana pada kondisi sekarang telah terbawa arus, pengaruh teknologi, melupakan pembangunan karakter.

Kemandirian menjawab hidup, merupakan cerminan keberanian menjalani kehidupan itu sendiri, dan keberanian harus terlatih dengan logis dalam ruang-ruang pembelajaran.

PILIHAN Beritaku