Sahabat Rasul: Abdullah Bin Jasiy, Amirul Mukminin Pertama Dalam Islam
Panglima perang yang tegas, dan penyair yang jujur
Sahabat Rasul: Abdullah Bin Jasiy, Amirul Mukminin Pertama Dalam Islam

Menyebut kata Amirul Mukminin, maka yang terlintas adalah 4 Khalifah dimana Abu Bakar yang pertama. Ternyata Pemimpin Pertama Dalam Islam Adalah Abdullah Bin Jasiy.

Beritaku.Id, Sahabat Rasul – Sebagaimana masuk dalam, 170 Urutan Sahabiyah dan Sahabat Nabi Muhammad SAW. Dia merupakan sahabat sepermainan Rasulullah Muhammad SAW.

Dari kecil hingga besar. Sekaligus dia juga merupakan keluarga rasulullah. Sebab ibu dari Abdullah Bin Jasiy merupakan bibi dari Rasulullah, keturunan Abu Muthalib. Rumahnya berada di sekitar Masjidil Haram.

Dia merupakan orang yang masuk dalam gelombang pertama yang menyatakan diri masuk kedalam Islam.

Dalam perjalanan perjuangan Islam, termasuk dirinya ikut dengan Rasulullah dalam peristiwa hijrah Nabi dari Mekkah ke Madinah.

Abdullah Bin Jasiy, Amirul Mukminin Yang Pertama

Hijrah bersama Nabi ia meninggalkan harta benda di Mekkah. Yang kelak dikuasai oleh Abu Sufyan. Meski dalam diri Abdullah Bin Jasiy hendak kembali menguasai harta tersebut.

Sampai di Madinah. Rasulullah membentuk pasukan elit untuk pertama kalinya. Pasukan ini hanya berjumlah 9 orang. Pimpinan ini dipimpin oleh Abdullah Bin Jasiy.

Pasukan elit dengan misi khusus dan misi rahasia.

Pasukan ini dibentuk pada bulan rajab, dengan pengangkatan Abdullah bin Jasiy sebagai pemimpin pertama. Oleh Rasulullah. Maka ini merupakan manajemen pertama dalam kepemimpinan dalam Islam (mukmin). Maka beberapa peneliti menyebutnya bahwa Abdullah menjadi Amirul Mukminin.

Tugas pertama pasukan Elit telah tiba. Dengan selembar surat yang ditulis sahabat lainnya untuk Abdullah dan berisi pesan Rasulullah.

Rasulullah kemudian memerintahkan kepadanya melakukan perjalanan kearah selatan dari Madinah. Dengan instruksi dari Rasulullah bahwa dalam perjalanan selama 2 hari 2 malam. Setelah itu baru membuka surat tersebut.

Melewati kepulan debu padang pasir yang tandus. Dan mereka dengan jumlah 9 orang tidak memiliki keraguan dalam melakukan misi yang dia jalankan.

Dirinya melakukan perjalanan seperti yang diarahkan. Dan selama waktu tersebut 2 hari/malam. Dia kemudian membuka surat.

Misi rahasia pasukan elit dan bergerak secara rahasia dengan misi yang dilakukan. Adapun isi suratnya yakni ““Setelah membaca surat ini, teruskan untuk melakukan perjalanan ke Nakhlah. Daerah itu berada diantara Mekah dan Thaif. Dan cari informasi mengenai kaum Quraisy.”

Resiko perjalanan menuju Naklah adalah bukan sebuah perjalanan diplomasi. Tapi perjalanan Spy atau memata-matai lawan yang bisa beresiko pada nyawa mereka.

Sehingga jika ada yang tidak bersedia ikut, maka mereka boleh pulang.

Namun 8 orang lainnya yang ikut dengannya semua bersepakat untuk tetap meneruskan perjalanan.

Mereka meneruskan perjalanan ke arah Naklah. Melakukan pengintaian. Dan memantau Kaum Quraish.

Sahabat Rasul Amirul Mukminin dan Kontroversi

Abdullah Bin Jasiy dan Peperangan Bulan Rajab terjadi.

Sebenarnya. Mereka sempat menahan diri dan hendak menahan pedang dalam sarungnya. Sebab hal itu adalah Bulan Rajab. Bulan tanpa pertumpahan darah.

Baca juga: Pertempuran Zaman Rasulullah, Peperangan Tanpa Ketakutan, Bagian 1

Pasukan elit ini berunding. Namun kesimpulan pasukan “kopassus” atau elit ini mengambil kesimpulan. Mengambil kesempatan dan memulai peperangan.

Ini merupaperang counter atas teros yang banyak dilakukan oleh kafir Quraish terhadap umat Islam.

Pasukan elit muslim menang. Membunuh satu orang kafir quraish, dan menjadikan tawanan 2 orang.

Ghanimah Pertama Umat Islam

Sepenjang sejarah perjuangan, maka peperangan yang terjadi di Naklah menghasilkan Ghanimah atau harta rampasan pertama.

Dan dibawa kembali ke Madinah ketika itu. Namun hal ini menjadi kontroversi. Banyak sahabat yang mengecam kejadian perang tersebut. Karena perang dalam bulan Rajab tidak pernah terjadi.

Baca juga: Pertempuran Zaman Nabi Muhammad SAW, Dengan Keberanian Bagian 2

Mereka takut kredibilitas Islam jatuh dimata umat lain karena menjadi tradisi orang arab untuk tidak melakukan perang atau menumpahkan darah.

Posisi sang Amirul Mukminin sangat terpojok didepan para sahabat. Ini pelanggaran konsensus perang. Dan masyarakat Madinah banyak yang menyayangkan kejadian tersebut.

Rasulullah belum mengambil keputusan dan belum menerima harta rampasan atau perangt tersebut.

Hingga akhirnya Allah yang membela sang Amirul mukminin, dengan turunnya ayat seperti pada Q.S al-Baqarah [2]: ayat 217:

يسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad saw) tentang berperang dalam bulan Haram. Katakanlah: “Berperang di dalamnya adalah (dosa) besar. Tetapi menghalang (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidil Haram, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. Sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Mereka tidak akan berhenti memerangimu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup. Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran. Maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Setelah ayat ini turun. maka Rasulullah memberikan ucapan selamat kepada Abdullah dan 8 anggota pasukan elitnya. Bahwa tindakannya bukanlah sesuatu yang salah. Dalam bersikap.

Syahid di Perang Uhud

Setelah peperangan di Naklah, hal ini menjadi api membara bagi kaum kafir Quraish. Untuk menghancurkan umat Islam.

Dan akhrinya perang Uhud tercetus.

Dalam peperangan tersebut. Abdullah Biin Jasiy dan Saad Bin Waqqash, berdoa mendapatkan musuh yang paling keras dan kuat.

Dan dirinya tidak gentar untuk memerangi kaum kafir Quraisy. Dan benar saja, doa mereka di Ijabah. Akhirnya mayatnya ditemukan Rasulullah menjadi seorang syuhada.

Hidungnya dan telinganya terpotong. Sebagaimana doanya yang dipanjatkan sehari sebelum melakukan peperangan.

“Ya Allah dalam perang Uhud besok, berikanlah aku lawan yang paling kuat dan paling perkasa. Dan aku akan memeranginya. Izinkan mereka memotong hidung dan telingaku” Doa Abdullah yang di amini oleh Sa’ad Bin Abu Waqqas.