Kisah Nabi Muhammad SAW

Kisah Nabi Muhammad SAW: Lahir Hingga Wafat

Diposting pada

Kisah Nabi Muhammad SAW dari mulai kelahiran, pernikahan, hingga wafat di usia 63 tahun mengandung banyak hikmah. Artikel ini akan menyingkap keistimewaan pribadi beliau serta mengurai pula orang-orang di sekitarnya yang berperan besar, orang tua, ibu asuh, serta para pamannya.

Beritaku.id, Berita Islami – Pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal di tahun Gajah, kaum Bani Hasyim tengah harap-harap cemas menanti kelahiran salah satu penerusnya. Ibunya diliputi rasa cemas dan sedih karena harus melahirkan anaknya tanpa di dampingi suami, yang telah berpulang beberapa bulan sebelumnya.

Ditulis oleh: Riska Putri (Penulis Berita Islami)

masjid nabawi. sumber world architecture news

Pada saat waktunya tiba, sang ibu melahirkan seorang anak laki-laki. Sepenjuru Mekah di liputi rasa lega ketika tangis sang bayi lantang menggema di rumah kakeknya, tempat ibundanya melahirkan.

Sang ibunda segera mengirim utusan untuk pergi ke Ka’bah, dengan tujuan mengabarkan kelahiran tersebut kepada kakek sang bayi, Abdul Muthalib. Mendapat kabar tersebut, Abdul Muthalib merasa sangat gembira.

Abdul yang baru kehilangan putranya, ayah sang bayi, merasa di berkahi oleh Allah SWT dengan kelahiran cucu laki-lakinya tersebut. Ia merasa bahwa sang cucu adalah pengganti putranya yang mangkat mendahului dirinya.

Dengan tergesa Abdul Muthalib pulang untuk menemui cucunya. Setelah sampai, ia kemudian membawa cucunya itu ke Ka’bah. Disana, ia menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah SWT atas kelahiran cucu yang ia beri nama Muhammad.

Pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal di tahun Gajah, dunia menyambut kelahiran nabi dan rasul terakhir Allah SWT. Bayi kecil bernama Muhammad itu di utus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan agama-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 40 yang artinya:

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Kisah Kebiasaan Nabi Muhammad SAW Semasa Kecil

Nama Muhammad bukanlah suatu nama yang lazim di berikan pada anak-anak Bani Hasyim pada waktu itu. Ketika hal ini di pertanyakan, Abdul Muthalib menjawab “Kuinginkan dia akan menjadi orang terpuji bagi Tuhan di langit dan bagi makhluk-makhluk-Nya di bumi,” (Hayatu Muhammad, halaman 49).

Selama tiga hari setelah kelahirannya, pada kisah nabi Muhammad SAW di susui oleh ibundanya. Kemudian beliau di susui oleh Ummu Aiman, salah seorang budak wanita milik ayahandanya. Selain itu, beliau juga sempat di susui oleh budak milik pamannya, Abu Lahab, yang bernama Tsuwaibah, hingga hari kedelapan belas.

masjid quba. sumber bobo – grid.id

Sesuai tradisi masyarakat Quraisy pada masa itu, bayi-bayi akan di serahkan pada perempuan pedalaman untuk disusui pada hari kedelapan belas setelah kelahirannya. Hal ini bertujuan agar bayi-bayi tersebut terhindar dari penyakit, serta udara perkotaan yang di anggap sudah tercemar.

Abdul Muthalib, meskipun sangat menyayangi cucunya, tetap menjalankan tradisi ini. Ia mencari ibu susu untuk nabi Muhammad SAW, agar cucu kesayangannya itu dapat tumbuh sehat di tengah-tengah hawa pedalaman yang masih murni.

Namun, meskipun terlahir sebagai bagian dari keluarga bangsawan Arab, bayi Muhammad menemui kesulitan mendapatkan ibu susu. Para ibu susu enggan mengambil seorang anak yatim, karena khawatir tidak akan di berikan upah yang memadai.

Baca Juga Beritaku: Kisah Nabi Muhammad SAW, Lahir Hingga Wafat, Untuk Seluruh Umat

Kisah Halimah Yang Menyusui Nabi Muhammad SAW

Hingga akhirnya, salah satu ibu susu bernama Halimah binti Abu Du’aib dari Bani Saad ibn Bakar menawarkan jasanya pada Abul Muthalib. Wanita yang lebih di kenal dengan sebutan Halimah as-Sa’diyah ini sebenarnya tidak berminat membawa bayi Muhammad, sama seperti ibu susu lainnya.

Tetapi karena ia tidak mendapatkan bayi yang lain, akhirnya Halimah memutuskan untuk membawa bayi Muhammad. Ketika mengambil keputusan tersebut, ia bertutur kepada suaminya “Mudah-mudahan karena itu Tuhan akan memberi berkah kepada kita,” (Hayatu Muhammad, halaman 50).

Selorohan Halimah itu terdengar oleh Allah SWT, yang kemudian menurunkan berkah karunia-Nya kepada keluarga Halimah. Ternak kambingnya menjadi gemuk-gemuk dan susunya melimpah. Kecemasan Halimah sirna sudah, ia menyadari bahwa meskipun bayi Muhammad tidak memiliki seorang ayah, beliau sesungguhnya di lindungi oleh Allah SWT.

Selama dua tahun, nabi Muhammad SAW tinggal di Thaif, di susui oleh Halimah dan di asuh oleh puterinya, Syaima. Setelah dua tahun, beliau di sapih dan di bawa kembali ke Mekah untuk di kembalikan pada ibunya.

Namun rasa sayang Halimah telah tumbuh, ia memohon pada ibunda nabi Muhammad SAW untuk membawa beliau kembali ke Thaif, untuk diasuh hingga beliau berusia delapan tahun. Ibunda nabi Muhammad SAW, yang juga mengkhawatirkan keselamatan puteranya, mengizinkan Halimah untuk membawa nabi Muhammad SAW kembali ke Thaif.

Di ketahui pada waktu itu sebuah wabah penyakit tengah berkembang di Mekah. Demi keselamatan dan kesehatan nabi Muhammad SAW, ibundanya rela menunggu beberapa tahun lagi untuk dipersatukan dengan putera kesayangannya tersebut.

Kisah Malaikat Djibril Yang Mendatangi Nabi Muhammad SAW

Ketika berusia delapan tahun, Muhammad kecil yang tengah bermain bersama teman-temannya di datangi lelaki berpakaian serba putih. Lelaki tersebut kemudian membawa Muhammad, merebahkannya, kemudian membelah dadanya.

Teman-temannya kaget bukan kepalang, mereka berhamburan menuju rumah Halimah, sambil berteriak “Muhammad telah dibunuh”. Anak-anak kecil itu pucat pasi serta gemetar karena rasa takut. Mendengar hal tersebut, Halimah hendak bergegas pergi ke tempat bermain Muhammad. Namun, saat ia keluar, ternyata Muhammad sudah berada di depan rumah dengan wajah pucat.

Ternyata, lelaki yang mendatangi Muhammad bukanlah orang sembarangan. Ia bahkan bukan manusia. Lelaki itu adalah jelmaan Malaikat Jibril, yang datang atas utusan Allah SWT.

Setelah membelah dada Muhammad, Malaikat Jibril mengeluarkan segumpal hati yang masih berlumuran darah seraya berkata “Ini adalah bagian setan yang ada padanya”. Sang malaikat kemudian mencuci hati tersebut dengan air zamzam yang di taruh dalam bejana emas, kemudian mengembalikannya ke tempat semula. Dada yang terbelah di katupkan lagi satu dengan lainnya, kemudian nabi Muhammad di kembalikan pada Halimah.

Persitiwa tersebut di isyaratkan dalam Al-Qur’an, melalui firman Allah SWT yang artinya, “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (Q.S. Asy-Syarhu ayat 1).

Setelah kejadian itu, Halimah yang teramat khawatir dengan keselamatan anak asuhnya tersebut, kemudian memulangkan Muhammad ke pangkuan ibundanya di Mekah.

Sifat Nabi Muhammad SAW Ketika Masih Kecil

Selama tinggal bersama Halimah, Muhammad telah tumbuh menjadi seorang anak yang cepat tanggap, telaten, dan jujur. Beliau kerap membantu temannya yang kesusahan, serta senantiasa bersikap bersahaja meski terkenal memiliki kecerdasan luar biasa.

Tak ada setitikpun sikap sombong atau jumawa pada diri Muhammad. Hal tersebut membuatnya di sukai banyak orang, terlebih jika mempertimbangkan fakta bahwa Muhammad ialah keturunan salah satu suku terpandang di kabilah Arab.

Di ceritakan pula, ketika beliau masih di asuh oleh Halimah, Muhammad tidak suka bermain tanah ataupun menyantap makanan yang di hinggapi lalat. Beliau di kenal sangat menyukai kebersihan, dan selalu berpenampilan sebaik mungkin.

Nabi Muhammad SAW, yang di berkahi kecerdasan luar biasa oleh Allah SWT, juga pandai berbisnis. Bahkan, beliau melakukan bisnis pertamanya sejak berusia delapan tahun.

Ketika itu, ia menawarkan jasa menggembala kambing dengan upah beberapa qiraat pada penduduk kota Mekah. Bakat bisnisnya ini kelak menjadi salah satu modal beliau, dalam berjihad menyebarkan Islam di seantero timur tengah.

Baca Juga Beritaku: Dakwah Nabi dan Rosul: Perbedaan, Jenis, dan Lokasi

Orang Tua Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW adalah putera dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab. Ayahnya, Abdullah, berpulang ketika nabi Muhammad SAW masih dalam kandungan.

ilustrasi gua hira tempat rasulullah mendapat wahyu pertama kali. sumber CNN Indonesia

Setelah di asuh oleh Halimah hingga usia empat tahun, nabi Muhammad SAW kemudian di asuh oleh ibundanya, Aminah, hingga sang ibunda berpulang ketika Muhammad berusia enam tahun.

Setelah itu beliau di asuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, hingga berusia delapan tahun. Kemudian beliau di asuh oleh pamannya bernama Abu Thalib selama hampir empat puluh tahun.

Paman-paman Nabi Muhammad SAW

Dalam literatur Islam, nabi Muhammad SAW di sebutkan memiliki sepuluh orang paman. Namun, yang hidup di masa Islam hanyalah empat orang.

Dari empat orang tersebut, salah satunya di kenal menentang dakwah yang di lakukan oleh Nabi Muhammad SAW secara terang-terangan. Bahkan, sang paman sempat berencana membunuh beliau lantaran tak terima dengan ajaran Islam yang di bawa oleh keponakannya itu.

Kisah Abu Lahab Yang Menentang Nabi Muhammad SAW

Pamannya itu bernama Abu Lahab. Kekejian Abu Lahab terhadap nabi Muhammad SAW di abadikan Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Al-Lahab ayat 1-5, yang berbunyi:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api neraka (yang bergejolak). Dan begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.

Abu Lahab meninggal seorang kafir, ia bersama istrinya di pastikan masuk neraka. Meskipun demikian, di sebutkan bahwa Abu Lahab di jamin mendapat keringanan siksa kubur setiap hari Senin.

Hal tersebut lantaran tindakannya membebaskan seorang budak wanita bernama Tsuwaibah di hari kelahiran nabi Muhammad SAW. Pembebasan budak itu ia lakukan saking gembiranya menyambut kelahiran nabi Muhammad SAW.

Kisah Abu Thalib Yang Baik Hati Namun Kafir

Selain Abu Lahab, paman nabi lainnya yang meninggal dalam kondisi kafir adalah Abu Thalib. Di ketahui bahwa paman yang mengasuhnya selama 40 tahun ini begitu menyayangi nabi Muhammad SAW.

ilustrasi nabi muhammad memimpin perang. sumber viva.com

Abu Thalib bahkan membela nabi Muhammad SAW ketika di tentang oleh Abu Lahab dan para petinggi Quraisy lainnya. Ia menegaskan bahwa nabi Muhammad SAW tidak pernah menghina Tuhan orang-orang Quraisy, tidak pula beliau pernah memaksa orang-orang untuk mempercayainya dan memeluk Islam.

Nabi Muhammad SAW bahkan tidak marah kepada Abu Thalib yang masih menyembah Latta, Uzza, dan berhala lain yang tersebar di sekeliling Ka’bah.

Sebagai ganjarannya, Allah SWT mengizinkan nabi Muhammad SAW untuk memberikan syafaat kepada Abu Thalib, meskipun ia meninggal dalam kekafiran. Meskipun mendapatkan syafaat, bukan berarti Abu Thalib terbebas dari siksa neraka. Ia tetap di masukkan ke neraka, di bagian permukaan neraka yang hanya membakar sampai mata kaki, namun panasnya membuat otak mendidih.

Dua paman yang lain, ialah Al-‘Abbas dan Hamzah. Keduanya meresapkan dakwah nabi Muhammad SAW kedalam hati, meninggalkan kekafiran dan berganti memeluk Islam.

Di sebutkan bahwa pamannya bernama Hamzah di juluki “Asaadullah” oleh nabi Muhammad SAW. Julukan yang berarti “singa Allah” ini di berikan karena keperkasaannya membela Islam di medan perang.

Hamzah meninggal secara syahid, terbunuh dalam Perang Uhud. Sepeninggalnya, nabi Muhammad SAW menjuluki beliau “Sayyidu Asy Syuhada” yang berarti “penghulu para syuhada”.

Kisah Pernikahan Rasulullah dengan Khadijah

Ketika beranjak remaja, nabi Muhammad SAW mulai mempelajari ilmu bela diri dan memanah, serta ilmu-ilmu lain untuk mengasah keterampilannya dalam berdagang. Seperti di katakan sebelumnya, nabi Muhammad SAW telah berbisnis sejak beliau berusia delapan tahun.

Sejak kecil, beliau kerap menemani pamannya, Abu Thalib, bepergian ke arah Utara untuk berdagang. Karena itu, kejujuran dan sifat beliau yang dapat di percaya dengan cepat menyebar ke seluruh jazirah Arab.

Meskipun tergolong masih muda, nabi Muhammad SAW banyak di percaya penduduk Mekah untuk menjadi agen perantara penjualan barang dagangan mereka.

Kabar tentang sifat nabi Muhammad SAW ini kemudian sampai ke telinga Khadijah binti Khuwailid bin Asad. Ia adalah seorang janda yang memiliki status tinggi di kalangan suku Arab.

Khadijah, yang berprofesi sebagai pedagang, di ketahui merupakan sesosok wanita cantik dan kaya raya. Ia kemudian menghubungi Muhammad, mempercayakan beliau untuk mengatur barang dagangan Khadijah dan menjanjikan akan membayar upah dua kali lipat.

Reputasi nabi Muhammad SAW semakin di patenkan ketika beliau pulang membawa hasil dagangan milik Khadijah. Awalanya, Khadijah terkesan karena nabi Muhammad SAW membawakan hasil berdagang yang lebih dari biasanya.

Kemudian, ia semakin terkesan setelah mengetahui bahwa hal tersebut berasal dari orang-orang yang membayar lebih karena terkesan akan sifat nabi Muhammad SAW, namun beliau tetap menyerahkan pendapatan tersebut pada Khadijah selaku pemilik barang dagangan.

Nabi Muhammad SAW Menikahi Khadijah

Seiring waktu, nabi Muhammad SAW dan Khadijah semakin akrab. Hingga akhirnya, nabi Muhammad SAW yang pada saat itu masih berusia 25 tahun, menikahi Khadijah telah berusia mendekati 40 tahun.

Khadijah adalah seorang wanita yang begitu mulia, yang kecintaannya pada nabi Muhammad SAW tidak melebihi kecintaannya pada Sang Pencipta. Ia mengorbankan harta dan jiwanya untuk membela Islam, mengikuti jejak sang suami.

Khadijah begitu di cintai oleh nabi Muhammad SAW, sampai-sampai cerita tentangnya menimbulkan kecemburuan di hati istri-istri nabi Muhammad SAW lainnya. Tiga tahun sebelum hijrah, Khadijah berpulang mendahului sang suami.

Pada hari wafatnya Khadijah, Rasulullah SAW merasakan kesedihan yang teramat dalam. Bahkan, tahun wafatnya sang istri beliau sebut dengan “tahun kesedihan”.

Baca Juga Beritaku: 4 Keteladanan Nabi Ishaq AS: Mu’jizat Dan Perjuang Wafat

Kisah Akhir Hayat Nabi Muhammad SAW

Pada bulan Juni tahun 632 M, nabi Muhammad SAW yang tengah berada di rumah salah satu istrinya, Maimunah, jatuh sakit. Beliau kemudian meminta untuk pindah ke rumah istirinya yang lain, Aisyah.

Ummu Maimunah kemudian membawa nabi Muhammad SAW ke rumah Aisyah. Dirawat oleh Aisyah, keadaan nabi Muhammad SAW tak kunjung membaik. Demam yang di alami semakin tinggi, hingga beliau beberapa kali mengalami pingsan.

ilustrasi nabi muhammad hijrah. Sumber apahabar.com

Dalam keadaan sakit, beliau meminta kepada salah satu sahabatnya bernama Abu Bakar untuk menggantikannya mengimami jamaah, sementara beliau melaksanakan shalat dari rumah dengan berbaring.

Akhirnya, dalam pangkuan Aisyah nabi Muhammad SAW berpulang, beliau kembali ke pangkuan Allah SWT. Jenazahnya di kuburkan di rumah istri tercintanya itu, sementara dunia bersedih karena kehilangan rasul Allah SWT yang terakhir.

Meskipun beliau telah tiada, kisah hidupnya sejatinya adalah panduan bagi kita semua. Sifatnya merupakan teladan dan petunjuk bagaimana seorang hamba seharusnya bersikap.

Berbagai ajaran nabi Muhammad SAW hendaknya kita resapi dan laksanakan dalam kehidupan sehari-hari, supaya kita hidup berbahagia di dunia maupun di akhirat kelak.

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 40.
  2. Al-Qur’an surah Asy-Syarhu ayat 1.
  3. Haekal, Muhammad Husain. 1935. Hayatu Muhammad. Lebanon: Darul Kutub Al-Ilmiyah.
  4. Tim Editor Hijab Lifestyle. 2020. Sepenggal Kisah Nabi Muhammad SAW Saat Kecil. Jakarta: Kumparan. Diakses pada 16 Februari 2021.
  5. Nursalikah, Ani. 2020. Kelahiran dan Masa Kecil Nabi Muhammad. Jakarta: Islam Digest. Diakses pada 16 Februari 2021.
  6. Siregar, Rusman. 2019. Kisah Masa Kecil Rasulullah SAW Bersama Ibunya. Jakarta: Sindo News. Diakses pada 16 Februari 2021.
  7. Dariyanto, Erwin. 2020. Abu Thalib, Paman Paling Membela Nabi Muhammad SAW. Jakarta: Detik New. Diakses pada 16 Februari 2021.
  8. Purnama, Yulian. 2020. Paman-Paman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Sleman: Muslim.Or.Id. Diakses pada 16 Februari 2021.
  9. Damayanti, Imas dan Agung Sasongko. 2019. Kisah Abu Lahab yang Gembira atas Kelahiran Rasulullah SAW. Jakarta: Republika. Diakses pada 16 Februari 2021.
  10. Prabawa, Bobby. 2020. Muhammad. Jakarta: Wikipedia Bahasa Indonesia. Diakses pada 16 Februari 2021.
  11. Al-A’zami, Muhammad Mustafa. 2003. The History of The Qur’anic Text: From Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments. Leicester: UK Islamic Academy.