oleh

Hoax “Tsunami” di Tanjung Bira

-Opini-104 kali dilihat

Oleh : Abdul Haris Awie

Entah pula darimana hoax yang menyebutkan bahwa akan terjadi tzunami di Bira, entahlah juga jika Bira dalam beberapa dekade tahun terakhir telah terjadi perubahan dalam beberapa sektor terlihat signifikan di Tanjung yang terletak di Bontobahari tersebut.

Perubahan signifikan adalah perputaran ekonomi yang dimanfaatkan oleh pedagang kecil serta kaki lima disepanjang jalan masuk ke Bira ataupun pesisir pantai.

Sejalan dengan itu penginapan semakin meluas jangkauannya. Cafepun bertambah banyak.
Ekonomi menggeliat, seiring dengan meningkatnya prostitusi yang bisa ditemukan dibanyak cafe.
Transaksi seksual bisa dilakukan dibeberapa tempat di Bira.

Ini berlangsung lama, dan kondisi ini terus berputar. Musibah Tzunami di Kota Palu yang memunculkan berbagai argumen alasan Tzunami diantaranya adalah prostitusi sebagai imbalan azab dari Allah. Substansi ini juga perlu kajian secara mendalam.

Namun yang harus kita cermati jika dihubungkan dengan Bira adalah “Hoax” akan tsunami di Bira karena prostitusi. Dan dijawab dengan Sholat Subuh Berjamaah yang direncanakan tanggal 11 November 2018.
Tidak tanggung-tanggung sebab hotel-hotel akan memberikan diskon 50%.
Menarik metode pemasarannya.

Jika saja kita takut akan bencana azab karena prostitusi. Maka indikatornya bukan hanya sholat berjamaah. Dan juga tidak bisa kita menganggap bahwa Bira itu sudah steril setelah shalat berjamaah ini.

Yang harus kita akui bahwa prostitusi masih marak, bahkan celakanya prostitusi di daerah tersebut adalah tanpa alat kontrasepsi (kondom) berdasarkan survey pada beberapa pengunjung.

Jika saja Bira yang menayangkan keindahan alam pantai pasir putihnya kita kembalikan kekondisi alamiah adalah, beranikah kita :
1. Menghentikan prostitusi?
2. Menciptakan penginapan yang syariah?
3. Menghentikan penjualan minuman keras diBira?
4. Melaksanakan sholat berjamaah secara rutin, tanpa menghubung-hubungkan “ketakutan hoax” tzunami?

Ada banyak spekulasi yang berkembang mengenai prostitusi ini, bahkan ada yang mengecam lemahnya pemerintah Kabupaten Bulukumba (Bupati dan Wakil Bupati sampai Camat Bontobahari dan kepala Desa Bira). Namun ruang prostitusi tidak bisa hanya mempersalahkan pengambil kebijakan, pengunjung yang bertransaksi juga harus mendapat bagian yang harus dipersalahkan dari prostitusi ini.

Apakah prostitusi di Bira bisa dihapus dengan sekali sholat berjamaah?.

Indira Mulyasari

Komentar