Logo dari PPNI
Logo PPNI (Foto: e-sehat.org)

Siapa Kandidat Ketua Umum PPNI 2020-2025?

Diposting pada

Beritaku.Id, Jakarta – Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi, Keberanian menjadi cakrawala. Dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata (W.S.Rendra), Kenalkah anda dengan Ketua Umum PPNI?

Perawat diseluruh Indonesia belum sejahtera, rata-rata Perawat diseluruh Indonesia sedang menjalankan drama ketegaran. Ditengah terhimpitnya kehidupan ekonomi yang belum masuk pada kata sejahtera, pada pensejajaran profesi di departemen dengan logo bakti husada tersebut.

Menteri Kesehatan, tidak pernah ada perawat yang menjadi menteri kesehatan, kenapa?

Direktur Rumah Sakit, hampir pasti tidak mungkin seorang perawat, kenapa?

Kepala Dinas Kesehatan, sangat berat untuk diduduki oleh seorang perawat, kenapa?

Perawat membayar mahal untuk kuliah, namun setelah bekerja, kehidupannya belum sejahtera, kenapa?

Ujian Kompetensi masih dianggap beban, dan setelah lulus belum tentu dapat kerja, kenapa?

Perawat masih menjadi bahan lucu pelawak, kenapa?

Sumber Foto : Tabloid Bintang

Banyak pelatihan seizin PPNI, dimana calon perawat didoktrin untuk mengikuti pelatihan, agar kualitas bagus, namun nyatanya menganggur, ataupun menjadi honorer, kenapa?

Masih banyak pertanyaan, yang tersimpan bagi pemakai seragam putih-putih tersebut. Dengan penampilan yang anggun dirumah sakit, bersih, meski diantara rintihan hidup mereka.

Mereka berteriak tentang pensejajaran kehidupan dengan profesi lain di instansi kesehatan, namun bergerak sedikit, mutasi, teguran. Hardikan kadang menimpa mereka, sebab pimpinan mereka bukan dari profesi perawat.

Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPP PPNI) dalam beberapa bulan kedepan akan menyelenggarakan Musyawaran Nasional (Munas). Sebab hasil munas Palembang untuk kepengurusan periode 2015 – 2020 segera berakhir.

Persoalan yang terjadi diatas, bukan sumbernya dari PPNI sebab organisasi bukanlah pengambil kebijakan. Namun pemersatu perawat ini tidak bisa menghindarkan diri dari seluruh kemelut dan persoalan yang terjadi

Meski masih beberapa bulan kedepan pertarungan ini. Hangat di internal PPNI diseluruh Indonesia mulai membicarakan siapa yang akan diusung menjadi Ketua Umum.

Harif Fadhilah sebagai Incumbent saat ini tentu didukung oleh beberapa dewan pimpinan wilayah untuk kembali memimpin PPNI dua periode. Sebab dengan tangan dinginnya mampu mendirikan graha PPNI, sebagai tanda mata bahwa dikepengurusannyalah bersama dengan struktur yang lain. Memang ini dari iuran anggota, tapi harus diakui bahwa program pembuatan sekretariat permanen ini adalah karya yang hebat.

Beberapa bulan sebelumnya Harif Fadhilah dengan dukungan jajaran pengurus pusat melakukan audiance dengan Presiden RI Joko Widodo di istana negara. Meski banyak yang mengecam bahwa itu kegiatan politik praktis, sebab dilakukan menjelang pemilihan presiden.

Harif Fadhilah tetap percaya diri, bahwa yang Jokowi pada posisi saat itu memang sebagai Calon Presiden. Tapi harus diakui pula bahwa negara ini tidak sedang mengalami kekosongan pemerintahan, sebab presiden sah adalah Jokowi.

DPP PPNI Di Kecam

Atas hal ini, grup-grup media sosial ramai mengecam tindakan pengurus pusat, meski pula banyak yang memberikan dukungan. Komentar saling menjatuhkan tidak bisa dihindari, cemoohan dan sindiran adalah penampilan yang menarik.

Menjelang Pemilihan Ketua Umum, saat ini tersebut nama Edy Wuryanto, mirip dengan pertarungan di Palembang tahun 2015. Rivalitas ini kembali di tahun 2020 saat Munas di Bali. Bedanya adalah saat ini Edy Wuryanto, terpilih sebagai anggota DPR RI dari partai penguasa PDIP.

Ketua DPW PPNI Jawa Tengah duduk sebagai Anggota DPR RI. Kader PPNI sebagai kampiun lama yang siap berhadapan dengan Harif Fadilah di Bali tahun 2020.

Pemilihan 2015 dan 2020 adalah sama, sebab kandidat yang banyak disebut adalah Harif Fadilah dan Edy Wuryanto. Pada tahun 2015 Harif berhasil menang aklamasi, sebab Edy tidak mampu memenuhi standar minimal dukungan DPW untuk maju. Seketika ruangan pertemuan diPAlembang riuh dan mengangkat Harif Fadilah ditengah-tengah ruang pertemuan sebagai selebrasi kemenangan.

Edy Wuryanto tetap pecaya diri mengatur kemampuan diri, menatap senayan, dengan kemampuan pendekatan birokrasinya yang bagus. Dan diterima baik oleh masyarakat konstituen, tentu duduknya dia bukan semata dukungan PPNI saja, sebab yang dimainkanya sudah masuk pada polarisasi politik.

Pada Pemilu 2019, PPNI mengusung kader untuk maju diparlemen, namun hanya sebagian kecil yang bisa lolos, hal ini menunjukkan diarus bawah anggota PPNI tidak solid dengan perintah DPP PPNI.

Beberapa waktu lalu, Menteri Kesehatan datang ke kantor pusat DPP PPNI (Graha PPNI), beliau adalah menkes pertama yang menyambangi kantor PPNI semenjak republik ini ada. Siapa aktor dibalik kehadirannya? Edy Wuryanto memiliki peran besar, diantara peran anggota yang lain untuk mendatangkannya.

Kehadiran Menkes ini patut dicermati, bahwa kalau selama ini, menkes “tidak menghitung” kehadiran PPNI, kali ini nuansanya berbeda. Edy Wuryanto dengan posisinya sebagai anggota DPR bisa mempengaruhi menteri kesehatan.

Jika keduanya bertarung, anda pilih yang mana?