Negeri Taklukan Umar Bin Khattab, Mengganti Panglima Perang
Umar Bin Khattab Memperluas Dengan Pembebasan Negeri Area Taklukan
Negeri Taklukan Umar Bin Khattab, Mengganti Panglima Perang

Setelah menggantikan Khalifah yang lemah Lembut dan Dituakan Abu Bakar As-Shiddiq, Selanjutnya Umar Bin Khattab. Sang Singa Padang Pasir yang Memperluas wilayah atau Negeri Taklukan Umar Bin Khattab.

Beritaku.Id, Kisah Islami – Dia masuk islam pada tahun 6 dari kenabian Muhammad SAW. Masuknya Umar Bin Khattab sebagai Muslim. Menambah kekuatan bagi Umat Islam.

Jika sahabat yang lain masih sembunyi-sembunyi, maka beda dengan Umar masuk Islam yang terang-terangan.

Artikel lain : Ponggawa Perang Dunia Memainkan Strategi Terkenal Dan Mematikan

Sebab Kaum Quraisy sangat segan dengan Sayyidina Umar Bin Khattab.

Soal pilihan dan pijakan, maka Umar Bin Khattab, teguh dalam kebenaran. Hitam putih. Dan tidak pandang apapun ketika menjalankan sebuah kebenaran.

Maka dirinya diberi gelar ‘al-Faruq’ yang berarti ‘Sang Pembeda’. Yang mampu mengurai, hitam putih dan transisi sebuah masalah.

Cerdas, teliti dalam keputusan yang diambil.

Ketika dirinya memimpin maka melakukan beberapa pembebasan bangsa-bangsa dari keterpurukan.

Wilayah Dan Negeri Taklukan Zaman Khalifah Umar

Dalam masa kepempimpinan Umar Bin Khattab, terdapat beberapa negeri yang ditaklukkannya :

Syam Dan Palestina Di Bebaskan

Syam dan Palestina dibawah kendali Romawi, dijajah dan di dzalimi.

Pembesar Romawi yang ambisi harta, dan membuat beberapa daerah tidak lagi pada semangat senyawa Romawi tapi membentuk senyawa bangsa baru.

Tidak lagi dalam komando Romawi secara totalitas, tapi cenderung melakukan pembangkangan pasif.

Dalam kondisi mereka tertekan. Dan di jajah.

Bizantium menguasai Syiria (Syam) dan Palestina. Maka di zaman Abu Bakar As-Shiddiq menjadi Khalifah.

Pasukan Islam sempat melakukan serangan terhadap 2 daerah itu. Semangat Aqidah dengan nafas Islam merangkul mereka para pejuang.

Selama 40 hari serangan Arab terhadap 2 daerah jajahan Romawi tersebut. Membuat 2 daerah itu bertekuk lutus dan menyerahkan harta rampasan peran. Dan Pasukan Islam membawa ke Madinah.

Heraklius menjadi Kaisar Romawi sangat sakit hati dengan kejadian tersebut. Seluruh armada perang dipersiapkan untuk membumi hangus Arab.

“Hancurkan pasukan Islam” keinginan Heraklius.

Atas keinginan Heraklius menyerang Arab Saudi, maka Abu Bakar mengangkat panji jihad.

Formasi pasukan dibagi Abu Bakar kepada empat bagian dengan masing-masing panglima, yaitu:

Abu Ubaidah bin Jarrah, dengan tujuan Homs (Homus).

‘Amru bin al-‘Ash, dengan tujuan Palestina

Yazid bin Abu Sufyan, dengan tujuan Damaskus

Syurahbil bin Hasanah, dengan tujuan Ardan (Yordania).

Baca juga : Mengenal Abu Bakar As-Siddiq, Secara Singkat Yang Pertama Memeluk Islam

Panglima Besar Abu Ubaidah

Diatas keempat panglima tersebut, ada panglima besar yakni Abu Ubaidah. Mereka menyusun strategi untuk menaklukkan Romawi di daerah Syam dan Palestina.

Pasukan cadangan mandiri ‘Amru mengarah Palestina, Dalam posisi siap bergeser keposisi pasukan yang membutuhkan bantuan.

Para ponggawa pasukan tersebut bergerak dengan membawa armada masing-masing.

Menyusul Sang Pedang Allah Khalid Bin walid bergerak membebaskan negeri Irak. Khalid menghancurkan seluruh pertahanan Romawi di Irak.

Sementara Abu Ubaidah yang menerjang Homus, ibarat menabrak tembok dengan tangan kosong. Maka Khalid Yang telah menyelesaikan misi penaklukan Irak bergerak memberikan bantuan.

Panasnya padang pasir Badiatus Samawah. Debu gurun pasir membentuk kepulan, ketika pasukan ini menerobos untuk secepatnya memberikan bantuan. Dengan Kekuatan 1500 orang pasukan.

Kehadiran Khalid Bin Walid di Siria, membuat pasukan Romawi kembali dihancurkan. Khalid Bin Walid terkenal sebagai Panglima Perang yang kejam. Memotong dan memenggal lawan tanpa perasaan.

Akhirnya Bushra, oleh Gubernurnya Romanus, menyerahkan kota itu kepada Islam. Ternyata dikota itu ada kota bawah tanah.

Syria telah ditaklukkan.

Peperangan Yarmuk (13 H Atau 634 M.)

Mendengar bahwa Bushra telah jatuh. Heraklius sangat marah. Dan hendak melakukan serangan balasan untuk mempertahankan wilayah kekuasaan di Syiria.

Tidak tanggung-tanggung, 240.000 pasukan disiapkan untuk menggulung Islam.

Laskar Islam tidak takut, tidak ada posisi untuk berlari atau mundur dengan gertakan tersebut. Mundur adalah pengkhianatan, maju memburu syahid adalah cita tertinggi.

Para Panglima perang berkumpul, untuk menentukan sikap dan formasi pasukan.

Reposisi Panglima Perang

Peperangan adalah nalar instink untuk meramu kekuatan dan menutupi kelemahan.

Akhirnya para panglima, bersepakat, bahwa dalam perang kali ini. Cukup satu panglima. Disetujui Khalid Bin Walid.

Dengan mengambil posisi tempur di Tepi Sungai Yarmuk (Yordania)

40.000 laskar Islam menghadapi 240.000 tentara Romawi. Dan pertempuran dengan komposisi pasukan tidak berimbang itu terjadi.

Namun strategi perang Khalid Bin Walid. Juga memposisikan dirinya bergerak secara longgar dengan membawa beberapa pasukan Elit, untuk mengurai pertarungan pasukan-pasukan yang dipimpin oleh pimpinan pasukan lainnya.

Gerakan kilat dan seperti roda yang menggelinding maju kedepan, menghempas lawan-lawan.

Mengerang kesakitan pasukan musuh yang pada dasarnya dihantui rasa takut. Setelah mengetahui bahwa Panglima Perang Islam adalah Khalid yang kejam kepada musuh.

Trebuset dan Ballista, yang merupakan senjata ampuh Romawi, berhasil diporak poranda dan dibakar.

240.000 pasukan Romawi mundur dan ketakutan, Syiria jatuh ketangan Islam. Seluruh daerah menaikkan panji Islam. Ini menjadi daerah taklukan dengan pertempuran yang sangat sengit.

Bac ajuga : Harta Di Jalan Allah SWT, Kisah Sahabat Utsman bin Affan

Berita Kematian Abu Bakar

Pada masa tidak beberapa lama, Romawi kembali menantang Arab untuk berperang. Heraklius tidak menerima dikalahkan sebelumnya.

Maka perang kembali berlangsung. Dan dalam waktu bersamaan wafatnya Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq RA. Semoga di Ridhoi Allah SWT.

Hal ini tidak menghentikan laju untuk memperluas Negeri Taklukan di masa kepemimpinan Umar Bin Khattab.

Mengembalikan Panglima Perang

Kini yang memimpin adalah Umar Bin Khattab. Kemudian pimpinan pasukan berubah.

Jika sebelumnya Abu Ubaidah menjadi Panglima Perang, digantikan Khalid Bin Walid, kini dikembalikan lagi ke Abu Ubaidah.

Reposisi. Penuh pertimbangan. Umar Bin Khattab juga seorang Panglima Perang yang tangguh. Dan takaran kepemimpinannya tidak diragukan dalam mengatur formasi pasukan.

Namun Khalid Bin Walid tidak kecewa Dia patuh dengan perintah Khalifah. Namun dia menyembunyikan atas pergantian tersebut. Hanya dia, pembawa mandat dan Abu Ubaidah serta Umar Bin Khattab yang mengetahuinya.

Alasan pergantian Khalid Bin Walid, sebab Umar takut. Ada semacam keyakinan Umat Islam ketika itu bahwa jika Panglima Perang adalah Khalid, maka pasti kita menang.

Oleh karena hal tersebut, Umar takut murka Allah, sebab semua kemenangan Islam atas kehendak Allah itu sendiri.

Pertempuran Di Ajnadin (16 H. = 636 M.)

Negeri Taklukan meluas, kini termasuk Damaskus, Aleppo, Homs dan Anthiokia jatuh ketangan Islam, Khalifah Umar Bin Khattab berhasil. Menalukkan beberapa daerah yang sebelumnya menjadi kekusaaan Bangsa Romawi dan Persia.

Selanjutnya bergerak ke sisi luar Syiria. Disana ada Jenderal Arethion, dari Romawi yang masih bertahan.

Menahan serangan Arab ketika itu, maka pecahlah perang yang membara. Sama dengan Yarmuk sebelumnya. Namun kembali pasukan Romawi dipermalukan.

Yaffa, Gizet Ramla, Tyrus, Uka (Acre), Sidon, Askalonia dan Beirut jatuh ketangan Islam.

Taklukan Negeri Khalifah Umar di Baitul Maqdis  (18 H. = 639 M.)

Baitul Maqdis, Palestina merupakan area peperangan dari dulu.

3 Tahun kemudian, Laskar Islam kemudian teguh untuk menaklukkan Baitul Maqdis, ibu kota Palestina dan kota suci orang Kristen.

Kota ini dikelilingi oleh benteng-benteng yang kuat, dipertahankan oleh pasukan besar tentara pengawal kota dibawah pimpinan Arethion, yang sebelumnya telah diobrak abrik. Berhasil melarikan diri.

Empat bulan lamanya kota itu dikepung sehingga penduduknya hampir mati kelaparan.

Akhirnya keluarlah Patrik kota itu menyatakan kemauannya menyerahkan kota itu dengan syarat bahwa penyerahan langsung kepada Khalifah Umar sendiri.

Maka berangkatlah Umar bin Khattab ke Baitul Maqdis menerima penyerahan kota itu serta menegaskan keamanan penduduknya dan kemerdekaan mereka menjalankan agamanya.

Dengan demikian seluruh Syam dan Palestina telah jatuh ke tangan Islam, sesudah mereka berperang mati-matian lebih kurang enam tahun lamanya.

Demikian artikel penaklukan beberapa area di sekitar Jazirah Arab di masa kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab RA.

Tinggalkan Balasan