Pimpinan Perang Dari Berbagai bangsa dan Kerajaan YanG tangguh
Pimpinan Perang Dari Berbagai bangsa dan Kerajaan YanGgtangguh

Pimpinan Perang Dengan Sejarah Penaklukan Bangsa

Diposting pada

Beritaku.Id, Peristiwa – Kerajaan melakukan peperangan, memang sudah menjadi tradisinya dizaman dulu. Menyerahkan diri atau saya serang. Kira-kira begitu sikap penguasa. Berikut Ponggawa Atau Pimpinan Perang zaman kerajaan kuno yang handal.

Kata ponggawa perang sama dengan Panglima Perang, yang mengatur strategi peperangan yang akan dilaksanakan.

Dengan taktik yang susah dibendung, mereka berhasil dalam beberapakali pertempuran. Meski juga beberapa diantara mereka kalah taktik.

Pimpinan Perang Tersohor

Adapun Pimpinan Perang yang paling di takuti oleh musuh ketika dirinya memimpin pasukan adalah :

Khalid Bin Walid

Panglima Perang yang satu ini, merupakan panglima perang yang dikenal dengan Pedang Allah. Mulai menjadi panglima ketika terjadi perang Mut’ah.

Dia menjadi panglima yang mampu menerjang kerajaan Bizantium atau Romawi Timur.

Pasukan kerajaan Romawi yang gagah berani di hajarnya, meski dengan kondisi pasukan yang tidak seimbang.

Berperang dizaman Rasulullah SAW. Yang memohon mati Syahid, namun tidak mati syahid.

Dimana rivalitas pasukan terjadi 3000 muslim melawan 200.000 Romawi. Namun kuasa Allah SWT menyebabkan Islam menjadi pemenang.

Julius Cesar

Julius Cesar merupakan ponggawa perang terbesar. Dari kekaisaran Romawi yang kemudian menjadi kaisar Romawi di tahun 59 SM.

Dia dikenal sebagai Panglima dan juga pimpinan Pasukan Perang yang matang dan mematikan. Karena kecerdasannya itulah pada masa pemerintahannya dia memperluas wilayah kekuasaan Romawi hampir seluruh Eropa, sebagian Afrika, dan sebagian Asia barat.

Julius Cesar meninggal dunia pada tanggal 15 Maret 44 SM akibat ditusuk hingga tewas oleh penghianat Markus Julius Brutus. Dan beberapa senator Romawi.

Akibat pembunuhan itu terjadi perang saudara ke-2 yang mengakibatkan berakhirnya era Republik Romawi. Dan menjadi awal dari Kekaisaran Romawi dibawah kekuasaan cucu lelaki dan putra angkatnya Kaisar Agustus.

Achilles

Ponggawa berikutnya dalam peperangan adalah Achilles.

Achilles merupakan panglima legendaris Yunani yang terlibat dalam Perang Troya (abad ke-13 SM).

Dalam mitos Yunani, Achilles dipercaya sebagai titisan dewa. Hal ini karena ibunya adalah Thetis yang berasal keluarga dewa Nereus dan Doris.

Achilles mulai diakui kehebatannya setelah mengalahkan Hector, seorang pangeran dan pahlawan terbesar Kerajaan Troya.

Dalam kejadian berikutnya terjadi peperangan melawan Kerajaan Troya. Perlu diketahui bahwa Achilleh memiliki hubungan dengan Putri Troya.

Saat Perang Troya tengah berlangsung, Achilles, tidak ada niat untuk membunuh, melainkan berniat untuk menyelamatkan kekasihnya.

Namun Naas Paris membunuh Achilles dengan memanah tepat di tumit Achilles yang merupakan satu-satunya titik lemah yang dimilikinya.

Kisah ini menjadi asal-usul menculnya istilah ‘Achilles’ dalam bahasa medis dikenal dengan tumit.

Leonidas I

Pasukan spasta yang menakutkan, Ponggawanya adalah Leonidas I

Leonidas I merupakan raja Sparta ke-17 dari Dinasti Agiad.

Dia naik tahta menggantikan Cleomenes I sekitar tahun 489 SM.

Dia menjadi sangat terkenal akibat perannya di pertempuran Thermopylae. Yang mana jumlah pasukan yang dibawanya berkisar antara 4.000 sampai 7.000 orang.

Dia bersikeras mempertahankan wilayah tersebut sampai ajalnya walau terus diserang dari banyak prajurit gabungan. Yang jumlahnya jauh lebih besar dari jumlah pasukan yang dibawanya.

Lazimnya sebagai seorang Spartan, dia memiliki jiwa yang tak pernah menyerah. Lebih terhormat untuk mati membela Bangsa Sparta daripada dia harus menyerah terhadap musuh.

Pada kekuatan Sparta menekankan pertempuran laut. Dimana ini menjadi armada kuat Pasukan Sparta.

Dengan kemampuan berenang yang hebat, mampu menghalau musuh dengan kemampuannya yang tidak tertandingi.

Richard I

Richard I merupakan Ponggawa sekaligus Raja Inggris yang bertahta tahun 1189-1199.

Dia dijuluki sebagai ‘Richard si Hati Singa (Lion Heart)’ karena keberaniannya di medan perang.

Richard I sangat terkenal dalam Perang Salib, terutama saat keberhasilannya merebut Siprus untuk mendukung Pasukan Perang Salib.

Saat Richard hilang ditangkap Raja Austria, maka Paus Sang Pemimpin Agama Katholik sendiri yang turun tangan demi membebaskannya.

Richard menemui ajal justru di luar medan perang. Ia meninggal karena infeksi luka yang didapatnya akibat panah yang yang menerkamnya saat di medan perang.

Sun Tzu

Tidak mengandalkan jumlah, tapi lebih kepada kualitas strategi pernag yang dijalankannya.

Sun Tzu merupakan pakar intelejen militer perang kenamaan dari daratan Cina sekitar tahun 2500 SM.

Ia dikenal sangat baik dalam menerjemahkan siasat perang. Sampai sekarang, salah satu peninggalan yang masih bisa dinikmati dunia adalah buku ‘The Art of War’. Yang sengaja ditulisnya dalam memberi panduan perang dan strategi penyergapan.

Ungkapan Su Tzu yang paling terkenal adalah, “kenalilah lawanmu dan kenalilah dirimu sendiri. Maka dalam 100 pertempuran pun kemenanganmu tidak akan dalam bahaya”.

Dalam berperang, Sun Tzu lebih menitikberatkan strategi perang daripada beradu fisik. Dengan strategi tersebut nyatanya membawa pasukannya menjadi lebih kuat dan meraih berbagai kemenangan.

Musashibo Benkei

Musashibo Benkei atau yang lebih populer dipanggil Benkei saja merupakan pendekar biksu. Di akhir Zaman Heian (794 – 1185 M) dalam sejarah Jepang.

Ketika sedang di Kyoto, Benkei bercita-cita mengumpulkan 1.000 bilah pedang (Tachi) dengan cara merampasnya dari samurai yang kebetulan lewat.

Dikisahkan Benkei sudah mengumpulkan 999 pedang, yang berarti Benkei sudah tak terkalahkan 999 kali.

Namun sayang, ketika akan merebut pedang ke-1000 ia kalah oleh kecerdikan Yoshitsune.

Benkei terkenal dengan kematiannya yang tragis. Peristiwa kematian Benkei dikenal sebagai ‘Benkei No Tachi Ojo’ (Benkei tewas berdiri) karena ia saat itu mati sambil berdiri kaku.

Bima

Bima merupakan seorang panglima protagonis dalam epik Mahabharata yang berasal dari kerajaan Kuru.

Kosakata ‘Bhima’ dalam Bahasa Sanskerta artinya ‘hebat, dahsyat, atau mengerikan’.

Karena kehebatannya, Bima sering dipanggil dengan Bhimasena yang berarti panglima perang. Ia adalah seorang putra dari Dewi Kunti dan dipercaya sebagai penjelmaan Dewa Bayu (Dewa Angin).

Dia dikenal sebagai tokoh Pandawa yang kuat, bersifat kasar dan menakutkan bagi musuh, walaupun sebenarnya berhati lembut.

Bima setia pada satu sikap, yaitu tidak suka berbasa-basi, tak pernah bersikap mendua, serta tidak pernah menjilat ludahnya sendiri.

Bima dikisahkan memiliki kekuatan setara dengan tujuh puluh gajah.

Gajah Mada

Sebagai jendral di zaman kuno, Gajah Mada merupakan panglima perang yang sangat legendaris dari Kerajaan Majapahit. Menurut berbagai sumber, mitologi, kitab, dan prasasti dari zaman Jawa kuno, ia meiniti karier semenjak tahun 1313.

Gajah Mada terkenal dengan sumpahnya yang tercatat di Kitab Pararaton. Yakni Sumpah Palapa, yang berisi sumpah ia tidak akan menikmati kesenangan dunia sebelum mempersatukan nusantara.

Di dalam Kakawin Gajah Mada, dia dianggap sebagai penjelmaan Sang Hyang Narayana (Dewa Wisnu) ke atas dunia.

Menurut kisah yang lain, Gajah Mada dikatakan sakti mandraguna. Namun sayangnya, asal usul kelahiran dan kematiannya tidak tercatat dengan jelas.

Demikian Ponggawa Perang terkenal yang melegenda dengan kemampuan dan taktik perang mereka yang hebat.

Sumber : Pertempuran Dan Peperangan Tanpa Ketakutan