Merangkai Kata
Antara Cinta Dan Kata Hati (Foto: Dans)

5 Puisi Tentang Cinta, Rindu, Suami-Isteri, Kehidupan, dan Mantan Kekasih

Posted on

Tentang Cinta dan Rindu, Melukis Puisi Melalui rangkaian kata-kata indah, terbumbui majas sarat makna, manusia mengekspresikan perasaan dalam karya sastra.

Beritaku.Id, Pendidikan – Maka Setiap guratan kata pada puisi, mencerminkan perasaan dan kisah penulisnya. Baik itu cerita tentang cinta dalam diam, rasa rindu, kesetiaan, kehidupan, maupun luka yang ditinggalkan perpisahan.

Oleh: Riska Putri (Penulis Pendidikan)

Allah SWT memberkahi manusia dengan berbagai ilmu pengetahuan, hingga Melalui perantaraan malaikat Jibril, Ia mentransfer ilmu dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah (langit dunia) secara berangsur-angsur.

Puisi Membahas Tentang Cinta
Puisi Membahas Tentang Cinta (Foto: Ato Menulis)

Sejak zaman nabi Adam AS sampai sekarang, ilmu pengetahuan telah berevolusi secara konstan.

Selama bermilenia, sudah ratusan bahkan ribuan ilmu yang meramaikan dimensi-dimensi dunia, salah satunya adalah ilmu kesusastraan.

Maka, Jika kita menelusuri asalnya, besar kemungkinan sastra terinspirasi dari Sang Pencipta itu sendiri.

Sehingga Hampir semua manusia mengetahui, Allah SWT menurunkan perintah kepada manusia melalui perantaraan malaikat-Nya.

Perintah tersebut kemudian terabadikan menjadi ayat-ayat yang begitu indah, begitu menyentuh hati, terabadikan dalam ayat-ayat Kitab Suci-Nya.

Maka tak berlebihan rasanya jika mengatakan sastra terinspirasi dari perkataan Sang Pencipta.

Bahkan, Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan sastra sebagai “sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu”.

Definisi tersebut terasa tepat, karena pada dasarnya sastra memang kental nuansa abstrak, pragmatis, dan puitis. Selama beradab-abad, manusia telah menggunakan karya sastra sebagai wahana untuk mengabadikan pengalaman dan pemikiran tertentu.

Selain itu, Unsur seni, hiburan, serta pengetahuan bercampur aduk, diksi dirangkai sedemikian rupa, untuk mengajarkan generasi penerus mengenai nilai-nilai kehidupan, sosial, dan spiritual si penulis.

Dalam khazanah sastra, terdapat empat jenis karya yang kita kenal, yaitu:

  1. Prosa
  2. Puisi
  3. Sandiwara/drama
  4. Novel sastra/prosa panjang

Selanjutnya, artikel ini akan mengupas lebih dalam mengenai puisi, yang mencerminkan berbagai lapisan kehidupan manusia.

Baca juga beritaku: Perpisahan SMA, Puisi, Kata-kata Puitis, Contoh Pidato

Kalimat Puisi tentang Cinta yang Diam

Puisi adalah sejenis karya sastra yang tertulis untuk menggambarkan perasaan sang penulis, penyairnya menata kata, meracik rima, serta menggubah bahasa menjadi cerita indah nan imajinatif.

Karya puisi juga sangat kental dengan penggunaan majas yang kreatif. Memancing minat, hingga meninggalkan kesan pada berbagai panca indera manusia.

Menurut sejarah, manusia kerap menggunakan puisi untuk mengekspresikan berbagai perasaannya, sebagaimana Salah satunya adalah perasaan cinta.

Puisi
Menulis Karya Puisi (Foto: Mahdaen)

Tak terhitung banyaknya puisi yang menceritakan perasaan cinta penulisnya, terutama cinta yang terasak dalam diam.

Ketika bibir terasa kelu, hingga kata tak mampu bersuara, gubahan kata menjadik senjata penyampai rasa.

Contohnya, monolog Romeo dalam drama Romeo dan Juliet gubahan William Shakespeare. Pada adegan kedua, babak kedua drama tersebut, Romeo berpuisi mengenai kekagumannya terhadap pujaan hatinya, Juliet.

Romeo yang tengah berdiri di bawah jendela kamar Juliet, yakni berkata:

But soft! What light through yonder window breaks? It is the east, and Juliet is the sun.

Kemudian Pada larik tersebut, Romeo mengandaikan eksistensi Juliet sebagai matahari.

Kecantikannya ibarat cahaya matahari, yang bersemburat dari arah timur, hingga menyusup antara celah-celah jendela. Kemudian pada larik-larik berikutnya, Romeo kembali menyatakan kekagumannya pada Juliet.

Keelokan paras Juliet dengan alam ciptaan Tuhan. Pria yang tengah mabuk asmara itu bahkan berkata bahwa kemolekan sang dambaan hati, mengalahkan cahaya bintang-bintang Tuhan. Di akhir monolognya, Romeo berkata:

“See how she leans her cheek upon her hand. Oh, that I were a glove upon that hand. That I might touch that cheek!”

Hasrat yang tak mampu ia bendung tercurah pada larik tersebut. Maka Betapa mendambanya Romeo, betapa ingin ia merangkul sang pujaan hati, memilikinya sepenuhnya.

Sayang seribu sayang, yang bisa ia lakukan hanyalah menyampaikan perasaannya pada angin yang perlahan berlalu.

Baca juga beritaku: Tidak Bisa Mudik? Ini 23 Ucapan Lebaran untuk Orang Tua

Beberapa Karya Puisi Monumental

Selain dalam kisah Romeo dan Juliet, cerita tentang cinta dalam diam bisa kita temukan dalam puisi lain, diantaranya:

  1. Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono
  2. Kangen karya WS Rendra
  3. Cinta Tanpa Tanda karya Sujiwo Tejo
  4. Kekasihku karya Joko Pinurbo

Rindu Dalam Sekam, Penggambaran Kerinduan Secara Puitis

Selain untuk menyampaikan rasa cinta, manusia juga seringkali menggunakan puisi untuk menyampaikan rasa rindu.

Mungkin terlalu malu, sehingga lisan menjadi kaku untuk mengucap rindu secara langsung. Atau mungkin, kata rindu hanya berdenting di batu nisan, karena yang kerinduan telah berpulang ke keabadian.

Di zaman sekarang, puisi yang bercerita tentang kerinduan seringkali teranalogikan dengan peribahasa “bagai api dalam sekam”.

Meskipun kerinduan itu terpendam jauh di lubuk hati, pada akhirnya ia akan membakar juga.

Rasa Cinta Dalam Jiwa
Menulis Karya Seni Puisi (Foto Coretanpenaku)

Tak heran, karena kerinduan yang terpendam memang bisa membuat manusia kehilangan kontrol atas dirinya. Bahkan, manusia bisa kehilangan kewarasannya jika terlalu merindukan sesuatu, sebagaimana cerita Layla dan Majnun.

Kisah cinta Qays dan Layla mendapat tentangan dari sekitarnya. Tangan takdir seolah berusaha sekuat tenaga memisahkan kedua kekasih yang mabuk asmara.

Hingga, Qays yang teramat merindukan Layla, kehilangan kewarasannya dan menjadi si Majnun (gila) yang berkelana sembari mengumandangkan rasa cintanya yang kesepian.

Baca juga beritaku: Seni Berbicara, 3 Zaman: Retorika Klasik, Pertengahan dan Modern

Puisi Qays Untuk Layla

Di akhir nafasnya, untuk terakhir kalinya Majnun menciptakan puisi untuk mengabadikan perjalanan cintanya dengan kekasih yang telah duluan mangkat.

“Kesengsaraan itu milikku.

Kesedihan telah menyatu dalam jiwaku.

Kenangan tentang bibir yang begitu manis.

Telah membelenggu lidahku untuk mengungkapkan pesonanya.

Saat sayap cintaku terluka dan tidak dapat terbang.

Burung indah mempesona yang telah lama aku cari, datang di hadapanku.

Seseungguhnya, engkau merangkai pesona bidadari.

Dan apalah artinya diriku? Aku tidak mengetahui apapun selain bayanganmu.

Tanpa engkau aku tiada. Khayalan telah menyatukan kita berdua.

Kita melebur menjadi satu, menyatu dalam ketetapan cinta.

Kita adalah dua tubuh dengan hati yang satu dan jiwa yang sama.

Dua lilin dengan satu nyala api murni, semurni surga.

Dari bentuk-bentuk yang sama, digabung menjadi satu.

Dua titik menjadi satu, tiap jiwa mendukung satu sama lain.”

Selepas itu, Majnun benar-benar tertelan kegilaan. Ia berdiam di samping makam Layla, hanya berkawan hewan-hewan liar sahabatnya, sampai akhirnya maut datang mengakhiri kerinduannya.

Kesetiaan Suami-Isteri, Abadi Dalam Puisi

Tak hanya tentang kisah cinta dan kerinduan pasangan kekasih, manusia juga biasa menggunakan puisi untuk mengabadikan perjalanan kehidupan sepasang suami-isteri.

Dalam berbagai kebudayaan, kisah kasih suami kepada istri, maupun sebaliknya, kerap terekspresikan menggunakan analogi puitis.

Contohnya, sastra Cina kuno yang menganalogikan pasagan suami-isteri dengan pasangan itik Mandarin.

Dalam literatur klasik, itik Mandarin menjadikan simbol cinta dan kesetiaan, karena orang-orang pada masa itu meyakini itik Mandarin hanya kawin sekali seumur hidupnya.

Terdapat banyak karya sastra yang mengandung kalimat seperti “Bagaikan sepasang itik Mandarin, kami memendam cinta hingga bunga plum mekar di musim semi”, serta kalimat lain yang senada.

Penjelajah relung-relung dunia maya juga bisa dengan mudah menemukan puisi-puisi tentang kisah cinta suami isteri. Contohnya, puisi berjudul “Puisi Kesetiaan Seorang Suami” karya Risma Mei Lina:

“Ini bukti kesetiannku:

Kuikat kamu dalam janji suci pernikahan.

Duduk berdua kita di pelaminan.

Hanya tanganmu yang kugenggam.

Dan hanya dirimu yang terpantul di bola mata.

Bila suatu saat aku berkelana.

Kutinggalkan kamu bersama ibu-bapak.

Jangan khawatir aku tergoda janda.

Sebab diri ini bukan pengobral cinta.

Dan akan setia padamu saja.”

Contoh lainnya, puisi berjudul “Segara Jadi Swarga” karangan Anik Susanti:

“Tak sekadar ikrar suci.

Sakral manawi, pelamin kita.

Mengenai hal mata bersanding jiwa.

Menyeluruh pula indra, raga.

Segara rasaku jadi swarga.

Segala apa terhadapmu berpahala.

Tentang dunia, aku lebih setia untukmu.

Sepenuh ruh jasadku.

Kuat, dalam bara dan gelombang.

Pundak dan dada, tempat pulang.

Di pelukmu aku tenang.

Rias dunia menggoda.

Bahasa tegarku bersuara.

Aku memilih ikatan surga.

Yang baka.

Melibas ombang-ambing prahara.

Teguh mengikat kita.

Sehidup seumur hayat.

Tetap menggenggam, lekat.

Nafas kesetiaan.

Raih beriringan.

Jaga nala cinta dalam Nirmala.”

Kisah-kisah pernikahan juga dapat ditemukan pada puisi-puisi karangan Anne Bradstreet.

Ia adalah seorang penyair wanita asal Amerika Serikat di zaman Puritan. Hingga Puisi-puisi karya Anne banyak menceritakan kehidupan pernikahan yang sarat makna dan tema spiritual Alkitabiah, sesuai periode Puritan yang berkembang di masyarakat saat itu.

Puisi Cinta Membingkai Kehidupan

“Mereka semua berdatangan.
.…… mencoba membuatku tertawa.
Mereka mengajakku bermain.
Sebagian bermain untuk bersenang-senang, dan sebagian untuk dikenang.
Dan kemudian mereka pergi.
Meninggalkan aku di tengah reruntuhan permainan.

Tanpa tahu yang mana harus dikenang.
Dan yang mana untuk sekedar bersenang-senang.
Dan meninggalkan aku dengan gema dari tawa yang bukan milikku.

Lalu kau datang.
Dengan caramu yang lucu.

Tidak seperti orang lain.
Dan kau membuatku menangis.

Dan tampaknya kau tidak peduli meski aku menangis.

Kau bilang permainan sudah selesai.

Dan menunggu.

Sampai seluruh air mataku berubah.

Menjadi kegembiraan.”

Karya Sastra
Karya Sastra Puisi (Foto: Mata)

Puisi di atas ditulis oleh seorang gadis kecil bernama Sheila, yang menceritakan tentang pertemuannya dengan guru pendidikan khusus yakni bernama Victoria Lynn Hayden.

Torey, nama panggilan akrab Victoria, mengabadikan perjalanannya sebagai pendidik melalui berbagai buku. Salah satunya berjudul “Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil”, yang turut menampilkan puisi tersebut sebanyak dua kali.

Dalam puisi tersebut, Sheila merangkum perjalanan kehidupannya dalam dua bagian. Di bagian pertama, ia menceritakan kehidupannya sebelum bertemu Torey, memberikan gambaran singkat tentang hidupnya yang diliputi duka dan kesepian.

Lalu, di bagian kedua ia menceritakan pertemuannya dengan Torey. Sekilas memperlihatkan bagaimana dunia yang ia kenal dijungkirbalikkan. Melalui rangkaian kata yang lugu, Sheila menceritakan perkenalannya dengan cinta dan kehangatan manusia, yang tidak ia kenal sebelumnya.

Seperti Sheila, banyak penyair yang juga mengisahkan perjalanannya mengarungi kefanaan dunia dalam bentuk puisi. Salah satunya adalah WS Rendra. Melalui puisi-puisi seperti; Sajak Sebatang Lisong, Sajak Orang Lapar, Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang, Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon, dan lain sebagainya, Rendra melukiskan berbagai gambaran kehidupan melalui rangkaian kata menyayat hati nan indah.

Puisi untuk Mantan Kekasih, Bercerita tentang Senyum dan Luka

Bukan hanya untuk menceritakan kisah cinta, kerinduan, dan perjalanan hidup, puisi juga kerap digunakan sebagai penyampai rasa sakit akibat perpisahan.

Sebagai contoh, puisi berjudul “Perkenalkan, Ini Saya Bukan Aku.” yang meledak popularitasnya tahun 2018 lalu.

Bukan tanpa alasan, karena sang penyair, Febiyanti Maryana dan Hafizh Haq, mengguratkan penanya sedemikian rupa, melahirkan kata-kata sarat kepedihan yang kekecewaan dari relung jiwa.

Terlebih, puisi itu kemudian dinarasikan Elysia, bersama Fadly Maulidia Asgap yang dengan cermat menggubah lagu latar belakang, mengamplifikasi kepedihan yang tercurah pada bait-bait singkat, yang berbunyi:

“Perkenalkan ini saya bukan aku.

Dengan sakit kronis, sebab terkena tikaman tak kasat mata yang merangkul lalu menusuk.

Dengan telinga menuli, mata memejam, dan hati lebam-lebam.

Mengapa?

Saya yang berdarah dia yang kamu rawat dengan cinta.

Baiklah..

Tahun-tahun saya dan kamu sudah usang.

Hancur bahkan.

Kamu baik selama itu.

Tapi, entah kenapa di mata ini pengkhianatan selalu menjijikan.

Sengaja puisi ini tertulis saya.

Karena “Aku” terlalu akrab untuk kita yang terlanjur asing.”

Sehingga Tiada batasan tertentu dalam menuliskan puisi, rangkaian kata dalam puisi adalah bentuk kreatifitas, yang bercerita dan mencerminkan perasaan penulisnya. Ruang dan waktu tak memiliki arti, ketika diabadikan dalam racikan diksi indah penuh makna.

Daftar Pustaka

Irmscher, William. 1975. The Nature of Literature. New York: Holf Reinhard and Winstonic.

Wellek and Warren. 1977. Theory of Literature. New York: Harcout Brace and Company.

Shakespeare, William. 1913. Romeo and Juliet. Philadelphia: J. B. Lippincott & Co.

Nizami, Syekh. 2020. Layla Majnun. Yogyakarta: Diva Press.

2018. Kumpulan Puisi Tentang Kesetiaan Seorang Istri Dan Kesetiaan Suami. Puisi dan Kata Bijak. https://www.puisibijak.com/2018/10/kumpulan-puisi-tentang-kesetiaan.html. Diakses pada 3 Maret 2021.

Hayden, Torey. 2009. Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil. Bandung: Qanita.

Thefadlyma. 2018. Perkenalkan, ini saya bukan aku..” // A Visual Poem feat Elysia. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=1J5GV1uLRwY. Diakses pada 3 Maret 2021.

Bagikan Ke