Kerajaan Di Indonesia

Kerajaan Indonesia: 4 Sosok Panglima Perang Yang Fenomenal

Diposting pada

Indonesia yang saat ini berbentuk negara republik, sesungguhnya memiliki sejarah panjang yang terbagi menjadi 5 periode. Diantaranya adalah Era Prakolonial atau Era Kerajaan. Dari ratusan kerajaan yang pernah berdiri di nusantara, terdapat 4 kerajaan yang fenomenal berkat sosok para panglimanya.

Beritaku.id, Budaya – Indonesia sebagai negara termasuk masih hijau. Pada tahun 2021 ini, Indonesia baru berusia 76 tahun. Namun jika menimbang literatur dan penemuan-penemuan ilmiah, sebetulnya Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang. Bahkan, rentang sejarah Indonesia telah berlangsung sejak zaman prasejarah berdasarkan hasil penemuan fosil “Manusia Jawa” yang berusia 1,7 juta tahun.

Oleh: Riska Putri (Penulis Budaya)

Ketika membaginya menjadi bentuk periodik, sejarah Indonesia terbagi menjadi 5 era yaitu:

  1. Era Prakolonial
  2. Kolonial
  3. Era Kemerdekaan Awal
  4. Orde Baru
  5. Era Orde Reformasi

Mengenai Prakolonial, termasuk di dalamnya adalah masa kerajaan-kerajaan di Nusantara. Beberapa kerajaan terkenal yang pernah berdiri di bumi pertiwi seperti Majapahit, Sriwijaya, dan Samudera Pasai. Tetapi, kerajaan yang pernah ada di Indonesia sebenarnya lebih banyak daripada itu. Salah satu di antaranya adalah Kerajaan Mempawah.

Mengenal Sejarah Singkat Kerajaan Panembahan Mempawah

Kerajaan Nusantara

Kerajaan Mempawah atau Kerajaan Panembahan Mempawah adalah suatu kerajaan Islam yang pernah ada di Indonesia. Saat ini, wilayah kekuasannya dulu berubah menjadi wilayah Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Nama Mempawah sendiri berasal dari nama salah satu pohon yang tumbuh di sekitar hulu sungai bernama Sungai Mempawah.

Pendiri Kerajaan Mempawah bernama Opu Daeng Menambon, putra dari Opu Tandre Borong Daeng Rilekke yang merupakan raja dari Kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan. Ibunya bernama Putri Kesumba, seorang putri dari Kerajaan Matan Tanjungpura.

Kehadiran Opu Daeng Menambon di Mempawah membawa dampak besar bagi masyarakat sekitar. Selain membawa ajaran Islam, beliau turut meletakkan dasar keberagaman etnis di pulau Kalimantan. Opu Daeng Menambon merupakan sosok yang mengajarkan warga Mempawah mengenai nilai keharmonisan antar-etnis dan antar-agama.

Jika ada seorang raja, niscaya akan ada sosok-sosok pengawal dan panglima di sekelilingnya. Mereka bertugas untuk menjaga keselamatan raja, sekaligus menjaga ketenteraman kehidupan di wilayah kerajaan.

Alkisah, di Kerajaan Mempawah tersebut sesosok panglima berkulit hitam serta bertubuh besar dan tegap. Sebab itu, kerajaan dan anggota masyarakat lantas memberi julukan “Panglima Hitam” pada sang panglima. Julukan tersebut sebetulnya bukanlah sebuah tindakan merundung (bullying), namun lebih kepada sebutan kagum akan kehebatan sang panglima.

Konon, Panglima Hitam memiliki keistimewaan yang panglima lain tidak miliki. Keistimewaan tersebut berupa kemampuan bela diri dan kesaktian begitu luar biasa, sampai-sampai tak ada yang bisa menandingi. Tugas utama Panglima Hitam adalah menjaga keamanan kerajaan, serta menjaga kedaulatan wilayah pemerintahan Kerajaan Mempawah.

Wafatnya Panglima Hitam Pemimpin Kerajaan Panembahan Mempawah

Panglima Hitam wafat ketika mempertahankan kedaulatan kerajaan dari serbuan para lanun (perompak). Pada mulanya tak ada seorang prajurit pun yang sadar bahwa sang panglima telah terluka. Hanya saat kemenangan telah mereka dapatkan, dalam perjalanan pulang ke kerajaan mereka menyadari betapa pucat sang panglima.

Usut punya usut, ternyata dalam pertempuran tadi perut sang panglima terkena tikaman keris si kepala lanun. Tikaman itu pun bukanlah tikaman biasa, sebab bilah keris kepala lanun terlah berselaput racun yang hanya ia seorang punya penawarnya. Naas, si kepala lanun telah duluan tewas di tangan Panglima Hitam.

Merasakan ajal semakin dekat, Panglima Hitam kemudian bertitah pada para prajuritnya. Apabila ia meninggal sebelum mencapai daratan, maka kuburkan tubuhnya di sana dan jangan beritahukan pada siapapun bahwa jasadnya bersemayam di sana.

Tetapi, apabila ia meninggal setelah mencapai daratan, maka kuburkan jasadnya di tempat yang layak serta kabarkan mengenai kematiannya pada orang-orang di seantero kerajaan. Tak lama, Panglima Hitam menghembuskan nafas terakhirnya.

Meskipun enggan, para prajurit tak kuasa menolak titah sang panglima yang telah berpulang. Mereka menguburkan jasadnya di teluk, serta mengunci mulutnya rapat-rapat mengenai hal tersebut.

Baca Juga Beritaku: Peninggalan Kerajaan Majapahit, Sriwijaya, dan Kutai, 25 Situs Budaya

Sosok dan Sepak Terjang Panglima Hitam Lancang Kuning

“Lancang Kuning berlayar malam. Haluan menuju ke lautan dalam. Kalau nahkoda kuranglah paham. Alamat kapal akan tenggelam. Lancang Kuning menentang badai. Tali kemudi berpilit tiga.”

Pantun di atas adalah sebuah pantun yang sangat populer di kalangan masyarakat Riau, terutama yang berasal dari etnis Melayu. Bait-baitnya menceritakan filosofi tentang bagaimana seorang pemimpin (nahkoda) mengarungi lautan agar kapal (lancang) yang di kemudikannya tidak karam.

Lancang pada pantun tersebut adalah eufimisme dari pemerintahan kerajaan, sementara nahkodanya adalah sosok sang raja. Hingga kini, sebutan negeri atau bumi Lancang Kuning erat melekat pada daerah Riau.

Seorang mendiang budayawan Riau bernama Tenas Effendy, pernah menyinggung alasan kenapa Riau diberi sebutan Lancang Kuning, dalam tulisannya yang berjudul “Lancang Kuning”. Tenas mengatakan bahwa sebutan itu merupakan tanda kegemilangan Riau sebagai suatu daerah.

Kerajaan Sri Bunga Tanjung

Selaras dengan pembahasan sebelumnya, jika Kalimantan punya Kerajaan Mempawah dan Panglima Hitamnya, Riau juga punya Kerajaan Sri Bunga Tanjung berikut Panglima Hitam juga. Para sejarawan meyakini bahwa daerah Dumai saat ini dulunya adalah wilayah jajahan Kerajaan Sri Bunga Tanjung.

Sama seperti Panglima Hitam Mempawah, Panglima Hitam Lancang Kuning juga bertugas menjaga keamanan dan keselamatan Sultan selaku pemimpin kerajaan. Ia juga menjalankan tugas penting menjaga kedaulatan kerajaan dari sergapan para perompak yang silih berganti berdatangan hendak menguasai tanah Riau.

Rahasia persemayaman jasad sang Panglima juga terkubur rapat-rapat bersama dengan matinya para prajurit yang memakamkan. Hanya saja, sebagai bentuk penghormatan terakhir, mereka mendirikan makam tanpa tanda di sekitar teluk Tanjung Pinang.

Saat ini, makan itu berada di Hutan Larangan Adat “Ghimbo Potai”, Kenegerian Rumbio, Kampar, Riau. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, konon setiap malam saat bulan purnama, orang-orang yang lewat dekat makam itu sering berjumpa dengan seseorang yang berdiri dekat makam.

Wujudnya nampak seperti sosok seorang panglima yang gagah, berpostur tinggi besar, dan berkulit hitam. Masyarakat yang mengetahui kisah Panglima Hitam, menyebut bahwa sosok tersebut adalah perwujudan sang panglima yang hingga kini masih menjaga tanah Riau.

Baca Juga Beritaku: Banten Kota Bandar Yang Sibuk Sejak Zaman Kerajaan Tahun 1526

Panglima Dayak yang Legendaris

Ilustrasi para penduduk asli Dayak

Kembali ke tanah Kalimantan, kita mengenal penduduk aslinya yang bernama Suku Dayak. Suku yang terkenal akan kesaktiannya ini pun memiliki sosok-sosok panglima yang tangkas dalam melindungi kampung dari serangan musuh.

Gelar dan julukan panglima dalam adat istiadat masyarakat Dayak pun tak bisa sembarangan disematkan. Mereka yang ingin mendapatkan gelar ini harus memiliki karakter dan ciri khas yang membuatnya layak disebut panglima.

Konon, sosok para panglima ini pun tak bisa sembarangan di jumpai. Keberadaannya berselimut tabir misteri dan rahasia yang terjaga dengan rapat. Selama ini, masyarakat umum lazimnya hanya mengenal sosok Panglima Burung dan Panglima Kumbang saja. Padahal masih ada panglima-panglima lain yang sama saktinya, sama kuatnya, dan sama misteriusnya.

1. Panglima Api

Alkisah, suku Dayak Iban memiliki sosok seorang panglima yang mereka panggil dengan sebutan Panglima Api. Seperti halnya panglima-panglima lain, sosok Panglima Api pun tidak biasa muncul dalam kehidupan sehari-hari. Ia hanya akan menampakkan dirinya kala terjadi peperangan, disaat pasukannya tengah terdesak dan hampir terpukul mundur.

Konon, kemunculan Panglima Api merupakan pertanda kekalahan pasukan musuh. Salah satu jurus pamungkas sang panglima adalah kemampuannya memanipulasi elemen api, sehingga semua pasukan musuh akan tewas terkena jilatan api yang membakar mereka.

Setelai perang usai, Panglima Api akan kembali ke tempat pertapaannya. Semua pasukan pun wajib kembali ke kampungnya masing-masing dan menjalankan rutinitas seperti sedia kala. Pada saat telah sampai ke kampung halaman, para prajurit juga harus menjalankan ritual pengembalian roh Kamang Tariu.

Ritual tersebut bertujuan supaya para roh leluhur yang telah membantu dalam perang, bisa kembali ke alam roh dan tidak mengganggu masyarakat Dayak yang masih hidup.

2. Panglima Angsa

Masih berkaitan dengan penguasaan elemen alam, suku Dayak juga memiliki sosok Panglima Angsa yang menguasai elemen petir. Sebab itulah, masyarakat Dayak kerap menyebut Panglima Angsa dengan sebutan lain seperti Panglima Kilat atau Panglima Guntur.

Gemuruh guntur dan kilat senantiasa menyertai kedatangan sang panglima dari pertapaannya ke medan perang. Selain memiliki kemampuan memanipulasi petir, Panglima Angsa juga memiliki kemampuan menebas lawan dengan sangat cepat, layaknya sambaran kilat.

3. Panglima Sumpit

Sama seperti Panglima Burung, sosok Panglima Sumpit lekat dengan senjata adat masyarakat Dayak. Jika Panglima Burung identik dengan senjata bernama Mandau, Panglima Sumpit berkaitan erat dengan senjata Sumpit asli Dayak.

Sumpit-sumpit asli Dayak seperti yang digunakan Panglima Sumpit, memiliki nilai tinggi dan tidak dijual di pasaran. Sumpit ini terbuat dari kayu ulin dengan panjang sekitar 2 meter. Selain sebagai alat menyumpit, Sumpit asli Dayak juga berfungsi sebagai tombak.

Pada bagian ujung sumpit, terpasang mata pisau yang diikat menggunakan rotan. Bagian lobang sumpitnya pun dibuat sedemikian rupa, dengan permukaan yang sangat licin dan lurus. Hal ini menghasilkan daya sumpit dengan presisi tinggi, serupa dengan senapan-senapan modern.

4. Panglima Naga

Seluruh panglima Dayak memang misterius dan sulit ditemui, namun yang paling misterius dan paling sukar dijumpai diantara semuanya adalah Panglima Naga. Semua hal berkaitan sosok ini masihlah misterius, bahkan di kalangan masyarakat Dayak sendiri.

Jangankan rupanya, kekuatan yang bersemayam dalam diri Panglima Naga pun tak banyak yang mengetahui. Meskipun demikian, masyarakat setempat meyakini bahwa sosoknya adalah yang paling kuat diantara panglima-panglima Dayak lainnya.

Konon, tempat pertapaan Panglima Naga berada di gunung. Hanya saja, sang panglima tidak pernah bertapa di satu tempat saja. Ia selalu berpindah-pindah tempat (nomaden), dan selalu menghilang dari pandangan seketika kelebatan sosoknya tertangkap mata masyarakat.

Baca Juga Beritaku: 10 Daftar Kerajaan Terlama Berjaya Di Indonesia

Panglima Besar Sambas yang Memukau

Keraton Sambas

Ketika Raden Menteri (Raden Janggut) menjadi Sultan Kesultanan Sambas, beliau merasa perlu menentukan siapa yang akan menggantikan dirinya kelak. Setelah bermufakat dengan keluarga istana, beliau mengangkat Raden Atung menjadi putra mahkota bergelar Sultan Muda Achmad. Disamping itu, beliau juga mengangkat Rade Pasu (Pangeran Anom) menjadi wazir dengan gelar Pangeran Bendahara Seri Maharaja.

Naas, pewaris tunggal takhta yaitu Raden Atung mengalami sakit dan mangkat terlebih dahulu mendahului ayahnya, dan tidak meninggalkan anak laki-laki. Untuk mencari penggantinya, Sultan kembali mengadakan musyawarah bersama seluruh kerabat istana.

Melalui mufakat tersebut, akhirnya Pangeran Anom naik menjadi Sultan Muda Kesultanan Sambas. Pertimbangannya adalah, Pangeran Anom yang masih muda belia tetapi sudah dikenal dan begitu disegani oleh masyarakat luas, cakap, berani, serta memiliki banyak pengalaman.

Selain anggota keluarga istana, Pangeran Anom juga terkenal sebagai seorang pelaut unggul Nusantara dan Panglima Besar Kesultanan Sambas. Saking santernya kehebatan Pangeran Anom, keberadaannya bahkan menggentarkan Datuk Akub dari Negeri Sulu.

Pada masa pemerintahan Raden Menteri, Kerajaan Sambas mendapat banyak keuntungan dari pertambangan emas. Hal tersebut membangkitkan hasrat Datuk Akub untuk menduduki Kesultanan Sambas. Namun, hasrat tersebut segera padam karena sang datuk merasa takut dan segan pada Pangeran Anom.

Sosok sang pangeran yang gemar bergaul dengan para pelaut, diketahui memiliki berbagai macam ilmu pengetahuan. Dari pergaulannya tersebut, ia telah belajar ilmu gaib, telepati, magnetisme, ilmu kebal, silat, hipnotis, cekok, serta berbagai ilmu lainnya untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.

Sosok Pangeran Anom juga terkenal akan ketangkasannya dalam melaut, kebijaksanaannya, serta kegagahberaniannya yang siap mengorbankan diri demi keamanan dan kemakmuran Kesultanan Sambas.

Daftar Pustaka

  1. Kerajaan Mempawah. Wikipedia Bahasa Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Mempawah.
  2. Tauhid. Napak Tilas di Makam Opu Daeng Menambon. Indonesia Kaya. https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/napak-tilas-di-makam-opu-daeng-menambon/.
  3. Legenda Panglima Hitam. Legenda Tradisi Mitos Riau. https://www.facebook.com/legendatradisimitosriau/posts/legenda-panglima-hitamalkisah-dahulu-kala-tersebutlahgelar-seorang-panglima-yang/388539888181986/.
  4. Boom, Aini. 2017. Sosok 4 Panglima Dayak yang Keberadaannya Masih Menjadi Misteri. Boombastis. https://www.boombastis.com/sosok-panglima-dayak/98226.
  5. Admin. 2011. Sepak Terjang Panglima Besar Kesultanan Sambas: Menelusuri Keberadaan Istana Kerajaan di Kalbar (58). Kalimantan Barat: Tim Deposit Pustaka Kalimantan Barat. https://kalbariana.web.id/sepak-terjang-panglima-besar-kesultanan-sambas-menelusuri-keberadaan-istana-kerajaan-di-kalbar-58/.