Asal Muasal Kata Modus
Asal Muasal Kata Modus

Modus Adalah Kata Lewat Pertarungan Berdarah Di Romawi

Diposting pada

Jangan asal menyebut kata modus dan maksimal sebab kata itu merupakan sebuah rangkaian yang melewati fase berdarah.

Beritaku.id, Organisasi dan Komunikasi – Mungkin jika kita bertanya, apa pengertian modus dan maksimal. Maka sangat cepat kita menjawab bahwa modus adalah modal dusta atau bohong. Sementara maksimal adalah sesuatu yang memiliki sinonim tertinggi, maksimum maupun optimal.

Pendapat ini merupakan sesuatu yang benar seiring dengan perkembangan zaman.

Akan tetapi jika kita harus membuka sejarah. Maka pengertian keduanya berasal dari istilah yang sangat kelam bahkan berdarah.

Sebuah sejarah panjang hingga mampu menghasilkan makna kata modus sebagaimana kita kenal seperti sekarang ini.

Modus Dan Maksimal Dalam Sejarah Romawi

Moduslah yang menjadi awal kisah kata maksimal yang kita pakai sekarang ini. Dan itu sesuai dengan sejarah kerajaan Romawi.

Medan peperangan Kaisar Marcus Aurelius adalah seorang Kaisar Romawi yang bertahta pada tahun 180 setelah masehi.

Di zaman kejayaannya ini ke kaisaran Romawi menguasai lebih dari seperempat permukaan bumi dari hamparan gurun pasir Afrika sampai dengan dataran tinggi Skotlandia Utara.

Markus Aurellius telah menghabiskan 12 tahun terakhir dari hidupnya untuk memperluas daerah jajahan Romawi di tanah Jerman. Maka tinggal tersisa suku yang harus ia taklukkan maka kedamaian akan bisa mereka raih di segala penjuru kerajaan Romawi.

Marcus Aurellius Kaisar Romawi
Patung Marcus Aurellius (Foto: Rawanda)

Seorang jenderal yang bernama Maksimus selain memimpin penyerangan. Ia juga adalah orang kepercayaan kaisar yang paling ia sayangi.

Tidak hanya menjadi kesayangan Kaisar, Maximus adalah seorang jenderal. Yang sangat disegani dan dihormati oleh seluruh jajaran pasukannya.

Dalam suatu peperangan mereka sedang menunggu salah satu prajurit mereka yang pergi. Ke perkemahan Barbarian Jerman itu untuk bernegosiasi.

Tetapi orang tersebut kembali dengan kepala yang sudah terpenggal menandakan bahwa negosiasi mereka gagal. Dengan demikian peperangan akan segera mereka mulai.

Maka mulailah segenap prajurit mempersiapkan diri dari jauh Marcus aurelius memandang pasukannya dengan Tatapan yang khawatir. Namun karena pasukan Romawi berjumlah lebih banyak dari pasukan Barbarian Jerman.

Dan di senjatai dengan persenjataan yang lebih modern dan strategi yang lebih jitu. Maka dengan satu serangan saja pasukan Barbarian itu berhasil mereka lumpuhkan.

Memberikan kemenangan mudah bagi Marcus Aurelius.

Kedatangan Si Modus Dalam Arena Perang

Dalam sebuah kereta Lucilla dan Commodus 2 anak Marcus aurelius. Atas permintaan ayahnya untuk datang mengunjunginya di medan perang. Marcus Aurellius ingin mereka berada di sana untuk menyaksikan kemenangan terakhirnya.

Commodus muda tampaknya sudah sangat tidak sabar untuk naik tahta menjadi Kaisar. Sementara di medan perang Marcus mendatangi Maksimus untuk memberikan selamat kepadanya. Dan bertanya hadiah apa yang ia inginkan karena telah berhasil memenangkan peperangan ini.

Dengan badan yang letih dan muka yang bersimbah darah Maximus menjawab bahwa ia ingin pulang ke anak istrinya saja.

Comodos yang berdiri di sana tampak iri dengan kasih sayang Marcus aurelius terhadap Maximus. Dan kemungkinan akan menjadikannya pemimpin Romawi pada masa datang.

Malamnya para prajurit melangsungkan sebuah pesta besar dan dari sela-sela tenda anak Marcus Aurelius. Yakni Lucilla sedang diam-diam memperhatikan Maksimus.

Nampaknya Putri Kaisar ini sudah lama jatuh cinta dengan Maximus. Kemudian Kaisar memanggil Maximus masuk kedalam tendanya. Kaisar mengatakan kepadanya bahwa ia Berencana untuk mengubah tatanan pemerintahan Romawi dari kekaisaran menjadi sebuah Republik.

Agar kelak Roma bisa terpimpin oleh senat bukan oleh anaknya Commodus. Dan sang kaisar berharap agar Maximus bisa menjadi pemimpin.

Untuk mewujudkan cita-citanya tidak ingin menjadi kaisar yang baru. Karena ia tahu anaknya adalah seseorang yang tidak bermoral baik.

Maximus menjawab bahwa ia akan mempertimbangkannya lalu ia pun pamit Dari tenda sang Kaisar. Sesungguhnya ia sudah lelah dengan segala tugas negara ini dan hanya ingin pulang bercocok tanam. Dan menghabiskan waktu dengan keluarganya.

Modus Membunuh Ayahnya

Malam itu ia datang menemui ayahnya kemudian ayahnya memberitahu Commodus bahwa ia tidak akan menjadi Kaisar. Melainkan Maximus lah yang akan memimpin bangsa Romawi menuju ke pemerintahan republik.

Mendengar hal itu membuat hancur berkeping-keping ia berusaha sekuat tenaga sepanjang hidupnya untuk mendapatkan pengakuan dari ayahnya.

Tetapi akhirnya tetap memilih Maksimus daripada dirinya.

Dengan berlinang air mata memeluk ayahnya dengan hangat. Awalnya ia memeluk ayahnya dengan pelan tetapi pelukan itu semakin lama semakin berat. Saking eratnya sampai-sampai ayahnya tidak bisa mengambil nafas sampai akhirnya ia pun meninggal.

Bermakna memeluk pelan namun akhirnya membunuh.

Malamnya Maximus terbangun terkejut dengan berita bahwa Marcus Aurelius telah meninggal di tangan Commodus.

Terasa tidak percaya ia segera bergegas ingin pergi dari sana karena ia tahu ia adalah incaran selanjutnya.

Rivalitas Commodus Dengan Maksimus

Tetapi semua itu sudah terlambat, Commodus dengan cepat memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Maximus.

Dan hendak membunuhnya di tengah hutan. Sesampainya di hutan tampaknya nyawa Maximus sudah berada di ujung tanduk. Tetapi karena kemahirannya berpedang yang mampu melawan prajurit-prajurit. Akhirnya ia bisa mempertahankan diri.

Patung Commodus
Patung Commodus, Sang Diktator Romawi Penuh Modus

Siang dan malam Maksimus mengendarai kuda untuk pulang ke rumahnya. Karena ia tahu selanjutnya Commodos pasti akan menghabisi nyawa anak dan istrinya.

Tapi tampaknya usahanya itu sia-sia Commodus sudah terlebih dahulu mengirim prajurit untuk membunuh anak dan istrinya.

Setelah berhari-hari perjalanan hanya menemui sisa-sisa rumahnya dan mendapati anak istrinya sudah terbakar dan tergantung tepat di gerbang rumahnya.

Maximus menangis sejadi-jadinya, sebab orang yang paling ia cintainya telah tiada. Maksimus merasa sudah tidak ada lagi gunanya hidup di dunia.

Ia pun mengubur jasad mereka di pekarangan rumah dan langsung jatuh pingsan di depan mereka. Beberapa hari kemudian sebuah rombongan pedagang menyelamatkan Maximus yang sudah sekarat Dan Hampir mati itu.

Menjadi Gladiator

Dengan rombongan karavan yang bergerak perlahan. Ia pun dibawa ke sebuah pasar perbudakan untuk dijual sebagai budak.

Di sana ia dijual ke seorang pelatih Gladiator yang bernama proksimus. Ia bersama dengan budak-budak yang akan ditampilkan di arena untuk bertarung sampai mereka semua mati.

Awalnya tidak mau bertarung tetapi karena terpaksa oleh Proximo mau tidak mau yang mulai berlatih bersama Gladiator.

Akhirnya Maximus bertarung di arena untuk yang pertama kalinya sepasang demi sepasang. Mereka berhadapan dengan pahlawan dengan kulit hitam.

Maximus sudah tidak kembali lagi dengan nyawanya. Ia berpikir kematian adalah hal terbaik. Sebab yang paling ia cintai yang sudah tidak ada.

Mereka berdua cocok bersama pada akhirnya Maximus. dan juga berhasil mengalahkan semua lawan lamanya.

Di Benua Lain, Commodus Membangun Rasa Percaya Rakyatnya

Pada benua lain seorang kaisar berusaha memancang kekuasannya. Ibarat kembali dari medan perang. Padahal semua orang tahu bahwa sebenarnya Maximus dan Marcus Aurelius lah yang memenangkan peperangan itu.

Para petinggi senat yang ada di senator, berpikir bahwa Commodus usianya yang masih sangat muda dan pencapaiannya yang nyaris tidak ada.

Pernyataan itu membuat Commodus merasa tersinggung dan dalam hati ia berjanji akan membubarkan senat.

Di bawah kepemimpinannya lalu ia membuat pertandingan Gladiator terbesar sepanjang sejarah selama 150 hari berturut-turut.

Iya bisa memuaskan keinginan rakyat Romawi dengan Hiburan ini maka ia bisa mendapatkan dukungan dari mereka saat ia membubarkan senat nanti.

Maksimus Dan Dendam Dengan Com Modus

Pada lain benua Maximus perlanaan mulai memenangi pertandingan demi pertandingan karena kemahirannya dalam bertarung.

Selepas pertandingan proximus menghampirinya dan menasehatinya agar bertindak layaknya seorang entrepreneur.

Bukan hanya sebagai seorang pembunuh semakin ia bisa mengambil hati penonton maka semakin mudah jalan menuju ketenaran dicapai.

Dan Suatu hari ia bisa dibebaskan dari status budaknya.

Proximo juga mengatakan bahwa Kaisar Commodus Tengah merencanakan pertandingan besar di Colosseum di Roma dan mereka memiliki kesempatan untuk ikut serta dalam pertandingan itu.

Tentu saja Maximus sangat senang dengan berita itu. Sekarang yang memiliki kesempatan untuk ke Roma dan hanya satu hal yang ia inginkan di dunia ini. Yaitu membalaskan dendam pembunuhan anak dan istrinya.

Dengan membunuh commodus di Kaisar jahat itu.

Esoknya mulailah perjalanan para Gladiator ini Menuju ke kota Roma sesampainya di sana Mereka tertegun melihat bangunan Colosseum yang begitu megahnya Istana Commodos.

Commodus Mencintai Suadaranya Lucilla

Tekanan Senator kepada Commodus terus meningkat. Akhirnya Lucilla memintanya untuk beristirahat dan kembali memikirkan tentang itu esok hari. Namun Commodus meminta untuk menciumnya yang mana Lucilla yang merasa sangat tidak nyaman.

Karena diminta untuk mencium Adiknya sendiri akhirnya mencium kening Commodus dan berjalan keluar dengan muka yang ketakutan.

Ia sadar Jika ia tetap menolak keinginan Commodus maka suatu hari dia akan membunuhnya.

Malamnya Lucilla diam-diam bertemu dengan Rakus dan Gayus, Senator senior yang juga sudah merasa sangat khawatir dengan tingkah laku Commodus.

Ia hanya fokus merencanakan pertandingannya dan tidak melaksanakan tugas-tugasnya.

Lucilla juga mengatakan kepada mereka bahwa pertandingan ini dibiayai oleh Commodus menggunakan cadangan beras rakyat Romawi.

Yang mana dalam 2 tahun kedepan akan dibuat kelaparan karenanya. Dan yang akan menghambat serta juga berniat untuk membubarkan senat agar bisa menjadi penguasa penuh.

Kedua Senator itu tertegun mendengar perkataan Lucilla mereka tidak menyangka bahwa Kaisar commodus adalah awal dari kehancuran Roma.

Mereka pun langsung mulai menyusun rencana Bagaimana caranya untuk menggulingkan dia dari tahtanya.

Pada akhirnya, Commodus tumbang dari tahtahnya setelah meregang nyawa.

Penggunaan Kata Modus

Dengan melihat perbuatan-perbuatan Commodus:

  1. Memeluk awalnya secara pelan ayahnya namun kemudian ternyata tujuannya membunuh,
  2. Menciptakan permainan menghibur rakyat, dengan tujuan mendapat simpati saat membubarkan parlemen,
  3. Meminta ciuman Lucilla ternyata dengan tujuan lain.

Dan masih banyak perbuatan dari Commodus. Yang merupakan bentuk dari upaya “menipu” dengan tujuan lain. Maka lambat laun. Dari dialah memunculkan kata Modus seperti yang kita kenal sekarang ini.

Sebagaimana kata itu memiliki makna adalah suatu cara secara tersembunyi untuk melakukan sesuatu. Dengan mengaburkan niat dan rencana yang terselubung. Yang pada pengertian lanjutannya adalah suatu cara dan metode akal busuk melancarkan aksi tertentu.

Dengan demikian, harus kita ingat bahwa ternyata penggunaan kata ini bukanlah kata yang terbentuk dengan sendirinya. Melainkan menceritakan sebuah kisah kebengisan dan kediktatoran. Yang berujung terbunuhnya ia dari tangan Maksimus (Maksimal). Yang tidak lain adalah mantan Jenderal Pasukan Ayahnya Marcus Aurellius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *