Narkolema Digital
Narkolema Digital dari tayangan media sosial

Narkolema Digital, Kendali Arus Tanpa Batas

Diposting pada

Tahukah anda apa itu Narkolema Digital, merupakan kecanduan yang melebihi daripada kecanduan kepada narkotika dan obet-obat terlarang yang sangat berbahaya.

Beritaku.id, Lifestyle – Narkolema pada era digital yang berjalan seakan tanpa kendali.

Keberadaan Narkolema teridentifikasi sejak tahun 2011, telah menguasai sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Lihatlah anak muda, remaja hari ini, tiada hidup tanpa android dan gadget. Bahkan mereka merasa sangat kekurangan dan tidak berdaya jika seusia mereka tidak memiliki benda tersebut.

Walid (Penulis Lifestyle)

Kita di era milinial dengan kemajuannya yang tak terkendalikan, hari ini berbeda dengan kemarin dan apa yang terjadi pada hari ini akan berubah sebentar sore.

Penuh inovasi, kreatifitas yang selalu terjadi setiap waktu. Memberikan efek dan menyebabkan budaya baru dan paling tren yakni Narkolema.

Baca juga beritaku: Apa itu Consigliere?

Apa Itu Narkolema Pada Era Digital?

Adapun Narkolema merupakan singkatan dari narkotika lewat mata.

Jika narkotika sendiri adalah merupakan obat-obatan yang mengakibatkan terjadinya kecanduan atau kebergantungan. Meski keberadaannya bukan berbentuk benda seperti sabu, ganja dan sebagainya.

Namun karena efek menciptakan ketergantungan, maka ini masuk dalam penggolongan “zat” narkotika.

Anak remaja yang berada dalam situasi dengan rentang keingintahuan yang sangat tinggi. Kondisi ini kita kenal dengan sense of curiosity dan bukan tidak mungkin terpapar secara baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Baik, untuk lebih jelas lagi, bahwa Narkoba Lewat Mata adalah suatu kebergantungan terhadap tontonan berbau pornografi.

Data dari Badan Pusat Statistik yang tercatat pada bulan Desember tahun 2020, menyebutkan:

Yakni kondisi balita di Indonesia yang menggunakan kan android HP dan sebagainya itu kurang lebih 29% dengan rincian sebagai berikut yaitu:

  1. Bayi kurang dari 1 tahun itu sebanyak 3,5%
  2. Anak umur 1 sampai 4 tahun itu 25,9 % dan
  3. Anak prasekolah umur 5-6 tahun 47,7%

Kuantitas tersebut merupakan data angka saat serangan pandemi dimana semua kalangan merasa kesulitan dalam segi ekonomi dan juga berada dalam keterbatasan ruang dan waktu. Akan tetapi berbanding terbalik antara kesusahan ekonomi dengan peningkatan penggunaan internet pada remaja pada awal tahun 2021.

Data rilis menurut Kompas telah mencapai 73,7 atau sekitar 200,6 jiwa. Kondisi dan angka ini merupakan sebuah jumlah yang sangat fantastis.

Peningkatan ini tidak dapat dipungkiri disebabkan oleh adanya pandemi global dan alasan harus melakukan pembelajaran secara online sehingga pada kenyataannya prose menyampaikan pembelajaran dengan bentuk daring.

Kehidupan Remaja Diluar Kontrol
Kehidupan Remaja Diluar Kontrol

Trend Dan Waktu Menonton

Lebih banyak mana waktu yang mereka habiskan dalam sehari, membaca atau menonton?

Ternyata survei yang dilakukan pada tahun 2020 hingga 2021, menghasilkan data yang sangat mencengangkan.

Tren tertinggi bagi kalangan masyarakat itu 98% adalah dengan menggunakan telepon genggam.

Selanjutnya setiap pengguna internet dengan jumlah 98,5 menonton video online.

Ada berapa jumlah rata-rata setiap orang ketika menonton?

Ternyata survei membuktikan bahwa setiap orang menghabiskan waktu 8 jam 52 menit per hari untuk menonton film atau menonton video. Baik melalui saluran YouTube saluran Facebook dan saluran lainnya seperti Tik Tok dan sebagainya.

Itu artinya dalam 24 jam, maka lebih dari sepertiga waktu dalam setiap hari yang dipergunakan untuk menonton.

Baca juga beritaku: Kenakalan remaja

Data Keterpaparan Siswa Narkolema Di era Digital

Untuk mengetahui tingkat terpaparnya para calon generasi pelanjut tersebut dari Narkolema pada era digital, maka dilakukan sebuah survey.

Yakni dengan meneliti sejumlah siswa SD kelas 3 hingga kelas 6 pada 8 provinsi yang ada di Indonesia.

Ternyata dari hasil survey tersebut secara meyakinkan mereka telah terpapar oleh informasi berbentuk pornografi ini.

Sumber data pada tanggal 16 Maret 2019 menyebutkan, karena para siswa telah mulai menggunakan beberapa alat canggih seperti handphone Android gadget dan sebagainya.

Tentunya juga ini sangat dekat dengan mereka untuk mengakses konten porno. Namun jika mereka belum memiliki alat (android) tersebut maka dia bisa meminjam dari teman sekolahnyanya yang lain ataukah dia dapatkan dari teman bermain di luar rumah jika dia tidak dapatkan dari teman sekolahnya.

Maka dia bisa dapatkan di tempat lain seperti tempat main PS dan sebagainya.

Suka atau tidak suka makan kondisi yang ada sekarang menyebabkan orang tua telah dipusingkan karena telah terjebak oleh aplikasi yang disediakan oleh platform digital.

Yang pada kenyataannya hidup kita termanjakan dengan mudahnya berbelanja secara online bisa membeli barang-barang cara online.

Kerusakan remaja
Potret buram remaja

Namun lebih daripada itu ternyata juga itu menyebabkan beberapa apa hal yang menjadi perhatian penting yakni Narkolema digital ini sebagaimana telah masuk dan mempengaruhi daripada pikiran banyak remaja.

Apalagi usia sekolah dari usia SD, SMP hingga SMA.

Bisa kita membayangkan tentang Bagaimana seorang remaja sekarang ini menggunakan tiktok dengan penampilan dan gaya yang mereka pergunakan itu adalah gaya diluar batas.

Dengan gerakan-gerakan tanpa batas Itu sudah merupakan sebuah gejala narkolema yang kemudian membentuk mereka. Kemudian perlahan menggerakkan tubuhnya mengikuti dari apa yang mereka telah tonton sebelumnya.

Jadi kira-kira hidup di narkolema ini adalah tidak harus berbentuk tontonan pornografi tapi dia juga berupaya untuk melakukan apa yang dia tonton itu sudah efek daripada narkolema itu sendiri

Penelitian Lain Tentang Motivasi Remaja

Kutipan sumber dari sardjito.co.id yang merilis tentang dampak pornografi bagi kesehatan pada remaja. Menyebutkan bahwa remaja merupakan sebuah fase berlaku bagi semua manusia/orang termasuk remaja.

Karena itu adalah masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa dengan rentang usia antara 12 sampai 22 tahun

Sebagaimana masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik maupun psikologi dalam perkembangannya,

Kondisi ini, menyebabkan remaja mengalami sebuah perubahan emosional secara kognitif, jangan lupakan psikis.

Salah satu perubahan yang tidak bisa dihindari adalah “motivasi dan rasa keingintahuan yang tinggi” terhadap berbagai hal yang menimpa dirinya termasuk masalah-masalah dengan seksualitas.

Baca juga beritaku: Kultum tentang remaja

Sumbangsih Tiktok Pada Pornografi

Kecanggihan teknologi mereka bisa dengan sangat gampang untuk mengakses hal-hal berbau pornografi namun jangan salah, bahwa jika pemerintah Republik Indonesia berupaya Untuk menghentikan tayangan-tayangan pornografi dengan memblokir website website tertentu.

Apakah ini berbobot?
Apakah ini berbobot?

Justru pada dekade terakhir ini, tidak bisa lagi orang menghentikan tayangan berbau porno, kenapa?

Karena mereka berlomba untuk mempertontonkan daripada konten-konten digital berbau narkolema ini sebutlah contoh dari pada Tik Tok tadi.

Bahwa mulai ucapan, bacaan dan gerakan mereka itu sudah tidak sesuai dengan etika dan moral bangsa.

Bahasa-bahasa yang dianggap tabu kini dianggap bukan sesuatu yang tabu, contohnya bahasa-bahasa dan gerak sebelumnya yang dianggap sesuatu yang naif kini sudah tidak naik lagi.

Bahasa tidak etis sebelumnya, kini dianggap sesuatu yang fleksibel sehingga tidak heran banyak perempuan yang kemudian mempertontonkan auratnya.

Itu bukan menjadi sesuatu yang sangat menggelikan lagi pada saat ini itu menjadi sesuatu yang biasa.

Ada survei yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan tahun 2017 sebanyak 94% siswa pernah mengakses konten porno yang diakses melalui komik sebanyak 43% internet sebanyak 57% game sebanyak 4% film atau tipis sebanyak 17% media sosial sebanyak 34% majalah sebanyak 19% buku sebanyak 26% dan lain-lain 4%

Pertanyaannya, tahun 2020, siapa yang tidak kenal dengan tiktok? Jika pernah menontonnya, maka siap-siaplah mendapatkan bacaan atau tayangan pronografi. Misalnya kalimat “apakah milik pacarmu …., kalau gak, ih lemmah”.

Bahasa ini adalah narkolema jenis pornografi, yang sudah kita anggap sesuatu yang lazim.

Pengertian Pornografi dan Level Kecanduannya

Kita semua sudah memahami apa makna kata porno, namun lebih jelasnya kita menuliskan berikut ini pengertian bedasarkan hukum undang-undang.

Pornografi sendiri merupakan Sketsa ilustrasi foto tulisan suara bunyi animasi kartun percakapan gerak tubuh atau bentuk pesan lain. Melalui berbagai bentuk media komunikasi dan atau pertunjukan di muka umum yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual. Yang melanggar norma kesusilaan. Hal itu berdasarkan undang-undang 44 tahun 2008 tentang pornografi.

Selanjutnya akan kita kupas, bagaimana tingkat ketergantungan atau kecanduan pada penikmat film porno tersebut.

Adapun tingkat kecanduan pornografi menurut skinner, sebagaimana ia menjelaskan pada tahun 2005. Tingkat kecanduan terbagi menjadi 7 bagian, yaitu:

  1. Melihat pornografi 1 kali atau 2 kali dalam setahun dengan keterpaparan sangat terbatas ini level 1
  2. Beberapa kali setiap tahun, akan tetapi tidak lebih dari 6 kali (pertahun) dengan fantasi sangat minimal itu level 2
  3. Mulai muncul tanda kecanduan, yakni rutin sebulan sekali, namun mencoba menahan diri itu level 3
  4. Mempengaruhi fokus untuk tugas sehari-hari berapa kali dalam sebulan level 4
  5. Setiap minggu berusaha keras berhenti namun mulai mengalami gejala ketertarikan level 5
  6. Setiap harimemikirkan pornografi menyebabkan berbagai masalah dalam kehidupan level 6
  7. Perasaan ketergantungan melihat pornografi sebagai sebuah konsekuensi negatif level 7

Ciri Dan Efek Pornografi Digital Pada Narkolema

Kondisi narkotika lewan mata tersebut ketika telah menyebabkan kebergantungan film porno menyerbabkan ciri.

Adapun ciri pada anak atau remaja yang kecanduan pornografi, yakni:

  • Yang pertama adalah sering nampak gugup Apabila ada yang mengajaknya komunikasi kemudian menghindar Empat Mata
  • Kedua, Tidak punya gairah aktivitas prestasi menurun
  • Ketiga, Malas atau enggan belajar dengan orang lain atau enggan bergaul kemudian sulit berkonsentrasi
  • Keempat, enggan lepas dari gadget bila ditegur dan dibatasi penggunaannya akan marah
  • Kelima, Senang menyendiri terutama di kamarnya dan menutup diri
  • Keenam, merupakan kebiasaan baiknya

Seperti halnya narkoba kecanduan pornografi juga mengakibatkan kerusakan otak yang cukup serius pornografi bukan hanya merusak otak dewasa.

Tetapi juga terutama otak anak kerusakan otak tersebut sama dengan kerusakan otak pada orang yang mengalami kondisi motor tabrakan dengan kecepatan sangat tinggi.

Kerusakan Otak

Pertama, dan terutama sekali terjadi kerusakan pada otak yang diserang oleh pornografi. Yakni pada Pre Frontal Cortex (PFC)

Bagi manusia bagian ini merupakan satu bagian yang paling penting karena bagian otak ini hanya dimiliki oleh manusia. Binatang tidak memiliki ini. Karena bagian inilah ruang beretika.

Rasionalnya kenapa kepala berisi otak ada bagian atas, kenapa bukan hati?
Maka dengan mempelajari bagian ini sangat jelas, karena dalam otak terdapat satu bagian yakni PFC yang menjadi pembeda dengan perasaan dan nafsu manusia dengan binatang.

Sehingga manusia memiliki etika bila dibandingkan binatang. Bagian otak yang berfungsi untuk menata emosi memusatkan konsentrasi. Sehingga memahami dan membedakan benar dan salah mengendalikan diri berpikir kritis.

Adapun berpikir dan berencana masa depan membentuk kepribadian dan berperilaku sosial, ada pada area ini.

Proses Kebergantungan Dengan Film Porno

Tahukah anda bahwa awalnya saat melihat pornografi reaksi yang ditimbulkan adalah perasaan jijik.

Hal ini terjadi karena manusia mempunyai sistem limbik. Sistem ini pula yang mengeluarkan hormon dopamin untuk menenangkan otak tetapi dopamin juga akan memberikan rasa senang bahagia sekaligus ketagihan.

Dopamin ini mengalir ke arah PFC yang menyebabkannya menjadi tidak aktif karena terendam dopamin.

Apabila dopmain ini semakin banyak maka seseorang akan timbul rasa penasaran dan semakin kecanduan melihat pornografi.

Namun untuk memenuhi kepuasan dan senangnya seseorang akan melihat yang lebih porno vulgar lebih-lebih lagi dopamin yang lebih banyak karena terus di banjir.

Sehingga PFC akan semakin mengkerut dan mengecil dan lama-lama akibatnya fungsi dari bagian otak yang semakin tidak aktif

Efek Dan Cara Mengendalikan Narkolema Digital

Adapun akibat dari kecanduan menonton pornografi sangat membahayakan bagi orang yang bersangkutan dan orang di sekitarnya.

Sehingga berikutnya menciptakan beberapa efek, yakni:

  1. Mengubah sikap dan persepsi tentang seksual, yakni wanita dan anak-anak merupakan objek seksual semata,
  2. Meningkatkan eksplorasi seks pada usia remaja sehingga dapat terjadi perilaku seks bebas dan dan perilaku seksual berisiko
  3. Mudah membuat kebohongan
  4. Menurunkan harga diri dan rendahnya nilai dan konsep diri
  5. Terjadi depresi dan ansietas
  6. Pendidikan formal terganggu
  7. Terjadi atau menyebabkan penyimpangan seksual

Hal tersebut terjadi karena terjadi kerusakan tatanan norma dalam masyarakat merusak keserasian keluarga. Pornografi merupakan adiksi baru yang tidak tampak pada mata tidak terdengar oleh telinga namun menimbulkan kerusakan otak yang permanen bahkan melebihi kecanduan narkoba.

Oleh karena itu diperlukan suatu pembimbingan dan pengawasan dari semua kalangan khususnya untuk anak-anak dan dewasa muda agar bisa terhindar dari bahaya pornografi yaitu melalui peran aktif orang tua dengan cara:

  1. Memberikan perhatian serta memberikan apresiasi
  2. Mengenali teman dan tempat bergaul
  3. Melatih anak untuk berkata tidak pada ajakan menonton pornografi
  4. Membuat aturan penggunaan Android
  5. Mengawasi anak ketika mengakses internet
  6. Jika ketahuan anak tersebut mengakses internet maka harus melakukan diskusi dan mencari jalan keluarnya serta dampaknya
  7. Menjelaskan kepada anak tentang internet yang aman dan sehat
  8. Memasang aplikasi pengaman
  9. Memberikan pendidikan seks sesuai dengan usia perkembangan

Demikian artikel mengenai Narkolema dalam masa era digital saat ini dan beresiko merusak generasi bangsa.

Sumber:

  1. Sardjito.co.id
  2. Bisnisjakarta.
Bagikan Ke