Karakter Komunikasi Dalam perkembangannya, Memakai Metode IMPHAS PILAR sebagai sebuah metode baru dalam komunikasi.

Beritaku.Id, Pendidikan – Metode atau konsep IMPHAS PILAR adalah Intonasi, Mimik, Penguasaan Bahasa, Penampilan, Adaptasi dan Cakrawala Berpikir.

Pembagian Metode IMPHAS PILAR

Intonasi

Bukan tinggi rendahnya suara, dalam konsep Imphas Pilar sebagai pembelajaran awal karakter komunikasi

Intonasi adalah kemampuan olah seni suara dalam bentuk penekanan terhadap setiap kalimat(kata).

Intonasi tidak diukur pada tinggi dan rendahnya suara (volume), tetapi lebih kepada penekanan suara.

Tidak sedikit hal dalam kehidupan keseharian yang menyangkut relasi dengan orang lain, terjadi mispersepsi dalam komunikasi.

Karena pemaknaan intonasi yang berbeda antara pemberi dan penerima pesan.

Kita tidak bicara pilihan presiden, tapi dari Yusril kita belajar intonasinya, Mantan protokoler Soeharto ini, memiliki Karakter dalam komunikasi, pada intonasi yang berat namun segar.

Karakter berkomunikasi lebih memandang intonasi pada nada suara, bukan suara kedengaran besar atau kecil.

Suara tinggi belum tentu tekanannya tinggi, begitupun sebaliknya tekanan suara tinggi tidak berarti volume tinggi.

Pada intonasi adalah kesesuaian antara kata (suku kata) yang disebutkan dengan tekanan/nada suara, seperti itulah gambaran atau warna intonasi.

Intonasi harus seirama dengan mimik dan atau Body language (bisa dibaca pada materi berikutnya).

Seorang komunikator (pembicara/pengirim pesan), harus mengasah Karakter komunikasi pada kemampuan olah Intonasi, untuk mengetahui apakah intonasi yang dimiliki sudah sesuai atau belum.

Bagaimana Pengalaman Karakter Dalam Setiap Komunikasi

Pada pengalaman beberapa peserta training yang dibimbing, melatih dan mengevaluasi Karakter setiap berkomunikasi intonasi dengan merekam suara, atau meminta kepada orang tertentu untuk mengevaluasi intonasi peserta training tersebut.

Merekam suara sendiri, mungkin sepele, tapi kenyataannya, banyak peserta training yang kaget.

Dan biasanya mengevaluasi Karakterteristik komunikasi sendiri, seperti hal tersebut cara belajar konsep Imphas pilar

Menemukan ketidak sesuaian intonasi yang dimiliki, cara ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi rekaman pada android atau IOS.

Banyak yang merasa malu untuk belajar memperbaiki intonasi dengan melibatkan oranglain, ini harus dihargai.

Terapi alternative adalah merekam pembicaraan, kemudian mengevaluasi Karakterteristik komunikasinya sendiri.

Lho katanya tidak boleh meniru?

Ia, tidak boleh meniru dengan menjadikan intonasi tersebut menjadi ciri khas.

Tapi ketika sulit memulai belajar intonasi, bisa dimulai dengan menirukan.

Jadilah fans untuk diri sendiri, dan seobjekjif mungkin menilai.

Pada beberapa peserta training, dalam hal belajar awal, boleh mencoba meniru Karakter arau ciri komunikasi intonasi orang lain seperti : Soekarno atau siapa saja idola peserta.

Setelah itu, menemukan Karakter sendiri komunikasi berupa intonasi sebagai ciri khas.

Aa Gym dan Zainuddin MZ, memiliki gaya intonasi yang berbeda, tapi keduanya memiliki karakter dan gaya komunikasi masing-masing.

Perhatikan gaya komunikasi Soekarno dengan intonasi-intonasi tajam, bandingan dengan gaya komunikasi John F.Kennedy, sama-sama pada penekanan suara, namun berbeda satu sama lain.

Karakter Diri Komunikasi Setiap Komunikator Ada Pada Intonasi

Seseorang dikenali saat berkomunikasi, atau diingat oleh pendengar karena intonasi yang dimiliki.

Seseoang gampang mengingat oranglain karena warna suara atau tekanan intonatif saat berkomunikasi.

IMPHAS PILAR mengharuskan setiap orang memiliki warna suara tersendiri. Dan tidak menjadi orang lain saat berkomunikasi.

Mimik (ekspresi wajah)

Sedikit ekspresi muka itu enak. Terlalu banyak ekspresi bisa merusak perhatian.

IMPHAS PILAR tidak mengharapkan seorang pembicara memaksakan mimik saat berkomunikasi.

Kalau orang bicara dengan mimik yang baik, maka orang mendengar ucapannya akan meresapi, sebab ada ketersesuaian mimik.

Jangan seperti bersandiwara, sebab IMPHAS PILAR tidak mengajarkan latihan acting seperti dalam sebuah film.

Contoh baik: Puan Maharani, dalam hal mimik lebih berisi, terkadang mimik datar yang dimilikinya menarik.

Perhatikan senyum tipis dibirinya, dan gerakan kepala yang tidak terlalu menghentak, mimiknya berisi.

Saya kira, google punya data tentang penampilan politisi ini.

Atau contoh lain: Politisi senior Akbar Tandjung, yang menarik adalah Karakter berkomunikasi mimiknya, lebih banyak datar dan hampir tidak pernah ditemukan tertawa lebar, tapi menarik dengan gaya mimik seperti itu.

Kesesuaian gerak wajah untuk memaknai kalimat yang dibahasakan, disini dibutuhkan latihan menggerakkan otot wajah.

Dalam hal metode Karakter Komunikasi dengan konsep imphas pilar, Intonasi dan Mimik adalah satu bagian yang tak terpisahkan satu sama lain.

Bahwa ketika ingin menekan suara dalam bentuk intonasi maka mimik secara otomatis memberikan reaksi, meski tidak selamanya pembicara memainkan mimik diwajahnya.

Contoh Kasus: Ayu meminjam buku pada Beby. Kemudian Beby bereaksi dengan mengatakan ”ini ambil!” (Beby menyebut kalimat dengan suara dipercepat).

Dalam hal ini Ayu memiliki persepsi bahwa Beby tidak setuju jika bukunya dipinjam oleh Ayu.

Mimik yang bekerja kemudian ditranslate oleh orang lain, apakah seseorang marah atau tersenyum.

Dalam hal tersenyum, bibir harus seimbang, gigi sedikit kelihatan. Ketika berbicara.

Seorang komunikator harus mampu menganalisa mimik diri sendiri dan orang lain, untuk membantu pesan yang disampaikan serta menganalisa orang lain apakah mengerti pembicaraan atau tidak.

Penguasaan Bahasa Dalam Karakter Komunikasi

Dalam konsep Imphas Pilar untuk Karakter dalam Komunikasi, kita perlu menguasai 3 hal bahasa, Yakni :

  1. Bahasa Komunikan (Pendengar/Audiance),
  2. Bahasa Baku Nasional
  3. Bahasa Tubuh
Penekanan Imphas Pilar Dalam Hal Komunikasi
Metode Imphas Pilar lebih simpel dalam Hal Belajar Tampil didepan Orang Banyak

Bahasa Komunikan (Audience/Pendengar)

Komunikator harus mampu memahami bahasa komunikan, dengan tidak memaksanakan bahasa yang tidak dipahami oleh komunikan.

Karakter Komunikasi seorang komunikator yang handal, Perlu mengenali latar belakang pendidikan, pekerjaan, status sosial dan suku dari pendengar sebab unsur-unsur tersebut mempengaruhi bahasa yang dipakai.

Contoh : Rahmat seorang politisi hebat dalam bidang kajian politik melakukan kampanye terbuka disebuah lapangan, para team sukses Rahmat telah bekerja mengumpulkan masyarakat pesisir, tukang becak serta pedagang kaki lima.

Rahmat memberikan pemaparan sebagai berikut “…bahwa kompleksitas pembangunan, idealnya adalah bersinergi dengan kebutuhan masyarakat diakar rumput, setiap  leader diharuskan memiliki keakuratan dalam membuat visi dan misi yang realistis…”. 

Apakah seluruh pendengar memahami bahasa yang disampikan oleh Rahmat? 

Bahasa diatas indah narasinya serta bernuansa akademis, tetapi belum tentu dapat dipahami oleh pendengar.

Disini menunjukkan bahwa pembicara memaparkan konsepnya kepada pendengar, dengan formulasi bahasa tinggi, namun belum tentu bisa diikuti oleh pendengar.

Kenal Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian RI?

Karakter Komunikasi Menteri pertanian, memiliki kemampuan penguasaan bahasa audiance yang baik, dalam beberapa kesempatan, mampu menunjukkan gaya komunikasi yang sesuai kebutuhan pendengar.

Seorang pembicara, tidak boleh memakai kata-kata yang tidak dimengerti oleh pembicara itu sendiri.

Sebab menurut ilmu jiwa bahwa seseorang yang memakai kata-kata yang tidak dimengerti oleh pembicara itu sendiri disebut mengalami kelainan “neologisme”.

Bahasa yang dipakai dalam Karakteristik berkomunikasi adalah bahasa yang dipahami oleh komunikan atau minimal bahasa yang diketahui komunikan secara mayoritas.

Memakai bahasa daerah komunikan misalnya, bukanlah suatu pelanggaran besar terhadap komitmen satu bahasa Indonesia, sepanjang hal tersebut dilakukan demi menjalin hubungan emosional dengan audiance untuk tujuan yang positif.

Bahasa Baku Nasional Dalam Karakter Komunikasi

Imphas Pilar tidak memakai Kata Eee dan Ya (Hilangkan Syndrom E atau Ya saat berbicara)

Bahasa baku nasional dipergunakan pada pembicaraan formal, dalam sebuah kegiatan diskusi, dialog, pidato dan sebagainya.

Yang manakah bahasa baku nasional?

Zaman teknologi komunikasi sekarang, dimanapun kita bisa mendownoad aplikasi KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), dalam KBBI tersebutlah semua bahasa baku nasional, atau bahasa resmi.

Namun jangan terlalu kaku tentang pemakaian bahasa baku nasional tersebut, sebab pada beberapa pembicara juga sesekali memakai bahasa daerah pendengar disaat tampil, tujuannya adalah lebih mendekatkan diri secara emosional (adaptasi) dengan pendengar.

Kurangi, dan lebih baik jika dihilangkan Syndroma E (menyebut e…e…), atau Syndroma Ya (mengulangi kata-kata ya…ya….) atau kata-kata lain yang sering diulangi.

Semua orang yang mengalami hal demikian, biasanya tidak menyadari bahwa hal tersebut terjadi pada dirinya.

Contoh :…..Ini adalah suatu kondisi eee dimana eee semua warga negara Indonesia eee diharapkan eee berpartisipasi eee membangun bangsa eee dan seterusnya.

Atau

….Ini adalah suatu kondisi       dimana    semua warga negara Indonesia       diharapkan   berpartisipasi   membangun bangsa   dan seterusnya, (Tidak ada eeee).

Contoh lain : ya jadi dalam membangaun ya organisasi pada masa datang ya kita semua sebagai anggota oraganisasi ini ya diharapkan menghidupkan ya organisasi ya bukan sebaliknya

Perlu diakui bahwa menyebut “eee atau ya” yang banyak, sebagai Karakter negatif dalam berkomunikasikarena mempengaruhi pesan yang disampaikan.

Bahasa Tubuh/Body Language

Bahasa tubuh yang dimaksudkan disini adalah; gerakan tangan, gerakan kepala serta sikap tubuh (gestur)

Meskipun bahasa tubuh bukanlah hal yang paling utama dalam Karakter setiap Komunikasi , namun peranannya tidak bisa diabaikan.

Berikut beberapa hasil penelitian Karakter dalam melakukan Komunikasi tentang gerakan tubuh.

Gerakan kepala

Imphas Pilar mengatur Gerakan kepala, bukan gerakan bola mata

Saat berkomunikasi, kurangi artikulasi (gerakan) mata, sebab saat melihat dari satu sisi kesisi yang lain, maka yang bergerak bukanlah bola mata tetapi kepala, pusat artikulasinya (gerakannya) pada leher.

Dalam Karakter Komunikasi mengenal beberapa gerakan kepala, yakni: Titik, Datar, n, I dan V.

Titik adalah gerakan mempertahankan kontak mata.

Gerakan ini tepat ketika dilakukan pada komunikasi inter personal (antar pribadi) tetapi tidak tepat disaat tampil didepan kelompok atau orang banyak, karena akan menghasilkan kesan monoton (kaku).

Dalam pelaksanaannya, maka mempertahankan kontak mata disini, adalah sedikit menunduk untuk mensejajarkan pandangan mata pada pendengar.

Tetapi juga, jangan mengartikan bahwa titik, berarti mata tidak bergeser, serta selamanya bertatap-tatapan.

Geser mata pada titik alis, dahi serta dagu pendengar. Singkatnya adalah pada area muka pendengar.

Datar adalah gerakan kepala yang datar dari satu sisi kesisi yang lain (dari kiri ke kanan atau sebaliknya), biasanya juga disebut gerakan pandangan menyapu, dilakukan pada pertemuan yang jumlah pesertanya cukup banyak.

Disini terjadi perpindahan titik dari satu orang ke orang lain.

n adalah gerakan kepala yang biasa ditunjukkan pada orang yang berprilaku “sombong” atau juga sedang bergurau.

I biasanya terlihat seperti gerakan mengangguk. Gerakan ini penting sebagai tanda setuju atau memberi respon pada orang lain. Gerakan ini terlihat pada seseorang yang menjadi pendengar yang baik atau mengerti pembicaraan.

V berupa gerakan yang biasa ditunjukkan oleh para pejabat yang sedang menyampaikan pidato diatas mimbar.

Gerakan titik dan i biasanya dilakukan pada komunikasi interpersonal, sementara n, datar dan v untuk komunikasi massa.

Sebaiknya latihan menggerakkan kepala, latihan ini bisa dilakukan dibawah pengawasan orang lain, sebaiknya bukan didepan cermin, sebab latihan didepan cermin akan membuat bola mata terpusat ke cermin.

Gerakan tangan

Imphas pilar tidak membenarkan menyilangkan tangan didepan dada pada suatu pertemuan formal.

Irama bahasa tubuh dibantu oleh gerakan tangan.

Tangan itu, terdiri dari, lengan atas, lengan bawah, telapak tangan, jari-jari, sementara itu pergerakannya yakni sendi pada bahu, siku, pergelangan tangan dan jari-jari.

Maksudnya, dengan beberapa bagian yang ada ditangan, maka gerakan monoton bisa dihindari.

Tetapi gerakan tangan tidak boleh berlebihan sebab dalam beberapa kalangan masyarakat tertentu, menilai lain jika seseorang banyak menggerakkan tangan.

Artinya jika gerakan tangan tidak mampu dikuasai, sebaiknya tidak usah menggerakkan tangan saat berkomunikasi.

Terkadang pembicara melakukan gerakan tangan yang menoton, misalnya gerakan membalik telapak tangan sambil memutar kedepan, atau menggenggam satu sama lain.

Hindari gerakan menoton tersebut sebab menciptakan perhatian baru serta mengurangi nilai seni Karakter diri dalam setiap Komunikasi.

Terdapat area kira-kira area seluas 120˚ didepan, kesamping yang bisa dipakai untuk menggerakkan tangan, namun ingat bahwa jangan berlebihan menggerakkan tangan, jangan pula banyak menunjuk (Kurang Etis).

Publik Speaking Ketinggalan Zaman sebab tidak menemukan sudut 120 derajat.

Sikap Tubuh

Sikap tubuh terbuka terlihat dengan rileks, serta menjauhkan sikap tubuh yang kaku.

Imphas Pilar mengatur sikap tubuh seorang pembicara didepan publik atau orang lain.

Penampilan Dalam Karakter Komunikasi

Sampai pada pakaian, Imphas Pilar memperhatikan. Sebab pakaian adalah pandangan pertama pendengar, untuk memberikan nilai

Imphas Pilar tidak mengabaikan Penampilan menjadi hal yang penting diperhatikan terutama saat tampil didepan orang banyak (Seperti pidato/Moderator/Ceramah dll).

Sebab penampilan (Pakaian, rambut dan sebagainya) menjadi salah satu faktor pendukung tingginya kepercayaan diri seseorang.

Penampilan juga biasanya menjadi barometer status sosial seseorang, pekerjaan dan sebagainya. Penampilan memiliki arti tersendiri bagi oranglain, sebab hal yang pertama dilihat secara visual adalah penampilan.

Hindari berpenampilan ”kusut” didepan orang banyak.

Intonasi, Mimik, Penguasaan Bahasa dan Penampilan adalah bagian estetika dalam berbicara penggabungan dari keempatnya menghasilkan keindahan Karakter Komunikasi dengan metode Imphas Pilar.

Seperti itulah retorika, dalam kajian seni atau estetika penguasan dan menemukan Karakter khas Komunikasi setiap orang.

Namun inti utama Imphas Pilar tidak di estetika saja.

Adaptasi (Etika) Dalam Karakter Komunikasi

Mendahulukan oranglain untuk berbicara lebih dulu adalah ciri pembicara yang baik, ini selalu dibahas dalam Metode Imphas Pilar.

Jangan takut kehilangan kesempatan, terutama dalam hal komunikasi antar personal, beri kesempatan orang lain untuk mengungkapkan pendapatnya.

Keuntungan lainnya adalah mengetahu kelemahan dan kelebihan isi pesan orang lain, jangan lupa memberikan pujian atas hal-hal baik yang disampaikan.

Pembahasan etika, menjadi kodrat banyak orang mengenai etika, sebab rata-rata kita terpapar oleh doktrin etika, mulai dari rumah sampai ke ruang pendidikan.

Karakter Komunikasi, sangat menghargai budaya, adat istiadat oranglain, pada dasarnya semua individu berbeda satu dengan yang lain, penyatuan keduanya (asimilasi), karena adanya toleransi, dengan berdasarkan transaksi etika didalamnya.

Publik Speaking kini Ketinggalan Zaman sebab tidak secara konsisten memberikan ruang tentang etika dalam komunikasi.

Cakrawala Berpikir

Spesialisasi Imphas Pilar adalah dikecepatan berpikir.

Menghafal kata-kata saja tidak cukup, tanpa kecepatan berpikir

Karakter Komunikasi, inti komunikasi ada pada kecepatan berpikir, bukan pada adaprasi maupun estetika.

Wawasan luas tidak bisa dihindari sebab keindahan berkomunikasi tidak cukup jika wawasan seseorang tidak bergerak. Disini kita memakai kata cakrawala sebagai suatu penggambaran bahwa berpikir tidak hanya memandang kedepan, tetapi suatu keseimbangan terhadap semua sisi.

Tidak harus menguasai semua dimensi ilmu, karena tidak harus mendalami secara mendetail ilmu-ilmu lain sampai pada kajian tuntasnya. Pemahaman di perifer (permukaan) ilmu-ilmu lain sudah cukup.

Di zaman teknologi sekarang tidak sesulit dulu untuk mendapatkan informasi ilmu-ilmu tertentu, sepanjang paket data cukup, maka googling adalah jawabannya.

Banyak mahasiswa lebih update dari dosen, karena mahasiswa googling disaat perkuliahan berlangsung, sehingga hampir pasti, kita tidak menemukan lagi dosen-dosen membawa buku setumpuk besar.

Karakter Komunikasi, Wawasan ditemukan berdasarkan pengalaman untuk membaca fenomena alam, baik secara langsung maupun dengan membaca hasil pengamatan alam melalui media cetak dan ataupun media elektronik.

Wawasan akan mengarahkan untuk berpikir kreatif, dalam memaknai informasi/pesan yang ditemukan baik secara formal maupun informal.

Karakter Komunikasi tidak dalam kapasitas memberikan ilmu-ilmu baru, tapi membantu kecepatan berpikir.

Publik Speaking Ketinggalan Zaman sebab tidak mengajarkan peserta untuk kecepatan berpikir, melainkan memberi peran, sehingga seperti berackting

Demikian Metode Imphas Pilar dalam Karakter Komunikasi untuk membaca dasar-dasar, klik disini

Penulis: Fauzi

PILIHAN Beritaku

Komentar