Mata pena
Mata pena (Foto: kibrispdr.org)

Mata Pena Dari Sedan, KH Ghazali Bin Mas’ud, 7 Tulisan

Diposting pada

Mata Pena Dari Sedan adalah sebuah penamaan buat KH Ghazali Bin Mas’ud, dengan segala bentuk pencapaiannya dalam syiar Islam, bagaimana biodata lengkapnya?

Beritaku.Id, Pendidikan – Dengan sebuah keyakinan yang mendasar, menetapkan hati sebagai seorang muslim. Tidak hanya itu, namun ia juga melakukan syiar Islam dengan berbagai prestasi yang ia telas tulis.

Oleh Dinazu (Penulis Pendidikan)

Mata Pena Dari Sedan

Kota Rembang (Foto: daerah.sindonews.com)

Sedan itu adalah nama Kecamatan pada Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Kecamatan ini bukan jalur utama dari Surabaya ke Semarang dengan jalur darat. Meski kadang sesekali menjadi jalur alternatif ketika jalur Pantai Sowan ke Karangjahe Beach ada kendala.

Alamnya membentang hijau, meski kecamatan ini tak memiliki laut, sebab sekira 6 Km jaraknya dengan pantai. Tumbuhan hijau menjadi pemandangan menarik daerah ini. Tak hanya itu, juga kesantunan penduduknya dengan dialek jawa yang khas.

Tepatnya dari Desa Gandirejo Sedan, melahirkan mata pena yang lahir 24 tahun sebelum negara ini merdeka. Yakni tahun 1921, menjadi tahun kelahiran Mbah Ghazali.

Siapakah Mbah Ghazali ?

Nama lengkap Mbah Ghazali adalah Ghazali bin Mas’ud bin Irsyad bin Syarif. Beliau adalah putra pasangan KH. Mas’ud dan Nyai Hj. Muthmainnah. Kelak ia menjadi pena dan mata dari Kecamatan Sedan dengan berbagai karya yang masih ada hingga kini.

Akan tetapi sebelum mengupas bagaimana ia dengan segala karya iconik yang ia persembahkan, maka berikut akan kita ikut bagaimana perjalanannya menuntut ilmu Agama Islam.

Dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Tanpa lelah, sebab ia haus dengan ilmu pengetahuan Islam. Maka Semasa hidupnya, KH. Ghazali sempat nyantri di beberapa pesantren.

Berguru dari satu tempat ke tempat lainnya, mengasah pikiran, mempertajam pemahaman. Ia meninggallkan alam yang Indah dari daerahnya dengan selimut perkebunan tebu. Juga bukit dengan alam yang asri. Kelak daerah ini menjadi pusat konveksi terkenal.

Ia tidak sedang bermanja tanpa kata, ia tidak sedang merenung tanpa perencanaan. Ia percaya diri untuk melangkahkan kaki. Menggapai seluruh harap yang hendak ia bangun.

Tak akan bermanja sebab ia sadar bahwa dunia ini hanyalah ruang berbekal diri. Untuk akhirat yang nun jauh perjalanannya. Dan bekal terbaik adalah ilmu Agama Islam, dengan pengabdian duniawi.

Hingga sampai ke beberapa pesantren, yakni:

Pesantren Kasingan

Pondok pesantren Kasingan Rembang yang saat itu diasuh oleh KH. Musthofa. Beliau adalah kakek dari KH. Musthofa Bisri (Gus Mus). Tentu pesantren ini telah menelurkan banyak ulama-ulama besar dari penjuru negeri bahkan dunia. Dan salah satunya adalah Mbah Ghzali pernah mencicipi suasana pesantren ini.

Pesantren Al-Muttahidah

Selanjutnya ia ke pesantren Al-Muttahidah. Pondok pesantren Al-Muttahidah atau yang sekarang dikenal dengan Ma’had Ilmi al-Syar’i (MIS) Sarang Rembang. Saat itu diasuh oleh KH. Imam. Juga menjadi salah satu tempat teduh Mbah Ghazali dalam menuntut ilmu.

Ia tidak sedang melakukan perbandingan antara guru satu dengan yang lain. Ia tidak sedang menimbang mana yang terbaik dan tidak. Namun ia sedang menyerap banyak ilmu untuk tertanam dalam jiwa dan sukmanya.

Pesantren Darul Qur’an

Selanjutnya ia ke Pondok pesantren Darul Qur’an Kediri yang saat itu diasuh oleh seorang ulama ahli falak yaitu KH.Yunus.

Pesantren Tebuireng Jombang

Menyebut Tebuireng, apakah kita semua paham bahwa tempat ini adalah tempat yang telah menjadi pusat pendidikan Islam terbaik. Namun tahukah kita semua bahwa Tebuireng dulu adalah area lokalisasi pelacuran? Yang dengan kehebatan KH Hasyim Asyari menyulapnya menjadi pesantren.

Baca juga beritaku: Suku Hui dan Uighur: Warga Islam Di China dan HAM

Saat itulah, mata dunia terbuka bahwa sebuah deksripsi menarik telah merubah kesuraman Tebuireng menjadi cahaya yang terang dengan berdirinya pesantren diatas tanahnya.

Jika sebelumnya tanah-tanah ini penuh dengan maksiat, kini berubah dengan pensucian dan bacaan Al Quran sering terdengar.

Masjid yang megah dan santri-santri yang keluar masuk belajar, dengan membasur tangan, wajah dan kaki dengan wudhu sebagai sebuah pensucian wajib diri.

Salah satu dari mereka adalah Mbah Ghazali, di Pondok pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari tokoh besar Nahdlatul Ulama’.

Pengabdian Untuk Negeri

Jejak mata pena Indonesia
Peta Indonesia (Foto: forumindonesiamuda.org)

Seperti halnya dengan santri yang lain, ia kembali ke desa tempat ari-arinya tertanam. Desa Gandirejo Kecamatan Sedan.

Sepulang dari menuntut ilmu, KH. Ghazali kembali ke tanah kelahirannya di desa Gandrirejo kecamatan Sedan kabupaten Rembang Jawa Tengah.

Tahukah kita semua bahwa pada masa itu, negara kita belum merdeka. Belum sebebas kita sekarang ini untuk berkata apapun.

Dulu tidak sebebas hari ini, bahwa soal ceramah sangat terbuka bagi kebanyakan ulama untuk melakukan syiar.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Negara kita belum merdeka, dan seluruh nusantara masih dalam bentuk pemerintahan kerajaan-kerajaan.

Beliau bergabung bersama para ulama dari Sedan, Pamotan, Lasem, dan Kajen yang saat itu sedang mencari suaka dari agresi militer Belanda. Belanda telah menduduki daerah Pamotan dan Lasem.

Mendirikan Madrazah

Selain menjalankan syiar Islam, ia juga terlibat dalam perencanaan kemerdekaan Negara ini. Ia menjadi bagian dalam perjuangan bangsa. Termasuk ia merasakan bagaimana perihnya masa penjajahan. Dan bagaimana kekejaman Belanda dan Jepang pada Negara ini.

Santri yang satu ini telah bergabung dengan para santri lain. Denga sebuah kesepakatan-kesepakatan bahwa kemerdekaan bangsa adalah sebuah tuntutan.

Selanjutnya, Di Kecamatan Sarang (bersebelahan dengan Kecamatan Sedan), ulama-ulama sepakat untuk mendirikan sebuah madrasah. Berdasarkan kesepakatan bersama, pada tahun 1949.

KH. Ghazali yang saat itu masih jejaka diangkat menjadi mufattisy (kepala sekolah) karena beliau dianggap paling mumpuni untuk menyandang jabatan tersebut.

Menikah Dengan Nyai Aminah

Ia telah menjadi kepala sekolah dan aktif berdakwah dan berkhutbah. Sehingga mimbar-mimbat Masjid menjadi panggung syiarnya yang ia lakukan. Dari satu surau kesurau yang lain, satu Mushollah ke Mushollah yang lain.

Tidak hanya itu, kadang dakwahnya ia lakukan tidak dilakukan pada rumah ibadah, namun rumah warga bahkan sesekali di kebun dan sawah.

Ia tidak hanya menyaksikan bagaimana padi menguning dengan segala keindahannya, namun suara dan dakwahnya menciptakan syair yang terbentang diantara petani yang menikmari gizi ceramah dan dakwah yang ia bawakan.

Namun pada akhirnya lelaki gagah dengan berat badan ideal ini, menetapkan hati dan memilih pujaan hatinya. Nyai Aminah, seorang gadis dari desa Karangasem kecamatan Sedan.

Sang Kyai tidak sedang merajut cinta dengan seluruh narasi puitis dan cintanya seperti anak milenial membuat status “palsu” tentang cinta.

Namun ia mempersembahkan makna cinta dengan menikahi Nyai Aminah, wanita yang telah masuk dalam detak jantung dan memberikan semangat hidup dakwahnya kelak.

Nyai Aminah itu wanita Jawa Asli, yang lembut dan penurut terutama kepada suami. Dan dengan permintaan lembut, ia meminta KH Ghazali pindah ke Desa Karangasem.

KH. Ghazali menyetujui permintaan sang istri untuk pindah ke desa Karangasem. Kepindahan itu tidak lantas mengurangi semangat KH. Ghazali dalam mengamalkan ilmunya. Setiap hari Selasa dan Jum’at beliau tetap pulang pergi mengajar dari Karangasem ke Gandrirejo.

Keturunan KH Ghazali

Dengan cinta Mawaddah Warohmah, ia dengan Nyai Aminah, memiliki tiga orang putra yang semuanya berdomisili di Desa Karangasem.

  1. Abdul Kholiq (menempati rumah peninggalan orang tua Nyai Aminah)
  2. Abdul Jalil (menempati rumah di samping rumah KH.Ghazali)
  3. Nur Qa’id (menempati rumah peninggalan KH.Ghazali)

KH. Ghazali : Mata Pena Dari Sedan

Agamis dan produktif adalah karakter yang lekat dalam diri KH. Ghazali. Keseharian beliau adalah mengajar beberapa mata pelajaran para santri yang bersekolah di MGS (Madrasah Ghazaliyah Syafi’iyyah) Sarang.

Dan mengajar mengaji al-Qur’an serta ilmu agama Islam dasar di mushola depan rumahnya. Menurut cerita putra beliau KH. Abdul Kholiq, ayahnya selalu menyempatkan diri untuk menulis.

Waktu itu, KH. Abdul Kholiq masih kecil belum faham apa yang ayahnya tulis. Beliau hanya mengerti jika ayahnya menulis huruf-huruf arab.

Baca juga beritaku: Mengenal Kawilarang Dan Pemberontakan Yang Ia Tumpas

Banyak sekali karya-karya yang telah KH. Ghazali hasilkan. Mulai dari naskah salinan sampai naskah asli karangan beliau sendiri dan jumlahnya sampai puluhan. Karena itu,tidak berlebihan kiranya beliau dijuluki sebagai “Mata Pena dari Sedan”.

 Naskah yang telah ditulis oleh KH.Ghazali tidak dipublikasikan seperti naskah-naskah penulis lainnya. Beliau menyampaikan karyanya kepada  para santri yang belajar di MGS.

Berikut adalah nama beberapa kitab yang telah beliau tulis dan cukup terkenal dikalangan santri:

  1. Risalah Kasyf al-Jilbab
  2. Bulugh al-Wathor fi al¯’Amal bi al-Qamar
  3. Mathla’ al-Sa’id
  4. Risalah fi al-‘amal bi al-Rub’i al-Mujayyab
  5. Nafisat al-Ashfad
  6. izb li Sayyid Ahmad al-Rifā’ī
  • izb li Sayyid Ahmad al-Rifā’ī ; Karya Legendaris Penuh Konsistensi

Ḥizb dalam bahasa Arab berarti menjadikan al-Qur’an sebagai media untuk memohon pertolongan dari Allah. Ḥizb li Sayyid Ahmad al-Rifā’ī adalah satu dari beberapa naskah hizb karya KH. Ghazali yang sampai sekarang masih diamalkan oleh keturunan beliau.

Naskah ini disimpan dalam sebuah almari kuno milik putra pertamanya yaitu KH. Abdul Kholiq yang berdomisili di RT/RW 01/05 Karangasem, Sedan, Rembang.

Walaupun tidak ada keterangan yang menyatakan kapan naskahḤizb Li Sayyid Ahmad al-Rifā’ī di tulis, namun beliau dapat memperkirakan usianya lebih dari 50 tahun.

Naskah Ḥizb li Sayyid Ahmad al-Rifā’ī berbentuk buku yang sudah dijilid manual dengan kertas bergaris yang difungsikan sebagai perekat antar teks.

Naskah yang masih utuh tersebut dapat terbaca dengan jelas karena tinta cina yang digunakan belum pudar dan masih terlihat hitam.

Secara umum dalam menulis ḥizb li Sayyid Ahmad al-Rifā’ī, KH. Ghazali menggunakan bentuk khat Naṣhi namun titik huruf hijāiyyahnya menggunakan khat Riq’i.

Naskah Ḥizb li Sayyid Ahmad al-Rifā’ī juga dilengkapi dengan harakat, sehingga tidak sulit untuk membaca teks berbahasa Arab yang tertulis di atas kertas halus mirip kertas majalah zaman sekarang tersebut.

Walaupun di dalam ḥizb iniKH. Ghazali tidak membubuhkan nomor halaman, namun  beliau selalu konsisten dalam penulisan. Terbukti setiap baris dalam 20 halaman jumlahnya sama, yaitu 8 dengan jarak 1 cm.

Selain itu, beliau juga memberikan margin yang sama pula di setiap halamannya. Tepi atas dengan panjang 1 cm, tepi bawah 2 cm, tepi kanan dan kiri masing-masing 1,5 cm.

Menurut keterangan putranya, KH. Ghazali dahulu menggunakan pring (bambu) sekitar 30 cm yang diraut tipis ketika menulis sebuah karya. Bambu tersebut berfungsi sebagai penggaris.

Ḥizb li Sayyid Ahmad al-Rifā’ī berisi ajaran-ajaran tasawuf yang didalamnya terhimpun ayat-ayat al-Qur’an pilihan. Keunikan ḥizb ini adalah adanya keserasian tema antar ayat yang notabene berbeda surat.

Contohnya, lafad lā takhaf dalam QS. Al-Ankabut:33 dengan QS.Tāha: 46. Untuk membedakan  antar ayat yang berlainan tersebut, KH. Ghazali membubuhkan (    ) tanda titik tiga setiap berganti ayat.

Baca juga beritaku: Pemberontakan Republik Maluku Selatan

Dahulu, setiap tahun lulusan MGS (Madrasah Ghazaliyah Syafi’iyyah) sowan kepada KH. Abdul Kholiq untuk meminta sanad dari ḥizb-ḥizb karangan KH.

Ghazali. Banyak sekali santri yang nampaknya tertarik mengamalkan doa-doa dalam ḥizb sehingga membuat mereka cenderung sedikit mengabaikan pelajaran agama yang lain.

Podo seneng ndukun kabeh bocah e”. Sampai akhirnya, beberapa tahun belakangan KH.Abdul Kholiq tidak menerima permintaan sanad untuk ḥizbḥizb KH. Ghazali lagi.

Pada hari Kamis Pahing, 9 Dzulhijjah 1417 H/ 17 April 1997 M KH. Ghazali wafat pada usia yang cukup sepuh yaitu 76 tahun.

Daftar Pustaka

  • Ma’luf, Luwis. Al-Munjid fī al-Lughah wa al-A’lām. Beirut: Dar al-Mashriq. 2008
  • Wawancara dengan Laili Qunnatul Mus’idah putri  KH. Abdul Kholiq (cucu KH. Ghazali), di Karangasem Sedan Rembang  pada tanggal  17 Februari 2017
  • Wawancara dengan KH. Abdul Kholiq, di Karangasem Sedan Rembang  pada tanggal 17 dan 10 Februari 2017

1.1 Foto KH. Abdul Kholiq bin KH. Ghazali beserta istri

1.2 Foto Pena dan Tinta yang digunakan menulis oleh KH. Ghazali bin Mas’ud


  • Hasil bincang dengan KH. Abdul Kholiq, di Karangasem Sedan Rembang  pada tanggal 10 Maret 2017.
  • Wawancara dengan Laili Qunnatul Mus’idah putri  KH. Abdul Kholiq (cucu KH. Ghazali), di Karangasem Sedan Rembang  pada tanggal  17 Februari 2017.
  • Luwis Ma’luf, Al-Munjid fī al-Lughah wa al-A’lām, (Beirut: Dar al-Mashriq, 2008), 131.
  • Hasil Wawancara dengan KH. Abdul Kholiq, di Karangasem Sedan Rembang  pada tanggal 10 Maret 2017.
  • Di Jawa istilah ndukun sering dilabelkan kepada seseorang yang ahli dalam  mengobati orang lain dengan doa-doa tertentu .
Bagikan Ke