Damaskus
Damaksus Syria

Mengenal Sepak Terjang 15 Pemimpin Islam Kekhalifahan Damaskus

Diposting pada

Damaskus merupakan tempat pusat kekhalifahan umayyah yang saat itu sangat berjaya. Di sana, lahir banyak pemimpin islam besar. Siapa sajakah mereka? kemudian, sejak kapan pusat pemerintahan berada di Damaskus? Mari kita bahas.

Beritaku.id, Berita Islami. – Setiap orang terlahir menjadi seorang pemimpin, baik dalam lingkaran kecil maupun yang besar. Namun, ada orang yang memang di lahirkan untuk menjadi pemimpin lingkaran besar. Sejak dalam kandungan, ia telah di daulat bersaing untuk berkuasa.

Oleh: Ulfiana (Penulis Berita Islami)

Damaskus menjadi tempat ternyaman dari kekhalifahan bani umayyah berdiri. Saat ini Damaskus merupakan bagian dari negara suriah.

Dahulu damaskus masuk dalam wilayah yang di sebut As Syams.

Negerinya begitu subur dan makmur. Damaskus telah jatuh ke wilayah islam 26 tahun lalu sejak akhirnya menjadi ibu kota pemerintahan.

Pembangunan Damaskus juga akhirnya gencar di lakukan. Kota Damaskus mulai menggeliat perekonomian serta kebudayaannya setelah menjadi sentra utama pemerintahan.

Kekhalifahan Damaskus
Peninggalan Khalifah Muawiyah Damaskus

Kota ini merupakan kota dimana para pemimpin umayyah menunjukkan kehebatannya. Mulai dari bidang keilmuan hingga infrastruktur menjadi poin utama para pemimpin.

Sejak Kapan Kepemimpinan Kekhalifahan di Damaskus?

Tahun 661 M merupakan tahun dimana kepemimpinan pertama dari kekhalifahan Umayyah berlangsung di Damaskus sejak saat itu.

Pemindahan ini merupakan peristiwa pertama kalinya ibu kota pemerintahan islam di luar jazirah arab.

Muawiyah bin Abu sufyan merupakan seorang yang menjadi khalifah pertama di dinasti umayyah yang memindahkan ibu kota ini.

Mengapa Damaskus?

Pertanyaan ini tentu terlintas di benak. Berikut ini penjelasannya.

Baik Umar, Abu Bakar maupun Utsman, menjalankan perannya sebagai khalifah dengan Madinah sebagai ibu kotanya. Madinah begitu dinamis kala itu karena pusat dari semua bidang berada disana.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, peluasan wilayah serta manusia yang semakin kompleks, suasana madinah menjadi tidak sederhana.

Ketika masa pemerintahan khalifah Ali bin abi thalib, ali memindahkan pusat pemerintahannya. Ia memindahkan ibu kota pemerintahannya dari Madinah menuju kota Kuffah.

Baru ketika Daulah Umayyah naik tahta, Muawiyah memindahkan pusat pemerintahannya bukan di Madinah lagi atau kuffah. Namun, di Damaskus.

Bagi Muawiyah, Damaskus merupakan wilayah yang sangat strategis dan menguntungkan. Selain karena sebelumnya ia menjabat gubernur di Damaskus, Damaskus adalah pintu untuk melebarkan wilayah.

Mulai dari Mesir, Armenia, Bahkan Mesopotamia Utara. Serta, Georgia, Asia Kecil dan Azerbaijan bisa menjadi wilayah islam.

Kota Damaskus merupakan kota yang telah ada di genggaman Muawiyah sebagai basis kekuatannya. Sehingga, wajar jika akhirnya Muawiyah memindahkan ibu kotanya di Damaskus. Bukan di kota Kuffah.

Bagaimana Sepak Terjang 15 Khalifah Pada Masa Pemerintahan Ini?

Berikut ini merupakan kepemimpinan para Khalifah Dinasti Umayyah:

1. Muawiyah I bin Abu Sufyan

Mu’awiyah merupakan khalifah pertama dari Dinasti Umayyah. Ia memimpin sejak tahun 661 M hinggga 680 M. Ia juga yang menjadikan Umayyah sebagai dinasti dari kekhalifahan.

Ketika memimpin, ia melakukan banyak usaha penaklukan. Salah satunya adalah usaha pembebasan konstantinopel pertama.  Ia juga meluaskan wilayah kekuasaannya hingga begitu jauh.

Kualitas ibadah Muawiyah juga terkenal begitu baik. Ia adalah seorang muslim yang taat dan memiliki citra yang baik.

2. Yazid I bin Muawiyah

Yazid merupakan anak dari Muawiyah bin Sufyan. Ia berkuasa dari tahun 680 hingga 683 M. Penunjukkan diwarnai dengan polemik dari tubuh umat islam sehingga ada sebagian yang tak mengakuinya.

Semua itu karena gaya hidupnya yang di rasa tak pantas di lakukan untuk pemimpin umat islam. Ia juga dianggap orang yang bertanggung jawab atas terbunuhnya husain bin ali cucu nabi di karbala. Serta, penjarahan madinah, juga terbakarnya kabah karena pengepungan makkah.

Pada umumnya pemerintahan yazid ini lebih mengedepankan fokus dalam menjaga wilayah perbatasan.

3. Muawiyah II bin Yazid

Ia berkuasa hanya dalam kurun waktu yang sangat sebentar. Yaitu, sejak tahun 683 M hingga 684 M. Ia juga merupakan khalifah terakhir dari keturunan sufyani atau Abu Sufyan.

Ketika naik tahta, ia masih berumur 17 tahun. Berbeda dengan pendahulunya, ia lebih tertarik pada urusan agama daripada menangani pemerintahan.

Selama memerintah, penasihatnya menggantikannya, karena ia memiliki masalah kesehatan. Ketika ia wafat, kondisi dinasti umayyah mengalami sedikit keguncangan.

4. Marwan I bin al-Hakam

Ia adalah khalifah ke-4 dari keturunan Marwani, menggantikan keturunan Sufyani.  Dalam masa pemerintahannya, ia merebut kembali daerah Mesir, Palestina dan Syam yang sebelumnya telah melepaskan diri.

Kekhalifahan Transisi di Daulah Umayyah

Pemerintahan transisi juga terjadi pada Daulah Umayah, yakni

5. Abdullah bin Zubair bin Awwam (transisi)

Abdullah Bin Zubair merupakan anak dari zubair al Awwam dan Asma Binti Abu Bakar. Sebelumnya, Abdullah Bin Zubair tidak tertarik dalam urusan politik pada masa pemerintahan Muawiyah. Namun, ketika pemerintahan Yazid, ia menolak untuk berbaiat.

Ketika mendengar kematian Husain, ia kemudian menyatakan diri untuk menjadi khalifah. Ia mengumpulkan pasukan yang mendukungnya.

Yazid kemudian mencoba untuk meredam gelombang perlawanan ini dan menyerbu mekkah. Yaitu, tempat kediaman Abdullah Bin Zubair.

Gelombang pendukung Ibnu Zubair semakin meluas ketika Yazid wafat. Namun, ketika Abdul Malik mulai berkuasa, ia fokus untuk meredakan perlawanan itu.

Hajjaj yang merupakan pemimpin pasukan Abdul Malik mengepung Mekkah selama 8 bulan 17 hari. Akhirnya, Ibnu Zubair di tangkap dan di bunuh oleh Al Hajjaj.

Ia wafat dalam kondisi syahid.

Hingga beberapa waktu berlalu, Asma yang masih hidup di usianya yang 100 tahun, memakamkan anaknya itu. Ia membawanya sendiri ke Madinah dan menguburkannya disana.

6. Abdul-Malik bin Marwan

Ia memerintah sejak tahun 685 hingga 705 M. Lama waktu kepemimpinanya ini membuatnya menyandang pemimpin terlama dari bani umayyah.

Ketika memimpin, ia berhasil menyatukan semua kekalifahan dalam kendali tunggal miliknya di syiria. Ia juga mengakhiri adanya perang saudara.

Abdul malik kemudian mencetak dinar pertama dan membuat bahasa arab sebagai bahasa resmi kerajaan.

7. Al-Walid I bin Abdul-Malik.

Ia memimpin sebagai khalifah pada tahun 705 M. Pada masa kekhalifahan nya di damaskus, terjadi perluasan hingga ke Transoxiana di asia tengah, India dan Iberia Eropa.

Pembangunan juga gencar di laksanakan termasuk infrasturktur sejarah dengan arsitektur islam.

Ia juga membangun angkatan laut terkuat di masa daulah umayyah.

Kekhalifahan ke 8 dan Khulafaur Rasyidin ke 5

8. Sulaiman bin Abdul-Malik.

Masa kekuasaannya adalah dari tahun 715 hingga 717 M. Ia kemudian juga menghidupkan lagi upaya pembebasan konstantinopel. Ia kemudian, membangun mekkah untuk keperluan ziarah serta, merapikan pelaksanaan ibadah. Retorika pidatonya terkenal begitu luar biasa.

9. Umar II bin Abdul-Aziz.

Ia memerintah selama 2 tahun 137 hari. Selama masa kepemimpinannya ini, masa itu dianggap masa yang paling makmur. Sampai-sampai ketika akan membagikan zakat, petugas zakat kebingungan mencari orang fakir.

Bahkan, sebutan untuknya adalah khulafaur rasyidin kelima. Hal itu karena, keshalehan dan kecakapannya. Umar juga sangat tertarik dalam bidang keilmuan.

Sebelumnya, ia memiliki gaya hidup yang mewah saat jadi Gubernur Madinah. Namun, ketika pengangkatannya sebagai khalifah, ia menjual hartanya dan memilih memimpin dengan cara hidup zuhud.

10. Yazid II bin Abdul-Malik.

Di kenal dengan Yazid II, ia menjabat pada tahun 687 M. Ketika mengambil kebijakan, ia cenderung memilih jalan berbeda dari Umar Bin Abdul Aziz. Ia mengedepankan jalan militer dalam menghadapi gelombang perlawanan dalam negri.

Namun, kebijakan nya itu justru membuat bibit perlawanan dari rakyatnya.

11. Hisyam bin Abdul-Malik.

691 merupakan tahun pertama ia memerintah. Dalam masa pemerintahannya, ia cukup berhasil untuk membuat kondisi menjadi stabil. Ia juga mulai meneruskan perluasan wilayah kembali.

Awal krisis kekhalifahan di damaskus

12. Al-Walid II bin Yazid II.

Al walid memimpin pada tahun 734 M hingga 744 M. Ia merupakan pengganti dari pamannya yaitu Hisyam, khalifah sebelumnya. Ketika pengangkatannya, banyak pihak menentang naiknya ia ke kursi khalifah.

Semua itu karena gaya hidup al walid yang di anggap tak cukup bermoral sebagai pemimpin. Kebencian pada al walid menjadikan bibit kebencian pada bani umayyah makin meluas.

Hingga akhirnya ia terbunuh saat memerangi musuhnya tahun 744 M.

13. Yazid III bin al-Walid.

Di kenal dengan sebutan yazid III. Kemudian, masa jabatannya hanya 6 bulan sebelum akhirnya, meninggal. Penolakannya membayar kenaikan gaji pada pasukan al walid ii membuat reputasinya turun. Bahkan, ia di gelari dengan sebutan “tak sempurna”.

14. Ibrahim bin al-Walid.

Dalam masa pemerintahannya, terjadi penerjemahan buku filsafat yunani ke bahasa arab. Ia menjabat pada tahun 744 M. Namun, akhirnya ia turun tahta sebab menurut sumber demi menghindari ketakutan akan lawan politiknya.

15. Marwan II bin Muhammad

Ia merupakan khalifah terakhir dari bani umayyah yang berkuasa di Damaskus.

Marwan menggantikan sepupunya ibrahim yang mengundurkan diri dan ke tempat persembunyian. Ketika ia menjabat, suasana sangat tidak stabil. Gelombang anti umayyah menyebar begitu luas.

Selama menjabat, ia hanya fokus untuk menjaga kekuasaan dari dinasti umayyah. Hingga akhirnya, ia kalah dalam peperangan melawan pemberontak.

Kenapa Kekhalifahan Umayyah Pindah Ke Kordoba?

Kekhalifahan bani umayyah sempat berpindah dari Damaskus ke kordoba. Berikut alasannya.

Hal itu karena, adanya keruntuhan kekuasaan bani umayyah di Damaskus yang di sebabkan adanya pemberontakan oleh bani abbasiyah. Pada akhir pemerintahannya itu, banyak gelombang yang tidak puas dengan kekuasaan ini.

Sehingga, muncul perlawanan yang berusaha untuk melengserkan kekuasaan umayyah.

Keturunan bani umayyah yang tersisa kemudian mengasingkan diri hingga sampai ke Spanyol. Disana, mereka mendirikan kekuatan baru dengan basis daulah umayyah. Sejak saat itu, kekhalifahan umayyah resmi berada di cordoba ketika sebelumnya berupa keamiran.

Baca juga Beritaku Khalifah Dinasti Umayyah

Khalifah Umayyah Melakukan Kudeta Kepada Khalifah Ali Bin Abi Thalib, Benarkah?

Sering muncul pertanyaan, apakah bertahtanya Muawiyah sebagai khalifah itu terjadi karena kudeta pada Ali?

Maka, sangat sulit menjawab pertanyaan ini dengan objektif. Setiap orang memiliki keberpihakannya sendiri.

Namun, ada beberapa sumber yang mengatakan memang telah ada ketegangan antara Ali dan Muawiyah sebelumnya.

Menurut sumber, konflik itu muncul karena kebijakan ali ketika menjabat sebagai khalifah.

Ali ingin memprioritaskan stabilitas politik, ekonomi serta keamanan dalam negeri sebelum melakukan qisas pada pembunuh utsman.

Ia banyak merubah kebijakan utsman yang salah satunya adalah mengganti gubernur yang di rasa penunjukannya sarat akan hubungan kekerabatan. Ia meyakini pemberontakan itu terjadi karena keteledoran  mereka.

Ada yang mengatakan Muwaiyah tidak setuju dengan kebijakan Ali  mengenai pencopotan gubernur tersebut.

Adapula yang mengatakan ia sama sekali tidak berniat untuk merebut kekhalifahan itu. Ia bersama rakyatnya hanya tidak mau membaiat ali di sebabkan tak kunjungnya ada qisas atas terbunuhnya utsman.

Sedangkan, utsman sendiri adalah sepupu dari mua’wiyah. Permintaan itu tak di kabulkan oleh Ali.

Itulah awal konflik berlangsung. Namun sekali lagi wallahua’lam bis shawaf.

Kemudian, seperti yang sering kita dengar konflik itu berujung dengan adanya perang siffin dan arbitrase. Selanjutnya, muncul kelompok khawarij yang akhirnya membuat Ali terbunuh.

Krisis akan kepemimpinan juga berlangsung karena pendukung Ali berbondong-bondong membaiat hasan. Sedangkan hasan, di rasa masih terlalu muda.

Baru kemudian, diantara mereka melakukan ijtihad dengan mengambil jalan musyawarah. Keputusan akhirnya adalah, mundurnya hasan dari jabatan khalifah demi persatuan umat yang telah terpecah.

Sejak saat itu Muawiyah menjadi khalifah secara resmi.

Epilog Kekhalifahan Damaskus

Akhirnya, demikianlah akhir dari artikel ini. Dari sini kita akhirnya banyak belajar tentang sejarah pemerintahan Kekhalifahan damaskus. Kekhalifahan ini merupakan salah satu tanda kejayaan islam dari damaskus meluas hingga jauh.

Meskipun ada berbagai macam polemik membungkusnya, semua itu merupakan hal yang wajar. Daulah umayyah juga melahirkan pemimpin yang bahkan di sebut sebagi khulafaur rasyidin ke 5.

Tentu itu sebuah prestasi yang luar biasa.

Sampai jumpa di pembahasan selanjutnya!

Baca juga Beritaku: Dinasti Abbasiyah

Sumber: Ejournal, republika, wikipedia,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *