Pembebasan Negeri, Kisah Sahabat Rasul Umar Bin Khattab
Umar Bin Khattab Memperluas Dengan Pembebasan Negeri Area Taklukan
Pembebasan Negeri, Kisah Sahabat Rasul Umar Bin Khattab

Setelah Menaklukkan Syiria, Palestina dan Irak, Selanjutnya Pasukan Bergerak Menuju Ke Mesir Demu Pembebasan Negeri itu. untuk Kembali bertarung dengan Pasukan Romawi Yang Melakukan pendudukan

Beritaku.Id, Kisah Islami – Ini bukan soal siapa terkuat menumpahkan darah satu sama lain. Ini Osla Aqidah yang menjalar dalam nadi dan detak jantung.

Umar Bin Khattab, setelah menaklukkan dan membumi hangus kerajaan Persia di Iraq. Selanjutnya bergerak menuju ke Mesir.

Pembebasan Negeri Mesir Dari Romawi

Negeri Mesir serta daerah kerajaan Bizantium lainnya telah terpecah belah oleh perselisihan agama dan aliran.

Sebelum lahirnya agama Islam, Kristen di daerah Timur terpecah kepada dua aliran, yaitu:

  1. Aliran Mulkaniyin, sebagai madzhab orang Roma sendiri.
  2. Aliran Ya’akibah, sebagai madzhab orang Mesir dan Siria.

Romawi semakin menjadi-jadi di Romawi, membakar yang tidak mau tunduk kepada ajara Kristen. Lalu abunya di taburkan kedalam sungai Nil.

Tak sampai disitu, Romawi juga mewajibkan pajak besar kepada orang Mesir.

Pembantu dirumah sendiri, berlaku bari Mesir, karena mereka harus melayani Raja Romawi atau prajurit Romawi saat itu.

Baca juga: Kisah Umar Bin Khattab, 3 Kali Ditusuk Saat Imami Shalat Subuh

Kisah Sahabat Rasul Sayyidina Umar RA Membebaskan Negeri

Kisah dari sahabat Rasul Umar Bin Khattab, selanjutya. Karena dibawah tekanan, maka mesir sangat mengharapkan para Syuhada, untuk datang membantu mereka agar tidak dibawah tekanan Romawi.

Mereka dipekerjakan secara paksa, hidup pada bawah garis kemiskinan, membuat mereka mendertia yang sangat parah.

Tidak serta merta begitu Mesir mau mengharapkan Umat Islam datang membantu mereka.

Berita Syiria, Palestina dan Iraq sampai ketelinga mereka, Bahwa setelah mereka bebas dari Romawi dan Persia.

Mereka di muliakan. Tidak dijadikan sebagai area jajahan seperti yang dialami bangsa Mesir.

Hal itu mengharapkan kedatangan Islam ke Mesir untuk membebaskan dan memerdekakan mereka.

Permohonan ‘Amru bin al-‘Ash

Permohonan pembebasan terhadap Negeri Mesir oleh Amru Bin Al-Ash, kepada Khalifah Umar Bin Khattab.

Dengan menjelaskan tentang kondisi Mesir yang mengalami masalah semenjak kedatangan Romawi. Ke Negar aitu.

Tidak hanya sekali, tapi Amru memohon kepada khalifah berulang kali untuk datang di Bantu dan menaklukkan Mesir. Pembebasan pada Negeri itu dari belenggu.

Pembebasan Negeri Mesir dengan Pengerahan

Umar bin Khattab menyerahkan 4.000 orang tentara kepada ‘Amru bin al-’Ash  yang akan dibawanya ke tanah Mesir.

Amru merima baik pasukan yang berjumlah 4000 tersebut, meski jumlahnya sedikit.

Sebab yakin bahwa jika 4000 itu terancam, maka bala bantuan Khalifah akan bertambah.

Tentara Islam Menyisir kota-kota di Mesir.

Dengan menembus Padang pasir Sinai, menuju ke El-‘Arisy dan menaklukkan kota itu dengan tidak mendapatkan perlawanan, kemudian ia terus ke Alfarma.

Suatu kota tua yang berbenteng kuat dan ketika itu menjadi pintu gerbang Mesir dari bagian Timur.

Kota itu dikepung pasukan Islam sebulan lamanya, dan kemudian pada bulan Muharram tahun 19 H. (Januari 640 M.) wali kota itu menyerah kepada ‘Amru bin al-’Ash.

Dari Alfarma ‘Amru bin al-’Ash terus ke Bilbis, dan di kota itu ia bertemu dengan Panglima Aretion yang telah melarikan diri ke Mesir sebelum Yerussalem menyerah.

Kota itu dapat direbut ‘Amru bin al-’Ash sesudah berperang selama satu bulan.

Sesudah Bilbis jatuh, ‘Amru bin al-’Ash meneruskan perjalanannya lagi sehingga ke Ummu Dunein (Teudonius), suatu kota ditepi sungai Nil.

Permintaan Bala Bantuan

Pembebesan Untuk Negeri Mesir membutuhkan bantuan, Ketika ‘Amru bin al-’Ash mengalami kendala dalam menghadapi tentara Romawi yang belipat ganda jumlahnya itu.

Segera ia meminta bala bantuan kepada Khalifah Umar bin Khattab.

Khalifah Umar menambah pasukan 4.000 bala tentara lagi dibawah pimpinan empat orang Ponggawa Pasukan Islam, yaitu: Zubair bin Awwam, Muqdad bin Aswad, Ubadah bin Shamit dan Maslamah bin Mukhallad.

Panglima perang Romawi Theodore, telah menyiapkan pula 20.000 pasukan, lalu menyerang ‘Amru bin al-’Ash di ‘Ainu-Syams itu.

Dalam pertempuran ini orang Romawi juga menderita kekalahan besar, hanya sedikit sekali mereka yang sanggup melarikan diri ke benteng Babil.

Mengepung Benteng Babil

Panglima ‘Amru bin al-’Ash berusaha mengokohkan kekuasaannya di Ummu Dunein dan di ‘Ainu Syams, tempat itu dijadikan markas besar tentaranya.

Menurut perkiraannya tidak ada lagi yang akan merintangi maksudnya kecuali dari benteng Babil yang juga dinamai Istana Lilin.

Laskar Islam mengepung benteng itu tujuh bulan lamanya. Ketika tampak oleh Mukaukis betapa kesabaran musuhnya dalam peperangan, ia keluar beserta pengiringnya pergi ke pulau Raudha.

Dari sana ia mengirim utusan untuk menemui panglima ‘Amru bin al-’Ash untuk membicarakan perjanjian perdamaian.

Utusan itu diterima oleh ‘Amru bin al-’Ash dengan segala hormat. Kepada utusan itu ‘Amru bin al-’Ash memberi tiga pilihan, yaitu: masuk Islam, membayar upeti, atau meneruskan peperangan.

Menyerbu masuk benteng Babil.

Pada bulan April tahun itu juga mulailah laskar Islam menyerbu masuk benteng itu. Zubair bin ‘Awwam meletakkan tangga di dinding benteng sebelah tenggara dan diapun naik keatas dinding. Ia menyerukan para laskar yang lain,  apabila ia mengucap takbir, maka hendaknya sekalian laskar yang lain juga mengucapkannya secara serentak. Setelah ia naik ke atas dinding benteng itu, dan dengan pedang terhunus, ia memekikkan takbir ‘Allahu Akbar’, kemudian diikuti oleh laskar yang lain yang berada di luar benteng.

Menaklukkan kota Iskandariah (Alexanderia)

Setelah benteng Babil jatuh ketangan laskar Islam, dan setelah disiapkan tentara yang akan menjaganya, ‘Amru bin al-’Ash berjalan bersama laskarnya menuju Iskandariah.

Iskandariah pertahanan terakhir Romawi

Kota Iskandariah pada waktu itu adalah sebagai Ibu kota kerajaan kedua dan sebagai bandar perniagaan yang kedua bagi Imperium Romawi Timur (Byzantium).

Kaisar Heraklius berkeyakinan bahwa apabila Iskandariah jatuh ke tangan Islam, maka lenyaplah kekuasaan Romawi di Mesir seluruhnya.

Oleh karena itu ia mengirim bala tentara sebanyak-banyaknya untuk mempertahankan Iskandariah sampai titik darah penghabisan.

Perdamaian yang kedua antara ‘Amru bin al-’Ash dan Mukaukis

Perjanjian damai kembali dilakukan dengan Mukaukis yang telah kembali ke Mesir dari tempat pembuangannya sesudah Kaisar Heraklius meninggal dunia. Diantara syarat perjanjian damai itu ialah:

Kepada sekalian orang yang bukan Islam diwajibkan membayar pajak sebanyak dua dinar setiap tahun.

Orang Romawi diberi kesempatan untuk meninggalkan Iskandariah selama sebelas bulan. Dan mereka diperbolehkan untuk membawa harta benda mereka dan semua barang-barang yang mereka miliki.

Orang Romawi berjanji tidak akan berupaya lagi untuk merebut Mesir kembali.

Orang Islam berjanji tidak akan mengganggu gereja-gereja dan tidak akan mencamuri apa-apa urusan orang Yahudi.

Orang Islam memperbolehkan orang Yahudi tinggal dan menetap di Iskandariah.

Untuk menjamin agar orang Romawi jujur dalam menjalankan syarat-syarat perjanjian itu, maka panglima ‘Amru bin al-’Ash enetapkan bahwa, orang Romawi harus menyerahkan 150 laskar dan 50 opsir kepada laskar Islam sebagai tanggungan.

Romawi meninggalkan Mesir

Setelah jatuhnya kota Iskandariah ke tangan pasukan Islam, maka mudah bagi laskar Islam menaklukkan kota-kota yang lain.

Dan pada akhirnya lenyaplah kekuasaan Romawi dari atas bumi hadiah sungai Nil itu.

Baca juga : Petarung Wanita Islam, Yang Menjadi Mujahidah Tangguh Dalam Sejarah Islam

Tinggalkan Balasan