Ciuniang Nurantih

Ciuniang Nurantih: Si Harimau Sumatera dan 4 Prinsip Konservasi Satwa

Diposting pada

Tahun lalu, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan penangkapan seekor harimau Sumatera di Padang Pariaman. Satwa berpenampilan garang tersebut kemudian dinamai Ciuniang Nurantih oleh masyarakat setempat. Termasuk hewan terancam punah, kelestarian harimau sumatera di jaga melalui konservasi satwa yang bertumpu pada 4 prinsip.

Beritaku.id, Berita Budaya – Kehidupan masyarakat Asia tak bisa lepas dari simbolisasi alam semesta. Sudah ribuan tahun lamanya masyarakat Asia mengambil ilmu-ilmu kehidupan dari alam sekitarnya. Sebut saja filosofi nyiur, ilmu padi, dan sebagainya. Puspawarna dunia bukan hanya menjadi tempat bernaung, tetapi menjadi guru yang mengajarkan kebijaksanaan dan kebajikan semesta.

Oleh: Riska Putri(Penulis Berita Budaya)

Tak hanya dari alam, masyarakat Asia juga kerap mengambil filosofi substansial dari eksistensi hewan-hewan penghuni alam. Satu di antaranya adalah harimau. Sejak 7.000 tahun lalu, harimau telah menjadi pusat sistem kepercayaan masyarakat Asia.

Jenis dan Nama Latin Keluarga Ciuniang Nurantih

Berbicara tentang harimau, beberapa waktu lalu jagat maya geger dengan kabar penangkapan seekor harimau Sumatera di Jorong Surantih, Nagari Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Pada 13 Juli 2020, seekor harimau betina masuk ke dalam perangkap milik warga.

Oleh warga sekitar, harimau betina itu kemudian diberi nama “Ciuniang Nurantih”. Nama tersebut berasal dari kebiasaan warga Padang Pariaman dan sekitarnya, yang menggunakan istilah “Ciuniang” sebagai panggilan akrab kepada anak perempuan.

Sementara “Nurantih” berasal dari gabungan kata “Nur” yang diberikan masyarakat setempat, serta dari Surantih yang merupakan lokasi tertangkapnya satwa liar tersebut. Hebohnya berita mengenai tertangkapnya satwa terancam punah itu akhirnya terdengar oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSA) Sumatera Barat.

Dua hari setelah tertangkap, BKSDA mengambil tindakan dengan menitipkan Ciuniang Nurantih di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasya (PRHSD) Arsari. Kepala BKSDA Sumbar, Erly Sukrismanto, mengatakan bahwa Ciuniang akan di lepasliarkan jika kondisinya sudah sehat.

Setelah berada di PRHSD selama kurang lebih 7 bulan, Ciuniang Nurantih akhirnya dapat kembali ke belantara liar pada 28 Februari 2021 lalu. Harimau betina itu kini menghuni Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, dan berada dalam pengawasan BKSDA Sumatera Barat.

Ciuniang Nurantih Si Harimau Sumatra

Sebagian pembaca mungkin bertanya-tanya, mengapa kejadian ini menyebabkan kegemparan yang begitu dahsyat bagi masyarakat Indonesia? Sederhana saja, sebabnya karena Ciuniang Nurantih merupakan harimau Sumatera.

Hewan bernama latin Panthera Tigris Sondaica (dulu Panthera Tigris Sumatrae) ini termasuk dalam klasifikasi satwa kritis terancam punah. Bahkan, satwa endemik pulau Sumatera ini adalah satu-satunya anggota sub-spesies harimau sunda yang masih bertahan hidup hingga saat ini.

Lembaga Konservasi Dunia, IUCN, memperkirakan hanya ada sekitar 400-500 ekor harimau Sumatera saja yang masih hidup liar di seluruh puspawarna bumi saat ini. Penghancuran habitat dan pembalakan liar merupakan ancaman terbesar bagi kelestarian populasi harimau Sumatera.

Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat setidaknya 66 ekor harimau Sumatera terbunuh antara tahun 1998 hingga 2000. Hal itu berarti, dalam rentang 2 tahun saja populasi hewan ini telah berkurang sebanyak 16.5%.

Ciri-ciri Ciuniang Nurantih: Harimau Sumatera yang Garang

Ciuniang Nurantih
Harimau Sumatra

Menurut penelitian para ahli, spesies harimau merupakan keturunan karnivora purba yang di kenal sebagai Miacids yang hidup di akhir zaman Cretaceous (sekitar 70-65 juta tahun sebelum masehi). Bersamaan degan pergeseran zaman, Miacids mengalami proses evolusi menjadi harimau sebagai bentuk adaptasi.

Koloni harimau kemudian bermigrasi ke kawasan Asia Timur, terutama Tiongkok dan Siberia, sebelum berpisah menjadi dua koloni. Salah satunya bergerak ke arah Asia Tengah, melahirkan sub-spesies harimau Kaspia. Sebagian lainnya terus bergerak ke arah Asia Tenggara dan Kepulauan Sunda, yang menjadi asal muasal sub-spesies Panthera Tigris Sondaica.

Jika membandingkan ciri fisiologisnya, harimau Sumatera memiliki ukuran terkecil di antara sub-spesies harimau. Harimau jantan rata-rata memiliki panjang sekitar 250 cm dari kepala hingga kaki, dengan berat 140 kg dan tinggi mencapai 60 cm. Sedangkan betinanya memiliki panjang sekitar 198 cm, berat 91 kg, dan tinggi mencapai 55 cm.

Di antara semua spesiesnya, harimau Sumatera memiliki warna bulu paling gelap. Umumnya, mereka memiliki bulu berwarna dari kuning kemerah-merahan hingga jingga tua. Sementara pola hitam belangnya berukuran lebar dan berhimpitan dengan jarak yang rapat. Sub-spesies ini juga memiliki janggut dan surai lebih banyak dibanding sub-spesies lain, terutama harimau jantan.

Keuntungan Ukuran Yang Lebih Kecil Harimau Sumatra

Meskipun memiliki ukuran lebih kecil, hal tersebut tidak serta merta membuat harimau Sumatera menjadi inferior. Ukuran yang kecil justru memudahkannya menjelajahi rimba Sumatera. Rapatnya barisan pepohonan tidak menjadi masalah, karena harimau Sumatera bisa berkelok lincah di antara sela pepohonan.

Bobot tubuh yang lebih ringan juga memberikan keuntungan lain. Harimau Sumatera mampu memanjat pohon, dan meloncat dengan cepat untuk menerkam mangsa. Tidak hanya itu, sela-sela jemarinya pun memiliki selaput yang membuat mereka mampu berenang cepat.

Sebab itulah, salah satu teknik berburu khas harimau Sumatera adalah menyudutkan mangsanya ke perairan. Teturama jika targetnya adalah binatang yang tidak bisa berenang, atau yang tidak bisa berenang dengan cepat.

Salah satu keunikan dari sub-spesies harimau ini adalah kegemarannya menyantap buah Durian. Tidak di ketahui apa yang menjadi alasannya, tetapi warga sekitar wilayah konservasi kerap menemukan kulit Durian bekas santapan harimau Sumatera. Keunikan lainnya adalah bulu harimau betina akan berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.

Efek Konflik Satwa dan Pelestariannya

Harimau Sumatra
Efek konflik satwa terhadap keberadaan Harimau Sumatra

Sama seperti satwa lainnya, kelestarian harimau Sumatera bergantung pada keseimbangan rantai makanan. Kucing besar ini mampu hidup di manapun, mulai dari hutan dataran rendah hingga di tengah pegunungan. Ancaman kepunahan datang saat manusia mulai membuka blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut, dan hutan hujan di pegunungan.

Manusia membuka rimba liar untuk dijadikan area lahan pertanian dan perkebunan komersil. Alhasil, penghuni belantara menjadi terusir, habitatnya menyempit, kemudian terpaksa memasuki wilayah yang dekat dengan manusia.

Perlu diketahui, harimau Sumatera dewasa membutuhkan kawasan jelajah seluas 100 kilometer untuk berburu. Hal ini sangat penting, karena sebagai raja hutan dan pemangsa utama dalam rantai makanan, harimau memiliki tugas mengendalikan keseimbangan mangsa dan pemangsa dalam rantai makanan.

Efek dari kedekatan wilayah hidup manusia dengan satwa liar tidak sampai di situ saja. Spesies herbivora yang berada pada tingkat bawah rantai makanan, mengalami perubahan perilaku. Hewan-hewan yang biasa mencari makan dari alam liar, menjadi ketergantungan terhadap aktifitas manusia dalam berladang dan berkebun.

Hewan herbivora menjadi lebih suka mencari makan di ladang dan kebun milik manusia. Alasannya sederhana, manusia melakukan proses kultivasi khusus untuk menghasilkan buah dan sayuran dengan kualitas tinggi. Selain itu, ketersediaan makanan yang melimpah dan cenderung mudah di dapat, turut menyumbang alasan kegemaran hewan liar mencari makan di wilayah hidup manusia.

Sulitnya Mencari Makan Di Habitat Asli, Menjadi Salah Satu Alasan Satwa Liar Berkonflik Dengan Manusia

Kesukaran mendapat makanan di habitat sempit, lalu juga dengan kualitas dan kuantitas makanan di wilayah manusia, pada akhirnya mengundang hewan liar untuk mencari makan di luar habitat mereka. Tidak berhenti di situ, kehadiran herbivora di wilayah manusia turut mengundang karnivora untuk “turun gunung” dan mencari mangsa di sekitar pemukiman manusia.

Alhasil, manusia dan hewan liar akhirnya tidak bisa menghindari interaksi antara keduanya. Interaksi ini kemudian berkembang menjadi konflik. Penyebabnya, manusia merasa khawatir atas kehadiran hewan liar, serta merasa resah karena hewan-hewan liar juga seringkali merusak lahan pertanian mereka.

Konflik ini tidak hanya terjadi antara hewan dengan manusia saja, tetapi juga muncul antara spesies hewan berbeda. Beberapa spesies yang di anggap bermanfaat, kemudian dilindungi oleh manusia. Sementara spesies hewan lain yang dinilai mengganggu, diburu hingga berada diambang kepunahan.

Akibatnya, beberapa hewan menjadi bersifat lebih liar. Tidak jarang, konflik yang terjadi antara para hewan mengakibatkan kematian yang berujung pada berkurangnya populasi hewan tertentu.

Konflik-konflik ini merupakan permasalahan kompleks yang bukan hanya mengancam kelestarian spesies satwa, tetapi juga mengancam keselamatan manusia. Bukan sekali dua kali konflik antara manusia dengan hewan liar menimbulkan korban jiwa manusia.

Secara historis, manusia memang kerap kali mengalami kesulitan mengendalikan syahwatnya terhadap hal-hal materialistis. Selama ini, tindakan konservasi hanya menjadi bahasan diantara pihak-pihak terkait saja, sementara masyarakat umum cenderung acuh tak acuh. Sebab itu, penting rasanya semua manusia mulai bahu-membahu dalam hal konservasi.

Cara Menangani Konflik Satwa

Konflik Satwa
Ilustrasi satwa alam liar

Untuk menanggulangi konflik anatara satwa dengan manusia, langkah pertamanya adalah memahami tentang kehidupan satwa liar itu sendiri. Dari situ, manusia akan memahami dimana letak akar permasalahannya. Dilansir dari berbagai sumber, terdapat 4 prinsip penanggulangan konflik antara manusia dan satwa liar, sebagai berikut:

1. Manusia dan satwa liar sama-sama penting

Konflik manusia dan satwa liar menempatkan kedua pihak pada situasi di rugikan. Dalam memilih opsi-opsi solusi konflik yang akan diterapkan, pertimbangan langkah untuk mengurangi resiko kerugian yang diderita oleh manusia, secara bersamaan harus didasari pertimbangan terbaik untuk kelestarian satwa liar yang terlibat konflik.

2. Site specific

Variasi karakteristik habitat, kondisi populasi, dan faktor lain seperti jenis komoditas, membuat intensitas dan solusi penanganan konflik bervariasi di masing-masing wilayah. Pilihan kombinasi solusi yang beragam sangat mungkin terjadi di masing-masing wilayah konflik. Sebab, suatu solusi yang efektif di suatu lokasi, belum tentu bisa diterapkan di lokasi atau situasi konflik di daerah lain.

Hal tersebut menuntut penanganan yang berorientasi pada berbagai faktor yang berperan dalam sebuah konflik.

3. Tidak ada solusi tunggal

Konflik antara manusia dan satwa liar dan tindakan penanggulangannya merupakan sesuatu yang kompleks. Sebuah proses penanggulangan konflik yang komprehensif, menuntut adanya rangkaian kombinasi berbagai solusi potensial.

Hal ini sejalan dengan poin sebelumnya, ketika suatu solusi belum tentu bisa di terapkan pada kasus berbeda secara utuh. Tetapi, tidak menutup kemungkinan menerapkan solusi tersebut secara parsial pada kasus lain, bersamaan dengan solusi yang lebih spesifik.

4. Skala landsekap

Satwa liar tertentu, seperti harimau Sumatera, memiliki wilayah jelajah yang sangat luas. Upaya penanggulangan konflik yang komprehensif harus berdasarkan penilaian yang menyeluruh dari keseluruhan daerah jelajahnya (home-range based mitigation).

Sebagai contoh, metode dalam penanggulangan konflik antara manusia dengan babi hutan dan kera ekor panjang di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, adalah dengan menjaga dan menggiring hewan-hewan tersebur kembali ke habitatnya.

Untuk babi hutan, masyarakat bersama dengan karyawan TN Gunung Ciremai bergantian melakukan penjagaan di areal kebun masyarakat yang berbatasan dengan kawasan hutan. Pelaksanaannya terjadi pada waktu-waktu aktifitas babi hutan, yaitu sore hingga malam hari.

Kegiatan ini juga melibatkan anjing penjaga, yang bertugas menggiring babi hutan kembali ke hutan apabila memasuki areal kebun. Selain memanfaatkan anjing penjaga, masyarakat juga melakukan pemagaran areal perkebunan menggunakan jaring paranet.

Pemasangan jaring ini bertujuan menyulitkan babi hutan untuk masuk ke areal perkebunan. Sejalan dengan itu, pagar jaring paranet juga dibuat dengan tiang atau penyangga setinggi 120 cm. Pemasangan tiang dilakukan untuk mencegah kera ekor panjang masuk ke areal perkebunan.

Tindakan penanggulangan konflik lainnya adalah melakukan kastrasi pada kera ekor panjang. Kastrasi merupakan salah satu upaya menekan perkembangbiakan satwa tersebut, supaya tidak mengalami over populasi. Caranya adalah mengkebiri pejantan yang masih produktif, kemudian melepaskannya kembali ke habitatnya.

Konflik antara manusia dan satwa liar merupakan permasalahan kompleks karena bukan hanya berhubungan dengan keselamatan manusia tetapi juga satwa itu sendiri. Sebab itu, seharusnya kita sebagai manusia bisa bertindak lebih bijaksana dalam memahami hakikat keberadaan makhluk hidup.

Pengentasan permasalahan tidak bisa hanya berfokus pada keuntungan manusia saja, melainkan harus berjalan dua arah. Karena, pada akhirnya jika alam ini rusak, dan hewan-hewan menjadi punah, siapakah yang paling rugi? Bukankah manusia yang akan mengalami kerugian paling besar?

Daftar Pustaka

  1. Harlina, Novia. 2020. Perkenalkan Ciuniang Nurantih, Harimau Betina Gahar dari Padang Pariaman. Padang: Liputan6. https://www.liputan6.com/regional/read/4306248/perkenalkan-ciuniang-nurantih-harimau-betina-gahar-dari-padang-pariaman.
  2. Sahri, Sirhan dan Lionita. 2021. Tim Gabungan BKSDA Sumbar Lepasliarkan Harimau Sumatera ‘Ciuniang Nurantih’. Jakarta: Nusa Daily. https://www.liputan6.com/regional/read/4306248/perkenalkan-ciuniang-nurantih-harimau-betina-gahar-dari-padang-pariaman.
  3. Kitchener, A.C., C. Breitenmoser-Würsten, E. Eizirik, A. Gentry, L. Werdelin, A. Wilting, dan N. Yamaguchi. 2017. A Revised Taxonomy of the Felidae: The Final Report of the Cat Classification Task Force of the IUCN Cat Specialist Group. Gland: International Union for Conservation of Nature.
  4. Seidensticker, J., S. Christie dan P. Jackson. 1999. Ridding the Tiger: Tiger Conservation in Human Dominated Landscape. Cambridge: Cambridge University Press.
  5. Konflik Satwa Liar. Balai TN Gunung Ciremai. http://tngciremai.com/konflik-satwa-liar/.
Bagikan Ke