Foto: Andhika M Daeng Mammangka

Bulukumba; Robohnya Jantung Kemanusiaan Kami

Diposting pada

Robohnya Jantung Kemanusiaan Dalam Diri Setiap Pemilik Jantung Sebagai Manusia

Oleh: Andhika M Daeng Mammangka

Gowa, 1 Juli 2019

Moralitas Dan Robohnya Jantung Kemanusiaan

Bicara nilai moralitas kemanusiaan, itu tentu bukan bagian menarik dari bahasan yang menarik dibicarakan oleh politik kontemporer. Politik lebih gandrung pada angka-angka statistik dan sertifikat penghargaan yang dianggap sebagai capaian prestasi kekuasaan, mungkin sebagai modal-modal pengharapan atas sesuatu di masa depan. Setidaknya, demikian hipotesa saya dalam menyimak realitas.

Dalam lingkaran itu, nilai moralitas dalam agama dan seni budaya tidak menjadi bagian penting untuk ditegakkan. Celebrasi agama atau ritualitas suci keyakinan hanya menjadi satu hal yang tak berkekuatan di depan kekuasaan. Pentas seni budaya yang mengusung nilai serta selebrasi keagamaan dan keyakinan menjadi ritual yang tidak menelusuk ke dalam jiwa massa. Denyutnya tidak sampai untuk menggetarkan hati.

Selebrasi dan ritualitas selama ini, kita melihatnya menjadi tunduk pada kepentingan modal. Dia diatur sedemikian ketat oleh kalender-kalender tertentu. Waktunya tak boleh kurang atau lebih. Demikian dengan posisi-posisi penyaksi yang datang, semua sudah diatur sedemikian rupa. Setelah selesai, massa pun pulang membawa foto. Bukan membawa esensi nilai usungannya.

Agama

Bukan kita tak percaya pada agama sebagai jalan untuk kebaikan, namun, agama masih membuka ruang bagi keluhuran seni dan budaya untuk mendekati jiwa manusia. Tapi, tampaknya, secara umum, pada kegiatan seni para pekerja seni masih pada usungan-usungan pemuasan hasrat berkesenian. (Sebagaimana lukisan WS Rendra dalam Sajak Sebatang Lisong), belum menelusuk ke dalam jantung massa dan memposisikan diri sebagai pengurai dan solusi alternatif dari jamak persoalan kemanusiaan lokal (Bulukumba dan banyak daerah lain).

Banyak seniman yang tidak berdaya untuk menggelar pentas kemanusiaan sebagai cermin sosial. Seniman hanya diposisikan sebagai “penghibur” yang dibayar, bukan seniman yang sengaja diundang untuk menunjukkan daya kreatifnya atau seniman yang diapresiasi untuk melucuti penutup kemaluan sendiri (simak film tentang William Shakespeare dalam Anonymous).

Bukannya hendak membuka tabir aib, Bulukumba tidak kekurangan kisah-kisah luhur tentang kemanusiaan dalam legenda masyarakatnya. Hanya saja, legenda tersebut mengalami kematian transformasi dari generasi ke generasi. Dia terhenti pada generasi pra android. Pentas-pentas seni dengan usungan nilai lokal hanya dikisahkan dalam kata konon atau Nakke Riolo.

Saya tidak pernah secara spesifik mengikuti materi ceramah pemuka agama secara menyeluruh di Bulukumba (juga daerah lain) untuk mengenali ideologi dan kecenderungan materi ceramah para penceramah. Semisal ceramah tentang benteng keimanan melawan seksualitas di depan kamera, penumpahan darah serupa Habil dan Qabil atau pun kisah dari Eropa tentang pernikahan sedarah. Tapi yang pasti, ada seorang Ustaz yang saya simak viral di Media Sosial; membeli dan menumpahkan minuman keras, lalu beberapa orang mengejeknya sebagai kesiasiaan. Bukannya didukung, Ustaz ini malah dipandang sinistik oleh pihak tertentu.

Selebihnya, saya menyimak bahwa jamak penceramah yang lebih terkenal foto selfie dan pose berjamaahnya dibandingkan ingatan massa atas materi ceramahnya (sebuah ironi antara ilmu dan krisis eksistensi. Materi ceramah yang seharusnya menjadi benteng keingkaran atas nilai kemanusiaan.

BULUKUMBA adalah rumah banyak orang. Rumah kami. Tempat kami lahir, tumbuh, dan berharap akan dikuburkan di sana. Seluruh denyut kebaikan di sana adalah rumah yang selalu kami rindukan.

Ketika darah disimbahkan dari sebilah parang dari tubuh anaknya oleh bagian tubuh atau tangannya sendiri dan sperma serta ovum dari kelamin yang sedarah, kami merasa jantung kemanusiaan kami telah copot dari dada. Andai jantung kemanusiaan itu adalah rumah, maka rumah kebanggan kami itu telah roboh dihantam angin Bahorok dari Teluk Bone dan Laut Flores. Diporakporandakan oleh angin puting beliung menggemuruh yang datang dari Gunung Lompobattang.

Dari peristiwa-peristiwa luka sosial yang melukai hati publik (seks di depan kamera, pembunuhan bersaudara, dan seks tak wajar) sedikit terobati dengan ustaz yang menumpahkan bir di pasir pantai. Kita membutuhkan ustaz serupa untuk bertindak lebih tegas dengan membawa cemeti di tangannya. Cemeti yang dicambukkan ke hati rakyat dan kekuasaan untuk selalu tegas dan berhati-hati dan berdakwah dengan tidak sebatas kata-kata yang menggelegar di mimbar masjid.

Siapa pun yang mendiamkan perilaku-perilaku ingkar sosial ini, berarti dia telah permisif dengan hal-hal buruk ini. Menjadi bagian dari kebinatangan ini. Menjadi manusia yang gagal menjadi orang Bulukumba yang dikenal humanis dan penolong, serta kehidupan yang penuh dengan semiotika religiusitas.

Editor: Sy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *