Dosen lecehkan mahasiswi, dan bentuk lain
Pelecehan terhadap perempuan (Foto: sehatq.com)

Potensi Dan 4 Tips Menghindari Dosen Lecehkan Mahasiswi

Diposting pada

Dosen lecehkan mahasiswi, perbuatan yang tidak pernah mendapatkan ampun dengan bentuk apapun itu ampunannya. Tapi, sampai sekarang masih marak dan bahkan merambah ke berbagai sektor di dunia. Jadi, bagaimana tips menghindari dari potensi yang ada?

Beritaku.id, Pendidikan – Keelokan sepertinya tidak semuanya “baik” dan membuahkan hal yang “baik” juga. Padahal elok adalah milik-Nya, dan atas kehendak-Nya, manusia mendapatkan keelokan tersebut. Apakah atas dasar iri? Dengki? Sehingga membuat predator dengan hunusnya, siap merenggut hal itu dari mereka? Lalu, harus bagaimana?

Oleh: Ayu Maesaroh(Penulis Pendidikan)

Menjadi mahasiswa rasanya ada serba salah, namun juga ada rasa beruntung juga. Dari sisi beruntung, sebagai mahasiswa, kita dapat mengerti bagaimanasebuah pemikiran yang dalam, asyik berada di sana.

Kita menjadi lebih mengerti, bagaimana dunia memiliki banyak sudut pandang, tentang memandang sebuah permasalaha, problematika, kejanggalan, ketimpangan, serta ketidakadilan, yang kadang banyak dilakukan oleh berbagai pihak di dunia ini.

Isu-isu terus berdatangan, menjadi pemantik bagi kita agar senantiasa berpikir kritis, dan sebagainya. Dan yang tidak baiknya adalah. Menjadi mahasiswa apalagi perempuan, sangat rentan akan berbagai macam predator, yang selalu mengintai kita.

Baca juga beritaku: Organisasi: Bentuk, Struktur, Garis Komando Serta Garis Koordinasinya

Bahkan orang-orang terdekat sekalipun, seperti dosen, serta lainnya. Dunia pendidikan Indonesia, telah mencatat berbagai ribu kasus pelecehan siswa ataupun mahasiswa, dengan alasan pengaduan yang berbeda-beda.

Tidak jarang, mereka juga mengalami kasus dosen yang lecehkan mahasiswi mereka, demi hasrat bejat yang dapat terpenuhi secara penuh, tanpa meninggalkan bekas apapun. Mereka memiliki kekuasaan untuk membungkam orang yang tak punya kuasa apapun, untuk speak up, dan berujar kepada dunia, tentang apa yang mereka rasakan.

Definisi Pelecehan (Seksual)

Jenis pelecehan lain selain dosen lecehkan mahasiswi
Definisi pelecehan (Foto: timesindonesia.co.id)

Pelecehan seksual secara umum yang masyarakat ketahui, adalah suatu kegiatan yang menimpa seseorang, tanpa adanya kesepakatan antara kedua pihak, atau yang lebih mudahnya adalah, sebuah aktifitas yang merugikan satu pihak saja.

Arti kata dari “pelecehan” sendiri dalam KBBI, mendefinisikan bahwasanya, hal tersebut merupakan aktifitas, yang menghasilkan cedera, hingga sampai kepada menghasilkan kematian dari salah satu pihak.

Mengingat perbuatan yang pelaku tersebut lakukan, adalah perilaku yang bersifat keras, dan berciri. Sehingga mampu teridentifikasi, apakah aktifitas tersebut termasuk dalam kategori pelecehan, atau tidak.

Hal tersebut bisa berbentuk verbal, maupun secara fisik. Menurut beberapa ahli sendiri seperti Meyer, dkk. Mengatakan tentang bagaimana sebuah aktifitas pelecehan, terutama pelecehan seksuai tersebut dapat terjadi.

Yang mana tiga aspek itu antara lain adalah 1) aspek perilaku, 2) aspek situasional. Maka beberapa penjelasannya antara lain:

Aspek Perilaku

Yang mana aspek ini, mengatakan apakah perilaku yang dilakukan oleh seseorang kepada target mereka merupakan kegiatan yang mengarah kepada perilaku pelecehan, terutama seksual, atau tidak.

Bentuk dari pelecehan ini, biasanya seperti rayuan, atau godaan lainnya, jika dalam bentuk verbal. namun dalam bentuk fisik, biasanya sudah mulai mengarah kepada kekerasan pada fisik, dan sebagainya

Aspek Situasional

Yang mana hal ini menyangkut tentang bagaimana seorang pelaku pelecehan terutama pelecehan seksual, dapat muncul dalam kehidupan dari orang yang menjadi targetnya.

Biasanya perilaku tersebut datangnya dari orang-orang terdekat, seperti dari salah satu pihak dari orang tua, pasangan, ataupun lainnya.

Apa motifnya, bagaimana mereka bisa mengkondisikan diri sendiri, seakan tidak ada hal janggal dari mereka, seakan semuanya baik-baik saja. Lalu mereka akan mencari waktu yang pas untuk melancarkan aksi pelecehan mereka.

Batasan Pelecehan

Batasan pelecehan (Foto: tirto.id)

Dalam pelecehan sendiri, terdapat dua jenis yang mana masyarakat sosial Indonesia bahkan dunia, sering mengalami hal ini, serta hal tersebut menjadi batasan paling krusial.

Dua jenis tersebut antara lain adalah pelecehan secara verbal dan pelecehan yang sudah mengarah kepada kekerasan fisik. Maka berikut penjelasan dari keduanya:

Pelecehan Berbentuk Verbal

Jenis pelecehan bentuk apapun, pasti akan menimpa kepada orang, dan tidak mengenal dari segi gender para korbannya. Namun, kebanyakan yang ada di dunia nyata, perempuan seringkali mendapatkan pelecehan jenis ini.

Baca juga beritaku: Tentang Sakaratul Maut: 6 Ciri

Yang mana pelecehan bentuk verbal, lebih kepada rayuan, ataupun siulan, yang mana seolah-olah memberikan gambaran tentang seorang wanita yang lewat di hadapan pelaku, adalah mangsa selanjutnya.

Biasanya hal tersebut dibarengi dengan tatapan penuh nafsu dari pelaku pelecehan seksual. Entah dari pihak akademisi seperti dosen yang dapat lecehkan seorang mahasiswi, ataupun lainnya.

Pelecehan Bentuk Fisik

Untuk pelecehan jenis ini, biasanya sudah mengarah kepada kekerasan fisik, baik berupa pukulan, tamparan, atau penyiksaan yang sudah level ekstrem sekalipun.

Biasanya kekerasan tersebut akan menghasilkan beberapa tanda, seperti luka lebam pada sekujur tubuh dari korban, hingga hyang lebih ekstrem, biasanya luka tersebut sampai kepada bagian yang vital, seperti alat kelamin misalnya.

Dan hasil dari pelecehan bentuk fisik ini, para korban akan merasakan trauma yang sangat berat, dan penanganan sampai dengan pemulihannya, membutuhkan waktu hingga 2 tahun, atau bahkan bisa lebih.

Potensi Seorang Dosen Melecehkan Mahasiswi

Ilustrasi dosen lecehkan mahasiswi (Foto: langgam.id)

Dan sayangnya, pelecehan jenis apapun itu, di Indonesia sangat rentan terjadi kepada perempuan. Hal tersebut merujuk kepada masyarakat Indonesia yang sampai detik ini masih menganut adat patriaki, yang seolah-olah memuliakan perempuan.

Namun jika dikaji kembali, secara tidak langsung adat patriaki ini sudah menempatkan perempuan ke dalam cluster kedua, sehingga mereka tidak ada hak apapun dalam mengaktualisasi diri mereka.

Hingga pada akhirnya, sebuah ketimpangan, secara tidak sadar menghampiri mereka, dan menjelma menjadi peraturan yang sebenarnya, terus mengekang, serta melecehkan mereka secara tidak sadar.

Hal ini merujuk kepada potensi dari pelaku yang dapat melakukan pelecehan terhadap korbannya secara leluasa. Biasanya karena mereka dekat, dan mempunyai wewenang lebih terhadap korbannya.

Sehingga mau tidak mau, korban tersebut harus melakukan apa yang pelaku inginkan tersebut. Baik dalam ranah akademisi, maupun sosial. Baik pelaku yang berasa dari orang terpandang, ataupun yang biasa saja.

Seperti misalnya beberapa kasus dosen yang sengaja lecehkan para mahasiswi mereka. Tanpa dosa atau apapun, mereka lakukannya, guna memenhuhi hasrat bejatnya tersebut.

Mengapa bisa terjadi demikian? Kita perlu ketahui, bahwasannya seoran dosen memiliki wewenang yang sangat besar bagi para mahasiswi ataupun mahasisiwa mereka.

Hal tersebut merujuk kepada sistem penilaian, yang mana biasanya dosen memiliki penghitungannya masing-masing, sistem punishmen mereka masing-masing terhadap mahasiswa atau mahasiswi mereka.

Termasuk dengan kewenangan memberikan mereka kesempatan apakah dapat lulus dengan cepat atau tidak. Jika dosen yang seorang pelaku pelecehan seksual tersebut menjadi dosen pembimbing skripsi mereka.

Mau tidak mau, kadang mahasiswi hanya bisa pasrah dengan apa yang dosen tersebut lakukan kepada mereka. Karena biasanya seorang mahasiswi atau mahasiswa mengetahui bahwasannya dosen tersebut suka lecehkan mereka. Saat ada kesempatan, dan kekuasaan tersebut menjadi alasan bagi mereka.

Fakta Menarik Pelecehan Mahasiswi Oleh Dosen Dari Berbagai Kampus

Pelecehan jenis lainnya dari dosen lecehkan mahasiswi
Potensi mahasiswi terkena pelecehan seksual (Foto: rencanamu.id)

Dunia rasanya kejam, bagi mereka para makhluk Tuhan yang tak memiliki kekuasaan apa-apa. Seolah, hanya yang bertengger dalam kekuasaanlah yang murni, dan berhak mendapatkan keadilan, serta kebebasan.

Begitulah kiranya, hingga sampai detik ini, dunia pendidikan masih membisu mengenai hal-hal negatif yang menyandung mereka. Seolah hal tersebut menjadi hal lumrah terjadi, dan itu perlu dimaklumi. Tanpa mengecek bagaimana hasil dari perilaku yang orang-orang tersebut lakukan kepada mereka yang tak bersalah.

Miris, sayangnya tidak sedikit dari beberapa universitas di Indonesia, para dosen tidak segan untuk menjadi “predator” bagi para mahasiswi mereka. Serta melancarkan aksi lecehkan mahasiswi, dengan masih terbalut dalam jabatan “dosen”.

Seperti salah satu kasus yang terjadi pada tahun 2019, yang mana seorang mahisiswi dari salah satu Universitas di Bandung mendapat pelecehan seksual dari penguji mereka.

Saat meminta tanda tangan dari dosen tersebut, secara mengagetkan, dosen tersebut memulaikan “aksi bejat” nya dengan memulainya dari memegang tangan korban.

Baca juga beritaku: Jenis Organisasi, 6 Bentuk Struktur,Ciri-Ciri, serta Pengertian

Namun sebelum itu, dosen tersebut menanyakan hal-hal yang bahkan tidak ada sangkut-pautnya dengan pembahasan yang sedang menjadi topik pembicaraan.

Hingga pada puncaknya adalah dosen tersebut mulai “meraba” bagian tubuh lain dari sang korban. hal tersebut membuat korban syok, lalu melepaskan semua hal tersebut dari dirinya, dan lari ke toilet.

Seketika, dirinya menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga pada akhirnya, berkat dari para teman-temannya, ia memberanikan untuk melaporkan dosen tersebut kepada Dekan dari universitas tersebut.

Sayang seribu sayang, korban malah mendapat hal yang diluar dugaannya. Seakan dia menjadi orang yang memberikan “peluang” tersebut kepada pelaku, untuk melancarkan aksinya.

Seakan dengan korban yang tidak tahu harus bagaimana, mengingat hal tersebut adalah hal yang sangat mengagetkan bagi dirinya, para petinggi kampus lantas memblaming dan menyalahkan korban. Seolah-olah korban tersebut memang mempunyai “perilaku” demikian.

Hingga akirnya, dosen terebut mengundurkan diri, dan tidak lagi mendapatkan kesempatan menjadi dosen kembali di Universitas tersebut. Sayang, dunia begitu kejam kepada kita, para perempuan.

Tips Menghindari Pelecehan Dosen

Tips menghindari pelecehan (Foto: jogjapolitan.harianjogja.com)

Lalu, bagaimana caranya agar para mahasiswa dapat terhindar dari aksi demikian, terutama oleh dosen yang lecehkan para mahasiswi mereka?

Ada beberapa cara yang dapat menjadi acuan bagi para mahasiswi yang ingin terhindar dari adanya perbuata demikian, beberapa hal tersebut antara lain:

Mereka yang memiliki rasa percaya diri, biasanya akan memiliki kecintaan dan kepedulian kepada diri sendiri lebih besar, ketimbang orang lain. Kadang mereka memiliki keberanian lebih, sehingga yang ada pada mata sang pelaku, ia tidak bisa melakukan “aksinya”.

Ketimbang dengan mahasiswi yang memang notabennya pendiam, lalu memiliki rasa minder terhadap diri sendiri, dan sebagainya.

Mempelajari Simbol atau Bahasa Isyarat “Minta Tolong”

Era sekarang sudah sangat mudah untuk kita mendapatkan segala informasi tentang apapun, termasuk dalam mempelajari bahasa isyarat, ataupun simbol lain yang mengatakan bahwa kita “tidak baik-baik saja”, dan kita tidak bisa mengatakannya dengan mudah.

Seperti beberapa sumber seperti google, youtube, dan media lainnya yang dapat memberikan kemudahan bagi kita dapat mempelajarinya.

Bertemu Seseorang Tidak Boleh Sendiri, dan Di Tempat Sepi

Terutama bagi mahasiswi, yang mungkin mendapatkan keharusan untuk pergi ke rumah dosen bimbingan, ataupu ke kantor dosen tersebut.

Jika begitu, harus diperhatikan bahwa mahaisiswi disarankan tidak bertemu dengan dosen tersebut dalam keadaan sendirian, harus bersama dengan teman-temannya, dan tidak boleh lebih dari satu.

Hal ini agar tidak memberikan ruang kepada dosen tersebut untuk melancarkan “aksi” mereka kepada kalian para mahasisiwi.

Berani Melapor

Meski sangat sulit dan membutuhkan pertimbangan yang sangat matang, nyatanya keberanian untuk melapor adalah hal yang sangat krusial dan harus benar-benar dilakukan.

Dan saat kalian akan melaporkan hal tersebut, kalian perlu bukti yang dapat memberikan rasa percaya dari pihak-pihak berwenang, sehingga adanya tindaklanjut dari pihak berwajib mengenai hal ini.

Cara Melaporkan Tindakan Pelecehan

Cara melaporkan tindakan pelecehan (Foto: m.lampost.co)

Lalu, bagaimana jika ingin melaporkan hal tersebut? Mungkin bagi dosen yang lecehkan mahasiswi-nya, kalian dapat melaporkan kepada pihak yang lebih memiliki wewenang agar nantinya ada tindak lanjut dari mereka.

Serta perlu kalian ketahui, untuk melaporkan hal tersebut, kalian harus membawa bukti, termasuk mereka yang pernah menjadi korban atas tindakan bejat dari dosen yang menurut kalian sudah “melampaui” batas.

Baca juga beritaku: Via Vallen VS Nella Kharisma: Biodata, Karier, Hingga Pendapatan

Sehingga tindakan tersebut memang benar adanya, dan sangat membutuhkan tindak lanjut yang sangat cepat, guna menuntaskan hal tersebut, agar berhenti terjadi pada ranah pendidikan, terutama dalam ranah Universitas.

Pekerjaan Yang Memiliki Potensi Dilecehan

Pekerjaan model menjadi pekerjaan paling rentan terkenal pelecehan (Foto: kumparan.com)

Terlepas dari hal tersebut, akan ada banyak pertanyaan lagi. Apakah pelecehan tersebut dapat terjadi pada sektor lain? Jawabannya ya, bisa.

Dan yang menjadi highlight selain pendidikan, adalah pada ranah pekerjaan yang terkadang tidak sedikit para perempuan mengalami pelecehan dalam sebuah pekerjaan tertentu.

Entah dalam bidang kuliner, pada perusahaan besar, ataupun hal lainnya. Begitu juga dengan menjadi seorang ibu rumah tangga, yang juga tidak sedikit kasus KDRT, menyeruak ke permukaan publik.

Dan lagi, yang menjadi korban atas pelecehan yang ada, pasti selalu perempuan, meski laki-laki pun dapat mengalami hal tersebut. Meski demikian, prosentase pelecehan seksual, masih tinggi dialami oleh para perempuan di Indonesia.

Jadi, akankah kita terus diam? Atau malah menggiring berbagai kasus pelecehan, yang seakan menjelma menjadi korban yang memang tidak bisa menjaga diri mereka, ataupun sejenisnya? Benarkah manusia dapat seganas itu terhadap sesamanya?

Sekian ulasan kali ini mengenai dosen lecehkan mahasiswi. Semoga menginspirasi.

Daftar Pustaka:

  1. https://www.bbc.com
  2. https://rri.co.id
  3. https://www.liputan6.com
  4. https://tirto.id
  5. https://www.jawapos.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *