Wantimpres
Jokowi Melantik Wantimpres 2019=2024

Ini Wantimpres Jokowi Untuk Periode 2019-2024, Telah Di Lantik Di Istana Negara

Diposting pada

Beritaku.Id, Jakarta – Untuk Pemerintahan di periode kedua, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk sembilan tokoh untuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) periode 2019-2024.

Pelantikan anggota Wantimpres dilakukan di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/12).

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya tersebut, Wantimpres tidak memberikan keterangan, pernyataan, dan/atau menyebarluaskan isi nasihat dan pertimbangan kepada pihak manapun.
Dalam periode bersama Ma’ruf Amin ini, Jokowi menunjuk sembilan anggota dari berbagai unsur mulai dari politisi, wiraswasta, hingga tokoh Agama.

Wantimpres 2019 - 2024
9 Orang Wantimpres 2019 – 2024 (Foto CNN Indonesia)

Mereka yang diangkat menjadi anggota Wantimpres antara lain:

  1. Wiranto
    Sebelumnya ia menduduki posisi Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM di Kabinet Presiden Jokowi periode pertama. Wiranto yang juga mantan Ketua Umum Partai Hanura tersebut juga pendukung Jokowi sejak Pilpres 2014. Wiranto berlatar belakang militer, dengan karier terakhir menjabat sebagai Panglima ABRI periode 1998-1999.
  2. Agung Laksono
    Agung Laksono adalah tokoh senior Golkar. Ia juga menjadi salah satu pendukung Jokowi dan Ma’ruf Amin Pilpres 2019 lalu. Agung sebelumya pernah menjabat sebagai ketua DPR 2004-2009. Selain itu, Agung pernah menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
  3. Sidarto Danusubroto
    Sidarto merupakan politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sebelumnya adalah anggota Wantimpres pada pemerintahan Jokowi periode 2014-2019. Ia juga pernah menjadi ketua MPR periode 2009-2014 menggantikan Taufik Kiemas yang meninggal dunia.
  4. Dato Sri Tahir
    Berlatar belakang pengusaha, Dato Sri Tahir merupakan pemilik Grup Mayapada. Pria kelahiran Surabaya, 26 Maret 1952 tersebut dikenal sebagai seorang filantropis. Tahir tercatat sebagai orang terkaya ke-4 di Indonesia tahun 2018.
  5. Putri Kus Wisnu Wardani
    Putri merupakan Komisaris Utama PT Mustika Ratu Tbk. Kepemimpinan dalam usaha kosmetik itu dia lanjutkan sejak 2011, saat menerima tongkat kepemimpinan dari ibunya Mooryati Soedibyo.
  6. Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya alias Habib Luthfi
    Merupakan salah satu tokoh dari salah satu ormas tertua di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai seorang habib, Habib Luthfi dikenal memiliki basis santri yang besar, baik di Pekalongan kota asalnya hingga meluas ke seluruh tanah Jawa. Selain menjadi pendakwah, Habib Luthfi juga pernah menjadi ketua MUI Jawa Tengah, Habib Luthfi bin Yahya juga Ketua Forum Sufi Internasional.
  7. Mardiono Bakar
    Politikus dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Mardiono Bakar kini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PPP. Namanya kerap menghiasi pemberitaan media massa saat menggalang akar rumput PPP untuk menguatkan dukungan kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019.
  8. Arifin Panigoro
    Berlatar belakang utama sebagai pengusaha, nama Arifin Panigoro juga pernah berkecimpung di dunia sepak bola sebagai inisiator Liga Primer Indonesia (LPI) pada 2011. Sebelum mengibarkan bendera Medco, Arifin Panigoro memulai usahanya sebagai kontraktor instalasi listrik door to door. Alumni Elektro Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1973 itu berasal dari Potanga, sebuah desa di wilayah Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
  9. Sukarwo
    Lebih dikenal dengan nama Pakde Karwo. Politikus sekaligus birokrat tulen. Menjabat Gubernur Jawa Timur dua periode, mulai dari 2009-2014 hingga 2014-2019. Atas prestasinya membangun daerah, pria kelahiran 16 Juni 1950 itu juga dianugerahkan gelar Doktor Kehormatan/Doktor Honoris Causa (HC) oleh Universitas Airlangga pada 2018.

Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2006, Wantimpres adalah lembaga pemerintah yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Baca juga Beritaku: Wiranto Hanya 1 Hari Di RS, Jokowi: Dia Ingin Segera Pulang

Masih dalam UU tersebut, pemberian nasihat dan pertimbangan tersebut wajib dilakukan oleh Wantimpres baik diminta ataupun tidak oleh Presiden. Penyampaian nasihat dan pertimbangan tersebut dapat dilakukan secara perorangan maupun sebagai satu kesatuan nasihat dan pertimbangan seluruh anggota dewan.

Dikutip dari CNN Indonesia

Wantimpres
Wantipmres 2014 – 2019 (Foto Detik.News)

Berikut Wantimpres 2014 – 2019 Adalah :

1. Sidarto Danusubroto

Sidarto Danusubroto merupakan purnawirawan jenderal polisi dengan pangkat terakhir Inspektur Jenderal (Irjen). Jabatan terakhirnya di Korps Bhayangkara yaitu sebagai Kapolda Jawa Barat pada tahun 1988-1991. Tak lagi aktif di kepolisian, Sidarto terjun ke dunia politik.

Tahun 1999, pria kelahiran Banten 78 tahun lalu itu terpilih sebagai anggota DPR RI hingga 2014 dan menjadi bagian fraksi PDIP. Tahun 2013 ia menjabat sebagai ketua MPR RI menggantikan Taufiq Kiemas. Sidarto termasuk yang aktif meminta Jokowi untuk mempertimbangkan rekomendasi KPK dan PPATK saat masa pemilihan calon menteri Kabinet Kerja.

2. Subagyo HS

Jabatan terakhir Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo ialah Kepala Staf TNI Angkatan Darat periode 1998-1999. Ia adalah satu-satunya KSAD yang pernah menjabat dengan tiga Presiden Indonesia yang berbeda.

Subagyo lahir di Piyungan, Yogyakarta, 68 tahun lalu. Karir mantan komandan Paspampres di era Soeharto melejit saat menjabat Danjen Kopassus. Setelah itu kariernya mentereng saat terpilih sebagai Pangdam Diponegoro, Wakasad dan kemudian KSAD.

3. Yusuf Kartanegara

Yusuf Kartanegara adalah Sekjen PKPI, partai yang dibesut oleh mantan gubernur DKI Sutiyoso. Menurut Sutiyoso, Yusuf pernah jadi jaksa agung muda dan mumpuni jadi wantimpres. Dia juga seorang purnawirawan jenderal TNI dengan pangkat terakhir letjen.

4. Hasyim Muzadi

Hasyim Muzadi pernah mendampingi Megawati Soekarnoputri sebagai calon Wakil Presiden di Pilpres 2004 silam. Pria 70 tahun ini merupakan tokoh Islam dan mantan ketua umum PB Nahdatul Ulama.

Bersama Mega, santri lulusan Gontor itu memperoleh 2,.2 persen suara di putaran pertama pilpres 2004. Saat itu mereka kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla di putaran kedua.

5. Suharso Monoarfa

Suharso Monoarfa pernah menjabat sebagai menteri Perumahan Rakyat pada periode presiden SBY sebelum akhirnya digantikan oleh Djan Faridz. Sebelum ditunjuk sebagai menteri, Suharso merupakan anggota DPR periode 2004-2009 dan 2009-2014.

Lulusan Akademi Pertambangan dan Geologi Institut Teknologi Bandung tahun 1975 itu lolos ke senayan diusung oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Jabatan di partainya adalah wakil ketua umum PPP.

6. Rusdi Kirana

Rusdi Kirana adalah pendiri maskapai Lion Air. Dia lalu terjun ke dunia politik bersama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tanpa lama berpolitik, Rusdi langsung jadi wakil ketua umum.

Karena keberhasilannya mengembangkan Lion Air, Rusdi berhasil menambah pundi-pundi kekayaannya. Kini ia termasuk 40 orang terkaya di Indonesia, dengan jumlah kekayaan sebesar US$ 900 juta per 2012.

7. Jan Darmadi

Jan Darmadi adalah salah satu pengusaha sukses dan senior pemilik PT Jakarta Setiabudi International Tbk yang bergerak di bidang properti dengan basis bisnis di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. Masa Orde Baru, Jan termasuk pengusaha yang mampu bertahan sebagai non-partisan.

Jan diusulkan sebagai wantimpres dari Partai NasDem. Dia menjabat sebagai ketua majelis tinggi NasDem.

8. Abdul Malik Fadjar

Prof. Dr. Abdul Malik Fadjar merupakan Menteri Pendidikan pada Kabinet Gotong Royong. Ia menjadi menteri pendidikan periode 2001-2004 dan Menteri Agama di Kabinet sebelumnya yaitu periode 1998-1999. Dia merupakan tokoh Muhammadiyah dan saat ini menjabat salah satu ketua PP Muhammadiyah.

9. Sri Adiningsih

Sri Adiningsih termasuk Wantimpres dari jalur profesional. Ia merupakan ekonom dari Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada. Ia merupakan lulusan terbaik saat itu.

Ia meraih gelar master dan doktornya dari University of Illinois Amerika. Setelah itu ia menjadi dosen di sekolah Pascasarjana UGM. Kini ia bekerja di Bank Danamon Indonesia sejak tahun 2003.

Bagikan Ke