Menciptakan Irama Dalam Sidang
Seperti pertunjukan film. Musik konser. Drama percintaan. Ataupun film perang, yang memiliki irama, Persidangan juga demikan. Ada irama dalam sidang oleh yang memimpinnya.

Irama Sidang Ada Pada Jiwa Pemegang Palu Persidangan

Posted on

Seperti pertunjukan film. Musik konser. Drama percintaan. Ataupun film perang, yang memiliki irama, Persidangan juga demikan. Ada irama dalam sidang oleh yang memimpinnya.

Beritaku.Id, Organisasi dan Komunikasi, Bukan hanya Rhoma yang memiliki nama Irama. Sidang pun juga demikian. Irama diperlukan disisi itu.

Tanpa irama, bahkan hidup yang mewah tidak memiliki makna, sebab ikatan jalannya tidak memiliki seni.

Sidang harus mampu memainkan irama yang ada, pimpinan sidang harus mampu disisi ini. Sidang yang dibahas adalah dalam organisasi atau instansi.

Yang memainkan musik adalah pimpinan sidang, yang memegang seluruh kendali alat pengeras suara, adalah yang duduk sebagai pimpinan.

Pimpinan sidang jangan komplain dengan ini, sebab tidak akan mungkin pengendali sidang diserahkan kepada penjaga pintu persidangan.

Menguasai Irama Dalam Sidang Pertemuan

Irama dalam bahasa Yunani, adalah Rhytmos, sehingga kalau mau menyebut pembahasan kali ini dengan Rhytmos Sidang, atau rhytmos meeting. Tidak salah.

Yang salah adalah kalau mengatakan rhytmos berisi air, ops bukan rhytmos tapi itu termos.

Berikut beberapa hal yang mempengaruhi Irama pertemuan, dengan mengadopsi konsep Irama musik:

Pertama, Nada Sidang

Nada sidang maksudnya isi atau konten yang tertata dengan rapi. Maksudnya pertemuan harus memiliki kejelasn isi pertemuan, yang merupakan Topik atau sub-sub topik bahasan.

Kedua, Melodi Persidangan

Melodi itu panjang dan pendek. Jauh dekat. Yang menggambarkan kerinduan atau kebencian pada ketukannya.

Amarah peserta sidang ketika memegang Mic. Intonasi pendek atau melodi yang pendek.

Senyum peserta sidang atau tawa yang melebar, juga melodi dalam suatu pertemuan.

Melodi keterwakilan jiwa dalam pertemuan. Ungkapan perasaan atau nurani peserta sidang.

Maka kehalusasn lembut pasir berdesir, dengan hempasan ombak. Akan menciptakan bunyi alam. Menyanyikan tentang sore yang indah.

Kehalusan respon dan dengan panggilan jiwa seorang pemegang palu sidang. Memahami makna nurani peserta sidang. Yang dijawab dengan jiwa.

Keempat, Harmonisasi Sidang

Tidak semua peserta sidang memiliki pikiran yang sama. Perhatian juga berbeda. Peserta sidang membaca whatsapp. Facebook ataupun menerima telpon. Pertemuan besar memungkinkan itu.

Pemegang palu sidang, memiliki kendali untuk harmonisasi, ketika sang pembicara tidak paham konten.

Ciptakan harmoni nada keindahan dalam persidangan, tidak dengan mengadili.

Adaptasi, sebab harmonisasi adalah bunyi yang bisa datang bersamaan. Laksana perasaan yang sama terjerat dalam amarah karena dituduh selingkuh.

Yang satu merasa tidak melakukan. Yang lainnya yakin telah terjadi. Harmonisasi, akan menjadi penggabungan. Amarah dan kelembutan.

Atau bahkan amarah berhadapan dengan amarah. Namun semua keributan harus mampu dibangun harmonisasinya.

Berakhir dengan kerinduan dan semangat untuk saling mengerti dan saling memahami.

Kelima, Tempo Sidang

Kecepatan dalam menyampaikan. Mengungkapkan rasa cinta itu dengan kata menggunakan tempo lambat.

Katakanlah perasaaan cintamu dengan tempo cepat. Anda sedang mengungkapkan perasaan atau sedang bergurau?

Persidangan membutuhkan irama, dengan tempo suara yang sesuai dari seorang pimpinan sidang.

Jika sedang “termosi” (baca: emosi saja), kendalikan tempo suara. Sebab dengan tempo suara cepat dan nada tinggi. Jadinya tegang.

Semua tidak memperhatikan apa yang disampaikan. Mana toilet terdekat. Sebab ketegangan meningkatkan detak jantung.

Darah mendidih.

Konsekuensi. Fokus hilang.

Keenam, Dinamika Persidangan

Menangis, tersenyum, terharu. Atau riang, sedih dan gembira. Ada juga datar, tanpa ekspresi. Lurus-lurus saja.

Dinamika persidangan dimainkan oleh seorang pimpinan sidang. Yang menciptakan mereka riang adalah pimpinan pertemuan.

Yang membuat mereka tersenyum, seperti rasa bahagia mendapat transper di musim Covid-19, pada skala pertemuan adalah sterring sidang.

Pimpinan sidang harus mengendalikan dinamika. Tidak terseret arus peserta, yang menjebaknya.

Dinamika, kesedihan, tegas dan senyum, dimiliki stir arahnya oleh pemegang palung hati, eiks maksudnya pemegang palu sidang.

Mereka meninggalkan sidang dalam kondisi marah. Tidak semua karena settingan tertentu. Tapi bisa jadi karena ketidak mampuan pimpinan mengarahkan psikologi peserta.

Ketujuh, Tangga Nada Sidang

Tak seperti patahan perasaan kekasih, yang gagal membangun tangga rumah (Baca: balik saja).

Dalam pertemuan. Orang haus dengan naik dan turun tangga nada dalam sidang.

Tangga nada sidang. Menyambungkan Besar kecil. Menghubungkan tinggi rendah melodi atau harmoni.

Penggabungan, melekat baik antara nada membentuk tangga. Sidang akan menarik.

Seorang pimpinan sidang, harus mengetahui, mana nada yang berhubungan satu dengan yang lain.

Masih sulit dimaknai yah?

Tangga nada sidang, mengurai pertemuan-pertemuan, berdasarkan usulan atau nada yag berbeda satu sama lain.

Kesimpulan pertemuan, akan gampang ditarik dalam pertemuan. Jika memahami antara ide yang penting. Untuk terhubung satu dengan yang lainnya.

Pemegang Palu Sidang

Hanya yang memahami dinamika. Ingat dinamika itu apa? lupa yah, seperti lupa janjimu melamarku sementara sudah 5 tahun kau cicil cintaku.

Dinamika sidang, Bahagia, riang sedih. Dinamikanya dibentuk atau terbentuk.

Dibentuk atau terbentuk, pemegang palu sidang bertanggung jawab pada output sebuah persidangan.

Ijab kabul dalam sidang ada di tangan kanan pimpinan sidang.

Suksesnya acara pertemuan tertentu. Pimpinan sidang menjadi penentu. Jelas demikian.

Pemain Musik Persidangan

Yang memainkan seluruh alat musik persidangan adalah pimpinan sidang. Mengetahui panjang pendeknya atau tempo persidangan.

Menguasai tinggi rendah nada suara peserta. Menciptakan harmonisasi, diadaptasikan kedalam dinamika.

“Aku marah padamu wahai pimpinan sidang”. Seketika semua terhentak. Sebab menggunakan nada tinggi, melode pendek, Tempo cepat.

Tegang.

Ketakutan.

“Tapi aku harus jempol kepadamu, cara memimpin sidangnya mantap”

Peserta memainkan irama persidangan, dengan dinamika yang diciptakannya.

Seorang pimpinan sidang harus memiliki jiwa yang tenang. Tidak meledak sebelum waktunya. Seperti ketika meledakkan rindu yang terpendam.

Pimpinan sidang jangan emosional, tegas boleh saja.

Pimpinan pertemuan atau rapat, adalah sedang memainkan seni pertunjukan komunikasi. Memainkan musik.

Kadang dengan nada rendah dan tempo pendek. Ciptakan irama semenarik mungkin. Tidak terjebak dengan arus emosi.

Komunikasi seorang pimpinan sidang adalah memakai hati dan panggilan jiwa.

Jika jiwanya telah meledakkan amarah kepada peserta, maka rusaknya seluruh pertunjukan konsernya.

Bintangnya akan ditertawakan, penonton akan berteriak “huu”. Aktor dan artisnya gagal “menghibur” penonton.

Ukuran musik peserta sidang, atau penonton persidangan. Ketika gemuruh teriakan “setuju” atau “siap” banyak dalam ruangan.

Kesepian Dan Garing

Pertemuan yang banyak orang namun sepi, banyak peserta yang memainkan Handphonenya.

Tidak peduli pimpinan sidang berkata apa. Sepi buat pimpinan sidang. Garing karena berbicara sendiri.

Harusnya semua berbicara? Oh tidak juga.

Tapi pimpinan berbicara membutuhkan penonton atau peserta ikut, dengan mimik wajah.

Kesepian yang terjadi, menyebabkan persidangan yang tidak memuaskan.

Ketukan gendang secara harmonis, dibutuhkan.

Bukan salah peserta sidang. Koreksi buat pimpinan sidang. Bisa karena pimpinan sidang tidak menguasai Irama.

Diperlukan untuk memiliki karakter dan identitas komunikasi.

Belajar komunikasi dalam hal menyampaikan pendapat. Bisa didapatkan dengan Adab Komunikasi Rasulullah. Atau dengan Metode Karakter Komunikasi.

Buat “penonton konser” atau peserta sidang, menikmati alunan dan dawai musik dalam pertemuan. Jangan biarkan menotone. Cukup.

Mari koreksi persiapan untuk memperindah sidang dengan dinamika yang lebih menarik.

Bagikan Ke
  • 3
    Shares