Istana Kerajaan Gunung Sahilan

Istana Kerajaan Gunung Sahilan, Letak, Nama Raja Dan Kejayaan

Posted on

Istana Kerajaan Gunung Sahilan nampak telah tergerus jaman. Bahkan tidak sedikit yang tidak mengetahui siapa nama raja, letak, bahkan masa kejayaan kerajaan tersebut.

Beritaku.id – Budaya. Seakan menghilang dari peta,nasib beberapa peninggalan Indonesia kini hampir tak berjejak. Salah satunya adalah Istana Gunung Sahilan. Bagaimana sebenarnya kisahnya?

Oleh Tika (Penulis Budaya)


Letak Kerajaan Gunung Sahilan

Raja Gunung Sahilan (riau.com)

Istana Kerajaan Gunung Sahilan adalah salah satu situs Nasional di Kabupaten Kampar. Nasional dan Provinsi telah mengambil alih kepengurusan istana tersebut.

Terletak di Kabupaten kampar, Provinsi Riau. Secara topografis, bekas istana ini hampir sama dengan wilayah Rantau kampar Kiri.

Kerajaan Gunung Sahilan menurut informasi berdiri sekitar abad ke 16-17. Fungsinya sebagai sebuah kerajaan berakhir pada tahun 1946.

Dulunya, wilayah Kampar Kiri secara pemerintahan bernama Kecamatan Kampar Kiri. Lambat laun akhirnya mengalami pemekaran wilayah pemerintahan sehingga terbagi menjadi lima wilayah kecamatan.

Kelimanya masuk di dalam daerah otonom Kabupaten Kampar. Mereka adalah ; Kampar Kiri Hulu, Kecamatan Kampar Kiri, Kampar Kiri Hilir, Kecamatan Gunung Sahilan, dan Kampar Kiri Tengah.

Secara garis bersar, Kerajaan Gunung Sahilan terbagi ke dalam dua wilayah besar yaitu Rantau Daulat dan Rantau Andiko. Rantau daulat berpusat di Kenegarian Gunung Sahilan dan merupakan daerah pusat kerajaan.

Sementara itu, Rantau Andiko adalah daerah kekuasaan Khalifah. Ia bertempat di Mudik.

Beberapa kerajaan lain pernah mengisi wilyah tersebut sebelum adanya Istana Gunung Sahilan. Mereka adalah: Pendudukan Kerajaan Singosari,

Kerajaan Dinasti Fatimiyah (Kerajaan Islam Kuntu Kampar), dan Dinasti Aru Barumun dari Tanah Aceh. Mereka masing-masing meninggalkan jejak yang berpengaruh pada keberadaan istana selanjutnya.


Sejarah Singkat Dan Masa Kejayaan Kerajaan Gunung Sahilan

Peta lokasi Kerajaan Gunung Sahilan (riauterbit.com)

Wilayah Kerajaan Gunung Sahilan adalah bekas Kerajaan Pagaruyung. Adityawarman merupakan pendiri kerajaan tersebut.

Berdiri pada abad ke 16-17 Masehi, Kerajaan Gunung Sahilan merupakan kerajaan bawahan kerajaan Pagaruyung. Sebab itulah tidak heran jika raja-raja yang memerintah di Kerajaan Gunung Sahilan adalah keturunan raja Pagaruyung.

Mereka juga tidak lain adalahRaja Muda Kerajaan Pagaruyung.

Sebagai Kerajaan Berdaulat setelah runtuhnya Kerajaan Pagaruyung pada awal abad ke 18 Masehi, Kerajaan Gunung Sahilan memegang sistem adat istiadat yang kental.

Mulanya, Kerajaan Pagaruyung lengser akibat perang paderi. Tidak heran jika adat Islam juga menjadi bagian dari kedua kerajaan tersebut, baik itu Pagaruyung maupun Gunung Sahilan.

Secara historis, Kerajaan Gunung Sahilan mengakui kekuasaan Kerajaan Hindia Belanda namun mereka tidak mengalami penjajahan pada tahun 1905.

Kemudian sistem kerajaan ini berakhir setelah bergabung dengan NKRI. Baik raja hingga rakyat Gunung Sahilan memiliki kntribusi besar bagi kemerdekaan.

Dukungan kerajaan dan rakyatnya tercermin dalam mempertahankan kemerdekaan pada masa agresi militer Belanda I dan II.

Saat itu, wilayah bekas Kerajaan Gunung Sahilan merupakan basis pertahanan Militer Republik. Ia bernama Resort Riau Selatan yang mana tidak pernah mampu ditembus oleh Agresi Militer Belanda I dan Agresi Militer Belanda II.

Daftar Nama Raja Sahilan

istana kerajaan gunung sahilan
Raja Gunung Sahilan (sultanindonesia.com)

Pemerintahan tertinggi Kerajaan Gunung Sahilan adalah Raja. Beliau yang menguasai adat (pemerintahan) dan ibadah (keagamaan). Gelar rajanya adalah “Tengku Adipati Besar” untuk pemerintahan dan “Tengku Datuk Sati” untuk ibadah atau keagamaan.

Kedudukan Rajnyaa adalah sebagai Lambang Negara Kerajaan. Sementara untuk pemerintahan, dalam artian eksekutif maka pengendalinya bernama Kerapatan Khalifah nan berempat dimudik berlima dengan Dt. Besar Khalifah Van Kampar kiri.

Khalifah dalam Kerajaan Gunung Sahilan merupakan Majelis Menteri (Kementerian). Mereka memiliki fungsi yang terbagi menurut bagian-bagian tertentu.

Berdiri selama lebih kurang 300 tahun, kerajaan ini memiliki sembilan orang Raja atau Sultan. Mereka juga memiliki satu orang Putra Mahkota.

Ia akan menjadi Sultan apabila raja yang terakhir wafat.

Sembilan Raja dan seorang Putra Mahkota tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Tengku Adipati Bujang Sati: Memiliki gelar Sutan Pangubayang yang memimpin tahun 1700-1730. Ia adalah anak raja Pagaruyung.
  2. Tengku Datuk Nan Elok: Memimpin tahun 1730-1760, beliau mangkat di Mekah.
  3. Tengku Raja Muda I: Beliau menjabat pada tahun 1760-1800. Beliau mangkat di Pulau Gameran Laut Merah.
  4. Tengku Adipati Hitam: Menjabat pada tahun 1800-1840. Beliau mangkat di Gunung Sahilan.
  5. Tengku Raja Abdul Jalil Khalifatullah: Memimpin pada tahun 1840-1870, beliau mangkat di Jeddah.
  6. Tengku Adipati Besar Tengku Daulat:
    Memperoleh masa jabatan 35 tahun pada 1870-1905.
  7. Tengku Abdurrahman Raja Muda:
  8. Tengku Sulung Adipati Besar:
    Sebagai Raja Adat, beliau memimpin pada tahun 1930-1945.
  9. Tengku Haji Abdullah Datuk Sati:
    Beliau merupakan Raja Ibadat pada tahun 1930-1945.
  10. Tengku Ghazali (putra Mahkota): Beliau menerima pelantikan pada tahun 1939 dan belum ternobatkan sebagai raja.
istana kerajaan gunung sahilan
Istana Kerajaan Gunung Sahilan (Porosriau.com)

Raja-Raja Versi Lain

Drs. H. Darmansyah pada 25 September 1992 menyebutkan dalam tulisannya bahwa kerajaan Gunung Sahilan telah memiliki 10 orang raja dan satu orang putra mahkota yang telah memerintah.

Akan tetapi putra mahkota tersebut tidak jadi menerima pelantikan menjadi sultan Gunung Sahilan karena Kerajaan ini telah berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1946.

Urutan silsilah raja-raja Gunung Sahilan imenurut Drs. H. Darmansyah adalah :

  1. Raja Mangiang: Beliau merupakan raja pertama di kerajaan Gunung sahilan. Ia adalah keturunan raja Gamayung Panitahan Sungai Tarap. Saat wafat, makam beliau berada di dekat Masjid Sahilan.
  2. Raja Bersusu Empat: Makam beliau berdekatan dengan Raja Mangiang.
  3. Sultan Raja Sakti Sultan Bujang: Makam beliau di Kapalo Koto Gunung Sahilan.
  4. Sultan yang Dipertuan Muda: Beliau bermakam di Kapalo Koto Gunung sahilan.
  5. Gelar Sultan Yang Dipertuan Hitam: Wafat di Kapalo Koto Gunung Sahilan.
  6. Sultan Yang Dipertuan Besar: Beliau wafat di kota suci Mekah.
  7. Sultan Abdul Jalil Yang Dipertuan Besar Sultan Daulat: Makam beliau di Kapalo Koto Gunung Sahilan.
  8. Gelar Sultan Abdurrahman Yang Dipertuan Muda: Beliau wafat di Jeddah.
  9. Sultan Abdullah Sayyah Gelar Yang Dipertuan Besar Tengku Sulung: Makam beliau saat ini di RSUD Pekanbaru, 18 Maret 1951.
  10. Sultan Abdullah Hassan Tengku Yang Dipertuan Sakti: Beliau wafat di Lipat Kain pada 8 Desember 1957.
  11. Tengku Ghazali (putra mahkota pada tahun 1941): Beliau wafat di RSUD Pekanbaru pada tanggal, 26 Juni 1975.
  12. Raja terakhir Kerajaan Gunung Sahilan adalah Tengku Ghazali: Beliau adalah ayah dari Tengku Nizar. Pada Pilkada Kampar tahun 2011, Teuku Nizar ikut menjadi calon Bupati Kampar. Sedangkan salah seorang putri Tengku Ghazali bernama Putri Indra.
  13. Putri Indra merupakan ibu dari Drs H Azwan, M.Si yang saat ini merupakan Sekda Kabupaten Kampar.


Istana Kerajaan Gunung Sahilan

Perspektif mengenai kerajaan

D idalam istana Kerajaan Gunung Sahilan terdapat beberapa benda peninggalan seperti: meriam kecil atau lelo, gong hitam, kendi, tombak, payung kerajaan, dan pedang.

Konon katanya apabila membuka payung tersebut, maka daerah Gunung Sahilan akan turun hujan. Terdapat sebuah guci yang pada musim kemarau terisi penuh, namun saatmusim hujan gucinya menjadi kosong.

Hal itu nampak sangat mistis bagi masyarakat setempat.

Ada pula tempat tidur beserta kasur di dalam istana serta beberapa foto lama yang terpajang di dinding istana.

Saat memasuki istana, terdapat lantai kayu yang dingin dan kotor oleh pasir. Hawa di dalam istana juga lembab. Ukuran istana sekitar 11×5 meter denganuang kosong tanpa ada meja kursi.

Suasana ini sangat jauh dari cerita mengenai sebuah istana yang megah. Pada arah kiri pintu masuk, terdapat sebuah tempat tidur besi jaman dulu. Di sana terdapat pula kasur serta bantal.

Ternyata ini merupakan tempat tinggal puteri Intan saat dulu kala.

Di sekitar tempat tidur terdapat sisa-sisa peninggalan kerajaan berupa tombak, meriam, keramik, payung kerajaan, dan alat makan minum.

Meriam akan meletus sebagai tanda masuknya bulan suci umat Islam. Jadi, pada awal Ramadhan, masyarakat akan menggunakan meriam tersebut.

Di rumah salah seorang keturunan raja Gunung Sahilan, di Pekanbaru, Tengku Raflan masih menyimpan beberapa peninggalan kerajaan lainnya.

Contohnya beberapa stempel yang terbuat dari tembaga. Ukuran dan berat stempel itu beragam. Terdapat pula beberapa keris pusaka dan beberapa lembar foto dengan bingkai.

Namun tidak ada keteranganpada foto-foto itu. Sehingga cukup sulit mengetahui siapa, tahun berapa, dan letak pengambilan foto.

Sebuah foto nampak memperlihatkan sultan terakhir Kerajaan Gunung Sahilan yaitu Tengku Sulung. Beliau tengah berfoto bersama para khalifah di tahun 1905.

Peninggalan Lain

Istana Kerajaan Gunung Sahilan (Youtube.com)

Peran Istana Dalam di Gunung Sahilan kendati sangat memprihatinkan, ia masih berada kuat dalam sendi-sendi kehidupan rakyatnya.

Contohnya adalah istana sebagai tempat bermusyawarahnya para ninik mamak di seluruh wilayah Kampar Kiri.

Pada hari pertama Ramadhan, para ninik mamak dan tokoh masyarakat memiliki kewajiban untuk shalat Tarawih di dalam istana ini. Sama halnyapada hari ke-15 serta malam takbiran.

Prosesi adat tersebut masih terjaga hingga hari ini. Pada malam takbiran, para ninik mamak akan datang ke Istana Dalam. Mereka akan takbir di sana bersama-sama.

Rombongan ninik mamak akan terbagi menurut sukunya masing-masing. Mereka pun lalu berpencar membaca takbir sambil berkeliling ke setiap rumah yang bersuku sama dengannya. Setelah selesai, mereka kembali menuju istana.

Gong merupakan alat komunikasi. Gong pertama sebagai tanda seruan. Pemukulan gong kedua sebagai tanda semua sudah berkumpul.

Gong ketiga pertanda jika rombongan ninik mamak menuju ke Sungai Kampar Kiri untuk ‘balimau’. Sama halnya pada saat Idul Fitri. Para ninik mamak melakukan Shalat Ied di istana.

Pada hari kedua idul fitri, mereka menyebutnya dengan Hari Raya Adat karena semua ninik mamak berkumpul kembali di istana.

Hukuman bagi pelanggar


Adat istiadat ini telah terjadi secara turun temurun. Bahkan hingga hari ini pun masih terus diterapkan. Ketika terdapat orang-orang yang bersalah secara adat, maka mereka akan mendapatkan hukuman adat.

Contohnya saat ia mengadakan doa menyambut hari baik atau bulan baik. Bagi orang yang tidak akan datang, tidak menghadiri undangan, tidak menjawab tegur, maka mereka tidak akan didatangi saat malam takbiran.

Bagi masyarakat, hal itu sangat memalukan. Hukuman itu berlangsung selama tiga tahun berturut-turut. Jika tidak ingin mendapat hukuman, maka masyarakat wajib membayar denda.

Orang yang bersangkutan bisa membayar denda dengan seekor kerbau.

Bagikan Ke