Makna Je’ne-Je’ne Sappara di Tarowang Jeneponto
Makna Je’ne-Je’ne Sappara di Tarowang Jeneponto

BERITAKU.ID, JENEPONTO – Negri elok penuh pesona, menebar istiadat bangsa, pusaka nenek moyang kita memukau mata dunia, indah ragam budaya indonesia. Je’ne Sappara

Je’ne-je’ne sappara adalah merupakan salah satu dari rangkaian ritual upacara adat je’ne-je’ne sapppara yang dilakukan dengan cara mandi-mandi (menceburkan diri) secara bersama-sama di pantai

Upacara adat je’ne’-je’ne’ sappara adalah merupakan sebuah upacara adat yang telah berumur ratusan tahun dan telah diselenggarakan secara turun temurun oleh masyarakat Desa Balngloe Tarowang.

Ahmad Kr. Sibatang, salah seorang pemangku adat mengatakan tradisi tersebut sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat.

“Tradisi je’ne-je’ne sappara di Desa Balangloe Tarowang ini seperti halnya dengan tradisi mandi Safar di beberapa daerah lain di Indonesia, dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas limpahan rezqi yang diperoleh (keberhasilan panen mereka),” tutur Ahmad Kr. Sibatang, 10 Juni 2017, dikutip dari Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Makassar, FADJRI, 2017. Upacara Adat Je’ne-Je’ne Sappara Di Desa Balangloe Tarowang Kabupaten Jeneponto.

Disamping itu hal ini dimaksudkan juga sebagai tolak bala atas segala bencana yang akan menimpa masyarakat Desa Balangloe Tarowang.

Pemangku adat kedua, Arif Sonda Kr. Kulle di Desa Balangloe Tarowang, mengungkapkan bahwa Tarowang sejak zaman dahulu terkenal memiliki kesuburan tanah dan cukup termasyur. Hal ini disebabkan karena desa ini terdiri dari tiga dimensi, yaitu gunung, darat dan lautan yang lazim disebut Babana Binangayya (Babana Tarowang). Wilayah ini dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Kr. Allu keturunan dari Cambang Gallung Ri Allu.

Arif Sonda Kr. Kulle mengisahkan Kerajaan Majapahit yang ingi menguasai Kerajaan di Tanah Turatea Jeneponto.

“Pada abad ke XV yang lalu ( sekitar tahun 1450 ), Kerajaan Majapahit ingin menguasai kerajaan di semenanjung Jazirah (Kerajaan Malaya) dan pernah menaklukkan Kerajaan Bali dan Bone di Sulawesi Selatan. Bersamaan dengan itu pula, ia ingin menaklukkan kerajaan di Tanah Turatea yang dipimpin oleh Sultan Soul dari Kerajaan Majapahit,” ujar ARif Sonda Kr. Kulle.

Kemudian beliau kembali mengisah kan bahwa menurut cerita rakyat (tradisi lisan), pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit yang diperkirakan pada abad XV, perahu (kapal) yang memuat utusan Kerajaan Majapahit datang dan berlayar menuju pantai Tarowang lengkap dengan berbagai peralatan perangnya. Kapal perang yang akan berlabuh di bawah pimpinan Sultan Soul, yang oleh masyarakat Desa Balangloe Tarowang dijuluki sebagai Kr. Jawayya bersama bala tentaranya akhirnya berhasil dihalau. Akhirnya keinginan dan niat busuk dari pasukan Kerajaan Majapahit pun reda bahkan hilang sama sekali. Pasukan yang dipimpin Sultan Soul akhirnya mundur.

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan pecahnya kapal yang ditumpangi 5 oleh bala tentaranya hingga mereka meyerah tanpa melakukan perlawanan.

Berawal dari kemenangan yang diraih oleh Kerajaan Tarowang inilah kala itu, maka hingga saat ini moment bahagia tersebut diperingati oleh masyarakat setempat dengan suatu ritual yang disebut ‘”appasempa”.

Ritual appasempa ini merupakan salah satu dari serangkain ritual dalam pelaksanaan Upacara Adat Je’ne’-Je’ne Sappara yang diselenggarakan tepat pada tanggal 14 safar dipenanggalan tahun Hijriah tiap tahunnya.

“Pelaksanaan tradisi tersebut mulai berlangsung dimasa kepemimpinan raja II dari Kerajaaan Tarowang, yaitu Laso Kr. Silasa” ujar Arif Sonda Kr. Kulle.

Sebagai bukti atau fakta dari pendapat ini oleh informan selain ritual appasempa yang hingga saat ini disetiap penyelenggaraan upacara adat je’ne-je’ne sappara masih tetap dilaksanakan.

Disamping itu juga disampaikan adanya makam dari Sultan Soul (Kr. Jawayya) terletak di Desa Tarowang, yang merupakan pemimpin pasukan Kerajaan Majapahit yang kala itu bermaksud hendak menyerang dan akan menguasai Kerajaan Tarowang namun berhasil digagalkan.

Dari kesimpulan di atas, Upacara adat Je’ne-Je’ne Sappara diselenggarakan setiap tanggal 14 Safar tahun Hijriah. Dan sampai kini masih diadakan tradisi tersebut.

Tinggalkan Balasan