Zaman Nirleka

Masa Pra-Aksara dan 4 Periode Perkembangan Zaman Nirleka

Posted on

Peradaban manusia secara umum digolongkan menjadi 3 periodisasi zaman. Selain itu, linimasa juga terbagi menjadi zaman prasejarah dan zaman sejarah. Diantara keduanya ada zaman nirleka atau zaman pra-aksara, yang sekaligus menjadi peiode perkembangan komunikasi manusia yang terbagi dalam 4 periode.

Beritaku.id, Berita Pendidikan – Sejarah kehidupan manusia telah berlangsung selama beribu-ribu tahun. Bahkan, mungkin berjuta tahun sejak manusia pertama penghuni surga berpindah menjadi penghuni bumi. Selama masa kehidupan tersebut, manusia telah berubah dan berevolusi menjadi entitas yang lebih maju daripada generasi pendahulunya.

Ditulis Oleh: Riska Putri (Penulis Berita Pendidikan)

Sebagai manusia yang hidup di zaman modern, memperhatikan kehidupan manusia terhadulu dan meresapi perkembangannya merupakan salah satu hal yang penting. Dengan menyelami sejarah, kita bisa lebih mudah bersyukur akan fakta bahwa kita lahir di zaman modern, ketika segala hal terasa lebih mudah. Sejarah manusia kini tercatat dalam seluk beluk relung digital, menghadirkan suatu fenomena bernama “jejak digital”.

Berbeda dengan manusia zaman sekarang, manusia pada masa setelah zaman pra-sejarah namun sebelum zaman sejarah tidak mengenal metode pengarsipan melalui tulisan. Waktu tersebut dinamakan masa pra-aksara, yang merupakan salah satu noktah penting dalam sejarah evolusi manusia.

Pengertian dan Definisi Zaman Nirleka

Zaman Nirleka adalah sebutan untuk rentang waktu antara zaman pra-sejarah dan zaman sejarah, yang sering juga di sebut dengan nama “zaman pra-aksara”. Sebutan nirleka atau pra-aksara tercipta untuk menjelaskan kehidupan manusia purba yang belum mengenal konsep tulisan, tetapi telah memiliki sejarah dan kebudayaan.

Para ilmuwan memperkirakan Masa Nirleka kemungkinan bermula pada zaman batu, yang kemudian terbagi lagi dalam 4 zaman yaitu Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum, dan Megalitikum. Zaman Paleolitikum sendiri terjadi sekitar 50.000 – 10.000 tahun sebelum masehi.

Ahli sejarah mengungkapkan bahwa manusia yang eksis pada masa nirleka berasal dari jenis Megantrophus Paleojavanicus, Pithecantropus Erectus, dan Homo Erectus. Selain itu, tanah nusantara juga menjadi rumah bagi jenis Homo Wajakensis di Tulungagung, Homo Florensiensis di Flores, dan Homo Soloensis di Pulau Jawa.

Manusia pada Masa Nirleka merupakan kelompok “gatherer”. Artinya, mereka bertahan hidup dengan mengumpulkan hasil bumi dan benda-benda lainnya. Umumnya, mereka hidup di sekitar sungai dan menggantungkan diri sepenuhnya pada kemurahan hati alam.

Jikalau sumber makanan telah habis, mereka akan berpindah mencari tempat tinggal lain yang masih sarat hasil bumi siap panen. Gaya hidup berpindah-pindah seperti ini dikenal dengan sebutan nomaden.

Rentang Periode Zaman Nirleka

Zaman Nirleka

Ketiadaan tulisan membuat sejarah dan kearifan lokal suatu kelompok sebagian besarnya hilang tertelan zaman. Terlebih sistem komunikasi manusia purba saat itu masih tergolong sangat sederhana, dan tidak memungkinkan untuk menyampaikan sejarah dalam bentuk kisah ataupun lagu. Karena alasan itu, tidak banyak yang dapat tergali mengenai kehidupan manusia zaman nirleka selain yang bisa dikira-kira melalui penemuan berbagai artefak.

Berkenaan dengan rentang waktu zaman nirleka sendiri, setiap bangsa tidak memiliki durasi yang sama. Masuknya pengetahuan tentang tulisan ke dalam benak manusia menjadi titik akhir zaman nirleka, sekaligus zaman sejarah bagi suatu bangsa.

Mengenai hal tersebut, bangsa Indonesia memasuki zaman sejarah kira-kira pada awal abad ke-5. Perkiraan tersebut berasal dari penemuan artefak berupa catatan angka tahun yang terpahat pada batu-batu bertulis, yang ada di sekitar aliran Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.

Selain eksistensi tulisan, peralihan zaman dari masa nirleka ke zaman sejarah juga menjadi titik balik gaya hidup manusia. Kelompok-kelompok purba yang tadinya senantiasa berpindah-pindah, perlahan mulai menetap di daerah tertentu dan membentuk koloni-koloni kecil.

Baca Juga Beritaku: Banten Kota Bandar Yang Sibuk Sejak Zaman Kerajaan Tahun 1526

Cara Bertahan Hidup Zaman Nirleka

Pada awalnya, koloni-koloni ini masih tetap bergantung pada ketersediaan makanan yang bisa didapat dari alam sekitar. Namun, perubahan juga mulai terjadi ketika kaum adam mulai melakukan perburuan untuk mencukupi kebutuhan pangan kelompoknya. Sementara itu, kaum hawa bertugas mengumpulkan makanan berupa ubi, keladi, daun-daunan, dan buah-buahan.

Di masa ini, para pemburu umumnya memburu binatang-binatang besar secara berkelompok. Jenis binatang buruannya antara lain gajah, banteng, badak, rusa, dan kerbau liar. Selain untuk memanfaatkan dagingnya, bagian-bagian tubuh hewan tersebut juga mereka gunakan untuk membuat alat seperti kapak dan alat serpih dari tulang atau tanduk rusa.

Revolusi peradaban kemudian terjadi ketika manusia mulai mengenal konsep bercocok tanam. Tradisi mengumpulkan makanan dari alam mulai berubah menjadi tradisi menghasilkan makanan. Gaya hidup nomaden pun semakin lama semakin tak lazim.

Pada masa bercocok tanam, manusia mulai mendiami tempat-tempat dataran tinggi seperti pegunungan maupun lereng gunung. Selain bercocok tanam, manusia juga mulai beternak untuk menghasilkan makanan. Jenis flora yang umum mereka tanam antara lain adalah padi, jagung, keladi, pisang, sukun, dan ketela. Sedangkan hewan ternak berupa unggas, kerbau, dan babi.

Masuk ke zaman Megalitikhum, bangsa Indonesia purba mulai mengenal konsep kepercayaan. Aliran kepercayaan yang menjamur di tengah masyarakat saat itu adalah dinamisme, animisme, dan shamanisme.

Kepercayaan-kepercayaan tersebut kemudian mendorong manusia untuk berevolusi lebih lanjut, mengembangkan kemahiran dalam bidang teknik atau perundagian. Pada masa ini, manusia purba sudah mahir membuat perkakas berbahan dasar logam.

Selain menggunakan perkakas untuk berburu, bercocok tanam, dan beternak, mereka juga menggunakan perkakas untuk melakukan ritual kepercayaan seperti penguburan jenazah.

Istilah Lain dari Nirleka

zaman nirleka

Kata “nirleka” berasal dari gabungan dua kata yaitu “nir” yang berarti ketiadaan, dan “leka” yang berarti tulisan. Begitu pula dengan istilah “pra-sejarah” yang juga merupakan gabungan dari kata “pra” yang berarti sebelum dan “sejarah”.

Dalam bahasa Inggris, masa nirleka tergabung dengan zaman pra-sejarah sehingga bernama “prehistory”. Meskipun demikian, terdapat pula istilah “pre-literary history” yang sekiranya merupakan padanan setingkat dengan nirleka, meskipun istilah ini tidak begitu umum digunakan.

Istilah prehistory sendiri mulai muncul sekitar tahun 1836, menggantikan istilah “primitive” yang sebelumnya lebih umum digunakan.

Baca Juga Beritaku: Wanita Tercantik Zaman Nabi, Kisah Mahar Termahal Dalam Islam

Bentuk Komunikasi pada Zaman Pra-Sejarah

Sejarah peradaban manusia tak terlepas dari sejarah perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Pada mulanya, komunikasi dan teknik penyampaian informasi pada kelompok manusia purba masih sangat sederhana. Tulisan awal pun berbeda dengan aksara yang kita kenal pada masa sekarang, dimana dulunya informasi dan sejarah terekam dalam bentuk gambar-gambar pada dinding gua, maupun tonggak sejarah berupa prasasti.

Pada mulanya, manusia prasejarah menggunakan teknologi komunikasi sebagai sistem pengenalan bentuk-bentuk yang sudah mereka kenali. Informasi yang terinduksi melalui pengalaman, mereka kemukakan dengan cara menggambarkannya pada dinding-dinding gua. Umumnya, informasi tersebut bercerita tentang binatang buruan dan teknik berburu yang mereka gunakan.

Pada masa ini pula manusia mulai melakukan identifikasi terhadap benda-benda yang ada di sekitar lingkungan tinggalnya. Mereka kemudian melukisnya pada dinding gua, dengan maksud menyampaikan kegunaan benda-benda tersebut kepada genereasi setelahnya.

Pada bidang verbal, komunikasi di zaman ini berkisar pada bentuk-bentuk suara dengusan serta menggunakan isyarat tangan untuk mengejawantahkan maksud dalam benak. Berkaitan dengan suara, di zaman ini manusia juga mulai mengembangkan alat-alat yang menghasilkan bunyi dan isyarat.

Contohnya seperti gendang dan terompet yang terbuat dari bagian-bagian tubuh hewan, berfungsi sebagai alat komunikasi jarak jauh untuk memberikan komando dalam perburuan, maupuan tanda peringatan akan datangnya bahaya. Isyarat asap juga digunakan untuk memperjelas peringatan terhadap adanya bahaya yang mengancam pemukiman mereka.

Berkenaan dengan perkembangan komunikasi, evolusi teknologi informasi dan komunikasi manusia di zaman prasejarah terbagi ke dalam 4 periode, sebagai berikut:

3.000 SM

Pada sekitar 3.000 tahun sebelum masehi, bangsa Sumeria mulai menggunakan tulisan berbentuk simbol-simbol dan piktografi sebagai alat komunikasi utamanya.

Simbol dan huruf-huruf Sumeria juga mempunyai pelafalan (penyebutan) tertentu sehingga bisa di kombinasikan menjadi kata, kalimat, hingga bahasa.

2.900 SM

Satu abad setelahnya, bangsa Mesir kuno juga mulai berkomunikasi menggunakan hieroglif. Hieroglif sendiri merupakan bahasa berbentuk simbol, tiap-tiap simbol berbeda mewakili ungkapan tertentu.

Ketika menggabungkan simbol-simbol tersebut menjadi satu rangkaian, maka rangkaian tersebut akan menghasilkan sebuah arti yang berbeda.

Dibandingkan tulisan bangsa Sumeria, hieroglif bangsa Mesir kuno memiliki bentuk tulisan dan bahasa yang lebih maju dan kompleks.

500 SM

Sekitar 2.400 tahun setelah penciptaan hieroglif, bangsa Mesir kuno mulai mengenal cara mengolah serat pohon papyrus yang tumbuh di sekitar sungai Nil.

Mereka kemudian mulai merubah cara penyampaian informasi dengan menuliskan hieroglif pada serat-serat papyrus, setelah sebelumnya memahatkannya pada batu dan lempengan tanah liat.

Di bandingkan dengan batu dan tanah liat, serat papyrus memiliki sifat lebih kuat dan fleksibel, sehingga lebih nyaman di gunakan sebagai media penyampai informasi.

105 SM

Pada masa ini, bangsa Cina mengembangkan kerta papyrus menjadi kertas seperti yang kita kenal sekarang. Bangsa Cina membuat kertas dari pohon bambu yang banyak tumbuh di dataran Tiongkok.

Cara pembuatannya yaitu dengan menghaluskan serat bambu, menyaring, mencuci, kemudian meratakan dan mengeringkannya hingga berbentuk lembaran-lembaran tipis.

Penemuan kertas ini sekaligus menjadi awal sistem percetakan yang awal mulanya dilakukan menggunakan blok kayu yang dipahat dan dilumuri tinta.

Sistem percetakan awal ini masih eksis hingga sekarang dalam sebuah benda yang kita kenal dengan nama “cap”.

Baca Juga Beritaku: Kerajaan Sri Bunga Tanjung

Bentuk Peninggalan atau Artefak dari Zaman Nirleka

Zaman Nirleka

Manusia di zaman modern dapat mengetahui tentang kehidupan manusia di zaman nirleka melalui peninggalan berupa fosil dan artefak.

Menurut definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, fosil merupakan “sisa makhluk hidup yang telah membatu”, sedangkan artefak adalah “sisa peralatan atau perkakas manusia yang telah membatu”.

Contoh artefak yang berasal dari masa nirleka antara lain:

  • Kjokkemoddinger

Kjokkemoddinger adalah istilah untuk menyebut artefak berupa sampah dapur peninggalan manusia purba.

Sampah dapur ini berupa tumpukan kulit kerrang, tulang ikan, maupun tulang belulang binatang lain yang menggunung atau membentuk bukit.

  • Abris Sous Roche

Abris Sous Roche adalah tempat perlindungan yang berada di bawa karang. Manusia purba menggunakan Abris Sous Roche sebagai tempat tinggal permanen, maupun sebagai tempat singgah sementara dalam pengembaraan bagi kelompok-kelompok nomaden.

Pada dinding Abris Sous Roche ditemukan simbol-simbol kasar yang diperkirakan ditinggalkan manusia purba untuk memberi markah atau peringatan bagi kelompok manusia lainnya.

  • Menhir

Manusia pada masa Megalithikum yang telah mengenal sistem kepercayaan, meninggalkan artefak bernama Menhir yang berupa tugu batu berukuran besar.

Para ilmuwan mengatakan bahwa pada masa ini manusia menggunakan Menhir untuk memuja arwah nenek moyang mereka.

  • Dolmen

Dolmen berbentuk seperti meja, terbuat dari batu, dan memiliki kaki-kaki yang terbuat dari Menhir.

Fungsi dari Dolmen adalah untuk menaruh sesajen (sesaji) untuk arwah nenek moyang, maupun untuk alat penguburan jenazah atau peti kubur.

  • Peti Kubur Batu

Adalah peti mati purba yang terbuat dari susunan potongan batu, dan digunakan untuk mengeksklusifkan fungsi dolmen pada ritus penyembahan atau ritual peribadahan saja.

  • Sarkofagus

Sarkofagus adalah keranda yang terbuat dari batu utuh (monolith) yang di pahat dengan bentuk tertentu, dan di percaya memiliki kekuatan magis tertentu.

Bangsa Mesir kuno umumnya menggunakan Sarkofagus dengan pahatan mantra-mantra hieroglif untuk mengantar arwah menuju Maat dan kehidupan abadi.

  • Waruga

Waruga merupakan peti jenazah yang terbuat dari batu, namun memiliki bentuk kubus atau bulat.

Daftar Pustaka

  1. Tim CNN Indonesia. 2021. 10 Fakta tentang Zaman Praaksara di Indonesia. Jakarta: CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com
  2. Gischa, Serafica. 2020. Kehidupan Manusia Praaksara di Indonesia. Jakarta: Kompas. https://www.kompas.com.
  3. Prehistory. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Prehistory.
  4. Harun, Rochajat. 2011. Komunikasi Pembangunan Perubahan Sosial. Jakarta: Rajgrafindo Persada.
  5. Arifin, Anwar. 2006. Ilmu Komunikasi: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Rajawali Press.
  6. Welianto, Ari. 2020. Zaman Praaksara, Kehidupan Manusia di Indonesia. Jakarta: Kompas. https://www.kompas.com
Bagikan Ke