habitat palaquium dan pohon pelangi. sumber unsplash

Palaquium dan Eucalyptus Deglupta: 5 Ciri, Jenis dan Kegunaan

Diposting pada

Indonesia memiliki beragam jenis tanaman endemik. Salah satu dari ratusan spesies tanaman tersebut adalah Palaquium dan Eucalyptus Deglupta. Kesamaan dari keduanya adalah memiliki banyak nama lain selain nama resminya. Temukan informasinya beserta ciri, jenis, dan kegunaan kedua tanaman tersebut.

Beritaku.id, Lestari – Dalam diskursus filsafat, makhluk hidup selain manusia selalu dioposisikan dengan manusia. Salah satu determinan distingtif antara manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah kemampuan berpikir secara abstrak dan pragmatif.

Oleh: Riska Putri (Penulis Lestari)

Maka dari itu, meskipun secara fundamental sama-sama memiliki sifat nutritive (cara bagaimana suatu entitas bertahan hidup). Manusia memposisikan dirinya sendiri sebagai makhluk superior.

Rasa superioritas itu kemudian menjadi alasan bagi manusia untuk mendominasi makhluk lain.

Sebetulnya, kontrol manusia atas binatang dan tumbuhan bisa berbentuk simbiosis mutualisme yang sama-sama menguntungkan. Sayangnya, kenyataan yang terjadi tidak jarang adalah kebalikannya.

Palaquium
Koloni Palaquium. (Sumber Pixabay)

Keserakahan seringkali menguasai manusia dan menggiring mereka untuk mendominasi makhluk lain secara berlebihan.

Manusia pun kehilangan rasa simpati dan peduli terhadap segala yang bukan dirinya sendiri. Tingkah laku inilah yang kemudian memunculkan ketidakharmonisan antara manusia dengan makhluk lain.

Sekaligus alam yang menjadi relung habitatnya.

Padahal, jika kehilangan dukungan dari alam, manusia juga tak akan mampu bertahan hidup lama.

Misalnya, seorang kawan dari Belanda pernah berkisah bahwa saat Perang Dunia II, Belanda kehilangan Hindia Belanda sebagai wilayah jajahannya.

Hal itu berarti Belanda kehilangan seluruh hasil bumi yang berasal dari Hindia Belanda, termasuk getah karet.

Berkat ketiadaan getah karet, pabrik-pabrik Belanda tidak bisa membuat ban untuk kendaraannya. Alhasil, sebagian orang terpaksa membuat roda sepeda dari kayu, sementara mobil-mobil teronggok tanpa daya.

Kisah itu merupakan sebagian kecil bukti ketergantungan manusia pada alam, yang akan kita telusuri lebih lanjut dalam artikel ini.

Palaquium, Tumbuhan Penghasil Lateks Selain Karet

Selain getah dari pohon karet, manusia di masa kini juga sangat tergantung pada sejenis tumbuhan dari genus Palaquium, terutama Palaquium Gutta.

Getah dari tumbuhan asli nusantara ini merupakan substansi utama bahan intalasi kabel dasar laut, pelapis bola golf, campuran gips, komposit perawatan gigi dan pembuatan gigi palsu, serta bahan pembuatan furniture.

Masyarakat Indonesia biasa mengenal tumbuhan endemik yang tersebar di wilayah Indonesia bagian barat ini dengan nama “Getah Perca”. Selain itu, tumbuhan ini juga memiliki beberapa nama lain, seperti:

  • Getah Merah
  • Getah Sundi
  • Isonandra Gutta
  • Red Makassar
  • Gutta Seak
  • Gutta Soh

Baca juga beritaku: Hutan Rawa: Definisi, Sebaran, dan 10 Karakteristik Jenis Pohon

Habitat Palaquium

Budidaya Getah Perca biasanya bersamaan dengan Pohon Karet. Saat ini, terdapat 12 perkebunan yang menjadi habitat sekaligus tempat budidaya Getah Perca, sebagai berikut:

  1. Perkebunan Karet “Agrabinta” (Kabupaten Cianjur);
  2. Perkebunan Kina/Teh/Karet “Pondok Gedeh” (Kabupaten Cianjur);
  3. Pertanian Karet/Teh “Sukamaju” (Kabupaten Sukabumi);
  4. Perkebunan Gutta-perca “Cipetir” (Kabupaten Sukabumi);
  5. Perkebunan Karet “Artana” (Kabupaten Sukabumi);
  6. Pertanian Teh/Karet “Ciemas” (Kabupaten Sukabumi);
  7. Perkebunan Karet “Pasir Badak” (Kabupaten Sukabumi);
  8. Perkebunan Teh/Karet “Cisalak” (Kabupaten Sukabumi);
  9. Pertanian Karet/Teh/Kelapa “Ganessa” (Kabupaten Karawang);
  10. Perkebunan Teh/Karet “Cibungur” (Kabupaten Purwakarta);
  11. Perkebunan Karet “Vada” (Kabupaten Bogor); dan
  12. Perkebunan Karet/Teh “Pasir Awi” (Kabupaten Bogor).
habitat palaquium dan pohon pelangi
Habitat palaquium dan pohon pelangi. sumber unsplash

Selain itu, tumbuhan ini juga terdapat di Sumatera, Semenajung Malaya, Riau, Bangka Belitung, Kalimantan, Maluku, Filipina, Amerika Selatan, dan Afrika.

Jenis dan Ciri Masing-Masing Jenis

Genus Palaquium memiliki 120 spesies pohon yang hidup tersebar di Asia Tenggara hingga Kepulauan Pasifik. Meskipun berbeda spesies, seluruh anggota keluarga jenis ini umumnya memiliki ciri fisik yang sama.

Seperti tinggi pohon yang bisa mencapai 20-38 m, dengan diameter batang berkisar 45-70 cm.

Dedaunan yang menakhtai pohonnya biasa berkerumun di sekitar ujung ranting, berderet rapi dalam susunan spiral.

Dedaunan berjumlah majemuk, kelopak-kelopak bunga berwarna putih kekuningan menyempil malu-malu. Bunga berukuran kecil (sekitar 1-1,5 cm) ini umumnya memiliki kelamin ganda, dengan pengecualian beberapa kasus. Bunga Palaquium berkelamin tunggal.

Beberapa spesiesnya memiliki kayu berwarna cokelat kemerahan, sementara spesies lainnya memiliki kayu berwarna cokelat muda.

Pohon penghasil lateks ini juga memiliki buah berukuran kecil, berbentuk bulat telur, berbiji tunggal, dan dapat kita konsumsi seperti sawo.

Kegunaan Palaquium

Seperti penjelasan sebelumnya, hasil sadapan getah dari batang dan daunnya sebagai bahan mentah dalam industri karet.

Tidak sampai disitu. Masyarakat Indonesia juga kerap memanfaatkan kayunya untuk membuat perabotan rumah, lantai, dan mebel lainnya.

Selain itu, daunnya juga biasa terpakai oleh masyarakat sekitar Cagar Alam Gunung Picis dan Gunung Sigogor untuk mengobati diare.

Caranya, daun Palaquium dikeringkan kemudian ditumbuk. Hasil tumbukan daun lalu diseduh dengan air panas dan diminum.

Selain itu, buahnya bisa juga dimakan secara langsung. Masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar perkebunan mengatakan bahwa buahnya memiliki rasa seperti sawo.

Sedangkan bijinya yang mengandung banyak lemak, kerap menjadi minyak yang berguna untuk memasak.

Minyak dari biji buahnya juga bisa sebagai bahan bakar lampu minyak, serta mengobati koreng, eksim, dan encok.

Selanjutnya, masyarakat Jawa juga mengenal kayu jenis ini sebagai salah satu kayu bertuah.

Mereka meyakini bahwa kayu tersebut memiliki manfaat untuk menjaga keselamatan, kewibawaan, anti tenung, dan perlindungan terhadap orang maupun jin jahat.

Keberadaannya dan bermacam manfaatnya menjadi kegemaran masyarakat.

Maka tak heran jika genus flora asli nusantara ini kini mulai terancam punah. Lebih lagi, keserakahan manusia terhadap harta duniawi turut menyumbang ancaman kelestariannya.

Tindakan pembukaan hutan seperti yang terjadi di Kalimantan, menjadi salah satu penyebab tumbuhan ini berada pada daftar “Hampir Punah” IUCN Red List.

Pohon Pelangi: Eucalyptus Deglupta

Dari ujung timur hingga ujung barat, kehidupan masyarakat Indonesia lekat dengan sebuah benda ajaib.

Benda itu mampu menyembuhkan berbagai gangguan kesehatan seperti perut kembung dan gatal karena gigitan serangga. Atau menghangatkan hati yang kedinginan karena ingat orang tersayang yang jauh di angan.

Berasal dari strata ekonomi manapun, setiap keluarga Indonesia pasti memiliki sebotol benda ajaib itu. Ialah minyak kayu putih.

Minyak kayu putih bagaikan obat ajaib setiap orang Indonesia. Eksistensinya tak lekang dimakan waktu.

Dari dulu hingga sekarang, minyak kayu putih tetap menjadi andalan mengatasi berbagai macam penyakit, atau sekadar untuk menghangatkan badan setelah mandi.

Minyak gosok multimanfaat ini terbuat dari distilasi daun dan ranting pohon melaleuca leucadendra yang merupakan tumbuhan endemik Australia, Papua, Filipina, dan Maluku.

Minyak esensial eucalyptus deuglupta
Minyak esensial hasil distilasi eucalyptus deuglupta. sumber Astrich

Melaleuca leucadendra sendiri merupakan spesies tanaman dalam ordo myrtales. Pada ordo yang sama, terdapat spesies tanaman lain bernama eucalyptus deglupta.

Ketika mendengar kata eucalyptus, hal pertama yang terbersit dalam pikiran pastilah hewan lucu bernama Koala.

Daun eucalyptus memang merupakan makanan utama mereka. Namun, eucalyptus deglupta bukan salah satu spesies eucalyptus yang disukai oleh Koala.

Sebaliknya, manusia mengembangbiakkan pohon yang juga kita sebut pohon pelangi ini untuk kebutuhan industri.

Nama dan Istilah Lain Eucalyptus Deglupta

Seperti telah disampaikan sebelumnya, masyarakat Indonesia umumnya mengenal eucalyptus deglupta dengan nama Pohon Pelangi. Sementara, masyarakat internasional lebih mengenal tumbuhan ini dengan nama; rainbow eucalyptus, Mindanao gum, atau rainbow gum.

Berkenaan dengan taksonomi tumbuhan, pohon dengan batang multiwarna ini memiliki beberapa nama ilmiah, yaitu:

  1. Eucalyptus sarassa
  2. Eucalyptus versicolor
  3. Euchalyptus multiflora
  4. Eucalyptus naudiniana
  5. Eucalypthus binacag
  6. Eucalyptus schlechteri

Meskipun memiliki beberapa nama, secara ilmiah nama resminya tetaplah eucalyptus deglupta, sedangkan keenam nama lain hanya sebagai sinonimnya saja. Nama eucalyptus deglupta sendiri pertama kali di perkenalkan pada tahun 1850 oleh seorang botanis bernama Carl Ludwig Blume.

Eucalyptus Deglupta
Pohon Eucalyptus Deglupta. Sumber Pixabay

Sebaran Eucalyptus Deglupta

Berbeda dengan spesies eucalyptus lainnya, Pohon Pelangi adalah satu-satunya spesies yang tumbuh di hutan hujan. Selain itu, eucalyptus deglupta juga merupakan satu dari empat spesies eucalyptus yang tidak berasal dari Australia.

Alih-alih, spesimen pertama eucalyptus deglupta justru berasal dari tanah Indonesia.

Pohon yang bisa tumbuh hingga setinggi 60-75 m ini tumbuh secara alami di belahan bumi utara, yang memiliki iklim dengan curah hujan cenderung tinggi.

Koloni Pohon Pelangi biasanya tumbuh di dataran rendah dan pegunungan setara permukaan laut, hingga ketinggian sekitar 1.800 mdpl.

Meskipun merupakan tanaman endemik Indonesia, saat ini keberadaan Pohon Pelangi dapat kita temukan di berbagai belahan bumi lainnya berkat kultivasi untuk keperluan industri.

Di Indonesia sendiri, koloni Pohon Pelangi dapat kita temukan di beberapa daerah seperti Palu, Pulau Seram, Maluku, dan Papua.

Ciri dan Kegunaan Eucalyptus Deglupta

Ciri utama dari semua spesies eucalyptus adalah bersifat cepat tumbuh, tak terkecuali eucalyptus deglupta. Dalam waktu 4 tahun, pohon ini bisa bertumbuh hingga sekitar 16 m.

Sama dengan spesies eucalyptus lainnya, spesies ini juga merupakan tumbuhan yang bisa bertahan menghadapi kekeringan.

Bahkan, tumbuhan ini bisa bertahan dari kebakaran hutan dan tumbuh kembali dengan cara vegetatif. Ketika terjadi kebakaran hutan, api akan melelehkan resin yang membungkus benih eucalyptus.

Hasilnya, benih akan terbuka dan mengeluarkan bijinya. Biji-biji ini kemudian akan dengan cepat tumbuh, memunculkan tunas-tunas baru cikal bakal si Pohon Pelangi.

Perbedaan lainnya dari eucalyptus deglupta dengan spesies lain dalam keluarganya adalah kemampuan adaptasinya yang lebih canggih.

Spesies ini bisa tumbuh di tanah liat berpasir, tanah lembab, dan tanah aluvial (tanah yang waktu hujan tergenang kemudian mengering).

Ciri Khas deglupta

Ciri khas dari spesies deglupta tentu saja batangnya yang memiliki corak warna mencolok.

Jika kita perhatikan secara seksama, corak warna-warni batang deglupta terlihat sangat cantik dan nampak seperti di cat. Meskipun demikian, warna-warni yang muncul di batang pohon murni berasal dari proses kimia alami.

Nama deglupta sendiri memiliki arti mengelupas atau kulit.

Konon, nama ini ketika permukaan kulit Pohon Pelangi terkelupas, batangnya akan terlihat berwarna hijau. Lambat laun, rona hijau ini akan berubah menjadi biru, kemudian ungu, oranye, dan terakhir berganti menjadi warna merah.

Pergantian rona warna ini merupakan hasil reaksi kimia getah yang keluar dari dalam pohon. Ketika cairan getah tersebut mengenai kulit pohon bagian lain, ia akan mengeras dan membentuk lapisan resin.

Lapisan resin ini sesungguhnya berwarna bening, namun memiliki sifat merefraksikan cahaya.

Alhasil, perbedaan ketebalan lapisannya akan menghasilkan warna berbeda, akibat perbedaan intensitas cahaya yang terefraksikan.

Meskipun berasal dari ordo yang sama, serta mengasilkan bunga dan daun yang serupa spesies eucalyptus lainnya, kelenjar-kelenjar daun eucalyptus deglupta tidak menghasilkan banyak minyak aromatik.

Sebab itu, hasil distilasi daunnya lebih umum digunakan untuk membuat minyak atsiri, yang dikenal sebagai bibit minyak wangi.

Untuk menutupi kekurangannya dalam menghasilkan minyak aromatik, Pohon Pelangi justru menghasilkan senyawa cinole dengan konsentrasi tinggi pada daun dan kulitnya.

Senyawa ini memiliki sifat antiseptik, antibakter, dan antijamur.

Ketika diuapkan, senyawa cinole akan bereaksi dengan senyawa-senyawa lain, menghasilkan uap yang bisa mempengaruhi saraf manusia (terutama hidung) dengan kuat.

Karena itu, hasil distilasi daun Pohon Pelangi lazim ditemukan dalam minyak aromaterapi untuk mengatasi gangguan kecemasan, sakit kepala, migrain, dan gangguan tidur.

Tak sampai disitu, manusia juga kerap memanfaatkan keindahan paras Pohon Pelangi sebagai pelengkap lanskap estetik, terutama di negara-negara Eropa dan Amerika.

Daftar Pustaka

  1. Getah Sundi. Wikiwand. https://www.wikiwand.com/id/Getah_sundi.
  2. Olander, S.B. dan P. Wilkie. 2018. Palaquium Gutta. IUCN Red List of Threatened Species. https://en.wikipedia.org/wiki/IUCN_Red_List.
  3. Stevens, Peter F. 2013. Ericales; Sapotoideae; Palaquium dalam Angiosperm Phylogeny versi 13. Missouri: Missouri Botanical Garden.
  4. Getah Perca. Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Getah_perca.
  5. AS. 2014. Gutta-Percha (Palaquium Gutta) Tanaman Langka Bahan Pembuat Bola Golf. Bandung: Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat. http://disbun.jabarprov.go.id/post/view/285-id-guttapercha-palaquium-gutta-tanaman-langka-bahan-pembuat-bola-golf-.
  6. Megumi, Sarah R. 2020. Pohon Pelangi Indonesia Bernama Eucalyptus Deglupta. Greeners. https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-pelangi-indonesia-bernama-eucalyptus-deglupta/.
  7. Supendi, Deni. 2020. Fakta Unik Pohon Eukaliptus dan Manfaatnya. Banjar: Harapan Rakyat. https://www.harapanrakyat.com/2020/03/fakta-unik-pohon-eukaliptus-dan-manfaatnya/.
  8. Sulianti, Sri Budi. 2008. Studi Fitokimia Ocimum spp: Komponen Kimia Minyak Atsiri, Kemangi, dan Ruku-ruku. Jakarta: LIPI. https://e-journal.biologi.lipi.go.id/index.php/berita_biologi/article/view/778.
Bagikan Ke