Retorika Perang Azerbaijan Dan Armenia Gagal, Konflik Sejak 1988
Gagalnya Retorika Perang Antara Armenia Dan Azerbaijan Hingga Konflik senjata kedua negara (Foto: Istimewa)
Retorika Perang Azerbaijan Dan Armenia Gagal, Konflik Sejak 1988

Perang dengan Retorika terbuka antara Armenia dan Azerbaijan mengalami kebuntuan (gagal) memicu meluasnya peperangan dengan senjata kedua negara.

Beritaku.id, Organisasi dan Komunikasi – Memanasnya kondisi negara pecahan Uni Soviet, antara Azerbaijan dengan Armenia. Telah berlangsung beberapa hari terakhir. Namun itu bukan kontak senjata yang pertama. Kejadian itu merupakan kejadian perulangan, dalam dekade 35 Tahun terakhir.

Peluru dengan desingan dan dentumannya telah memenuhi ruang udara antara kedua negara untuk melakukan ekspansi dan pesan kekuatan negara tersebut kepada negara lainnya.

Menunjukkan kepada satu sama lain akan kekuatan yang mereka miliki.

Siap menghadang serangan serta siap melancarkan serangan balik yang mematikan keduanya. Secara terorganisir dengan komunikasi komando dalam formasi militer mereka.

Perang antara Armenia dengan Azerbaijan meledak sejak tahun 1988 hingga tahun 1994, ini merupakan masa awal pertama perang negara berbatas tersebut.

Opsi Nagorno Karabakh

Nagorno Karabakh, sebagai alasan perang kedua negara, retorika dan diplomasi gagal mereka lakukan. Dan perang kepentingan perebutan wilayah terus memanas, untuk merobek peta Nogorno Karabakh. Dengan opsi buat Nagorno Karabakh adalah:

  1. Wilayah itu menyatu dengan Azerbaijan seprti semula,
  2. Bergabung menyatu dengan Armenia,
  3. Berdiri menjadi Negara mandiri (beridri sendiri).

Antara Armenia dan Azerbaijan, sama-sama negara Republik, perbedaannya: Republik Armenia mayoritas Nasrani, sementara Republik Azerbaijan mayoritas muslim.

Bermula pada tahun 1988, ketika itu Negara Republik Soviet sebagai negara adidaya mendekati keruntuhan akibat perang melawan Iran. Pegunungan Karabakh yang berbatasan dengan Nagorno, masuk dalam wilayah Azerbaijan.

Namun parlemen lokal (DPRD) mereka telah melakukan voting dan menyatakan diri menyatu dengan Armenia, meski ada opsi lain, memanfaatkan keruntuhan soviet untuk mereka berdiri sendiri.

Gelagat perpindahan garis peta wilayah tersebut, awalnya tidak menyebabkan konflik. Namun kemudian tumbuh menjadi sebuah ketegangan hingga perang etnis tatkala Uni Soviet hancur dan menjadi pecahan-pecahan negara.

Peristiwa runtuhnya Soviet tersebut membuat Azerbaijan mengambil sikap, hendak merebut kembali tanah mereka yang telah terklaim oleh Armenia.

Setelah runtuhnya rezim Soviet, maka Azerbaijan memproklamirkan kemerdekaan. Namun Nagorno Karabakh, menyatakan menyatukan wilayah tersebut ke Armenia. Selain itu “bekas wilayah” Azerbaijan tersebut menyatakan kemerdekaan meski dengan kemerdekaan terbatas pada tanggal 20 Februari 1988.

Empat tahun kemudian, tepatnya tahun 1992. Armenia melakukan ekspansi dengan menguasai darat Azerbaijan seluas 9% (Nagorno Karabakh). Pertempuran besar tidak terhindahrkan, organisasi militer kedua negara berhadapan satu sama lainnya.

Armenia Azerbaijan, Kebuntuan Dan Perang Retorika

Tepatnya tahun 1993, Militer Armenia mengambil paksa wilayah Azerbaijan setelah melakukan aneksasi ke Negara tersebut. Meluas hingga tahun 1994 sebagai perang Etnis dan juga Perang Agama.

Mengakibatkan 250ribu Suku Armenia pada Azerbaijan, serta 900ribu Etnis Azeri yang bertempat tinggal pada Negara Armenia. Harus mengungsi akibat ledakan perang etnis.

Peta Armenia Azerbaijan
Peta Wilayah Armenia dan Azerbaijan dan Wilayah Konflik Nagorno Karabakh (Foto:Istimewa)

Untuk memutuskan mata rantai perang, maka Rusia menjadi penengah dengan penandatanganan perdamaian pada bulan Mei 1994. Meski Azerbaijan mengalami sebuah kerugian besar, karena serangan Armenia yang membabi buta pada wilayah mereka.

Juga mengalami kerugian kehilangan beberapa batas wilayah yang tercaplok oleh Armenia.

Butuh waktu 14 tahun, hingga perang “kecil” kembali meletus. Sebagaimana pada Bulan Maret 2008, Armenia mengalami masalah internal yang menyebabkan terjadinya konflik dalam negeri.

Terjadi sengketa wilayah Nagorno Karabakh, yang menyebabkan beberapa kerusuhan dalam daerah kekuasaan Armenia tersebut. Namun Armenia menuduh Azerbaijan sebagai dalang kerusuhan.

Meski begitu, Azerbaijan menilai Armenia telah gagal menjaga stabilitas dalam negeri mereka. Dan Azerbaijan tidak terlibat dalam konflik yang menewaskan banyak orang tersebut.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2010, Armenia menjadi tertuduh menyerang pos-pos polisi perbatasan. Hingga menyebabkan kontak senjata kedua negara pada wilayah perbatasan.

Perang berlanjut, bukan lagi berbentuk retorika media TV, melainkan muntahan peluru. Terbukti, Uji penembak jitu dari Armenia, berhasil menewaskan anak kecil pada 11 Maret 2011. Tepatnya pada 10 Maret 2011. Kembali memanaskan situasi pada perbatasan Azerbaijan dengan Nagorno Karabakh.

Peristiwa ini menewaskan 3 tentara Nagorno Karabakh, selanjutnya hingga oktober tahun 2011, perang yang meletus tersebut menewaskan lagi 2 tentara Armeni dan 1 orang Militer Azeri. Sehingga sampai akhir 2011, terdapat 20 korban prajurit militer Armenia.

Perang 2014, Dengan Teknologi

Tidak hanya sampai tahun 2011 dengan perang senjata dan prajurit, namun berkembang hingga perang dengan menggunakan senjata berat dan teknologi.

Tepatnya 27 Juli hingga 5 Agustus 2014, menewaskan 14 tentara Azerbaijan dan 5 Armenia. Hingga pada November 2014, Armenia telah mengerahkan Helikopter jenis Mil-14. Namun Azerbaijan menyebutkan telah menembak jatuh Heli tersebut saat memasuki wilayah otorita Azerbaijan.

Bentrokan terus berlanjut hingga tahun 2015, 2016, serta Tahun 2020 ini.

Negara Yang Terlibat Dalam Perang Kedua Negara

Antara Azerbaijan dan Armenia dalam Bentrokan tersebut, melibatkan beberapa negara lain untuk saling mendukung satu sama lainnya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Armenia mendapatkan dukungan dari Republik “Negara terbatas” Nagorno Karabakh, serta mendapatkan suplai senjata dari Negara Rusia.

Selain itu, Azerbaijan juga mendapatkan sokongan dari beberapa negara, yakni: Turki, Pakistan, Serta mendapatkan suplai amunisi dan persenjataan dari Israel serta Rusia.

Konflik berdarah dengan senjata yang terjadi pada Karabakh, menimbulkan tanda tanya bersat, dengan bergabungnya Israel pada Blok Azerbaijan.

Kenapa tidak, Negara Turki yang selama ini keras menghadapi Israel, kedua negara memberikan support kepada Azerbaijan. Sementara Turki dan Israel menjadi seteru perang dan serangan publik menggunakan retorika peperangan sekaitan dengan pendudukan Palestina oleh Israel.

Baca beritaku: Apa Penyebab Israel Perangi Dan Merebut Tanah Palestina

Perang Azerbaijan, dalam kajian agama, merupakan perang antara Agama Islam dengan Kristen pada Negara Armenia. Jika demikian adanya, maka posisi Rusia tepat menjadi Back Up Armenia dan Turki menjadi benteng buat Azerbaijan bersama Pakistan.

Tetapi kehadiran Israel yang selama ini menjadi rival dari Turki dan cenderung bersama Amerika Serikat menggertak Negara Muslim Turki. Menjadi sebuah tanda tanya besar dalam konflik perbatasan Azerbaijan dan Armenia: Nagorno Karabakh.

Letak Armenia Dan Azerbaijan

Posisi kedua Negara berbatasan Satu Sama lainnya, sebagaimana Armenia terkepung oleh Negara Mayoritas Islam seperti Turki dan Iran.

Peta Azerbaijan
Lokasi pertempuran Antara Armenia dan Azerbaijan (Foto:BBC)

Armenia memotong Peta Wilayah Azerbaijan dengan “Mengambil” wilayah Nagorno Karabakh, sehingga otomatis telah memisahkan secara hubungan darat antara bagian wilayah Azerbaijan yakni Nackchivan.

Dengan demikian, Azerbaijan harus melintasi udara Armenia ketika hendak memasuk wilayah mereka tersebut.

Pada isu internasional berikutnya memprediksi bahwa tentara Armenia akan melakukan pendudukan pada wilayah Nakhchivan, sebagai target berikutnya. Untuk melakukan perluasan kekuasaan Negara Bekas bawahan Rusia tersebut.

Kekuatan Militer kedua Negara:

  1. Armenia: Tentara Aktif 45.000 sementara cadangan 171.000, Kekuatan Udara: 11 Pesawat Tempur, 18 Pesawat Angkut Militer, 42 Helikopter dengan 15 Helikopter serbu. 110 Tank, dan 68 Hulu Roket Aktif.
  2. Azerbaijan: Tentara Aktif 68.000 sementara cadangan 309.000, Kekuatan Udara: 18 Pesawat Tempur, 29 Pesawat Angkut Militer, 93 Helikopter dengan 17 Helikopter serbu. 570 Tank, dan 162 Hulu Roket Aktif.

Hingga saat ini, kedua negara masih terlibat dalam pertempuran, komunikasi antara kedua negara mengalami kebuntuan, dan memaksakan dominasi satu sama lainnya. Sehingga ledakan dan peluncuran mesiu serta amunisi berat termuntahkan demi melakukan serangan satu sama lainnya.

Pada posisi bertahan kedua negara menggunakan pertahanan mempertahankan teritorial mereka demi menjaga gengsi dan eksistensi mata internasional. Siapa Pemenang dari Keduanya?

Sumber Literatur:

  1. Republika
  2. Kompas

Tinggalkan Balasan