Tectona Grandis
Jati atau Tektona Grandis

Tectona Grandis, 8 Ciri Pohon Asal Indonesia Bahan Bahtera “Nabi Nuh”

Posted on

Bentang alam Indonesia menyimpan jutaan kekayaan alam. Vegetasi seperti pohon bisa tumbuh subur di tanah air. Diantaranya adalah Tectona grandis, pohon penghasil kayu jati yang menjadi bahan pembuatan bahtera nabi Nuh. Apa sajakah delapan ciri khas pohon asal nusantara ini?

Beritaku.id, Lestari – Jika melihat negara Indonesia melalui kacamata geologi, nampak bahwa tanah nusantara terletak di atas lempeng tektonik bumi. Tidak hanya itu, tetapi Indonesia juga berada tepat di tengah garis khayal khatulistiwa. Kombinasi keduanya membuat iklim Indonesia sangat cocok menjadi tempat tinggal beragam makhluk hidup.

Oleh: Riska Putri (Penulis Lestari)

Mulai dari Sabang hingga Merauke, tanah Indonesia menyelimuti akar dan serabut pepohonan yang menaungi baik makhluk daratan maupun penjelajah langit. Andaikan di hitung, jenis tumbuhan yang ada di Indonesia bisa ribuan jumlahnya. Wajar saja, pasalnya tanah Indonesia memang mengandung banyak kekayaan mineral di dalamnya.

Dari ribuah jenis tanaman, ada satu yang menjadi pujaan segenap khalayak masyarakat Indonesia. Tanaman itu bernama Jati, si kayu cantik penghasil furnitur yang awet melintasi generasi.

Nama Lain Tectona Grandis

Pohon Jati atau Tectona Grandis adalah sejenis pohon penghasil kayu berkualitas tinggi. Selain memiliki paras yang cantik, kayu jati juga terkenal atas daya tahannya yang luar biasa tinggi. Sejak zaman dahulu, masyarakat Indonesia sudah terbiasa menggunakan kayu ini untuk membuat furnitur yang bisa diwariskan lintas generasi.

Selain merupakan tumbuhan endemik Indonesia, pohon jati juga berasal dari 5 negara lainnya yaitu; India, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Thailand. Di ranah internasional, pohon ini dikenal dengan nama teak. Nama berbahasa Inggris tersebut berasal dari kata thekku (തേക്ക്) dalam bahasa Malayam, sebuah bahasa di negara bagian Kerala, India Selatan.

Sedangkan nama ilmiah dari pohon jati adalah Tectona grandis. Termasuk dalam famili lamiaceae, ordo lamiales, pohon jati masih berkerabat dengan Verbenaceae sp. yang juga menaungi sejenis tanaman bernama “Jati Putih (Gmelina arborea)”.

Sementara masyarakat tanah Jawa mengenal beberapa jenis pohon jati, yang terbagi menjadi 6 macam menurut sifat-sifat kayunya:

  1. Jati lengo atau jati malam, memiliki kayu yang keras, berat, dan terasa halus seperti mengandung minyak saat diraba. Kayu jati lengo berwarna gelap dan memiliki banyak bercak dan serat bergaris.
  2. Jenis Jati sungu, memilki kayu berwarna hitam yang padat dan berat.
  3. Jati werut, memiliki kayu yang keras dan serat berombak.
  4. jenis Jati doreng, memiliki kayu yang sangat keras dengan warna loreng-loreng hitam menyala yang sangat indah.
  5. Jati kapur, memiliki warna keputih-putihan karena mengandung banyak kapur. Kayu jati jenis ini memiliki kekuatan rendah dan cenderung tidak awet.
  6. Jati kembang, memiliki warna kehitam-hitaman dengan urat kayu bermotif seperti lukisan bunga dan tanduk.

Famili dari Tectona Grandis

Sebagai anggota famili lamiaceae, pohon jati berkerabat dengan 235 genera tumbuhan lainnya. Para ahli botanologis mempublikasikan daftar teranyar anggota famili lamiaceae pada tahun 2004 lalu. Dari ratusan genera tersebut, ada beberapa jenis tumbuhan menarik yang ternyata berkerabat dengan pohon jati.

1. Lavender

Tumbuhan dengan nama ilmiah Lavandula ini merupakan genus lamiaceae yang menaungi 47 spesies tanaman berbunga.

Bunga lavender
Bunga lavender. Sumber pixabay

Masyarakat umum mengenal lavender sebagai tanaman ornamental berkat kecantikan bunganya yang berwarna keunguan. Selain sebagai hiasan, lavender juga memiliki aroma khas yang berkhasiat mengusir nyamuk.

2. Perilla

Penikmat kebudayaan Korea, terutama K-Drama pasti mengenal sejenis daun yang sering tampil dalam adegan makan hidangan Korean Barbecue. Masyarakat Korea memang terkenal suka menggunakan daun bernama kkaennip (깻잎) sebagai hidangan pelengkap, maupun pembungkus daging bakar khas Korea. Menariknya, kkaennip atau daun perilla (Perilla frutescens) ternyata bersaudara dengan pohon jati, karena sama-sama berasal dari famili lamiaceae.

3. Sage

Sage atau Salvia officinalis merupakan tumbuhan perennial dari famili lamiaceae. Kebudayaan masyarakat barat mengenal sage sebagai tumbuhan yang memiliki daya magis tertentu.

Daun sage
Daun sage. Sumber pixabay

Seringkali, mereka menggunakan sage dalam ritual pembersihan rumah atau untuk mengusir roh jahat. Sedangkan di Indonesia, masyarakat mengenal sage sebagai tumbuhan herbal penghasil wewangian aromatik.

Baca Juga Beritaku: Kenali Hutan Indonesia: Nama, 5 Jenis, Ciri Dan Pohon

Ciri-ciri dan Bentuk

Tectona Grandis
Tampilan pohon jati ketika daunnya berguguran

Pohon jati adalah pohon yang memiliki daya hidup tinggi. Andaikan kita menanam pohon jati di pekarangan rumah, niscaya ia akan melampaui masa kehidupan kita selaku penanamnya. Akarnya masih akan kuat bercokol di tanah, hingga anak cucu kita menjadi dewasa. Jika tidak di tebang, pohon jati bisa hidup hingga ratusan tahun lamanya.

Meskipun demikian, pertumbuhan pohon jati sebetulnya mirip dengan pertumbuhan manusia. Ia membutuhkan waktu puluhan tahun untuk bisa tumbuh menjadi dewasa. Tak ayal, harga kayu jati menjadi sangat mahal karena harus menunggu puluhan tahun hingga bisa “dipanen”.

Pohon yang identik dengan furnitur berharga selangit ini merupakan vegetasi khas hutan musim, karena memiliki sifat deciduous (luruh daun). Setiap tahun pada musim kemarau, daun pohon jati akan mengering dan jatuh ke tanah. Bersatu dengan bumi, menjadi makanan cacing-cacing, kemudian berubah menjadi unsur hara yang kembali terserap akar-akarnya.

Selain itu, pohon jati juga memiliki beberapa ciri khas, sebagai berikut:
  1. Dapat tumbuh tinggi mencapai 30 sampai 45 meter.
  2. Saat tumbuh dengan optimal, batangnya besar dengan diameter sekitar 200 cm.
  3. Pohon dewasa memiliki daun lebar berbentuk elips, dengan ukuran sekitar 30 hingga 60 cm.
  4. Semua varietas jati, kecuali jati kapur, memiliki kayu yang kuat dan awet sehingga cocok untuk membuat furnitur.
  5. Kayu pohon jati memiliki warna mulai dari cokelat hingga hitam, dengan semburat kekuningan atau keabuan.
  6. Kulit pohon dewasa memiliki tekstur pecah-pecah dengan alur memanjang, lepas, dan bersisik.
  7. Daun pohon jati tumbuh berhadapan, berpucuk lancip, dan bertangkai pendek dengan bagian atas daun berwarna hijau kasar. Sedangkan bagian bawahnya berwarna hijau kekuning-kuningan dan berbulu halus. Diantara bulu halus tersebut, terselip rambut-rambut merah mengembang. Jika daun ini sobek atau rusak, rambut-rambut tersebut akan membuat warna daun berubah menjadi merah.
  8. Umumnya pohon jati memiliki siklus berbunga tahunan pada awal musim hujan. Namun, jika tumbuh di daerah aliran sungai, pohon jati juga bisa berbunga pada musim kemarau. Hal ini karena kecukupan air membuat pohon jati melewatkan masa luruh daunnya.

Manfaat dari Tectona Grandis

Tectona Grandis
tampilan bentuk dari daun pohon jati

Di dalam serat-serat kayunya, jati mengandung semacam minyak dan sedimen khusus. Keberadaan minyak tersebut bekerja layaknya vernis, sehingga kayu jati bisa awet meskipun digunakan di tempat terbuka tanpa divernis terlebih dahulu.

Karena itulah, sudah sejak lama manusia menggunakan kayu jati sebagai bahan baku pembuatan kapal laut. Menurut sejarah, kayu jati telah menjadi favorit para pembuat perahu sejak abad ke-17.

Pemerintah kolonial VOC menggunakan kayu jati sebagai bahan baku utama pembuatan kapal-kapalnya yang menjelajah samudera. Selain itu, pembangunan di daratan juga mengandalkan kekuatan jati dalam menyokong jembatan dan bantalan rel buatan mereka.

Bergeser ke dalam rumah, masyarakat Indonesia pun seringkali memanfaatkan jati untuk membuat berbagai furnitur. Tidak sampai disitu saja, masyarakat juga menggunakan bahan baku jati dalam struktur rumah, supaya rumah yang dibangun bisa kokoh hingga puluhan tahun.

Ukiran dari jati
Ukiran dari jati. Sumber pengrajin Jateng

Contohnya adalah rumah-rumah tradisional Jawa, seperti Rumah Joglo, yang menggunakan kayu jati hampir di seluruh bagiannya mulai dari; tiang-tiang, rangka atap, hingga ke dinding-dinding sarat ukiran.

Cara penggunaan ini pun terus berlanjut hingga sekarang, dimana masyarakat tradisional lebih condong menggunakan rangka dan kusen dari bahan jati daripada baja ringan yang populer di kalangan generasi muda.

Bukan hanya kayunya, tetapi ranting-ranting jati yang tidak bisa dimanfaatkan dalam industri mebel pun ternyata memiliki kegunaan tersendiri. Ranting jati bisa menghasilkan panas yang tinggi.

Peralatan makan dari Jati
Peralatan makan dari Jati. Sumber Pengrajin Jateng

Tak ayal, di zaman dulu lokomotif uap mengandalkan bahan bakar berupa ranting jati sisa produksi mebel. Kini, industri rumahan yang menggunakan tungku api menjadi konsumen terbesar kayu bakar dari ranting jati.

Sebagai salah satu pemasok utama kayu jati di dunia, keberadaan pohon jati menyumbang nilai ekonomis luar biasa tinggi untuk perekonomian Indonesia. Tidak sampai disitu saja, hutan jati juga menyediakan lahan garapan yang bisa dikultivasi masyarakat.

Kelompok masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan jati bisa menanam beberapa jenis kultivar tumbuhan seperti:
  1. Gadung (Dioscorea hispida)
  2. Uwi (Dioscorea alata)
  3. Iles-iles (Ammorphophallus)
  4. Kencur (Alpina longa)
  5. Kunyit (Curcuma domestica)
  6. Jahe (Zingiber officinale)
  7. Temu lawak (Curcuma longa)

Selain menjadi pengganti nasi dan bahan makanan di masa paceklik, masyarakat juga bisa menjual rempah-rempah seperti kencur, kunyit, dan jahe untuk mendulang pundi-pundi rupiah.

Disamping fungsi ekonomis, keberadaan hutan jati juga memegang peranan penting sebagai penyangga ekosistem dan kelestarian keragaman hayati di tanah air. Tajuk pepohonan di hutan jati non-produksi bertindak layaknya payung yang melindungi tumbuhan lain yang lebih kecil, serta hewan-hewan yang menghuni ceruk-ceruk hutan.

Akar pepohonan beragam rupa dan dedaunan jati yang jatuh menjadi penghuni tanah, turut bekerja sama menahan derasnya gempuran hujan pada tanah. Kombinasi ciamik ini berujung pada tanah yang lebih kuat mempertahankan diri dari erosi.

Baca Juga Beritaku: Hutan Musim: Karakteristik, Persebaran, dan 8 Pohon Ciri Khasnya

Benarkah Bahtera Nabi Nuh Terbuat dari Kayu Jati?

Tectona Grandis
Ilustrasi bahtera Nabi Nuh yang dikatana terbuat dari kayu pohon jati

Pada tahun 1949, tentara Angkatan Udara Amerika Serikat menemukan sebuah situs yang disinyalir merupakan bahtera nabi Nuh.

Setelah lewat 65 tahun bersemayam di gunung Ararat, Turki, akhirnya penemuan tersebut menemui titik terang.

Arkeolog asal Turki dan Tiongkok yang bekerja sama dalam penelitian situs tersebut, mengungkapkan bahwa kayu yang menjadi bahan dasar bahtera tersebut berasal dari tanah Jawa.

Mereka meyakini bahwa bahtera nabi Nuh tersebut menggunakan kayu jati yang pada zaman itu hanya terdapat di nusantara.

Para arkeolog berjumlah 15 orang tersebut pada awalnya hendak membuat film dokumenter mengenai bahtera nabi Nuh.

Dalam perjalanan menggarap film, mereka kemudian menemukan bukti baru berupa fosil kayu, paku, dan tambang.

Exterior kuil dari kayu jati
Exterior kuil dari kayu jati. Sumber Pixabay

Mereka kemudian membawa fosil-fosil tersebut ke Laboratorium Noah’s Ark Minesteries International untuk melakukan pengujian lebih lanjut.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa kayu yang menjadi bahan utama berasal dari tanag Jawa. Bahkan, pada uji kecocokan DNA material fosil kayu dan kayu jati dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, menunjukkan kecocokan 100%.

Meskipun pada akhirnya terdampar di gunung Ararat, para arkeolog meyakini bahwa bahtera nabi Nuh memang dibuat di tanah nusantara.

Sebab, selain kayu, berbagai material pembuat bahtera lainnya juga memiliki kecocokan DNA dengan material yang berasal dari bumi nusantara.

Mengenai sadik tidaknya hal tersebut, merupakan rahasia milik Allah SWT semata.

Namun, tidak ada salahnya kita sebagai hamba yang beriman meyakini perkataan para ahli, sebab perkataan tersebut pun nyatanya bukan merupakan sesuatu yang bathil. Wallahu a’lam.

Baca Juga Beritaku: 3 Pemakaman Tradisional Bali Yang Harum Dengan Pohon Taru Menyan

Daftar Pustaka

  1. Akram, M. dan F. Aftab. 2007. In Vitro Micropropagation and Rhizogenesis of Teak (Tectona Grandis L.). Pakistan: Food and Agriculture Organization of the United Nations.
  2. Mahfudz, Didik Parwito, dan Syahrul Donie. 2003. Sekilas Jati. Yogyakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi Indonesia.
  3. Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid IV. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.
  4. Jati. Wikipedia Bahasa Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Jati.
  5. Lamiaceae. Wikipedia Bahasa Indonesia. https://en.wikipedia.org/wiki/Lamiaceae.
  6. News Editor. 2015. Wow! Hasil Uji Lab Menyebutkan Bahan Dasar Kapal Nabi Nuh Berasal dari Jawa. Jakarta: PT. Navigator Informasi Sibermedia (a subsidiary of PT. Jurnalindo Aksara Grafika). https://kabar24.bisnis.com/read/20150303/20/408496/wow-hasil-uji-lab-menyebutkan-bahan-dasar-kapal-nabi-nuh-berasal-dari-jawa.

Bagikan Ke