Bunga Anggrek

Mengenang Ibu Negara Ke-2 Dengan Anggrek Hartinah dan Larat

Diposting pada

Indonesia adalah rumah bagi ribuan spesies anggrek, Beberapa diantaranya merupakan spesies endemik. Sebut saja Anggrek Larat, penghuni asli pulau Maluku atau Anggrek Hartinah yang hampir punah. Seperti apakah kisah flora yang dinamai untuk mengenang istri mantan presiden yang legendaris ini?

Beritaku.id, Berita Budaya – Lahir di pedalaman lembah pegunungan, dedaunan hijau serumpun anggrek bergoyang anggun tertiup angin. Mahkota bunga yang elok, menguarkan aroma lembut yang menunggang angin hingga ke tanah jauh. Sejak zaman kuno, para sarjana Tiongkok sangat menyukai tanaman bernama anggrek. Menurut mereka, anggrek mewakili sifat-sifat luhur yakni; integritas, kebangsawanan, kerendahan hati, dan pengendalian diri.

Oleh: Riska Putri (Penulis Berita Budaya)

Ketika menganalogikan sifat tersebut dengan manusia, mereka menganggap bahwa anggrek merefleksikan kebajikan dari seorang pria yang sempurna. Tidak hanya pria, mereka pun mengasosiasikan figur anggrek yang elegan dengan kecantikan wanita dengan hati dan jiwa yang murni.

Karenanya, kebudayaan Tiongkok menganggap anggrek sebagai satu dari empat tanaman mulia. Sebab itu pula, anggrek biasa dijadikan hiasan utama di lanskap taman-taman Tiongkok. Keberadaan anggrek membantu menciptakan keharmonisan antara keempat elemen alam dengan tumbuhan, perbukitan, dataran, dan manusia.

Di Indonesia, dari sekitar 30.000 spesies anggrek terdapat 2 spesies yang menempati posisi special. Mereka adalah Aggrek Hartinah dan Larat.

Nama dan Klasifikasi Anggrek Hartinah Soeharto

Anggrek Tien Soeharto “Hartinah” adalah salah satu jenis tanaman anggrek asli Indonesia. Anggrek ini memiliki sifat endemik, yakni hanya bisa tumbuh di daerah tertentu saja. Rusdi E. Nasution, seorang peneliti Herbarium LBN (sekarang LIPI), pertama kali menemukan spesies anggrek ini pada tahun 1976.

Ketika itu, anggrek yang tumbuh di Desa Baniara Tele, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara ini tidak bisa ditemukan dalam pustaka maupun koleksi apapun. Karena itu, Rusdi bersama seorang peneliti lain, J.B. Comber, kemudian memberi nama Cymbidium hartinahianum kepada anggrek temuannya ini.

Penabalan (penamaan) anggrek ini merupakan sebentuk penghargaan kepada Ibu Tien Soeharto atas jasa-jasa beliau dalam pengembangan tanaman anggrek di Indonesia. Berikut data-data ilmiah Anggrek Hartinah:

Nama Umum     : Anggrek Hartinah atau Anggrek Tien Soeharto

Klasifikasi

  1. Kingdom  : Plantae
  2. Subkingdom : Tracheobionta
  3. Superdivisi    : Spermatophyta
  4. Divisi : Magnoliophyta
  5. Kelas : Liliopsida
  6. Subkelas : Lilidae
  7. Ordo : Orchidales
  8. Famili : Orchidaceae
  9. Genus : Cymbidium
  10. Spesies : Cymbidium hartinahianum

Persebaran dan Habitat Anggrek Hartinah

Anggrek Hartinah
Penampakan bunga anggrek hartinah

Cymbidium Hartinah merupakan salah satu anggrek terrestrial (tumbuh di atas tanah) dengan pertumbuhan merumpun. Spesies ini menyukai tempat terbuka yang terkena cahaya matahari langsung. Di habitat aslinya, anggrek ini biasa tumbuh dikelilingi rerumputan, lumut, serta tanaman lain seperti paku-pakuan, kantong semar, dan lain-lain.

Seperti penjelasan sebelumnya, Cymbidium Hartinah adalah tanaman endemik. Hal itu berarti ia hanya bisa tumbuh di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara saja. Di sana, habitat asli spesies anggrek ini terdapat pada ketinggian 1.700-2.700 meter di atas permukaan laut.

Saat ini, International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengklasifikasikan spesies Cymbidium Hartinah dalam kategori extinct in the wild atau punah di alam liar. Hal tersebut karena habitat aslinya di alam liar telah berganti menjadi jalan raya.

Selain itu, perdagangan liar pun turut menjadi faktor punahnya spesies Cymbidium hartinahianum di tanah Samosir. Untungnya, Tim Eksplorasi Kebun Raya Bogor berhasil menemukan sisa populas Cymbidium Hartinah dari daerah Toba Samosir.

Mereka lalu memboyong biji Cymbidium itu ke laboratorium untuk melakukan pemeriksaan. Biji anggrek yang sehat kemudian disemai dan ditangkarkan di Kebun Raya Bogor.

Kini, spesies Anggrek Hartinah hanya bisa ditemukan di Kebun Raya Bogor saja.

Meskipun berhasil menangkarkan dan mencegah kepunahan total spesies endemik ini, Kebun Raya Bogor sayangnya tak bisa membawa kembali kultur hasil propagasi ke alam liar. Seluruh habitat asli anggrek ini telah tergusur, berganti menjadi jalan dan bangunan milik manusia.

Baca Juga Beritaku: 3 Cara Merawat Jenis Anggrek Dendrobium Yang Menggemaskan

Bentuk, Warna, dan Cara Perawatan Anggrek Hartinah

Menurut para peneliti LIPI, Anggrek ini memiliki potensi menjadi induk silangan. Hal tersebut karena spesies anggrek ini mempunyai tandan bunga yang tegak dan kuat.

Pada ujung tandan, tumbuh sebuah bunga berbentuk bintang dengan tekstur tebal. Warnanya hijau dengan bibir ungu berbintik.

Daunnya berbentuk pita, berujung meruncing, dan memiliki panjang sekitar 50-60 sentimeter. Perdaunan pada kelopak dan mahkota bunganya memiliki ukuran hampir sama besar.

Permukaan atas daun berwarna kuning kehijauan dan permukaan bawahnya kecoklatan dengan warna kuning pada bagian tepi.

Mengenai perawatannya, dalam penanaman anggrek ini tidak bisa sembarangan. Menurut publikasi LIPI, konservasi secara ex situ masih belum berhasil baik di dataran tinggi maupun rendah.

Penangkaran secara in vitro pun masih mengalami kendala, dimana kegagalan umumnya terjadi pada proses aklimatisasi.

Sejauh ini, penangkaran masih mengandalkan proses regenerasi alami terkendali di Kebun Raya Bogor.

Proses itu juga terbantu dengan tindakan mikropropagasi, serta penelitian berkelanjutan berkenaan perkembangbiakannya.

Bersama dengan puluhan spesies anggrek lainnya, pemerintah Indonesia mengkategorikan Anggrek ini sebagai tanaman dilindungi.

Perlindungannya bernaung pada Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Berdasarkan peraturan tersebut, jual beli anggrek ini tidak boleh dilakukan kecuali untuk generasi ketiga.

Generasi ketiga sendiri adalah tumbuhan hasil penangkaran yang sudah mendapatkan izin dari intansi terkait, seperti Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam.

Kelangkaan spesies asli Indonesia ini sepatutnya menjadi perhatian bukan hanya pemerintah, namun juga masyarakat pada umumnya.

Setidaknya, masyarakat bisa membantu tindakan konservasi dengan tidak membeli spesimen Cymbidium Hartinah.

Nama dan Istilah Anggrek Larat

Anggrek Larat
Tampilan bunga dari anggrek larat

Selain Anggrek Hartinah, Indonesia memiliki 11 jenis spesies anggrek langka lainnya yang dilindungi. Salah satunya adalah Dendrobium Larat. Sama seperti Cymbidium jenis Hartinah, spesies ini juga berasal dari Indonesia.

Asal muasal nama Anggrek Larat karena spesies ini pertama kali ditemukan di pulau Larat, Tanimbar, Maluku. Selain menjadi flora identitas provinsi Maluku, Dendrobium Larat juga merupakan salah satu flora identitas Indonesia.

Dalam bahasa Inggris, flora ini di kenal dengan nama Cooktown Orchid. Berasal dari genus Dendrobium, spesies ini berkerabat dengan beberapa jenis anggrek lainnya seperti; Anggrek Merpati, Anggrek Albert, Anggrek Stuberi, Anggrek Jamrud, Anggrek Karawai, dan Anggrek Kelembai.

Flora yang memiliki dua sinonim (Vappodes phalaenopsis dan Dendrobium bigibbum) ini memiliki klasifikasi ilmiah sebagai berikut:

Nama Umum     : Anggrek Larat

Klasifikasi

  1. Kingdom : Plantae
  2. Clade : Tracheophytes
  3. Clde : Angiosperms
  4. Cladee : Monocots
  5. Ordo : Asparagales
  6. Famili : Orchidaceae
  7. Sub-famili : Epidendroideae
  8. Tribe : Dendrobieae
  9. Genus : Dendrobium
  10. Spesies : Dendrobium bigibbum

Tumbuhan yang memiliki sifat epifit (tumbuh menumpang pada tumbuhan lainnya) ini mempunyai batang berbentuk gada dengan pangkal berukuran kecil. Bagian tengah batangnya membesar, dan mengecil kembali di bagian ujungnya.

Perdaunannya berbentuk lanset dengan ujung tidak simetris. Daunnya memiliki panjang sekitar 12 sentimeter, lebar kira-kira 2 sentimeter, dan bagian daging daun yang tebal. Kesehatan Dendrobium bigibbum bisa dinilai dari banyaknya perdaunan yang tumbuh.

Dedaunan ini memiliki tekstur kaku dengan warna mulai dari hijau muda hingga hijau tua, yang tampak mengkilap di bagian permukaannya. Susunan daunnya melekat pada batang dan saling menekan satu sama lain.

Sementara bunganya berwarna ungu muda hingga ungu tua, putih, serta kombinasinya. Tandan bunganya memiliki panjang kurang lebih 60 sentimeter. Dalam satu tandan, umumnya terdapat 6-24 kuntum bunga.

Baca Juga Beritaku: Mengenal Anggrek Kantung Kolopaking

Kekhasan Anggrek Larat

Si ungu dari pulau Larat ini memiliki beberapa keunikan yang khas. Salah satunya adalah kemampuan untuk tumbuh dengan baik di daerah panas. Habitat aslinya bunga ungu cantik ini terdapat pada ketinggian antara 0-150 meter di atas permukaan laut.

Sama seperti Anggrek Hartinah, Anggrek Larat juga menyukai kucuran sinar matahari langsung yang cukup. Maskot provinsi Maluku ini biasa tumbuh menumpang pada pepohonan besar maupun karang-karangan dan celah tebing kapur di sekitar pantai.

Utuk bisa tumbuh optimal, tumbuhan ini membutuhkan suhu sekitar 32 derajat celsius dengan kelembaban sekitar 50%-60%. Jika tempat tumbuhnya bersuhu dingin, anggrek ini akan sulit berbunga. Sekalipun bisa berbunga, perbungaannya tersebut akan cepat layu dan busuk.

Flora yang memiliki kemiripan rupa dengan Anggrek Jamrud ini memiliki beberapa manfaat untuk kehidupan manusia. Selain sebagai tanaman ornamental, Dendrobium bigibbum juga bisa berfungsi untuk:

  1. Penghilang stres
  2. Salah satu bahan tonik panjang umur
  3. Mengatasi gangguan saraf otak
  4. Mengobati sakit gigi dan telinga
  5. Mengobati sakit demam dan nyeri sendi
  6. Bahan makanan (edible flower)
  7. Obat awet muda
  8. Mengurangi polusi dan toksin yang ada di udara

Untuk membudidayakan Dendrobium bigibbum, bisa melaluinya dengan cara menyemai dari bibitnya. Di pasaran, bibit flora ini dibanderol dengan harga sekitar Rp 50 ribuan.

Persebaran dan Cara Perawatan

Sebagai tanaman endemik, habitat asli Dendrobium bigibbum berada di pulau Larat, Maluku. Tetapi, karena daya tahannya yang tinggi flora ini bisa hidup di manapun, sepanjang daerah hidupnya memiliki udara agak kering dengan kelembaban rendah.

Toleransinya terhadap perbedaan suhu termasuk yang paling tinggi dalam keluarga anggrek. Tanaman ini bisa mentoleransi suhu udara yang sedikit lebih tinggi atau sedikit lebih rendah, tanpa mengalami efek buruk apapun. Hanya saja, suhu yang terlalu dingin dan lembab bisa membuat perbungaannya menjadi cepat busuk.

Karena kecantikan dan ketahanannya, banyak orang yang mulai membudidayakan Anggrek Larat. Selain budidaya sebagai tanaman ornamental, masyarakat juga membudidayakan anggrek ini agar tidak mengalami kepunahan. Beberapa instansi bahkan melakukan tindakan konservasi ex situ, kemudian mengembalikan spesimen ke habitatnya di alam liar.

Pembudidayaan Dendrobium bigibbum membutuhkan pot dari gerabah atau plastik, dengan media tanam kasar yang di padatkan. Untuk membuat media tanam yang cocok, umumnya menggunakan campuran kayu cemara, potongan kulit kayu, perlite, dan arang. Saat mulai longgar atau membusuk, media tanam ini wajib diganti dengan yang baru.

Ketika masih muda, Anggrek Larat membutuhkan banyak air. Sedangkan pohon dewasa hanya membutuhkan sedikit air. Karena itu, memperhatikan penyiraman adalah hal yang krusial dalam proses budidayanya. Ketika media tanam mulai mendekati kekeringan, pembudidaya harus segera melakukan penyiraman.

Tergantung kondisi tanaman dan tingkat kekeringan media tanam, penyiraman bisa dilakukan setiap dua hari sekali atau lima hari sekali.

Anggrek Tidak Menyukai Sinar Matahari Secara Langsung

Meskipun menyukai sinar matahari langsung, saat suhu sedang sangat panas, dan UV Index sangat tinggi, tetap harus memindahkan pot kultivar ke tempat yang lebih teduh. Jika merasa repot memindahkan tanaman setiap hari, maka bisa dengan menempatkan semacam tirai untuk menaungi kultivar.

Biasanya, pembudidaya menggunakan semacam kanopi berbahan paranet untuk menaungi kultivar Dendrobium bigibbum. Lokasi tanam dan paranet di atur sedemikian rupa, untuk meregulasi asupan sinar matahari agar tanaman tidak mengalami kekurangan ataupun kelebihan sinar matahari.

Selanjutnya, proses pemupukan setiap dua atau tiga kali sebulan menggunakan humus hijau dari hutan. Proses pemupukan tersebut dilakukan apabila penyiraman menggunakan air kerana tau air sumur. Sedangkan pada musim hujan atau saat udara lebih lembab, tanaman hanya membutuhkan pemupukan satu kali dalam sebulan.

Baca Juga Beritaku: Philodendron, 10 Jenisnya Yang Menjadi Incaran Kolektor Tanaman

Daftar Pustaka

  1. Redaksi Alamendah. 2009. Anggrek Hartinah Anggrek Tien Soeharto. Alamendah. https://alamendah.org/2009/09/13/anggrek-hartinah-anggrek-tien-soeharto/.
  2. Anggrek Hartinah (Cymbidium hartinahianum). Plantamor. http://plantamor.com/species/info/cymbidium/hartinahianum.
  3. Handini, Elizabeth. 2018. Mikropropagasi dan Radiosensitivitas PLBs Anggrek Tien Soeharto (Cymbidium hartinahianum) terhadap Iradiasi Sinar Gamma. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. http://lipi.go.id/publikasi/mikropropagasi-dan-radiosensitivitas-plbs-anggrek-tien-soeharto-cymbidium-hartinahianum-terhadap-iradiasi-sinar-gamma-/22260.
  4. Anggrek Larat. Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Anggrek_larat.
  5. Redaksi Alamendah. 2011. (Dendrobium phalaenopsis) Anggrek Langka dari Maluku. Alamendah. https://alamendah.org/2011/03/09/anggrek-larat-dendrobium-phalaenopsis-anggrek-langka-dari-maluku/.
  6. Ari. Dendrobium bigibbum dari Manfaat, Harga, dan Ciri-cirinya. Anggrek Mania. https://www.anggrekmania.com/anggrek-larat/.
Bagikan Ke