Kisah dari Ashabul Kahfi
Kisah Ashabul Kahfi (Foto: masjidalfa.or.id)

Ashabul Kahfi, Kisah 8 Nyawa Dalam Kisah Lengkap, Terlelap 309 Tahun

Posted on

Ashabul Kahfi dalam bahasa arab yang berarti penghuni-penghuni gua.

Beritaku.Id, Organisasi dan Komunikasi – Ashabul Kahfi merupakan kisah tentang tujuh orang pemuda yang beriman dan seekor anjing yang tertidur panjang selama 309 tahun di dalam sebuah gua, yaitu gua Rajib.

Oleh: Sri Damayanti
Penulis Kisah Islami/Kisah Nabi Dan Rasul

Di dalam kitab suci Al Qur’an Surat Al Kahfi, Allah SWT telah menyampaikan satu kisah dari kehidupan di masa lalu. Yaitu Kisah Ashabul Kahfi, kisah tujuh pemuda penghuni gua. Kisah ini tertulis di dalam Surat Al Kahfi ayat 9 sampai dengan 26.

Baca Juga Beritaku: Nabi Musa Dan Khidir AS, Pelajaran 3 Kisah Inspiratif Untuk Kesabaran

Asal Mula Pemuda Ashabul Kahfi

Kisah Ashabul Kahfi
Kisah Ashabul Kahfi Yang Tertidul Dalam Gua Rajib (Yordani): (Foto:Detik)

Tersebut bahwa tujuh pemuda tersebut adalah penganut agama Nabi Isa AS.

Namun menurut Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah yang telah dirajihkan. Bahwa para pemuda tersebut hidup di masa sebelum berkembangnya agama Nasrani.

Seandainya 7 pemuda tersebut beragama Nasrani, tentunya pendeta-pendeta Yahudi tidak mempunyai data mereka.

Akan tetapi, peristiwa tentang Ashabul Kahfi ini merupakan kisah yang diungkapkan oleh kaum Yahudi ke kaum Quraisy. Untuk menguji suatu kebenaran atas kenabian Rasulullah SAW.

Hal ini memberikan petunjuk bahwa peristiwa yang terjadi pada para pemuda Ashabul Kahfi ini telah terbukukan di dalam kitab-kitab dan sudah terjadi pada masa sebelum datangnya agama Nasrani.

Jadi kisah Ashabul Kahfi ini terjadi jauh sebelum zaman nabi Muhammad SAW. Wallahu A’lam Bissawab (Dikutip dari Tafsirul Qur’anil ‘Azhim (5/146) secara ringkas).

Baca Juga: Khutbah Orang Miskin Lebih Dulu Masuk Syurga Dari Orang Kaya, 500 Tahun

Siapa Nama 7 Pemuda Yang Bergelar Ashabul Kahfi?

7 (Tujuh) orang pemuda Ashabul Kahfi ini melarikan diri dari kekejaman Raja Diqyanius.

Yang kemudian mereka bersembunyi di dalam sebuah gua. Adapun nama dari tujuh pemuda tersebut, yaitu :

  1. Martinus,
  2. Kastunus,
  3. Maxalmena,
  4. Daminus,
  5. Bairunus,
  6. Yathbunus, dan juga
  7. Thamlika serta
    (Seekor anjing yang bernama Kithmir).

Allah SWT mengabarkan jika mereka itu adalah 7 orang pemuda yang lari demi menyelamatkan iman mereka. Dari kekejaman seorang Raja Persia yang bernama Diqyanius.

Mereka hanya menerima kebenaran serta lebih memilih kepada jalan yang lurus daripada generasi yang lebih tua dari mereka, yang mana mereka (generasi tua) itu suka mengingkari perintah Allah SWT.

Berbanding terbalik dengan kaum mereka, para pemuda itu beriman hanya kepada Allah SWT. Sehingga Allah SWT mensyukuri atas keimanan ketujuh pemuda itu, dan Allah SWT kemudian memberikan hidayah kepada mereka, yaitu petunjuk berupa ilmu yang bermanfaat dan juga amal shalih. Allah SWT berfirman di dalam Surat Maryam Ayat 76 : “Dan Allah akan menambahi petunjuk kepada mereka yang telah mendapatkan petunjuk”.

Di dalam Surat Al Kahfi Ayat 13, Allah SWT menjelaskan jati diri ketujuh pemuda Ashabul Kahfi tersebut, yaitu :

“Sesungguhnya mereka ialah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb Nya, dan kami tambah untuk mereka petunjuk”.

Dari Tafsirul Qur’anil ‘Azhim (5/146), Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah mengemukakan bahwa :

“Maka dari itu, kebanyakan orang yang menerima dakwah Allah SWT dan Rasul Nya berasal dari kalangan pemuda. Sedangkan kalangan dari para orang tua kaum Quraisy, masih banyak memegang teguh agama mereka, tidak memeluk agama Islam kecuali hanya sedikit saja”.

Raja yang Dzalim

Pada zaman dahulu, di Negeri Romawi tepatnya di Kota Afasus, dengan seorang raja yang baik dan bijaksana.

Namun, kabar atas wafatnya Raja sampai ke telinga Raja Persia. Diqyanius.

Diqnasius. Merupakan seorang Raja yang terkenal akan kedzalimannya dan juga penyembah berhala.

Raja Persia
Pemeran, Raja Persia Xerxes, Satau Seorang raja Yang Dzalim (Foto:kisahislam.net)

Setelah mendengar kabar wafatnya Raja Afasus. Raja Persia tersebut mengatur strategi untuk menyerang dan mengambil alih Kota Afasus. Hingga akhirnya.

Raja Diqyanius.
Berhasil menaklukkan Kota tersebut.

Walaupun Raja Persia tersebut. Terkenal akan kedzalimannya, akan tetapi rakyat Afasus tidak punya pilihan selain mematuhinya.
Jika tidak mematuhi, maka Raja dzalim tersebut tidak segan-segan membunuh rakyat Afasus.

Ashabulkahfi, Pemuda yang Besembunyi di Dalam Gua

Hingga suatu ketika, Sang Raja Dzalim mendengar kabar. Bahwa ada sekelompok pemuda yang tidak mau menyembah berhala. Saat mendapatkan pertanyaan.
Mereka (para pemuda) menjawab bahwa mereka hanya ingin beribadah kepada Allah SWT.

Karena tidak menuruti perintah Sang Raja dzalim tersebut, ke tujuh pemuda itu terancam akan terbunuh. Hal ini membuat ketujuh pemuda tersebut semakin yakin.
Bahwa Raja Persia adalah seorang Raja yang dzalim.

Kemudian salah satu dari mereka yaitu Thamlika, menyarankan untuk melarikan diri.

“Wahai Saudara-saudara ku. Baik aku atau pun kalian. Tidak bisa menemukan akal (ide) lagi selain harus lari (pergi) meninggalkan Raja yang dzalim itu, maka pergilah (kita) kepada Raja maha pencipta langit dan bumi”. Kata Thamlika.

Akhirnya, ketujuh pemuda tersebut bersembunyi ke dalam sebuah gua, yaitu gua Rajib. Lokasi gua ini terletak sekitar 8 Km dari Kota Amman, Yordania. Para pemuda tersebut teguh beriman kepada Allah SWT.

8 Nyawa (7 Pemuda + 1 Ekor Anjing) Tertidur Selama 309 Tahun

Saat masuk ke dalam gua Rajib, tujuh pemuda itu kemudian berdoa kepada Allah SWT untuk memohon atas rahmat-Nya dan belas kasih-Nya.

Permohonan yang mereka panjatkan kepada Allah SWT merupakan doa yang paling agung yang mencakup semua kebaikan (di kutip dari perkataan Syaikh Asy Syinqithi Rahimahullah).

Syaikh As Sa’di Rahimahullah menekankan bahwa doa dari para pemuda tersebut memiliki satu sisi terpenting yang bisa diambil.

Yaitu mereka menggabungkan (memadukan) antara suatu usaha yakni lari untuk menghindari fitnah dan menjaga iman mereka dengan cara bersembunyi di dalam sebuah gua.

Yang mereka padukan dengan berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar diberikan pertolongan dan kemudahan dalam urusan mereka.

Dan mereka juga tidak menyerahkan urusannya kepada mereka sendiri dan kepada makhluk yang lainnya (Sumber Taisirul Kaimir Rahman, Halaman 471).

Di dalam gua, mereka meminta pertolongan kepada Allah SWT. Sbagaimana tertuang di dalam Surat Al-Kahfi Ayat 10 :

“Ingatlah ketika pemuda – pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, dan kemudian mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami berikan lah rahmatmu kepada kami dari sisi Mu dan sempurnakan lah untuk kami petunjuk yang lurus di dalam urusan kami (ini)””.

Lalu kemudian Allah SWT mengabulkan doa mereka. Mereka tertidur lelap dalam jangka waktu yang lama, yaitu hingga 309 tahun. Sebagaimana hal ini tertuang dalam Surat Al-Kahfi Ayat 11 :

“Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu”.

Allah SWT Menjaga Mereka

Siapa yang bisa mencelekainya ketika yang melindunginya adalah Allah SWT?

Allah SWT menjaga mereka saat mereka tertidur panjang di dalam gua. Sehingga tubuh mereka tidak rusak sedikitpun. Bahkan anjing mereka pun tertidur layaknya mereka.

Maka jadinya ada 8 nyawa (7 Pemuda + 1 Ekor Anjing) yang tertidur selama 3 Abad tersebut.

Di dalam Al Qur’an Surat Al Kahfi Ayat 18, Allah SWT berfirman: 

“Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur, dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedangkan anjing mereka menganjurkan kedua lengannya di depan (muka) pintu gua. Dan apabila kamu menyaksikan mereka, tentu lah kamu akan berpaling (dari mereka) dengan melarikan (diri) dan tentu lah (hati) kamu dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka”.

Hal ini juga dikatakan oleh Syaikh ‘Abdur Rahman as  Sa’di Rahimahullah, beliau mengutip dari Ulama Tafsir, yaitu :

“Hal itu karena mata mereka selalu terbuka agar tidak rusak, hingga orang yang melihatnya mengira mereka terjaga (bangun) padahal mereka sesungguhnya sedang tertidur lelap.

Ini adalah pemeliharaan Allah SWT pada tubuh mereka. Karena pada umumnya, gesekan dari bumi bisa menggerogoti tubuh tubuh-tubuh yang menyentuh bumi.

Pada ketentuan Allah SWT, Dia membolak balikkan tubuh-tubuh mereka ke bagian kanan dan ke bagian kiri, sehingga tubuh mereka tidak rusak oleh bumi.

Meskipun Allah SWT adalah maha kuasa menjaga tubuh mereka tanpa perlu membolak balikkannya.

Akan tetapi, Allah SWT maha bijaksana. Dia ingin agar Firman-Nya berlaku dalam alam semesta dan juga mengaitkan adanya faktor sebab akibat.

Anjingpun Ikut Tertidur

Bahkan anjing yang juga menyertai para pemuda Ashabul Kahfi pun tertidur layaknya mereka. Anjing itu tertidur dengan mengunjurkan kedua kaki depannya (lengannya) di depan pintu gua.

Anjing Tertidur Dengan Kaki Kedepan
Anjing Tertidur, Dengan Posisi Kaki Kedepan, Pada Peristiwa Tertidurnya 7 Pemuda Ashabul Kahfi (Foto: Gerava)

Allah SWT juga menjaga mereka dari manusia, mereka pun terjaga dengan cara Allah menebarkan rasa takut kepada manusia yang melintasi gua.

Jika ada orang (manusia) yang melihat para pemuda itu, maka hati orang tersebut akan merasakan rasa takut, hingga mereka lari karena merasa ketakutan.

Hal inilah yang bisa membuat mereka lebih lama tinggal dalam gua, dan tiada satu orang pun yang bisa melacak keberadaan mereka, meskipun tempat keberadaan mereka sangat dekat dari kota yang mereka tempati.

Menurut Syekh Mohammad Mutawalli Sya’rawidi dalam Untaian Kisah-Kisah Qurani dalam Surat Al-Kahfi, menjelaskan :

Allah SWT menahan pengaruh dari waktu bagi ketujuh pemuda tersebut. Mereka tidak terpengaruh atas perubahan waktu dan juga tidak merasakan waktu yang mereka lalui selama mereka tertidur.

Dalam masa tidurnya, kota mereka pun mengalami perubahan masa hingga penggantian raja.

Dan kemudian Allah SWT membangunkan kembali ke tujuh pemuda Ashabul Kahfi dari tidur panjangnya saat Kota telah kembali aman.

Di Dalam Surat Al-Kahfi Ayat 19, yang berbunyi :

“Dan demikianlah kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)?”. Mereka pun menjawab: “kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “TuhanMu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke Kota dengan membawa uang perakmu, dan hendak lah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali kamu menceritakan halmu kepada seseorang pun””.

Siapa Nama dari ketujuh Pemuda Yang Menjadi utusan Mereka Ke Kota?

Setelah melalui perdebatan tentang waktu, akhirnya para pemuda Ashabul Kahfi tersebut mengutus salah satu dari mereka, yang bernama Thamlika.

Untuk pergi ke Kota dan mengecek keadaan di Kota. Namun alangkah terkejutnya dia, saat melihat keadaan di Kota yang telah banyak mengalami perubahan.

Kemudian Thamlika pun bertanya kepada salah seorang penduduk yang dia temui. Untuk memastikan kembali nama Kota yang dia lihat. Penduduk tersebut pun menjawab bahwa Kota itu adalah Kota Afasus, yang mana pada saat itu telah berganti kepemimpinan, yaitu Raja Abdurrahman.

Demikianlah sepenggal kisah tentang Ashabul Kahfi, kisah tujuh pemuda yang beriman. Kisah ini merupakan suatu pembelajaran tentang pentingnya menjaga iman dan taqwa kita kepada Allah SWT.

Sebagaimana tertuang dalam Surat Al-Kahfi Ayat 26 :

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Allah juga  mengetahui tentang masa mereka tidur, bagi Nya lah tertentu ilmu pengetahuan segala rahasia di langit dan di bumi, sungguh terang penglihatan-Nya dan sungguh jelas pendengaran-Nya (terhadap segalanya), tidak ada bagi penduduk langit dan bumi pengurus selain dari pada Nya dan Dia tidak menjadikan sesiapa pun masuk campur dalam hukum Nya””.

Penutup

Banyak kisah-kisah dari umat yang terdahulu yang telah Allah SWT firmankan dalam kitab Al Qur’anul Karim. Yang mana menunjukkan betapa besarnya kaidah dan manfaat bagi umat manusia, sebagai tuntunan untuk mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Dan dari kisah-kisah tersebut pula kita bisa lebih mudah meresapi setiap makna dan dapat mengambil pesan-pesan moral yang terdapat dalam setiap kisah yang shahih.

Baca juga: Kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha, Dari Sumur, Penjara dan Tahta Raja

Sumber bacaan lain:

  1. Detik,
  2. Suara.
Bagikan Ke