Duel Yang Mengakibatkan tewasnya penjual kopi
Duel Dengan Penjual Kopi, Tukang Becak ini The Winner yang di hadiahi Timah Panas

Duel 1 Vs 1 Penjual Kopi, Tukang Becak Ini The Winner Yang Di Hadiahi Timah Panas Akibat Rebutan Janda

Diposting pada Anda Pembaca Ke 200 Hari Ini

Beritaku.Id, Jombang – Cinta kadang memberikan kekuatan, cinta yang bersumber dalam jiwa akan menghasilkan kehalusan budi. Cinta tak berdasar akan membabi buta, dan membakar semua penghalangnya, duel kadang tidak bisa dihindari. Jumat 6/12/2019.

Mayat itu adalah Achmad Dwi Antoko (23). Jalan Basuki Rahmat, Jombang, Jawa Timur, mayat yang tergeletak diatas tanah dengan luka yang bersimbah darah tersebut terkuak apa penyebabnya.

Pekerjaan Achmad adalah sebagai pedagang keliling. Yang terlibat duel dengan Budiono yang bekerja sebagai tukang becak karena soal cinta dengan seorang janda.

Baca juga: Politik Wilayah Kebesaran Gowa Tallo, Kehidupan Ekonomi Yang Makmur

Duel, Tindakan Aparat Atas Akibat Duel Tersebut

Aparat bertindak cepat dan hasilnya Lelaki berusia 48 yang duel dengan penjual kopi tersebut berprofesi sebagai tukang becak tersebut. Tertangkap ketika sedang bekerja oleh Polres Jombang.

Berdasarkan penangkapan tersebut, akhirnya diketahui Budiono membunuh Achmad karena berebut perempuan alias cinta segitiga. Janda bernama PR (38), kemolekan tubuhnya membuat kedua orang ini harus bersaing dengan duel dan satu orang telah tersingkir.

“Hasil pemeriksaan, kasus pembunuhan ini terpicu oleh cinta segitiga. Pelaku cemburu terhadap korban karena dekat dengan PR.

Akhirnya pelaku nekat menghabisi nyawa korban, dengan duel sebelumnya.”

Kata Kapolres Jombang Ajun Komisaris Besar Boby P Tambunan, seperti terwartakan Beritajatim.com.

Boby menjelaskan, Budiono tertangkap di Jalan Raya Ploso Jombang sekitar pukul 10.00 WIB, Kamis. Saat itu, Budiono mendorong becaknya, tidak sadar bahwa dia telah terbuntuti oleh pihak polres Jombang.

Bak selebrasi kemenangan, dalam becak tersebut juga terdapat PR perempuan pujaan hati.

Namun Budiono tidak menyerah begitu saja, dengan cepat meninggalkan becak yang di tumpangi PR, melompat berlari. Personil polres yang menghadiahinya 1 butir timah panas ke kakinya.

Melalui penyergapan itu, pihak polres jombang berhasil menyita sejumlah barang bukti di antaranya bata merah, sandal, kaus warna hijau. Dan celana jeans pendek berwarna biru.

“Pelaku membunuh korban dengan cara dia tusuk menggunakan pisau. Namun setelah kejadian, pisau tersebut dia buang ke Sungai Brantas,” kata Boby.

Sebelumnya, sosok mayat pria ditemukan bersimbah darah di tepi Jl Basuki Rahmat Jombang, Rabu (2/10/2019) sekitar pukul 10.00 WIB.

Berita lain : Sumber

Duel
Salah satu foto janda cantik

Memperebutkan Janda STNK, Lelaki Kesepian Jadi Korban

ISTRI jadi TKI di Timur Tengah, menjadikan Bunadi, 33, kesepian. Ada janda baru, Atikah, 42, yang bahenol, dia berusaha mendekati. Ternyata bekas suami tak terima. Di kala  Bunadi sedang lobi-lobi asmara, Samirun, 36, mengeroyoknya bersama teman-temannya. Jadi bancakan sedemikian rupa, wasalamlah Bunadi.

Hati-hati pacari janda bukan akibat kematian, bisa-bisa bekas suami belum merelakan perpisahan itu. Di banyak kasus, bekas suami jadi nekad karena tak rela bekas istrinya di persunting lelaki lain.

Masalahnya, jika ada rejeki dan nasib baik, dia ingin kembali lagi pada eks istrinya tersebut. Jika tiba-tiba sudah di ambil alih pihak lain, apa nggak kecewa berat?

Bunadi warga  Kapetakan, Kabupaten Cirebon, rupanya tak berpikir sejauh itu. Begitu tetangga ada janda ngglondang (baca: nganggur), langsung mau diambil alih.

Soalnya dia sendiri juga sedang pusing, lantaran istrinya sudah setahun lebih jadi TKW. Sebagai lelaki normal, pusing kan berlama-lama puasa wanita?

Ketika istrinya masih ada di sampingngnya, sebetulnya Bunadi sudah punya perhatian pada Ny. Atikah yang seksi menggiurkan itu.

Tapi karena takut ketahuan istri, gejolak hatinya itu hanya di pendam di lembah hatinya yang paling dalam.

Cuma asal melihat langkah dan gerak wanita tetangganya itu saat belanja ke warung, jantungnya suka jadi kebat-kebit. Maka hati nurani pun mengingatkan, “Ingat, itu “ikan hias” yang hanya bisa dia lihat-lihat. Kembalilah pada “ikan asin”-mu.”

Ee, ndilalah kersaning Allah, rumahtangga Atikah – Samirun terjadi konflik horizontal yang berujung pada perceraian. Kebetulan sekali bini Bunadi juga sedang jadi TKW ke Timur Tengah, karenanya dia merasa peluang terbuka lebar di depannya. Ini harus dia manfaatkan sebaik mungkin. Jarang lho dapat kesempatan seperti ini. “Jangan ragu Bleh, karena peluang itu hanya datang sekali!” kata setan memberi semangat.

Status Quo

Mumpung Atikah dalam kondisi statusquo, Bunadi diam-diam mencoba mendekati.

Apa nggak kebanting, usia kan jauh lebih tua perempuannya? Nggak masalahlah, janda STNK kan justru dicari konsumen, karena suplay dan demand tidak sebanding. Yang penting dia mau, habis perkara.

Sejak itu dia rajin main ke rumah si janda yang masih gres. Ternyata  Samirun yang tinggal di Desa Karangkendal kecamatan sama, mendengar inofrmasi itu dari teman-temannya. Padahal dia cerai dengan istrinya karena terpaksa, bukan atas dasar kehendaknya.

Kapan-kapan Samirun memang ingin mengambil alih kembali. Ee, lha kok sekarang Bunadi mau mengambilnya. Padahal dia itu masih famili sendiri. Apa nggak menjaga perasaan orang hanya karena soal peranakan?

“Kalau nggak percaya, lihat! Asal sore-sore begini Bunadi mesti apel.” Kata sang pembakar.

Samirun pun jadi panas. Bersama dua temannya dia mendatangi rumah bekas istrinya. Eh bener, Bunadi nampak asyik sekali ngobrol dengan Atikah.

Langsung saja ketika tamu tak di undang itu mengeroyok Bunadi dengan senjata tajam. Meski mencoba menangkisnya dengan kursi, tapi karena terkeroyok tiga orang (bukan duel), akhirnya tumbang juga Bunadi. Warga hanya mendapatkan Bunadi sekarat dan akhirnya wasalam di rumahsakit.

Gara kesepian, akhirnya sepi sendiri di liang lahat.