Islam di Turki
Presiden Turki, Erdogan: Jejak Perjuangan Islam Turki (Foto: Islami.co)

Islam di Turki: Rekam Jejak Sejarah, Kisah dan Peninggalan Islam

Posted on

Islam di Turki dan Mesir telah ada sejak jaman khalifah. Ternyata Islam tak hanya hadir sebagai agama semata namun turut menyumbangkan perubahan dalam berbagai tatanan kehidupan.

Beritaku.id, Berita Islami – Turki dan Mesir mempunyai sejarah penting dalam perjuangan Islam ini ternyata menyimpan banyak kisah menarik di dalamnya. Kedua negara ini ternyata pernah menjadi saksi bagaimana para nabi Allah berdakwah memperjuangkan ajaran Allah SWT kepada umat manusia.

Nama : Nur Rahmawati Khairiah (Penulis Berita Islami)

Untuk itu berikut ini adalah sedikit tulisan mengenai rekam jejak Islam di Turki dan Mesir, mulai dari sejarah terbentuknya dua negara ini hingga peninggalan nabi dan rasul yang ada di sana.

Pada bagian pertama akan membahas mengenai sejarah perkembangan Islam di Turki.

Baca juga beritaku: Islam di Mesir: Perjalanan Sejarah, Kisah dan Peninggalan Islam

Sejarah Singkat Turki

Gambar  2 : Peta dunia Turki

Letak Geografis dan Demografis Turki

Turki merupakan negara yang terdapat di Benua Asia wilayah Barat. Neraga dengan luas kurang lebih 783.562 km persegi yang membentang melewati dua benua yakni Benua Asia dan Benua Eropa.

Sehingga bukan hal yang mengherankan jika Tukri dapat memberikan pengaruh cukup besar dalam sejarah dua benua raksasa tersebut.

Turki terkenal sebagai Negara Transbenua atau Trans-Kontinental ini berbatasan langsung dengan Negara Bulgaria, Yunani, Irak dan Suriah.

Sedangkan secara agraris, Turki berbatasan langsung dengan Laut Aegea, Laut Mediterania dan Laut Hitam.

Wilayah Turki terbentang mulai dari semenanjung Anatolia yang terletak di Asia Barat Daya hingga Thrace Semenanjung Balkan di Eropa bagian Tenggara.

Untuk Turki wilayah Asia dan Eropa terpisah oleh Laut Marmara, Selat Bosporus dan Selat Dardanella.

Baca juga beritaku: Rasul Di Irak Dan Mesir Manusia Pilihan, Siapa Saja?

Pendiri Turki

Pada sejarahnya, pendiri Turki adalah bangsa Turki dari kabilah Qayigh Oghus yang merupakan salah satu anak suku Turki.

Mereka mendiami sebelah barat gurun Gobi tepatnya sebuah daerah di Mongol dan utara Cina.

Pemimpin Suku Turki adalah seorang ketua bernama Sulaiman.

Demi menghindari serangan Bangsa Mongol kepada umat Islam, Sulaiman mengajak sukunya untuk pindah ke arah barat dan meminta perlindungan kepada Jalaluddin yang saat itu merupakan pemimpin terakhir Dinasti Khawarizm di Transoxiana.

Setelahnya suku ini kemudian menetap dan pindah ke Syam untuk menghindari serangan Bangsa Mongol.

Sayangnya pada saat perjalanan, suku yang terdiri dari pemimpin-pemimpin Turki ini mengalami kecelakaan yang menyebabkan mereka hanyut di Sungai Eufrat yang kala itu tengah pasang akibat banjir besar tahun 1228.

Kecelakaan ini menyebabkan suku Turki pecah menjadi dua kelompok yakni kelompok pertama adalah mereka yang pulang ke negeri asalnya dan kelompok kedua adalah mereka yang meneruskan perjalanan ke Asia Kecil.

Islam, Mesir dan Turki tidak dapat dipisahkan
Gambar 1 : Mesir dan Turki, dua negara saksi perkembangan Islam di dunia

Kelompok yang berisikan kurang lebih 400 kepala keluarga berada dalam kepemimpinan Ertugril ibn Sulaiman. Setelah sampai di Asia kecil, Kelompok Ertugril kemudian mengabdi kepada Sultan Alauddin II dari Dinasti Saljuk Rum yang memiliki pusat pemerintahan di Kuniya, Anatolia Asia kecil.

Kala itu Sultan Alauddin II tengah menghadapi ancaman perang dari Bangsa Romawi yang mempunyai wilayah kekuasaan di Romawi Timur tepatnya di Byzantium.

Berkat bantuan dari Kelompok Ertugril, Sultan Alauddin II memperoleh kemenangan dan atas jasanya tersebut pula Ertugril mendapatkan hadiah sebidang tanah di perbatasan Byzantium. Wilayah ini terus berkembang dan berkembang.

Baca juga beritaku: Silsilah 25 Nabi & Rasul: Asal Usul, Lokasi Dakwah Dan Sejarah Singkat

Sejarah Kekuatan Islam di Turki

Gambar  3 : Kerajaan Turki Usmani atau kerajaan Ottoman – sumber : Kisah muslim

Tepat tahun 1288, ketika Ertugril wafat ia meninggalkan putranya yang bernama Usman dan menunjuknya sebagai penerus kepemimpinan. Sultan Saljuk menerima usulan tersebut.

Bersamaan dengan itu, Usman resmi menjadi pemimpin Bangsa Turki serta menandakan awal terbentuknya Dinasti Usmani.

Tak jauh berbeda dengan Ertugril ayahnya, Usman banyak membantu Sultan Alauddin II dalam perang-perangnya. Kemenangan demi kemenangan Sang Raja persembahkan, membuat Sultan Alauddin begitu simpati padanya.

Salah satu bentuk penghargaan dari Sultan Alauddin II kepada Usman adalah menghadiahkan Usman gelar Bey serta mengangkatnya menjadi gubernur dan menyematkan namanya dalam doa Khutbah Jumat.

Kejayaan Turki Usmani

Turki Usmani atau Kesultanan Usmaniyah ini sempat menjadi kekuatan besar di dunia. Wilayah kekuasaan Kesultanan Usmaniyah ini begitu besar hingga meliputi hampir seluruh dataran Eropa, Asia dan Afrika.

Terbentang dari Budapest di pinggir Sungai Thauna hingga Aswan dekat hulu Sungai Nil, dari Sungai Eufrat hingga pedalaman Iran dan Babel-Mandeb di selatan Jaziah Arab. Kesultanan Turki Usmani berlangsung sekitar 625 tahun dan terdiri dari 38 sultan (Rahman, 2018).

Kesultanan ini mencapai masa keemasannya pada pemerintahan Sultan Sulaiman Agung pada abad ke 16 hingga ke 17 sebelum akhirnya mulai padam sejak Perang Rusia pada tahun 1877 sampai 1878.

Pada tahun 1914, Mustafa Kemal Pasha atau Mustafa Kemal Ataturk menggulingkan Kesultanan Turki Usmani melalui Perang Kemerdekaan.

Hasil dari perang ini adalah bubarnya Kesultanan Usmani pada 1 November 1922 dan berganti menjadi republik setahun kemudian tepatnya pada 29 Oktober 1923 dengan Ataturk sebagai presidennya. Dampak lainnya adalah pemindahan ibu kota Turki yang semula berasa di Istanbul menjadi Ankara sampai sekarang (Megayana, 2020).

4 Periode Pemerintahan Islam pada Turki Usmani

Pada perkembangannya, Kesultanan Turki Usmani terbagi menjadi lima periode di mana pada periode satu hingga empat merupakan periode Turki berada dalam kekuasaan Islam :

  1. Periode pertama yakni tahun 1299 sampai 1402 adalah periode berdirinya kerjaan, ekspansi hingga kehancuran sementara oleh serangan dari Timur. Suman I hingga Bayazid adalah pemimpin pada periode ini.
  2. Periode kedua mulai tahun 1402 sampai 1566 merupakan periode restorasi kerajaan dan pesatnya pertumbuhan hingga ekspansi kerajaan. Pemimpin pada periode ini adalah Muhammad I sampai Sulaiman I.
  3. Pada periode ketiga yakni tahun 1566 sampai 1699, kerajaan mengalami kemunduran pada pemerintahan Salim II hingga Mustafa II. Kemampuan kerajaan dalam mempertahakan wilayah mulai goyah sejak lepasnya Honggaria.
  4. Lalu pada periode terakhir yakni tahun 1699 sampai 1838, kekuatan kerajaan perlahan mengalami penuruan dan pemecahan wilayah dari masa pemerintahan Ahmad III hingga Mahmud II.

Kala Usman memimpin Kerajaan Turki paska deklarasinya sebagai Padisyah al-Usman atau Raja Besar Keluarga Usman sekitar tahun 1300 M, Usman kemudian melakukan ekspansi wilayah kerajaan.

Sebagai bentuk dukungan ekpansi wilayah, Orkhan membentuk pasukan khusus bernama Inkisyariah yang beranggotakan tentara utama Dinasti Usmani dari Bangsa Georgia dan Armenia yang baru saja masuk Islam.

Mereka dapat menaklukan beberapa wilayah antara lain Azmir di Asia Kecil, Thawasyani, Uskandar, Ankara dan Gholipolli yang berada di Eropa.

Setelahnya Kerajaan Usmani dapat memperluas wilayah kerajaan mereka hingga Balkan, Adrianopel atau Edirne, Macedonia, Sofia ibukota Bulgaria dan seluruh wilayah Yunani.

Ternyata keberhasilan Kerajaan Usmani dalam ekspansi wilayah ini membuat beberapa kerajaan Kristen terutama di Balkan dan Eropa Timur menjadi murka.

Untuk itu mereka kemudian menyusun kekuatan yang terdiri dari Hongaria, Bulgaria, Serbia, Walacia atau Rumania untuk menyerang Turki Usmani (Rahman, 2018).

Jejak Nabi dan Rasul di Mesir dan Turki

Sebagai kerajaan besar tentu Turki Usmani memiliki beberapa peninggalan sejarah yang tersebar di seluruh wilayah kekuasaannya. Beberapa bukti sejarah tersebut adalah Masjid Sultan Ahmad yang berada di Istanbul.

Selain itu ada juga Museum Ayasofya yang berada persis di hadapan Masjid Sultan Ahmad,  Museum Khora yang terletak di pinggiran Istanbul dekat dengan kawasan permukiman dan Museum Turki yang memiliki beragam informasi mengenai sejarah perjalanan Islam mulai dari masa Khulafaur Rasyidin hingga Kesultanan Turki Usmani (Sasongko, 2019)

Jejak Islam dan Peninggalan Nabi di Turki

1. Sanliurfa

Pertama ada Sanliurfa atau Mekkah-nya Turki. Nama Sanliurfa sendiri berasal dari kata Sanli yang berarti mulia dan Urfa. Kota ini dulunya termasuk dalam wilayah jajahan Perancis yang kemudian memerdekakan diri mereka.

Atas keberanian dan ketangguhan serta niat tulus para pejuang Urfa, pemerintah Turki kala itu memberikan penghargaan kepada kota ini dengan menambahkan kata Sanli di depan kata Urfa. Sejak saat itu Kota Urfa menjadi Sanliurfa.

Nabi Ibrahim, Ayub dan Luth pernah menempati kota yang terletak sebelah timur Turki ini.

Menurut sejarah Nabi Ibrahim mendapat julukan Halilullah ketika berada disini. Saat itu Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail melakukan perjalanan dari Urfa menuju Mekkah untuk mendirikan Ka’bah.

2. Balikhi Gol
Gambar  6 : Balikhi Gol dan kisah Nabi Ibrahim dilahap api  – sumber : muslimahdaily

Sanliurfa mempunyai sebuah danau yang bernama Balikhi Gol yakni sebuah danau yang air dan ikannya berasal dari kayu dan bara api yang pernah Raja Namruz gunakan untuk membakar Nabi Ibrahim.

Terdapat juga sebuah goa tempat lahir Nabi Ibrahim. Goa ini sekarang menyambung dengan sebuah masjid yang masih beroperasi sampai sekarang.

Tak jauh dari Salinurfa terdapat sebuah daerah bernama Harran.

Daerah ini banyak menunjukkan kondiri bagaimana Kota Urfa pada masa lalu. Menurut sejarahnya, nama Harran yang berarti panas ini mengacu pada kisah Nabi Ibrahim yang dibakar dengan api.

Selain itu ada pula Sumur Sifa Su yang digunakan oleh Nabi Ayub untuk menyembuhkan seluruh penyakitnya atas izin Allah. Sumur ini berada dekat dengan tempat tinggal Nabi Ayub yang sedang menyendiri karena penyakitnya (Syalla, 2014).

3. Hagia Shopia
Hagia Sophia, saksi perubahan pemerintahan Islam di Turki – sumber : britannica
Gambar  7 : Hagia Sophia, saksi perubahan pemerintahan di Turki – sumber : britannica

Terdapat pula Aya Sofya atau Hagia Sophia yang merupakan sebuah rumah ibadah di Istabul.

Hagia Sophia yang dalam bahasa latin disebut Sancta Sophia ini dahulunya merupakan sebuah Gereja Kebijaksaan Suci (Church of The Holy Wisdom) dan Gereja Kebijaksaan Ilahi (Church of The Divine Wisdom).

Pada masa Konstantius II, Hagia Sophia sempat menjadi tempat ibadah bagi Ortodoks sebelum akhirnya menjadi gereja bagi para penguasa dan menjadi Kathedral paling besar sepanjang pemerintahan Bizantium.

Pada masa pemerintahan Konstatinopel, Hagia Sophia beralih fungsi menjadi masjid.

Sultan Mehmed II masih mempertahankan nama Hagia Sophia sebab melihat dari arti nama Sophia dalam Bahasa Yunani berarti kebijaksanaan dan arti utuh dari nama Hagia Sophia yakni tempat suci bagi Tuhan.

Sultan Mehmed II tetap mempertahankan kesucian Hagia Sophia hanya merubah fungsinya dari gereja menjadi masjid saja.

Ornamen bernuansakan Kristen di Hagia Sophia tidak hilang melainkan menutupnya dengan plester. Sebagai gantinya hadirlah beberapa kaligrafi bernafaskan Islam di sana dengan menggunakan keahlian Kazasker Mustafa Izzet sebagai pembuatnya.

Ia menuliskan lafadz Allah SWT, Rasulullah, empat Khalifah pertama yakni Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali serta dua cucu Rasulullah dibeberapa bagian Hagia Sophia.

Terakhir saat masuk pada pemerintahan Kemal Ataturk, Hagia Sophia berubah fungsi lagi menjadi museum dengan menghadirkan seluruh ornamen asli baik dari Kristen maupun Islam di Hagia Sophia (Hadi, 2020).

4. Istana Topkapi
Istana Topkapi, menyimpan banyak peninggalan sejarah Islam di Turki
Gambar  8 : Istana Topkapi, beragam benda bersejarah milik Rasulullah tersimpan di sini – sumber : risalahtour

Jangan lupakan Istana Topkapi sebagai tempat napak tilas jejak nabi di Turki. Dalam Istana Topkapi tersimpan secara apik benda-benda bersejarah milik Rasulullah dalam ruangan bernama Paviliun Relikui Suci.

Terdapat benda bersejarah seperti pedang, mantel, gigi yang tanggal saat Perang Ubud, bakiak, bendera, cambuk, janggut, sajadah, tongkat, busur panah, ikat pinggang hingga stempel yang digunakan pada masa kenabian dulu (Huda, 2015).

Sumber :
  1. Hadi, A. (2020, Juli 14). Sejarah Hagia Sophia, Museum yang Dijadikan Masjid oleh Erdogan. Retrieved from Tirto.id: https://tirto.id/sejarah-hagia-sophia-museum-yang-dijadikan-masjid-oleh-erdogan-fQVy
  2. Huda, E. (2015, Maret 5). Menyusuri Jejak Nabi di Turki. Retrieved from dream.co.id: https://www.dream.co.id/your-story/menyusuri-jejak-nabi-di-turki-150304s.html
  3. Megayana. (2020). PETA TURKI : Sejarah, Letak Geografis, Geologis, Astronomi, Iklim. Retrieved from symbian planet: https://symbianplanet.net/peta-turki/#SEJARAH_TURKI
  4. Rahman, F. (2018). Sejarah Perkembangan Islam di Turki. Tasamuh : Jurnal Studi Islma Vol.10 No 2, 289-308.
  5. Sasongko, A. (2019, Juni 17). Jejak Sejarah Turki Ustmaniyah. Retrieved from Republika: https://www.republika.co.id/berita/pt8t05313/jejak-sejarah-turki-utsmaniyah
  6. Sanliurfa, “Mekkah” bagi Turki. Retrieved from serambi news: https://aceh.tribunnews.com/2014/12/24/sanliurfa-mekkah-bagi-turki?page=2
Bagikan Ke