Islam Di Mesir
Islam Di Mesir (Foto: Kota Islam)

Islam di Mesir: Perjalanan Sejarah, Kisah dan Peninggalan Islam

Diposting pada

Mesir, Turki, Arab Saudi merupakan area persebaran penyempurnaan Agama Islam di seluruh bumi, yakni Agama Allah yang Tauhid

Beritaku.id, Berita Islami – Jika sebelumnya kita telah membahas mengenai jejak Islam di Turki, maka kali ini akan membahas mengenai Islam di Mesir.

Oleh : Nur Rahmawati Khairiah (Penulis Berita Islami)

Islam di Mesir tak hanya sekedar kepercayaan semata. Islam memberikan warna tersendiri bagi negara yang terkenal dengan gurun pasirnya. Untuk itu berikut ini adalah sedikit tulisan mengenai rekam jejak Islam di Mesir mulai dari sejarah hingga peninggalan Islam di negeri Nabi Musa ini.

Baja juga beritaku: Islam di Turki: Rekam Jejak Sejarah, Kisah dan Peninggalan Islam

Sejarah Singkat Mesir

Peta dunia Mesir
Gambar 1 : Peta dunia Mesir

Letak Geografis dan Geologis Mesir

Mesir mempunyai luas wilayah yang cukup besar yakni sebesar 9997,739 KM persegi, terletak di antara dua benua besar yakni Asia dan Afrika. Kendati memiliki wilayah yang cukup besar, persebaran penduduk di Mesir sangat tidak merata yakni hanya sebesar 4% dari luas wilayah saja yang berpenghuni.

Hal ini antara lain karena sebagian besar wilayah Mesir merupakan padang pasir sehingga membuat masyarakatnya lebih memilih untuk tinggal di daerah sekitar lembah dan delta dari Sungai Nil yang subur.

Walaupun begitu, Mesir termasuk salah satu negara dengan sistem perekonomian yang cukup maju.

Secara geografis negara ini berbatasan langsung dengan empat negara, dua laut dan satu teluk.

Pada sebelah selatan dan barat Mesir berbatasan dengan Negara Sudan dan Negara Libya, sedangkan pada sisi utara dan timur Mesir berbatasan langsung dengan Negara Palestina, Negara Israel, Teluk Aqaba, Laut Tengah dan Laut Merah.

Secara geologis, negara ini memiliki bentang alam yang cukup menarik yakni terdiri dari lembah dan delta dari Sungai Nil dan wilayah ini merupakan pusat pemukiman serta pusat pertanian. Terdapat pula dataran tinggi Semenanjung Sinai yang terbentang dari timur Terusan Suez hingga perbatasan Yordania. Ada juga wilayah gurun barat dan timur yang luasnya hampie mencapai tiga per empat dari luas wilayah Mesir (geologinesia, 2018).

Baca juga beritaku: Battle Of Mohacs: Kemenangan Islam Terbesar Terhadap Eropa 1526 M

Peradapan Mesir Kuno

Sebelum Agama Langit tersebut masuk ke Mesir, negara yang akrab dengan Firaun dan Cleopatra ini telah menjadi bangsa dengan peradaban paling maju.

Peradapan Mesir Kuno sendiri telah berlangsung kurang lebih selama tiga ribu tahun atau sekitar 3200 – 3400 sebelum Masehi.

Kala itu hanya keluarga kerajaan yang berhak memimpin negara. Sedikit informasi, Firaun bukanlah nama raja melainkan sebuah sebutan untuk raja atau kelapa keluarga.

Dengan demikian hampir seluruh Firaun merupakan laki-laki walau tidak menutup kemungkinan terdapat beberapa wanita yang pernah memimpin Mesir Kuno.

Baca juga beritaku: 9 Tanda Kiamat, Sungai Eufrat (Lokasi, Dan Kondisi Sekarang)

3 Periodisasi Mesir Kuno

Bangsa Mesir saat itu menganggap Firaun sebagai Dewa Horus di Bumi (Ratna, 2016).

Selama memeritah, Firaun akan menunjuk seorang Wazir sebagai pengawas Adminitrasi kerajaan, Imam Agung dan tentara Milisia.

Darsiti Soeratma dalam bukunya Sejarah Afrika (2016) menjelaskan terdapat 3 periodisasi peradaban Mesir Kuno yakni:

  1. Zaman Kerajaan Mesir Tua (2700 – 2160 Sebelum Masehi). Peradaban ini mulai tepat setelah Menes berhasil menyatukan masyarakat Mesir hili dan hulu. Kerajaan Mesir Tua mencapai masa keemasan pada masa pemerintahan Firaun Pepi II. Pada masa ini pula, kerajaan ini banyak menerima budak guna membangun istana, piramida dan bangunan lainnya.
  2. Zaman Kerajaan Mesir Pertengahan (2160 – 1788 Sebelum Masehi). Tepat setelah Sesotris III berhasil mempersatukan seluruh Mesir pada 1800 sebelum masehi, saat itu pula masa Kerajaan Mesir Pertengahan di mulai. Pada masa ini pula kerajaan ini berhasil memperluas wilayahnya hingga Sudan dan Palestina.
  3. Zaman Kerajaan Mesir Baru (1500 – 1100 Sebelum Masehi). Masa Kerajaan Mesir Baru mulai ketika Thutmosis III yang berhasil mempersatukan Mesir juga menaklukan wilayah Mesopotamia. Pada masa ini pula munculah kepercayaan atas Dewa Amon dan Dewa Ra sebagai Dewa-Dewa tertinggi di Mesir.

Sebagai kerajaan besar, Mesir Kuno tentu memiliki beragam bangunan megah nan mewah sebagai bentuk majunya peradaban pada masa tersebut.

Beberapa bangunan tersebut antara lain Mastaba yakni pemakaman untuk tokoh penting di Mesir Kuno, Piramida yang ternyata merupakan bentuk pengembangan dari Mastaba, Kuil-kuil antara lain Kuil Amun, Karnak, dan Luxor, dan tak ketinggalan adalah Sphinx yang merupakan bentuk perlambangan dari Firaun (Prabowo, 2020).

Baca juga beritaku: Pembukaan Dakwah, 4 Contoh Sambutan Dan Ceramah (Sabar, Ikhlas, Sedekah, Ilmu)

Sejarah Kekuasaan Islam di Mesir

Kairo, Ibu Kota Mesir – sumber : GNFI
Gambar 2 : Kairo, Ibu Kota Mesir – sumber : GNFI

Sebelum masuk ke Mesir, wilayah ini terlebih dahulu jatuh dalam pelukan Romawi. Mesir kala itu menjadi satu-satunya negara yang berada di Afrika Utara dan merupakan daerah krusial bagi penyebaran Islam di dataran Eropa.

Afrika Utara merupakan gerbang masuknya Islam ke wilayah Eropa yang telah sekian lama berada di bawah kekuasaan Kristen.

Sebenarnya hubungan Islam dengan Mesir telah terjalin sejak Rasulullah masih hidup. Hal ini terlihat dari istilah kata Mesir sendiri mengambil dari nama seorang sahabat bernama Mishr Ibn Mihsrayim Ibn Ham Ibn Nuh As. Kendati demikian Mesir baru menjadi kota Islam pada masa Khalifah Umar (Haif, 2015).

Kisah Penaklukkan Mesir oleh Amru bin Al-Ash

Kisah Amru bin Al-Ash dalam menaklukan Mesir ini cukup menarik. Awalnya Rasulullah memerintahkannya menjadi seorang penarik pajak di Kawasan Syam. Tugas ini terus berlanjut hingga Rasulullah wafat dan masuk pada masa khalifah Abu Bakar.

Pada masa ini tugas Amru bin Ash bertambah yakni menjadi salah satu panglima pasukan.

Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Amru bin Ash mendapatkan tugas untuk menaklukkan beberapa wilayah yakni Suriah, Palestina dan Yordania dan akhirnya ia mendapatkan misi baru yakni menaklukkan Mesir.

Pasukan Muslim menaklukkan Mesir tepat pada 1 Ramadhan 21 H atau bertepatan dengan 641 Masehi oleh Amru bin Al-Ash pada masa khalifah Umar bin Khattab.

Pasukan ini berhasil menakhlukkan Suriah, Palestina dan Yordania. Saat itu Mesir berada dalam kekuasaan Kaisar Bizantium atau Kekaisaran Romawi Timur. Satu dekade lalu Dinasti Sasaniyah sempat menguasai wilayah Mesir dari Persia namun Romawi berhasil merebutnya kembali. 

Misi Membebaskan Mesir dari Penindasan Agama

Misi ini sebenarnya bukan karena semata-mata ingin menguasai Mesir saja, namun lebih kepada Kaum Muslimin pada saat itu tidak mempunyai pilihan lain setelah menaklukkan Suriah dan Palestina kecuali menaklukkan Mesir.

Kekhawatiran atas stabilitas wilayah Kaum Muslimin akan terganggu oleh Romawi yang sata itu tengah menguasi Mesir. Selain itu pula, Kaum Muslimin telah sejak lama mendengar adanya tindakan penindasan agama di Mesir oleh Heraklius (Haif, 2015).

Amru bin Ash kala itu hanya dibekali kurang lebih 6 ribu pasukan saja, hal ini karena pasukan inti tengah berjaga-jaga dari serangan Irak yang berada di bawah pemerintahan Dinasti Sasaniyah atau Persia.

Sebagian besar pasukan yang dibawa oleh Amru bin Ash adalah pasukan berkuda.

Baca juga beritaku: Retorika Perang Azerbaijan Dan Armenia Gagal, Konflik Sejak 1988

Keyakinan Melalui Surat Sang Khalifah

Pasukan ini bergerak dari Suriah menuju perbatasan Palestina kemudian melanjutkan perjalanan menuju Arisy dari Rafah. Khalifah Umar bin Khattab terus memantau pergerakan pasukan Amru karena khawatir jika Amru dan pasukannya akan kalah dalam peperangan sebab jumlah mereka yang terlampau sedikit dari pasukan Romawi.

Sehingga pada suatu ketika, Amru mendapatkan surat dari Khalifah Umar yang berisikan, “Apabila suratku sampai kepadamu sebelum engaku tiba di Mesir maka kembalilah. Akan tetapi jika engkau menerimanya saat telah sampai Mesir maka teruskanlah dengan keberkahan dari Allah.” Amru mendapatkan surat ini begitu ia dan pasukannya memasuki wilayah Arisy yang berada di pinggiran Mesir.

Maka dengan itu, Amru memutuskan untuk menyelesaikan misinya yakni menaklukkan Mesir dari Romawi. Perang antara Pasukan Amru dengan Romawi terjadi ketika Amru tiba di Benteng Farama.

Pada perang pertama, tentara Muslim berhasil menang. Perang pertama ini terjadi selama satu bulan.

Ketika hendak menyeberangi Sungai Nil, Pasukan Amru mengalami kesulitan sehingga Amru pun meminta bantuan kepada Khalifah Umar yang langsung mengirimkan pasukan tambahan sehingga pasuka Amru saat itu berjumlah 12 ribu orang.

Pasukan Amru bin Ash berhasil menaklukkan Iskandariah yang merupakan Ibu Kota Mesir pada tahun 641 Masehi. Atas keberhasilan ini, Amru bin Al-Ash kemudian menjadi Gubernur Mesir. Amru menjadikan Kota Fustat atau Kairo sebagai pusat pemerintahannya (Dayana, 2019).

Kejayaan Islam di Mesir

Islam mencapai kejayaannya di Mesir pada masa pemerintahan Dinasti Fathimiyah tepatnya saat Abu Manshr Nizar al-Aziz memerintah.

Pada masa pemerintahannya ini ia berhasil menyaingi pemerintahan Dinasti Abbasiyah di Bagdad, berdirinya Universitas Al-Azhar hingga pemindahan ibu kota dari Fustat menjadi Kairo.

Masa Pemerintahan Jauhar Al Katib

Awal mula pemilihan Kairo sebagai pusat pemerintahan bermula ketika Mu’izz Lidinillah yang merupakan Khalifah Fathimiyah melakukan perluasan wilayah sampai Mesir dengan memerintahkan panglima Jauhar Al Katib as Siqili untu menaklukkan Mesir.

Jauhar berhasil menaklukkan Mesir dan membangun sebuah kota baru yang ia beri nama Al Qahira pada tahun 969 lalu pada tahun 973, Mu’izz memutuskan untuk hijrah ke Mesir dan memilih Kairo sebagai pusat pemerintahannya. Ia sangat pandai dalam membangun kota barunya tersebut.

Jauhar mendirikan sebuah masjid besar yang kini dikenal dengan Masjid Al-Azhar, meletakan istana kerajaan tepat di jantung kota, serta membangun benteng-benteng untuk melindungi Kairo.

Benteng-benteng tersebut memiliki gerbang berpelat besi sebagai penghubung antara Kairo dengan Suriah dan Fustat. Jauhar juga membangun mushala-mushala di pinggir kota serta menyediakan lahan pemakaman bagi warga (Handasah, 2020).

Masa Pemerintahan Fathimiyah

Dinasti Fathimiyah memang tak bercanda dalam membawa Mesir ke puncak keemasannya. Wilayah kekuasaan yang semakin luas mencakup Afrika Utara, Sisilia, Pesisir Laut Merah, Palestina, Suriah, Yaman hingga Hijaz.

Kairo pun hadir sebagai pusat perdagangan terbesar di kawasan Laut tengah dan Samudera Hindia.

Selain itu Kairo menjadi pusat pendidikan dan kegiatan ilmiah hingga mampu bersaing dengan dua Ibu Kota Islam lainnya yakni Bagdad dari Dinasti Abbasiyah dan Cordoba dari Dinasti Umayyah di Spanyol.

Masa Pemerintahan Abu Mashur Nizar al-Aziz

Khalifah Abu Mashur Nizar al-Aziz yang saat itu menjadi pemegang puncak kekuasaan tertinggi di Mesir terkenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan murah hati.

Tak hanya hidup dalam kota yang cemerlang dan modern namun ia juga berhasil memberikan toleransi tak terbatas kepada umat Kristen.

Ia juga lebih mengutaman kecakapan serta keahlian dari pada pertalian keluarga dalam merekrut pekerja. Seluruh masyarakat Mesir tak peduli apapun agama dan kepercayaan mereka mempunyai kedudukan serta peluang yang sama.

Jejak Islam di Mesir

Gambar  3 : Piramida Giza dan Spikx – sumber : kompas

Jika mendengar kata Mesir dan Nabi maka yang terbesit dalam benak adalah Nabi Musa dan Nabi Harun. Kisah Musa berdakwah di Mesir serta melawan kekuasaan bengis Firaun memang sudah tak asing lagi bagi kita.

Namun ternyata jauh sebelum Musa dan Harus telah ada beberapa nabi yang pernah tinggal ataupun singgah di negeri ini.

Mesir, Kota Para Nabi

Sebelum Nabi Musa, Nabi Yaqub dan Yusuf adapula Nabi Idris yang pernah tinggal di Mesir dan Nabi Ibrahim yang sempat singgah di tanah ini.

Ada yang menarik dari kisah Nabi Ibrahim dengan Mesir yakni meskipun tidak tinggal di sana ternyata istri beliau yakni Siti Hajar merupakan seorang pelayan kerajaan Mesir.

Nabi Yusuf

Pertama ada Nabi Yusuf. Yusuf muda dijual sebagai budak hingga kemudian ikut berdagang bersama keluarga saudagar di Mesir.

Ia mendapatkan wahyu dan diutus menjadi rasul saat berada di Mesir dan sempat menduduki jabatan pemerintahan di sana. Nabi Yaqub yang tak lain adalah ayah dari Yusuf pun akhirnya tinggal di Mesir bersama putranya.

Nabi Musa

Selanjutnya ada  Nabi Musa dan Nabi Harun. Siapa yang tak kena dengan kisah Musa membelah laut merah untuk menyelamatkan diri bersama para pengikutnya dari pasukan Firaun.

Musa lahir di Luxor, Mesir sebelum akhirnya sang ibu menghanyutkannya di Sungai Nil untuk menyelamatkan nyawanya. Musa kecil kemudian ditemukan oleh istri Firaun dan merawatnya.

Nabi Harun

Pengangkatan Musa sebagai nabi diiringi dengan permintaannya kepada Allah untuk turut pula mengangkat saudaranya yakni Harun untuk menjadi nabi.

Mengenal nabi Harun ia merupakan saudara kandung berjarak lima tahun lebih muda dari Musa.

Beliau merupakan seorang ahli bahasa yang baik dan sopan. Bersama dengan Musa, Harun turut serta dalam menyebarkan agama Allah juga turut membantu Musa menghadapi Firaun (Sasongko, Nabi-Nabi yang diutus di Mesir, 2019).

Kisah nabi-nabi yang tinggal di Mesir berhenti saat Nabi Musa membawa Bani Israil ke Palestina. Setelahnya memang ada beberapa utusan-utusan dari para nabi saja yang singgah di sana hingga akhirnya Nabi Isa pun datang (Nasrullah, 2020).

Peninggalan Islam

Beberapa bentuk peninggalan nabi dan rasul di Mesir dapat kita temui dengan mudah antara lain ada Piramida Giza, Spinkx hingga Mummi Firaun yang diawetkan sebagai bentuk kekuasaan Allah.

Gambar  4 : Uyun Musa, mata air yang menyelamatkan Bani Israil dari kekeringan – sumber : planegypttours

Uyun Musa

Uyun Musa atau mata air Nabi Musa yang terletak di perbatasan Suez dan perbukitan Sinai. Mata air tersebut muncul untuk menyelamatkan umat Musa dari bencana kehausan paska pelarian dari Firaun.

Awalnya mata air tersebut berjumlah 12 buah namun sekarang hanya ada satu yang masih memancarkan air.

Gambar  5 : Gunung Sinai yang lebih dikenal dengan Bukit Tursina – sumber : republika

Gunung Tursina

Ada juga Bukit Tursina, bukit tempat Nabi Musa mendapatkan wahyunya. Bukit yang kerap dikenal dengan Bukit Sinai, Jabal Tur, Jabal Musa ataupun Gunung Horeb ini terletak di Semenanjung Sinai, Mesir dekat dengan gereja Saint Catherine.

Sumber :
  1. Dayana, A. S. (2019, Mei 6). Sejarah Pasukan Islam Menaklukkan Mesir pada 1 Ramadhan. Retrieved from Tirto.id: https://tirto.id/sejarah-pasukan-islam-menaklukkan-mesir-pada-1-ramadan-dq8N
  2. geologinesia. (2018, September 29). Letak Astronomis, Geografis dan Geologis Negara Mesir serta Keuntungannya. Retrieved from Geologinesia: https://www.geologinesia.com/2018/09/letak-astronomis-geografis-dan-geologis-mesir.html
  3. Haif, A. (2015). Sejarah Perkembangan Peradaban Islam di Mesir. Jurnal Rihlah Vol II No 1, 69-74.
  4. Handasah, W. (2020, Januari 15). Sejarah Kairo Sebagai Titik Penting Peradaban Islam. Retrieved from khazanah: https://www.republika.co.id/berita/q44n2o430/sejarah-kairo-sebagai-titik-penting-peradaban-islam
  5. Nasrullah, N. (2020, Maret 16). Alasan Mengapa Mesir disebut sebagai bumi para nabi? Retrieved from republika: https://republika.co.id/berita/q7aolg320/alasan-mengapa-mesir-disebut-sebagai-bumi-para-nabi
  6. Prabowo, G. (2020, November 25). Peradaban Mesir Kuno: Periodisasi dan Sistem Pemerintahan. Retrieved from kompas.com: https://www.kompas.com/skola/read/2020/11/25/123835369/peradaban-mesir-kuno-periodisasi-dan-sistem-pemerintahan?page=all
  7. Ratna, D. (2016, April 22). Menakjubkan, inilah sejarah peradaban Mesir Kuno yang megah. Retrieved from Merdeka.com: https://www.merdeka.com/pendidikan/menakjubkan-inilah-sejarah-peradaban-mesir-kuno-yang-megah.html
  8. Sasongko, A. (2019, Juli 19). Nabi-Nabi yang diutus di Mesir. Retrieved from Republika: https://www.republika.co.id/berita/puuhc4313/nabinabi-yang-diutus-di-mesir-part4
Bagikan Ke