Jadi Irup, Sekcam Mariso Tekankan ASN Wajib Ikut Upacara Maupun Apel
Jadi Irup, Sekcam Mariso Tekankan ASN Wajib Ikut Upacara Maupun Apel

Melakukan proses berdisiplin dengan meningkatkan keaktifan dalam kegiatan Apel Upacara, seperti yang dilakukan Sekcam Mariso

BERITAKU.ID, MAKASSAR – Puing-puing cinta beterbangan, tinggal kenangan yang tertinggal. Mimpi indah tak pernah nyata, hanya luka yang kurasa.

Dengan seragam sebagai ASN, puluhan pegawai berdiri dengan rapi dan tertib. Menghadpkan diri pada prosesi rutin sebagai pegawai negeri.

Arahan Sekcam Mariso Pada Kegiatan

Sekretaris Camat (Sekcam) Mariso, Andi Irdan Pandita memimpin pelaksanaan apel yang diikuti oleh para Lurah. Kasi dan Kasubag serta staf lingkup Kecamatan dan Kelurahan di halaman rujab Camat Mariso. 

Hampir tidak ada yang berbeda dengan kegiatan sebelumnya, semua berjalan normatif.

Andi Irdan Pandita dalam sambutannya menekankan kedisiplinan utamanya pada pelaksanaan upacara maupun apel.

“Setiap ASN mesti mematuhi aturan kepegawaian mulai dari mengikuti upacara atau apel, absensi dan pelayanan optimal ke masyarakat. Jangan pernah abaikan kedisiplinan,” ujar Andi Irdan Pandita.

Sekcam Mariso tersebut juga menyampaikan terima kasih kepada Lurah Lette beserta warga dan tokoh masyarakat. Yang sangat antusias dan berpartisipasi dalam event Lorong Fajar 2019 beberapa hari yang lalu.

Selain itu, Andi Irdan Pandita juga mengaharapkan kepada seluruh ASN agar mensukseskan program-program Pemerintah yang dicanangkan oleh Pj. Wali Kota Makassar seperti Gema Sabtu Bersih dan Minggu Sehat.

Sejarah Nama Mariso Kota Makassar

Menyebut kata Mariso yang terbayang adalah Pasar Senggol, maklum pasar tradisional tersebut berada dibawah kawasan Kecamatan Tersebut.

Namun bagaimana sejarah nama Kecamatan Mariso? Berikut penelusurusannya.

Pemberian Nama Mariso, berhubungan dengan pendirian Benteng Rotterdam di Kota Makassar. Yakni Disekitar benteng, terdapat 3 perkampungan yang berdekatan.

Yakni Kampung Melayoe, Kampung Baroe dan Kampung Maruso.

Kampung Melayoe merupakan kampung untuk para pedagang Melayu, hal ini berkaitan dengan perjanjian antara Raja Gowa diabad ke XVI. Dengan pedagang melayu.

Untuk memberikan ruang kepada pedagang dari Sumatera. Sementara untuk pedagang Arab diberikan tempat di Kampung Baru, bercampur warga asli Sulawesi.

Sementara di Kampung Maruso bercampur warga Madura, jawa dan sebagainya, yang menghuni bagian Selatan dari Benteng.

Dulu namanya Maruso, namun seiring waktu berubah menjadi Mariso.

Sementara itu pendapat lain menyebutkan, bahwa Mariso berasal dari kata Makkareso atau bekerja keras. Kemudian mengalami perubahan dan akhirnya menjadi Mariso Kota Makassar.

Beritaku: Jasa Kemal Idris, Jenderal Sampah Hingga Perluasan Makassar

Tinggalkan Balasan