Pil Koplo

Pil Koplo, Perusak Generasi: Pengertian, Sejarah Hingga Efeknya

Diposting pada

Pil Koplo merupakan narkoba yang kerap di salahgunakan hingga merusak masa depan generasi muda. Artikel ini membahas pengertian pil koplo, Kemudian turunannya, sejarah, 7 jenis yang biasa di konsumsi, serta kegunaan dan efek yang di timbulkan. Juga mengulas hubungan narkotika ini dengan dangdut.

Beritaku.id, Berita Budaya – Dalam sebuah buku monumental berjudul Metaphysics, Aristoteles mengatakan bahwa setiap manusia pada dasarnya adalah makhluk yang ingin tahu. Sudah merupakan kodrat manusia untuk berpikir, ingin mengenal, menggagas, Kemudian merefleksikan baik dirinya, sesamanya, Tuhannya, keseharian hidupnya, lingkungannya, asalnya, tujuan keberadaannya, serta segala sesuatu yang berpartisipasi dalam eksistensinya.

Ditulis oleh: Riska Putri (Penulis Berita Budaya)

Kodrat lahir ini menjadi bahan bakar bagi manusia untuk bertindak. Manusia bertindak dan harus bertindak. Harus bertindak secara filsafat serta memiliki arti bahwa tindakan manusia harus memenuhi standar atau kriteria normatif tertentu.

Hal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Bertindak sejatinya adalah ciri khas setiap makhluk yang hidup di ruang fana ciptaan Tuhan. Perbedaannya, manusia tidak hanya bertindak. Harus bertindak pada kodrat manusia melukiskan eksistensi manusia itu sendiri secara mendalam.

Alasannya? Karena tindakan yang di ambil manusia tidak hanya berkaitan dengan eksistensinya sebagai makhluk hidup, melainkan juga mencetuskan nilai-nilai manusiawi dan moralitas yang tidak di miliki makhluk hidup lainnya.

Selanjutnya, berbagai tindakan yang di lakukan manusia tidaklah bersifat tunggal, melainkan kompleks. Maksudnya, tindakan mencuri misalnya, jelas bukan hanya merupakan tindakan mengambil barang milik orang lain tanpa izin begitu saja.

Selanjutnya tindakan tersebut terdiri atas elemen-elemen perbuatan yang kompleks, yang mengalir dari rentetan motivasi dan alasan untuk melakukan pencurian.

Artikel ini pun di tulis sebagai suatu tindakan manusia, yang ingin menyelami tindakan manusia lainnya. Bahan pembahasannya? Penyalahgunaan sebuah obat kelas narkotika yang kerap di sebut “Pil Koplo”. Apakah Pil Koplo itu? Mari baca ulasannya berikut ini.

Pengertian dan Turunan Pil Koplo

Secara etimologis, nama Pil Koplo di lekatkan pada obat-obatan golongan psikotropika, yang kemudian kerap di salahgunakan pecandu narkotika kurang modal. Kata “koplo” sendiri berasal dari bahasa Jawa, yang memiliki arti “dungu”. Pas sekali kan?

Mengenai psikotropika, menurut Undang-Undang nomor 5 tahun 1997, psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis, yang memiliki khasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan aktivitas mental dan perilaku.

Pil koplo
Pil koplo. Sumber Unair News

Perlu di tekankan, Bahwa psikotropika berbeda dengan narkotika. Dalam Undang-Undang nomor 35 tahun 2009 di jelaskan bahwa narkotika ialah zat atau obat yang berasal dari tanaman dan bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya sensitifitas indera perasa, mengurangi sampai menghilangkan nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Kembali ke pembahasan awal, istilah Pil Koplo di masyarakat di gunakan untuk menyebut golongan obat-obatan anti-cemas dan anti-insomnia yang di salahgunakan. Sederhananya, obat-obatan tersebut di gunakan secara ngawur, tanpa petunjuk atau pengawasan dari dokter.

Dosis yang di gunakan sebatas kira-kira saja, karena bukan di maksudkan untuk mendapatkan khasiat terapeutik, Tujuannya sebatas mengambil efek samping obat-obatan tersebut, yang di amplifikasi oleh penggunaan dosis tinggi, membuat para dungu ini merasa melayang atau “high”dan nge-“fly”.

Obat-obatan yang termasuk dalam golongan Pil Koplo umumnya merupakan obat-obatan psikotropika yang bersifat hipnotik dan sedative yang sering di gunakan oleh dokter untuk mengobati pasien penderita insomnia atau gangguan kecemasan. Di masyarakat, obat-obatan ini memiliki “nama” keren seperti; BK, Double L, dan Dextro.

Di lansir dari laman resmi Badan Narkotika Nasional (BNN), BK merupakan sebutan untuk obatan-obatan sebagai berikut:

  1. Barbiturate
  2. Bromazepam (lexotan)
  3. Diazepam (valium)
  4. Flunitrazepam (rohypnol)
  5. Nitrazepam (modagon)
  6. Nitradiazepan (nipam)

Sejarah Pil Koplo di Indonesia

Berat rasanya untuk menulis hal ini, namun nyatanya penyalahgunaan obat-obatan jalin menjalin sangat kuat dengan sejarah bangsa Indonesia. Sejauh yang bisa di telusuri sejarah, madat atau penggunaan narkoba telah menjadi bagian kehidupan sejak zaman kolonial.

Tak aneh, karena pemerintah kolonial pernah menjadikan bisnis narkoba sebagai komoditas legal. Para pecandu narkoba bagaikan sapi perah yang menjadi penyumbang penting kas pemerintahan kolonial.

Pil koplo
Pil koplo. Sumber Republika

Sekitar kurun waktu tahun 1827 hingga 1833, pemerintah kolonial memonopoli pasar opium yang menyumbangkan sekitar 12% penghasilan pada kas pemerintah. Aturan main dan pasarnya di lokalisasi, termasuk di tangsi-tangsi militer. Maka tak perlu kaget, jika 60% sersan serdadu kolonial pribumi adalah pecandu opium.

Beralih dari zaman kolonial, penyalahgunaan narkoba di zaman modern bisa di bagi dalam tiga linimasa, yaitu; era 1970-an, era 1980-an, dan era 1990-an hingga sekarang.

Pada era 1970-an, obat-obatan yang kerap di salahgunakan adalah golongan narkotika berjenis morphine dan cannabis (ganja). Morphine, atau Morfina dalam bahasa Indonesia, adalah sejenis alkaloid analgesik dan merupakan agen aktif utama yang juga di temukan pada opium. Terasa tak asing?

Pemadat era 1970-an memang masih mencandui efek samping obat-obatan yang serupa dengan efek samping opium. Sensasi teler yang di hasilkan dari penggunaan dosis tinggi, entah kenapa sangat di gandrungi oleh para pemadat. Padahal selanjutnya penggunaan berlebihan bisa menyebabkan kematian yang berasal dari kesulitan bernafas, tekanan darah rendah, dan kejang-kejang.

Baca Juga Beritaku: Pil Koplo ‘Y’, Obat Terlarang yang Bikin Teler Berhari-hari

Pil Koplo Mulai Ngetren Di Era 80-an

Satu dekade kemudian, obat-obatan yang nge-tren adalah jenis yang di sebut Pil Koplo ini. Umumnya para pemadat menyalaghgunakan obat-obatan seperti rohibnol, megadon, nipam, lexotan, dan sebagainya.

Tren datang dan berlalu, selanjutnya Pil Koplo yang datang menggantikan morphine dan ganja, kembali di gantikan oleh tren yang baru. Kemudian di pertengahan 1990-an para pemadat mulai berkenalan dengan obat-obatan yang di kenal dengan nama ecstasy, putau, dan sabu-sabu.

Era 1990-an ini berlangsung hingga sekarang untuk para pemadat kelas kakap, sementara para pemadat kelas teri bertahan pada penggunaan Pil Koplo yang cenderung lebih murah dan mudah di dapatkan.

Hubungan Pil Koplo dan Aliran Dangdut Koplo

Selain menjadi sebutan untuk obat-obatan terlarang, kata “koplo” juga berkaitan erat dengan salah satu aliran musik nusantara. Tidak lain dan tidak bukan, Dangdut Koplo yang lahir di pesisir timur pulau Jawa.

Selanjutnya turunan dari musik dangdut klasik ini memiliki aransemen musik yang memiliki ciri khas irama tabuhan gendang yang cepat. Aliran musik yang di gadang-gadang sebagai puncak evolusi musik dangdut ini, lalu saat di mainkan kerap membuat pendengarnya ingin berjoget.

Pil Koplo
Ilustrasi mabuk pil koplo. SUmber Jambiupdate.co

Irama musik yang rapat dan membuat pendengarnya ingin bejoget ini layaknya candu yang membuat teler. Kemudian tanpa sadar, tubuh bergerak mengikuti irama, jantung berdetak mengikuti tempo tabuhan gendang yang bersemangat.

Efek yang di ciptakan dari aransemen khusus itu kemudian di narasikan sebagai perasaan nge-“fly” seperti mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Karenanya aliran musik tersebut kemudian di namai Dangdut Koplo.

Namun, berbeda dengan Pil Koplo, ketagihan Dangdut Koplo tidak menyebabkan efek samping berbahaya, Paling-paling hanya tubuh berkeringat akibat berjoget ria menikmati irama yang berderap.

filosofi Dari Dangdut Koplo

Lebih lanjut, Dangdut Koplo sesungguhnya memiliki filosofi yang bertolak belakang dengan arti namanya.

Dalam tulisan yang berjudul “Dangdut Koplo dan 20 Tahun Perayaan Distopid di Pulau Jawa”, seorang komposer musik asal Banyuwangi bernama Yennu Ariendra mengatakan:

Dangdut Koplo adalah distopia, dunia yang dibangun lewat kekecewaan namun dirayakan di dalam pesta yang gemerlap.

Selanjutnya Yennu berpendapat bahwa Dangdut Koplo memiliki potensi untuk menginisiasi perubahan signifikan di masyarakat, Alasannya aliran musik ini menawarkan dua hal dalam proporsi seimbang.

Pertama, keterbukaan dan eksperimentasi untuk melakukan inovasi.

Kedua, adalah tentang bagaimana ia tetap dapat menjaga dan memperkuat identitas kelokalannya.

Tak dapat disanggah bahwa Dangdut Koplo merupakan aliran musik yang sangat fleksibel dengan perubahan lingkungan. Ia berevolusi mengikuti aliran zaman, tanpa kehilangan jati dirinya.

Baca Juga Beritaku: Asal Usul Dangdut Koplo, Jenis Dan Warna Musik Indonesia

Jenis, Bentuk, dan Ciri Pil Koplo

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut daftar Pil Koplo yang kerap dikonsumsi masyarakat:

Phenobarbital

Merk dagang             : Phenobarbital, Phenobarbital Sodium, Phental 100, Sibital 200

Golongan                    : Antikonvulsan (anti-kejang) golongan barbiturate

Kategori                       : Psikotropika, obat resep

Bentuk                         : Tablet bundar berwarna putih

Bromazepam

Merk dagang             : Lexotan

Golongan                    : Antikonvulsan (anti-kejang) golongan benzodiazepine

Kategori                       : Psikotropika, obat resep

Bentuk                         : Tablet berbentuk kapsul, berwarna putih

Diazepam

Merk dagang             : Valium

Golongan                    : Antiansietas (anti-cemas) golongan diazepam

Kategori                       : Psikotropika, obat resep

Bentuk                         : Cairan injeksi

Benzodiazepine

Merk dagang             : Flunitrazepam, Rohypnol

Golongan                    : Antikonvulsan (anti-kejang)

Kategori                       : Psikotropika, obat resep

Bentuk                         : Tablet bundar berwarna putih, atau tablet kapsul berwarna hijau

Nitrazepam

Merk dagang             : Mogadon, Dumolid

Golongan                    : Sedatif-hipnotik golongan benzodiazepine

Kategori                       : Psikotropika, obat resep

Bentuk                         : Tablet bundar berwarna putih

Nitradiazepam

Merk dagang             : Nipam

Golongan                    : Sedatif-hipnotik golongan benzodiazepine

Kategori                       : Psikotropika, obat resep

Bentuk                         : Tablet bundar berwarna putih

Dextromethorphan

Merk dagang             : OB Combi Batuk Pilek, Vicks Formula 44, Ultraflu Extra, Antiza, Woods Peppermint Antitussive, Alpara, Actifed Plus Cough Suppressant, Brochifar Plus, Decolsin, Lacoldin, Mersidryl, Panadol Cold & Flu, Sanaflu Plus Batuk

Golongan                    : Antitusif

Kategori                       : Obat bebas

Bentuk                         : Tablet, sirop, dan permen pelega tenggorokan

Pengedar pil koplo ditangkap. Sumber FaktualNews.co
Pengedar pil koplo ditangkap. Sumber FaktualNews.co

Kegunaan dan Efek Pil Koplo

Obat-obatan yang disebutkan sebelumnya, sejatinya adalah obat-obatan yang diciptakan untuk membantu manusia. Jika digunakan dengan tepat, sesuai arahan dokter dan dengan dosisi terapeutik, obat-obatan tersebut memiliki khasiat untuk mengatasi berbagai permasalahan.

Kegunaan dan efek masing-masing obat dibedakan berdasarkan golongan kandungan utamanya, sebagai berikut:

Antikonvulsan

Antikonvulsan adalah obat yang digunakan untuk mencegah atau mengatasi kejang atau epilepsi, Obat antikonvulsan bekerja dengan menormalkan aktivitas listrik pada otak, sehingga kejang dapat dicegah atau diatasi.

Selain digunakan untuk anti-kejang, beberapa obat antikonvulsan juga bisa digunakan untuk meredakan nyeri akibat gangguan saraf (neuropati), mencegah dan mengobati sakit kepala, serta mengobati gangguan bipolar.

Efek samping dari obat antikonvulsan antara lain:

  • Kantuk
  • Mual
  • Muntah
  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Tremor
  • Lemas
  • Penglihatan ganda
  • Kerusakan hati
  • Kerusakan ginjal

Antiansietas

Antiansietas adalah kelompok obat yang di gunakan untuk menangani gangguan kecemasan, kemudian serangan panik, atau rasa takut dan khawatir berlebihan. Obat antiansietas bekerja dengan cara mempengaruhi sistem saraf pusat dan menyeimbangkan zat kimia di otak, sehingga aktivitas otak menjadi lebih tenang.

Selain di gunakan untuk meredakan gangguan kecemasan, obat antiansietas juga bisa di gunakan untuk:

  • Menangani kejang akibat epilepsi
  • Meredakan gangguan bipolar
  • Menangani rasa sakit akibat gangguan saraf trigeminal (trigeminal neuralgia)
  • Mengobati sulit tidur (insomnia)
  • Mengatasi gejala putus alkohol akut
  • Menjadi obat tambahan sebelum prosedur anestesi
  • Menjadi obat penenang
  • Meredakan gejala depresi

Efek samping penggunaan obat antiansietas antara lain:

  • Kantuk
  • Kebingungan
  • Sakit kepala
  • Penglihatan buram
  • Mual
  • Sakit perut
  • Diare
  • Konstipasi (sembelit)
  • Mulut kering
  • Peningkatan tekanan darah
  • Jantung berdebar atau denyut jantung tidak teratur
  • Keinginan untuk bunuh diri
  • Hipotensi ortostatik
  • Berat badan meningkat
  • Disfungsi seksual

Sedatif-hipnotik

Obat sedatif-hipnotik adalah obat-obatan yang di gunakan untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan serta dapat menimbulkan ketenangan (efek sedatif), atau untuk menginduksi tidur (efek hipnotik).

Efek yang di dapat bergantung pada dosis yang di berikan, dimana pemberian dosis rendah akan memicu efek sedatif,sedangkan dosis tinggi memicu efek hipnotik yang di milikinya.

Obat sedatif-hipnotik bekerja dengan cara menekan sistem saraf pusat secara selektif, sehingga tidak mempengaruhi suasana hati atau mengurangi kepekaan terhadap nyeri.

Efek samping dari obat sedatif-hipnotik antara lain:

  • Sakit kepala
  • Mual
  • Kehilangan ingatan jangka pendek
  • Insomnia
  • Mulut kering
  • Halusinasi
  • Pusing
  • Kantuk
  • Kebingungan
  • Ketergantungan
  • Diare
  • Batuk
  • Keinginan bunuh diri
  • Anemia

Antitusif

Antitusif adalah obat yang digunakan untuk mengurangi gejala batuk, yang terbagi menjadi dua jenis yaitu perifer dan sentral. Obat antitusif perifer bekerja dengan cara menurunkan sensitifitas reseptor batuk di paru, sedangkan antitusif sentral bekerja pada pusat batuk yang berlokasi di medulla otak.

Ilustrasi Jual Beli Narkoba
Transaksi Obat-Obatan Terlarang

Efek samping dari obat antitusif antara lain:

  • Kantuk
  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Penglihatan buram
  • Sakit perut
  • Mual
  • Konstipasi (sembelit)
  • Mulut/hidung/tenggorokan kering

Baca Juga Beritaku: Biodata Nella Kharisma, Dan Warna Dangdut Koplo di Tanah Air

Daftar Pustaka

  1. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.
  2. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.
  3. Humas Badan Narkotika Nasional. 2012. Hypnotic Drugs/Pil BK. Jakarta: Badan Narkotika Nasional. Diakses pada 17 Februari 2021.
  4. Ricklefs, Merle Calvin. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi.
  5. Suyono, R.P. 2005. Seks dan Kekerasan pada Zaman Kolonial. Jakarta: Grasindo.
  6. Ariendra, Yennu. 2020. Dangdut Koplo dan 20 Tahun Perayaan Distopia di Pulau Jawa. Yogyakarta: Goethe-Institut Asia Tenggara.
  7. Pane, Merry Dame Cristy. 2020. Antikonvulsan. Jakarta: Alodokter. Diakses pada 17 Februari 2021.
  8. Pane, Merry Dame Cristy. 2021. Antiansietas. Jakarta: Alodokter. Diakses pada 17 Februari 2021.
  9. Rogers, Kara. 2020. Sedative-hypnotic Drugs. Illinois: Encyclopædia Britannica. Diakses pada 17 Februari 2021.
  10. Davis, Charles Patrick. 2020. Hypnotics for Sleep: Side Effects and List of Names. California: MedicineNet. Diakses pada 17 Februari 2021.
  11. Deglin, Judith Hopfer dan April Hazard Vallerand. 2005. Pedoman Obat untuk Perawat. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  12. Schwartz, M. William. 1996. Pedoman Klinis Pediatri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  13. Editor WebMD. 2019. Antitussive Cough (DM) Syrup. Atlanta: WebMD. Diakses pada 17 Februari 2021.
Bagikan Ke