Sebuah retorika dalam sejarah
Retorika dan pentingnya (Foto: m.brilio.net)

Retorika: Pentingnya, Sejarah Perjalanan, Definisi, 8 Unsur Utama

Diposting pada

Retorika pada hakikatnya merupakan kebutuhan, Terutama kehidupan seorang organisatoris dan manajemen.

Beritaku.id, Organisasi dan Komunikasi – Banyak orang yang awalnya penakut, lalu tiba-tiba berubah menjadi pemberani hingga melakukan perlawanan.

Pentingnya, Unsur, Definisi, Manfaat, Struktur Retorika
Pentingnya, Unsur, Definisi, Manfaat, Struktur Dalam Retorika (Foto:Istimewa)

Juga banyak orang yang awalnya sangat kejam, kemudian berubah menjadi sangat melembut karena kemampuan persuasi yang baik oleh orang lain untuk mempengaruhinya menjadi lembut.

Dalam penulisan artikel ini, maka Retorika maknanya sama dengan penulisan Rhetorica, Rhetoric, Retoric, Retorica, Rhetorik atau Seni komunikasi dan Seni Berbicara serta seni berpidato. Note

Karena kemampuan Retoric, seorang dosen atau guru mampu menjelaskan mata kuliah sebaik mungkin. Karena Retoric pula, seorang wanita terjebak dalam perbuatan dosa.

Seperti itulah kekuatan retorika mempengaruhi orang lain, Rhetoric berisi doktrin sehingga dalam pengkaderan banyak menggunakannya.

Rhetoric itu keindahan yang menawan, serta menciptakan bunga rindu yang mekar. Dengan peleburan dalam konten komunikasi yang terlepas dengan gaya retoris dari seorang pembicara.

Meski biasa pula kita mendengarkan kalimat seperti ini, ketika membicarakan seseorang. “Ah itu retorikanya saja”. “Dia hanya pandai beretorika, tapi realisasi nol”.

Bermakna bahwa seseorang memiliki keindahan bahasa, dan cara penyampaian dan seni komunikasi yang baik.

Akan tetapi tidak memiliki kemampuan mewujudkan, dan atau tidak melaksanakan seperti apa yang ia sebutkan.

Maka untuk hal tersebut, kita akan membahas dalam artikel kali ini.

Pentingnya Retorika

Kemampuan beretorika adalah hal yang penting pada banyak orang, terutama yang memiliki aktifitas publik. Seperti: Politisi, dosen, pejabat, legislator, sales maupun manager.

Kemudian, bagaimana jadinya jika retorika tidak ada dalam kehidupan pendidikan (kampus mapun sekolah)?

Atau bagaimana jika seorang legislator tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dalam membahas anggaran atau program untuk daerah?

Jawabannya adalah “membosankan”. Pendengar hendak meninggalkan kursi sebab pembicaraan ini tidak menggairahkan maupun tidak menarik.

Tidak ada keluhuran dan keindahan tertinggi, selain dari kemampuan berbicara yang diberikan kepada manusia.Quintilianus

Konsep Penjualan Atau Pemasaran
Kegiatan Pemasaran Membutuhkan Metode Penjualan dengan Gaya Komunikasi Yang Menarik (Foto: Logique)

Berikut pentingnya komunikasi efektif dan menarik dalam kehidupan pejabat publik, yaitu:

  1. Menciptakan sinergitas antara pembicara dan pendengar,
  2. Mempercepat proses transformasi informasi,
  3. Menciptakan kepuasan bagi pembicara,
  4. Meningkatkan tingkat penjualan produk,

Sinergitas Antara Pembicara dan Pendengar

Terbentuknya sinergi berpikir antara pembicara dan pendengar merupakan hal yang penting dan menjadi bagian penting sebuah komunikasi.

Sinergi tersebut akan bisa terwujud jika konten yang baik tertunjang oleh gaya komunikasi rhetorica yang baik.

Proses Transformasi Informasi

Menyampaikan informasi dan komunikasi kepada orang lain dalam waktu yang relatif singkat. Ini menjadi harapan banyak orang dalam hal berkomunikasi.

Dengan kemampuan komunikasi yang indah dan menarik, maka pendengar akan cepat mengerti serta memahami sebuah pesan (isi). Sehingga dengan komunikasi yang retorik akan lebih menghemat waktu (efektif).

Kepuasan Bagi Pembicara

Menyampaikan pesan tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban (menyampaikan pesan). Namun juga seorang pembicara harus mencari kepuasan dalam penyampaian pesan tersebut.

Maksudnya puas karena telah membuat orang lain mengerti serta memahami apa konteks dan konten dari pesan yang tersampaikan.

Tingkat Penjualan Produk

Seorang yang bekerja sebagai sales biasanya mereka mendapatkan target kerja tertentu. Sehingga seorang manager penjualan selalu membekali bawahannya yang bekerja sebagai sales dengan ilmu komunikasi penjualan yang baik.

Dengan demikian, pada pencapaian target penjualan akan meningkatkan penghasilan sebuah perusahaan.

Kemampuan penjualan juga tidak hanya bagi mereka pada marketing, namun juga bagi seorang pendidik yang mengajarkan materi pendidikan kepada para pelajar atau siswa-siswanya.

Begitupun juga pentingnya seorang ustadz menguasai Retorika dalam rangka meningkatkan tingkat penerimaan dari materi agama yang disampaikan. Sumber lain: Indtimes.

Pada dasarnya, tidak ada satupun celah yang membuat kita tidak mempelajari kemampuan komunikasi efektif tersebut. Sebab manusia (seluruhnya) dikuasai oleh komunikasi dalam setiap hari.

Sejarah Retorika Dari Zaman Ke Zaman

Bagaimana perjalanan Retoric ini dari zaman ke zaman?

Perjalanan retorika zaman Yunani, Romawi, hingga sekarang, melewati serangkaian waktu yang panjang. Dan hal ini menjadi sejarah penting yang perlu untuk kita ketahui.

Pada dasarnya, keindahan komunikasi sudah ada sejak Nabi Adam AS. dan juga kita bisa membuka kembali Sifat Teladan Nabi Harun, Jubir Diantara Musa dan Raja Firaun Yang Kejam.

Hal itu bermakna bahwa jauh sebelum Plato, Socrates, Aristoteles hingga Cicero sampai Soekarno memiliki kemampuan komunikasi. Para Nabi telah memiliki gaya Retoris yang baik dalam menyampaikan risalah.

Namun, para Nabi ini tidak pernah mengajarkan teori-teori komunikasi yang baik. Tetapi lebih kepada penyampaian syiar Agama kepada umat.

Retorika Zaman Yunani Tahun 465 SM

Bermula dari seorang Filsuf bernama Syracius. Yang hidup pada daerah Sicilia. Dengan pimpinan atau penguasa tanah yang Tiran (kejam/Dzalim). Senang mengambil alih tanah rakyat.

Patung Aristoteles Di Yunani
Negara Yunani Dengan Patung Filsuf, sebagai pusat belajar Ilmu Filsafat/Filsafat Komunikasi (Foto: Sindonews.com)

Oleh Cyracius, mereka melancarkan perlawanan dengan seni komunikasi yang baik, dan alhasil ia berhasil menumbangkan kediktatoran dan menumbuhkan kembali demokrasi.

Masalah belum selesai setelah menumbangkan kediktatoran Tiran, sebab rakyat tidak langsung mengambil kembali tanah-tanah mereka. Melainkan harus berhadapan lebih dahulu dengan mahkamah.

Tidak ada Lawyer, dan tidak ada sertifikat tanah. Maka yang membuat mereka bisa mengambil kembali tanah-tanah mereka adalah kemampuan komunikasi yang baik.

Namun beberapa penduduk memiliki kemampuan komunikasi yang kurang meyakinkan.

Maka selanjutnya lahirlah tokoh bernama Corax, yang memberikan bekal kepada penduduk untuk melakukan argumentasi kepada mahkamah. Demi bisa mengambil kembali tanah mereka.

Artinya, bekal komunikasi meyakinkan yang menentukan, apakah berhasil kembali mengambil tanahnya ataukah tidak.

Berdirinya Sekolah Rhetoric Pertama 427 SM

Tepatnya pada Athena, berdiri sekolah Retorika yang pertama, oleh Gorgias. Sebagai Duta di Athena, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendirikan sekolah “belajar komunikasi “silat lidah””.

Gorgias merancang isi pembelajaran pada sekolah tersebut dengan bahasa yang lebih puitis dengan gaya komunikasi Impromptu (berbicara dengan cara spontan). Bayarannya tidak sedikit, sebab ilmu ini sangat langka dan baru pada zaman itu. Mahal.

Akhirnya, Gorgias bersama Protagoras mengembangkan manajemen pendidikan tersebut. Dengan berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Dan menarget orang-orang kaya untuk belajar ilmu Rhetoric.

Olimpiade Pidato 400 SM, Kehadiran Gorgias

Dengan karya Gorgias dan Protagoras dalam membina, maka muncullah kaum Sophiastik. Sebagai “guru kebijaksanaan” dengan mempelajari kemampuan komunikasi pada publik. Gorgias dan Protagoras adalah kaum sophiastik.

Puncak dari kemajuan Retorika terjadi pada tahun 400an Sebelum masehi, dengan penyelenggaraan olimpiade pidato.

Jadi, para penonton dari daerah jauh jaraknya dengan Athena berdatangan ke Kota itu. Untuk menyaksikan orang handal dan memukau saat berpidato serta berdebat. Menonton debat.

Dari olimpiade tersebut, melahirkan Demosthenes dan Socrates. Demosthenes sendiri, melakukan latihan selama berbulan-bulan dalam tempat pengasingan.

Ketika Gorgias, memakai gaya puitis saat menyampaikan pesan, maka Demosthenes tidak demikian. Melainkan ia menggunakan intonasi tajam dan keras dalam hal-hal tertentu.

Demosthenes lebih kepada penggunaan gestur saat tampil, dengan gerakan memutar badan pada mimbar. Memegang dahi dan sebagainya.

Dari sinilah lahir gerakan tubuh dan terkombinasi dengan gaya komunikasi Gorgias sebelumnya.

Penentangan Kaum Sophis, Oleh Socrates

Gorgias dan Protagoras adalah Sophis yang menjadi orang asing pada Negara Athena. Maka muncul konspirasi untuk melakukan penentangan terhadap mereka.

Socrates dan kawan kawan memandang, bahwa seharusnya rhetoric adalah hanya milik kaum elit, dan argumen ini di dasari oleh konsep yang dicetuskan oleh Socrates.

Tepatnya pada tahun 391 SM, Socrates mendirikan sebuah sekolah Rhetoric khusus kaum elit. Menyempurnakan konten pidato dengan menuliskan risalah penting (Ekstempore).

Meninggalkan gaya Impromptu yang di perkenalkan oleh Gorgias. Serta meletakkan penyusunan dan persiapan yang matang sebelum tampil berpidato.

Mengadopsi konsep Demosthenes dengan gaya komunikasi intonatif, lalu menyempurnakan dengan susunan kata dan kalimat yang baik.

Pada masa pendirian sekolah tersebut, Socrates melakukan penentangan kepada kaum Sophis atas bayaran mahal yang mereka minta. Dan melabeli mereka (kaum Sophis, Gorgias dkk) sebagai kaum prostitut (pelacuran ilmu).

Dari Socrates melahirkan murid terkenal, salah satunya adalah Plato.

Zaman Plato, Sophisme Vs Filsafat

Plato sebagai salah satu murid dari Socrates, menerima paham gurunya yang melakukan penentangan terhadap kaum Sophisme.

Mereka memandang, bahwa “Guru kebijaksanaan” yang menjadi label kaum Sophis (Gorgias & Protagoras) adalah ketidak benaran. Sebab bijaksana tidak boleh meminta bayaran mahal. Ini argumen kuat daripada Plato.

Plato melancarkan serangan kepada Kaum Sophisme, sebagai retorika palsu. Sementara Retorika benar adalah Socrates dengan gaya Filsafat.

Dari sinilah melahirkan perdebatan panjang dan rivalitas antara Sophisme Vs Filsafat.

Dalam pandangannya, Plato memberikan penekanan tentang pentingnya mengenal kemampuan jiwa pendengar (psikologi pendengar). Melalui karyanya yang monumental “dialog”.

Dari karya tersebut ia meletakkan retorika ilmiah dan psikologi khalayak, menanggalkan metode sophiastik dengan gaya mendayu-dayu atau terlalu puitis.

Penyempurnaan, De Arte Rhetorica Oleh Aristoteles

Murid Plato bernama Aristoteles.

Juga terdoktrin untuk melanjutkan Filsafat Dasar, dan mengembangkannya, dan akhirnya menyempurnakan tulisannya dengan judul De Arte Rhetorica (The Art Of Rhetoric).

Bagi Aristoteles menekankan pentingnya seorang pembicara (pembawa pidato) untuk menguasai retorika podium.

Dengan jelas akan kita temukan dalam tulisannya tentang 5 hal penting dalam berpidato. Dengan urutan sebagai berikut, yaitu:

  1. Inventio
  2. Dispositio
  3. Elocutio
  4. Memoria
  5. Pronuntiatio
Inventio (Persiapan)

Inventio merupakan dasar pidato dalam kajian Aristoteles. Persiapan adalah menemukan topik apa yang akan dikupas saat tampil. Serta siapa pendengar atau audiance.

Menemukan topik dan menemukan psikologi khalayak (sebagaimana teori Plato), menekankan pentingnya starting sebuah retorika pidato.

Sebab dari hal tersebut akan kita temukan argumen-argumen dasar apa (pokok bahasan besar) yang akan menjadi sebuah pengembangan.

Dispositio (Pengaturan)

Pengaturan merupakan penyusunan daripada struktur pidato, dengan meliputi: 1) Pembukaan atau Mukadimah, 2) Batang Tubuh (isi) dengan berbagai argumen, dan 3) Kesimpulan atau penutup.

Baca juga Beritaku : Menarik Dan Tidak Membosankan, Mukadimah Pidato Singkat, Penutup Yang Berkesan.

Pembukaan yang menarik.

Selanjutnya masuk pada batang tubuh dengan argumentasi yang kuat dengan data lengkap. Menyampaikan intisari dari sebuah pidato.

Seseorang harus mampu memaksimalkan ide dan pikirannya dalam batang tubuh tersebut.

Elocutio (Gaya/Style)

Segmen ini merupakan ciri khas seorang pembicara. Merupakan gaya atau style (Elocutio). Gaya atau Elocutio ini pertama kali oleh Demosthenes. Dengan gaya yang meliuk maupun memutar.

Pada dasarnya, gaya merupakan bagian penting dalam berpidato, hal ini kita kenal dengan gestur dan penyempurna daripada mimik.

Memoria (Ingatan)

Dalam hal memoria ini saat berpidato, maka seorang pembicara dituntut untuk memiliki ingatan yang kuat dalam hal pesan.

Jika menggunakan gaya Ekstempore, maka ia akan menggunakan kemampuan mengingat dan mengembangkan. Serta menghubungkan topik satu dengan topik lainnya.

Meski pada aplikasinya, terdapat orang yang menyusun pidato (disposita), setelah itu menghafal semua kata perkata. Dan menyebutkan hafalannya saat tampil. Metode ini kita kenal dengan nama Memoriter.

Pronuntiatio (Penyampaian)

Tampil pada khalayak ramai menyampaikan pesan. Kita sebut dengan pronuntiatio.

Dalam fase ini, semua persiapan telah sempurna dan selanjutnya akan pentas dan menjalankan peran, sesuai dengan isi pidato yang ada.

Maka kemampuan Acting sangat dibutuhkan untuk menyempurnakan penyampaian isi pesan kepada khalayak.

Maka kembali mengingat teori Plato tentang psikologi pendengar, harus menguasai psikologi mereka saat menyampaikan pesan (delivery).

Perkembangan Teori Rhetorica Zaman Romawi

Colloseum Romawi
Colloseum Romawi (Foto: Hidayatullah)

Yunani dan Romawi bersaing dalam hal kemajuan Ilmu Rhetorica, akan tetapi kemampuan Aristoteles menemukan dan menyempurnakan konsep tersebut dalam bentuk pidato.

Membuat penulis dan peneliti asal Romawi tidak mampu berbuat banyak, cenderung ikut “arus” teori Aristoteles tanpa melakukan penentangan.

Terhitung tahun 100 SM, penulis asal Romawi hanya menulis ulang karya Arsitoteles.

Namun harus kita akui bahwa Romawi, tidak hanya memiliki tempat belajar (sekolah) Rhetorik saja, melainkan pada negara tersebut menghasilkan banyak orator ulung.

Seperti Antonius, Crascus dan Cicero serta Hortentus. Mereka merupakan daftar nama orator handal di zamannya. Zaman kekaisaran romawi.

Cicero pada tahun 45 SM – 44 SM, menuliskan buku, sebagai pengembangan teori Socrates tentang nilai-nilai kebenaran.

Bagi Cicero, seorang pembicara harus menyampaikan hal baik.

Bukan hanya itu, pembicara juga harus memiki sikap dan perangai yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Namun Cicero harus mengalami nasib tragis pada akhir hayatnya, tepatya 7 Desember 43 SM. Ia terbunuh oleh pasukan kerajaan karena terlibat konflik dengan pihak kerajaan.

Yang meneruskan konsep dari Cicero adalah Quintilianus beberapa tahun kemudian. Dengan mengembangkan sekolah dan pendidikan rhetorica pada kerajaan Romawi.

Rhetorica Abad Pertengahan (5 – 407 Masehi)

Pada masa ini, seni berbicara mengalami sebuah kemunduran yang sangat tajam.

Hal itu karena Raja Romawi, melarang dan tidak senang dengan orang yang pandai berbicara.

Akibatnya para orator disimpan dibaris belakang dari kerajaan. Dan hampir mereka tidak mendapatkan tempat yang baik, sebagaimana pada masa sebelumnya.

Zaman ini, mereka yang pandai beretorika dianggap sebagai orang yang berbohong dan pandai berbicara saja.

Dalam sejarah selanjutnya Rhetorika dipergunakan (termanfaatkan) sebagai alat bahasa penyebaran agama Kristen.

Pada zaman Abad pertengahan ini melahirkan beberapa Pengkhotbah kristen seperti, Augstin, Paulus, Tertulianis, Lactantius, Victorianus, Aurelius dan Johanes.

Mereka penerus Retorika pada abad pertengahan dan teradopsi dalam kegiatan keagamaan kekristenan.

Rhetorica Islam (620 M)

Penyebaran paham seni komunikasi menyebar ke penjuru dunia, termasuk ke Jazirah Arab. Menghasilkan seniman-seniman dengan gaya komunikasi yang menarik.

Dengan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. Maka beliau melakukan penentangan Teori Rhetorica barat tersebut. Dengan beberapa penekanan-penekanan penting.

Gaya komunikasi Rasulullah adalah dengan mengedepankan kebenaran. Tidak mengutamakan puitis atau tidaknya.

Sebab menurutnya bahasa Alquran jauh lebih puitis. Bahkan tidak ada satupun manusia di bumi yang mampu membuat bahasa melebihi puitisnya bahasa Al Quran. Sangat halus.

Selanjutnya 620 Masehi, sebagai “pertarungan” gaya komunikasi Yunani, Romawi (Kristen) dengan adab komunikasi Rasulullah Muhammad SAW.

Menyampaikan kebenaran (bukan hanya logika dari otak manusia), tapi lebih tinggi dari itu. Menyampaikan kebenaran dengan ayat dari yang Maha Benar yaitu Allah SWT.

Dengan menggunakan FirmanNya dalam Al Quran, yang di wahyukan kepada Rasulullah.

Baca juga beritaku: Perbandingan Gaya Komunikasi Rasul Dengan Para Orator

Selain itu, ucapan yang terlafaskan dari Rasulullah merupakan sabda, dan kebenarannya tidak pernah mendapat keraguan.

Dengan demikian Rasulullah memenuhi unsur, benar dalam sikap dan ucapan.

Bukti keberhasilan gaya komunikasi Rasulullah adalah terterimanya Islam kepenjuru dunia.

Tidak heran, ketika Umar Bin Khattab, yang awalnya menjadi pembenci Islam, menjadi runtuh seluruh kekuatannya karena mendengarkan keindahan Ayat Suci Al Quran. Akhirnya ia masuk Islam.

Definisi Retorika

Jika membaca perjalanan dan kisah dari pada Seni berbicara diatas, maka kita sudah dapat menarik kesimpulan mengenai Retorika tersebut.

Namun pada beberapa ahli (pakar) memberikan pendapat definisi Retorika, sebagai berikut.

Richard E Young, Retorika adalah ilmu yang mengajarkan tentang cara menggarap masalah wicara-tutur secara heiristik, epistomologi untuk membina saling pengertian dan kerjasama.

Socrates, Rhetorica adalah ilmu yang mempelajari tentang pencarian kebenaran, dengan dialog sebagai jembatannya, sebab dialog kebenaran akan timbul dengan sendirinya.

Plato, Rhetorica adalah upaya pencarian kebenaran dengan berlandaskan ilmu-ilmu filsafat dan kebenaran itu sendiri. Sumber Dosenpendidikan.

Menurut Aristoteles, Retorika adalah kemampuan melihat berbagai kebutuhan (alat) dan argumen dalam menyampaikan sebuah gagasan persuasif.

Beberapa pengertian ini membawa kita pada sebuah kesimpulan Bahwa retorika adalah upaya penyampaian pesan dengan menggunakan metode yang tepat dan argumentasi yang sesuai.

Dengan menggunakan gaya tertentu yang menarik. Agar orang lain mampu menerima seluruh gagasan atau memahami isi pesan yang disampaikan.

Unsur-Unsur Dan Bagan Dalam Retorika

Publik Speaking juga pasti menggunakan retorika. Sebab publik speaking adalah salah satu kegiatan komunikasi yang membutuhkan seni berkomunikasi.

Unsur Utama Dalam Rhetorica

Apa saja Unsur penting dalam hal Rhetorik?

Rhetorik bukan hanya sekedar komunikasi dengan unsur; 1) Pembicara, 2) Pendengar, 3) Pesan.

Namun lebih dari itu Rhetorik, selain syarat dasar komunikas diatas, juga harus memenuhi unsur seni dalam menyampaikan pendapat.

Maka unsur dalam hal Rhetorica tersebut, yakni:

  1. Pembicara,
  2. Pendengar,
  3. Pesan,
  4. Intonasi,
  5. Mimik Dan Gestur
  6. Penguasaan Bahasa,
  7. Kecepatan Berpikir,
  8. Saluran.

Pembicara

Dosen, guru, ustadz, politisi, organisatoris, penjual mobil hingga penjual pisang. Merupakan pemberi pesan atau seorang pembicara.

Dalam bentuk, komunikasi dialogis maupun monologis.

Pendengar

Siswa, mahasiswa, konstituen, audiance, announcer, pembeli. Merupakan pendengar dari sebuah pesan yang bersumber dari pembicara.

Pesan

Baiklah para mahasiswa sekalian, har ini kita akan belajar tentang “Urgensi Kehidupan berorganisasi”.

Dari penyataan dosen tersebut saat berkomunikasi dengan mahasiswa, maka isi pesannya adalah “Urgensi Kehidupan berorganisasi”.

Intonasi

Merupakan penekanan pada suara, berupa; 1) Dinamik, 2) Nada, dan 3) Tempo.

Intonation, merupakan salah satu unsur yang mewakili semangat seorang pembicara. Intonasi yang kuat menggambarkan semangat.

Mimik Dan Gestur

Mimik lebih kepada ekpresi pada wajah, sementara gestur adalah bentuk badan, posisi dan penampilan (keseimbangan) alat gerak tubuh.

Intonasi dan mimik harus sejalan, begitupun juga dengan gestur.

Gestur itu penting terjaga dengan keseimbangan yang baik. Sementara mimik adalah bagian tubuh seorang pembicara yang selalu menjadi pusat perhatian pendengar.

Penguasaan Bahasa

Bahasa yang akan kita gunakan adalah bahasa yang mudah di pahami oleh pendengar. Dalam pengertian ini, pembicara beradaptasi dengan bahasa pendengar (sebisa mungkin).

Sebab memungkinkan seorang pembicara menggunakan bahasa lokal pendengar.

Kecepatan Berpikir

Berbicara sambil berpikir, hal ini merupakan unsur penting dalam Retorika. Dan dalam teori Aristoteles hal ini merupakan Logos, atau logika. Maupun kebenaran oleh Socrates dan Plato.

Kecepatan berpikir tepat merupakan unsur penting dan utama dalam Rhetorica Islam.

Saluran

Saluran merupakan alat yang akan dipakai dalam menyampaikan pesan kepada pendengar. Jika komunikasi yang akan dilaksanakan adalah komunikasi massal (publik).

Misalnya berpidaro, memberi ceramah dan sebagainya. Maka membutuhkan saluran berupa sound system yang baik.

Unsur Rhetorica Menurut Aristoteles

Aristoteles sebagai founding father dalam Rhetorica, membagi 3 unsur dalam penting di dalamnya: 1) Ethos, 2) Pathos, 3) Logos.

Ethos

Ethos merupakan etika, yang menjadi keharusan pembicara untuk mengenali lingkungan, terutama budaya dan adapasi budaya. Ini etika.

Pathos

Keindahan, hal ini mencakup keindahan dalam penyampaian pesan, yakni pemilihan kalimat yang menarik. Serta penggunaan intonasi dan mimik menarik.

Intinya keindahan adalah hal yang membuat pendengar tertarik dengan pesan yang akan di sampaikan.

Logos

Logos atau loghos atau logika.
Merupakan benar salahnya sebuah kalimat. Pada bagian ini, seorang pembicara haruslah menyampaikan sebuah kejujuran. Dan kebenaran sebuah pesan.

Logis dan masuk akal, seperti hal itulah kajian logika.

Bagan & Struktur Rhetorical

Dalam hal komunikasi dengan Rhetoric, sesuai dengan pendapat bebeberapa pakar. Berikut beberapa struktur komunikasi, yakni:

Bagan Komunikasi Harold D Lasswell

Harold D Lasswell menyebutkan dalam teorinya, beberapa bagian dari struktur komunikasi:

  1. Who, (Siapa?
  2. Say What, (Berkata ap?)
  3. In Which Channel, (Dengan Channel Apa?)
  4. To Whom, (Kepada Khalayak yang mana?)
  5. With What Effect (Bagaimana Efeknya?)
Model Komunikasi Harold D Lasswell
Bagan Komunikasi Harold D Lasswell (Foto: Istimewa)

Bagan Komunikasi Shannon

Sementara itu menurut Shannon, struktur komunikasi menurutnya, terdiri dari:

  1. Sumber,
  2. Transmisi,
  3. Sinyal,
  4. Channel, (Saluran)
  5. Penerima,
  6. Umpan balik.
Struktur Komunikasi Shanon
Salah satu bentuk komunikasi, Shannon (Foto:Istimewa)

Kegiatan Yang Membutuhkan Retorika

Sampai kepada bagian ini, Kegiatan apa saja yang membutuhkan Retorika?
Sebenarnya, semua bentuk komunikasi membutuhkan Rhetorica, namun dalam bahasan ini akan kita sebutkan tentang kegiatan yang menjadi prioritas membutuhkan seni komunikasi.

Maksudya, dalam kegiatan komunikasi tersebut, harus mempergunakan Rhetorical dalam pelaksanaannya.

Kegiatan Komunikasi Dalam Ruang Kuliah
Kegiatan Kuliah Dengan Gaya Komunikasi Oleh Dosen (Foto: Kompas)

Adapun kegiatan-kegiatan yang membutuhkan Retorika, yakni:

  1. Kampanye, baik dalam kampanye politik, maupun kampanye produk,
  2. Ceramah & Khotbah, untuk kegiatan keagamaan,
  3. Pidato atau sambutan dalam kegiatan institusi pemerintah, swasta maupun kegiatan sosial,
  4. Belajar mengajar, dalam lingkup pendidikan formal maupun informal,
  5. Orasi, baik orasi terbuka maupun orasi ilmiah.
  6. Penjualan Produk, Seorang Sales.

Pembicara Terkenal Indonesia

Dalam perkembangannya, kita akan menemukan orang Indonesia yang memiliki kualitas Retorika sebagai tokoh nasional, yakni:

Soekarno

Merupakan presiden pertama negara ini, dengan gaya intonatif dalam menyampaikan sebuah gagasan dan ide. Memiliki kemampuan diplomasi (logika dan kecepatan berpikir yang kuat).

Kualitas Retorika Soekarno sangat luar biasa, sebab dengan kemampuannya menggerakkan elemen masyarakat secara nasional menentang penjajah.

Retorika Soekarno
Gaya Komunikasi Soekarno Intonatif (Foto: Istimewa)

Meski pada akhir kepemimpinannya banyak di sebut “Kudeta Tak Berdarah” oleh Rezim Soeharto. Namun dirinya telah menjadi Proklamator negara ini.

KH Zainuddin MZ

Pada era tahun 90an hingga tahun 2000an. KH Zainuddin MZ merupakan pembicara (da’i kondang) dengan gaya komunikasi Intonasi Nada, dinamik dan variasi intonasi yang menarik.

Retorika Karakter Komunikasi Zainuddin MZ,
Karakter Komunikasi Zainuddin MZ, dengan patahan intonasi yang khas (Foto: Kompasiana)

Dalam hal pathos, keindahan intonasinya mampu memerankan komunikasi dialogis, sehingga pendengar terbawa pada konten ceramah yang ia bawakan.

Yusril Ihza Mahendra

Yusril Ihza Mahendra, merupakan konseptor pidato Soeharto, dan mantan menteri Era Abdurrahman Wahid dan Megawati Seoakrno Putri.

Seorang pembicara dengan gaya komunikasi lebih kepada “Logos” atau logika, gaya intonasi dominan datar. Meski gayanya cool, akan tetapi isi komunikasinya menarik.

Abdullah Gymnastiar

Abdullah Gymnastiar atau terkenal dengan nama AA Gym. Penceramah yang lebih mengedepankan Ethos dalam berkomunikasi. Logos yang berdasar.

Meski penggunaan intonasi (Pathos) yang tidak mendayu dayu, namun bahasanya mudah kita pahami. Sebab mimik dan gesturnya yang menarik.

Ust. Abdul Somad

Ustadz Somad merupakan panggilan buat Ust Abdul Somad, merupakan da’i kondang yang terkenal dalam beberapa tahun terakhir.

Kyai yang berasal dari bumi Andalas Sumatera tersebut memiliki selera humor (pathos) yang mampu mengocok perut. Tidak hanya itu, ia juga memiliki landasan kenaran kuat yang bersumber pada alquran dan hadits.

Najwa Shihab

Presenter kondang ini, pembawa acara pada Mata Najwa. Memiliki kecepatan berpikir yang tinggi. Logos.

Analisa yang cermat dengan gaya memotong yang sangat menarik. Memiliki kemampuan wawancara yang selalu segar pada para pendengar.

Tidak heran, banyak orang yang tidak siap mendapat cercaan pertanyaan menghindar dari acara tersebut.

Karni Ilyas

Hampir tidak banyak Pathos (seni intonasi), semuanya datar-datar saja. Namun gaya memotong dan mengarahkan sangat menarik sebagai seorang presenter Indonesia Lawyer Club (ILC).

Demikian artikel tentang Retorika (Rhetorica, Retorik, Rhetorical), pentingnya dalam kehidupan, sejarah perjalanan dari zaman ke zaman, definisi, unsur, dan bagan serta pembicara terkenal tanah air.

Baca juga Beritaku: Jurkam Saat Kampanye Agar Mendapat Simpati, 3 Syarat Dan 4 Persiapan

Bagikan Ke