Tengkawang
Tengkawang adalah (Foto: mongabay.co.id)

Tengkawang dan Verbenaceae: 3 Ciri, Hingga Harganya

Posted on

Indonesia merupakan surga bagi berbagai kultivar flora tropis. Baik yang endemik seperti Tengkawang, maupun yang berasal dari seberang benua seperti Verbenaceae tumbuh subur dengan harmonis di bumi pertiwi. Supaya lebih mengenal kedua jenis flora tersebut, artikel ini akan membandingkan keduanya.

Beritaku.id, Lestari – Pada sehelai daun, tumbuhan menyimpan ribuan kearifan. Berpadu corak dengan akar dan dahan, menciptakan simfoni berkisah kehidupan. Tumbuhan itu tidak angkuh, meski menjulang tinggi hendak menjangkau langit, tak ada rasa jumawa pada keberadaannya.

Oleh: Riska Putri(Penulis Lestari)

Saat dewasa tumbuhan di mahkotai bunga. Secarik keindahan bagi dunia, pemanis mata berjuta warna. Lepas musim berbunga, gantian buah yang berayun syahdu di ujung dahan. Tanpa pamrih, tanpa menuntut ganti, tumbuhan membagikan buahnya pada siapa saja yang menginginkan.

Tumbuhan itu indah tetapi pemurah. Bagaimana tidak? Sepanjang masa kehidupannya, ia terus memberikan manfaat bagi makhluk hidup lain. Bahkan, setelah mati pun jasadnya masih bisa di manfaatkan untuk berbagai keperluan.

Seperti itu pula sifat Tengkawang, si pohon asli pulau Kalimantan. Baik saat muda, tua, hidup, maupun mati, ia tak henti membagi manfaat pada manusia.

Nama Lain Tengkawang

Tengkawang adalah nama buah sekaligus nama pohon dari marga shorea (meranti) yang menghuni hutan tropika. Saat di olah, buahnya bisa menghasilkan minyak lemak nabati berharga tinggi. Pohon asli Indonesia ini merupakan flora endemik, yang hanya tumbuh di pulau Kalimantan, terutama Kalimantan Barat.

Warga setempat menyebut pohon ini dengan nama “Tengkawang Tungkul” atau “Meranti Merah”. Sementara di ranah internasional, pohon yang merupakan maskot Kalimantan Barat ini dikenal dengan nama “Illipe Nut” atau “Borneo Tallow Nut”.

Sejauh yang manusia ketahui, ada belasan jenis Tengkawang yang hidup di pedalaman Kalimantan, yaitu:
  1. Tengkawang Mege (Shorea Amplexicaulis P.S. Ashton)
  2. Tengkawang Tengkal (Shorea Beccariana Burck)
  3. jenis Tengkawang Layar (Shorea Mecystopteryx)
  4. Tengkawang Ayer/Selangan Batu Pinang (Shorea Havilandii Brandis)
  5. Tengkawaang Gunung (Shorea Lepidota (Korth.) Blume)
  6. Tengkawang Bungkus (Shorea Macrantha Brandis)
  7. Tengkawang Hantelok (Shorea Macrophylla (de Vriese) P.S. Ashton)
  8. Tengkawan Majau (Shorea Palembanica Miq.)
  9. Jenis Tengkawang Rambai (Shorea Pinanga Scheff)
  10. Tengkawang Kijang (Shorea Scaberrima Buck)
  11. Tengkawang Terendak (Shorea Seminis (de Viese) v. Slooten)
  12. Tengkawang Pinang (Shorea Singkawang Miq.)
  13. Tegkawang Bani (Shorea Splendida (de Vriese) P.S. Ashton)
  14. Tengkawang Tungkul (Shorea Stenoptera Buck)
  15. Tengkawang Batu/Kedawang (Shorea Sumatrana Sym. ex Desch)

Baca Juga Beritaku: Pohon Andalas & 3 Benda Adat Asal Pulau Sumatera

Ciri-ciri Tengkawang

Secara fisik, pohonnya tidak memiliki morfologi yang sangat unik seperti Eucalyptus Deglupta. Tanaman ini justru menyaru dengan tetangga-tetangganya sesama penghuni hutan hujan. Bahkan, spesies yang berbeda pun memiliki ciri fisik umum yang sama.

Pada batangnya yang tinggi besar, tumbuh banyak dahan dan cabang yang saling berseling. Daunnya pun rimbun, menyediakan kanopi untuk makhluk lain saat hendak berlindung dari panas dan hujan.

Hal yang membedakan Tengkawang dengan pohon buah lain, adalah masa berbuahnya yang unik. Tanaman ini tidak menghasilkan buah setiap tahun, melainkan hanya berbuah setiap 3-7 tahun sekali.

Meskipun di sebut juga Meranti Merah, kulit pohonnya ternyata berwarna kelabu hingga kehitaman. Teksturnya licin, ditingkahi alur yang terlihat seperti sisik di sekujur tubuhnya. Jika memperhatikannya lebih jauh, kulit pohon Tengkawangg seperti berundak karena pengelupasan.

Ketika terluka, kayu pohon Tengkawang akan mengeluarkan damar berwarna putih bening, kuning, cokelat, serta hitam mengkilap.

Keunikan khas pohon Tengkawang terletak pada bentuk buah atau bijinya. Bijinya umumnya memiliki “sayap” yang terdiri dari 3 sayap panjang dan 2 sayap pendek. Saat terjatuh, aliran angin akan membuat sayap-sayap ini berputar layaknya baling-baling helikopter.

Oleh karena itu, pepatah “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya” tidak bisa diterapkan pada Tengkawang. Sebab, lokasi jatuhnya buah yang satu ini seringkali tak bisa di tebak. Apakah jatuh dekat dengan pohon, atau justru terbawa hingga ufuk jauh, semua tergantung pada angin yang memberikan tumpangan.

Kegunaan dan Manfaat Tengkawang

Tengkawang
Penampakan Daun Pohon Tengkawang

Buah Tengkawang memiliki kandungan gizi yang tinggi. Tak ayal, ketika berjatuhan dari dahan pohon, buahnya menjadi rebutan babi hutan dan hewan-hewan liar lainnya.

Di sisi lain, buah Tengkawang tidak memiliki masa dormansi, menjadikannya lekas berkecambah jika dibiarkan terbaring di atas tanah.

Sebab itulah manusia bersegera memunguti buah Tengkawang pada musim raya. Jangan sampai buah langka ini habis di lahap binatang hutan, atau keburu berubah menjadi tunas penghuni bumi.

Setelah membawa pulang, masyarakat biasanya mengeringkan buah itu. Caranya dengan menjemur di bawah terik matahari atau menyalai (sejenis teknik mengerinkan buah dengan cara di asapi).

Maka tak perlu heran, jika pada musim raya Tengkawang tiba-tiba berdiri puluhan gubuk khusus di sekitar pemukiman orang-orang Dayak di pedalaman Kalimantan Barat.

Warga memang sengaja membangun gubuk-gubuk tersebut untuk digunakan menyalai Tengkawang. Setelah beberapa hari di salai, orang-orang biasanya membawa dan menjual buah Tengkawang yang sudah kering ke kota. Buah yang kering inilah yang menjadi bahan baku untuk membuat minyak Tengkawang.

Secara tradisional, masyarakat Kalimantan menggunakan minyak Tengkawang untuk memasak, sebagai penyedap makanan, dan untuk ramuan obat-obatan.

Sedangkan dalam dunia industri, minyak ini memiliki kadar lemak 70% kerap digunakan sebagai bahan pengganti lemak cokelat.

Minyak Tengkawang memang memiliki susunan zat serupa dengan lemak cokelat, tetapi memiliki titik leleh yang lebih tinggi. Oleh karenanya, minyak yang juga dikenal sebagai “green butter” ini cocok menjadi bahan farmasi, kosmetika, lilin, sabun, margarin, pelumas, dan sebagainya.

Ketika sudah tua dan tidak lagi meghasilkan buah, pohonnya akan di tebang dan di manfaatkan kayunya. Meski secara alam tidak terlalu kuat terhadap pengaruh cuaca, kayu Tengkawang tetap bisa bermanfaat jika terlebih dahulu mengawetkannya menggunakan campuran minyak diesel dan kreosot.

Baca Juga Beritaku: Garcinia dan Calophyllum: 2 Pohon Familiar Sebagai Obat Kanker

Habitat Tengkawang dan Harga Jual

Seperti dikatakan sebelumnya, pohon Tengkawang berasal dari rimba Kalimantan. Habitat aslinya berada di daerah Ulu Kapuas, Sarawak, Sabah, Muara Teweh, dan Ilir Kapuas. Meskipun begitu, buah Tengkawang yang menunggang angin nyatanya bisa berkelana hingga jauh.

Jangkauannya tidak sebatas pulau di Indonesia saja. Namun saat ini, sebaran pohonnya bisa ditemukan hampir di seluruh wilayah Asia Tenggara, seperti Thailand, Malaysia, Brunei, hingga Filipina.

Berkenaan harga jual, di pasaran buah Tengkawang mentah dibanderol sekitar Rp 100.000 – Rp 150.000 per kilogram. Sementara lemak buah murni dihargai sekitar Rp 300.000 – Rp 500.000 per kilogram.

Sedangkan minyak Tengkawang memegang banderol harga tertinggi, mencapai kurang lebih Rp 2.300.000 per kilogram. Untuk kayunya, saat ini kayu Tengkawang bisa di tebus dengan harga berkisar antara Rp 300.000 – Rp 600.000 per meter kubik.

Jenis Verbenaceae

Verbenaceae
Bunga dari tumbuhan verbenaceae yang cantik

Selain menjadi rumah bagi pepohonan berbuah tropika, iklim tropis Indonesia juga menyediakan lingkungan yang ramah bagi beragam jenis tumbuhan berbunga. Salah satunya adalah Verbenaceae.

Verbenaceae adalah marga tumbuhan berbunga tropika. Spesies yang termasuk dalam keluarga Verbenaceae bisa berupa pepohonan, semak, rempah, maupun sekelompok bunga kecil yang menguarkan bebauan aromatik.

Sistem klasifikasi APG II memasukkan anggota keluarga Verbenaceae kedalam ordo Lamiales. Namun, kajian filogenetis terbaru menunjukkan bahwa banyak anggota Verbenaceae yang lebih tepat dimasukkan pada ordo Lamiaceae.

Ciri Khas Verbenaceae

Karena merupakan rumah bagi lebih dari seribu spesies tumbuhan, istilah lokal dan ciri khas tanaman Verbenaceae tergantung spesies yang menjadi anggotanya.

Sebagai contoh, spesies tanaman Verbenaceae bisa memiliki daun tunggal, majemuk pinnata, maupun majemuk palmata.

Meskipun begitu, semua spesies Verbenaceae juga berbagi beberapa ciri khas umum, seperti:

  • Daun tumbuh dengan posisi duduk saling berhadapan.
  • Batang dan ranting muda berbentuk segi empat (gepeng).
  • Perbungaan berbentuk umbel (menyerupai payung).

Dari ribuan spesies, terdapat beberapa tumbuhan Verbenaceae yang lazim di kenal orang Indonesia, antara lain:

  1. Sinyo Nakal (Duranta Erecta)
  2. Pecut Kuda (Stachytarpetha Jamaicensis)
  3. Jati Putih (Gmelina Arborea)
  4. Api-api (Avicennia)
  5. Mangrove Hitam (Avicennia Germinans)
  6. Bunga Tahi Ayam (Lantana Camara)

Kegunaan dan Pembagian Berdasarkan Umur Tanaman

Sebagai tumbuhan penghasil bau aromatik, manusia lazim membudidayakan spesies-spesies Verbenaceae untuk keperluan estetika, pengobatan aromatik, maupun sebagai penambah rasa pada makanan.

Contohnya, Lemon Verbena (Aloysia Triphylla) yang pembudidayaannya untuk di ambil ekstraknya, kemudian di gunakan sebagai bahan pembuat wewangian maupun perasa sintetis.

Sedangkan spesies Verbena yang berasal dari dataran benua Eropa, lebih umum di pakai sebagai tanaman ornamental dan herbal tradisional.

Melansir Lembaga Pengkajian Kanker Britania Raya, minyak esensial saduran verbena memiliki khasiat meningkatkan kesejahteraan mental, emosional, dan spiritual penggunanya.

Meskipun demikian, minyak esensial tidak bisa digunakan untuk mencegah, mengontrol, ataupun mengobati kanker. Khasiat utamanya terletak pada fungsi rekreatif, yang membantu dalam proses pengobatan kanker secara medis.

Selain itu, manusia juga membudidayakan Verbenaceae untuk keperluan konservasi hewan. Ukurannya yang cenderung kecil membuat Verbenaceae memiliki efisiensi sediaan nektar lebih tinggi di lahan sempit.

Beberapa konservasi yang memanfaatkan kultivar Verbenaceae adalah:

  • Hummingbird Hawk-Moth (Macroglossum Stellarum)
  • Chocolate Albatross (Appias Lyncida)
  • Pipevine Swallowtail (Battus Philenor)
  • Hummingbirds (Trochilidae)

Tentang berapa lama sebatang Verbenaceae hidup, tergantung pada takdir pemberian Tuhan, serta kondisi lingkungan hidupnya. Meskipun demikian, sebagai tumbuhan perennial Verbenaceae memiliki masa hidup lebih dari 2 tahun.

Baca Juga Beritaku: Hutan Musim: Karakteristik, Persebaran, dan 8 Pohon Ciri Khasnya

Harga Jual

Berbeda dengan Tengkawang, harga jual tanaman Verbenaceae memiliki fluktuasi yang tergolong ekstrim. Penyebabnya, lagi-lagi adalah banyaknya spesies yang termasuk dalam keluarga besar Verbenaceae. Masing-masing spesies memiliki rupa berbeda, yang berkaitan erat dengan minat manusia yang terus berubah.

Merujuk pada prinsip ekonomi, harga suatu komoditas di pasaran akan berbanding lurus dengan ketersediaan stok dan permintaan pasar. Maka tak perlu heran, jika perbedaan harga tumbuhan Verbenaceae bisa sangat ekstrim.

Misalnya, Sinyo Nakal yang biasa digunakan sebagai bahan bonsai. Di pasaran, sebatang Sinyo Nakal bisa berbanderol mulai dari Rp 25.000 hingga Rp 1.000.000. Label harga tersebut sangat kontras dengan Pecut Kuda misalnya, yang bisa diboyong pulang dengan harga Rp 7.500 – Rp 40.000 saja.

Hal serupa juga terjadi pada bibit bunga Api-api, yang dihargai sebesar Rp 2.000 saja per polybag. Sementara bunga Tahi Ayam cenderung memiliki harga yang stabil, di kisaran Rp 15.000 per batang.

Daftar Pustaka

  1. Tengkawang. Wikipedia Bahasa Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Tengkawang.
  2. Al-Khairi, Yuhan. 2021. Tengkawang, Pohon dengan Buah Bersayap yang Kaya Guna. Jakarta: Greeners. https://www.greeners.co/flora-fauna/tengkawang-pohon-dengan-buah-bersayap-yang-kaya-guna/.
  3. Verbenaceae. Wikipedia Bahasa Indonesia
  4. Verbenaceae. Wikipedia.

Bagikan Ke