Janur Kuning dan Wala Suji Appa Sulapa Versi Bugis Makassar
Gambar Janur Kuning dan Wala Suji versi Bugis Makassar.

Wala Suji 4 Sulapa dan Janur Kuning Versi Bugis Makassar

Posted on

BERITAKU.ID, MAKASSAR – Masa demi masa berlalu, adat kebudayaan selalu ada, menguatkan rasa kepedulian, persaudaraan dan menghargai, Makassar, Rabu (7/8/2019). Apa itu Wala Suji 4 Sulapa?

“Sebelum janur kuning melengkung tandanya masih ada kesempatan.”

Pernah tidak kalian mendengar percakapan seperti itu? Nah, janur melengkung ini sering diartikan jadi sebuah tanda adanya pasangan yang sedang menjalani proses pernikahan.

Janur melekung ini biasanya terpasang di jalan dekat tempat pesta diadakan. Tapi, tahukah kalian kalau di beberapa daerah, janur melengkung ini sebenarnya lebih dari tanda pernikahan saja?

Janur melekung merupakan simbol adat yang masih sering digunakan di beberapa wilayah Indonesia, di daerah Sulawesi Selatan masih memakai janur kuning.

Jika pernah mengunjungi acara adat atau perkawinan kerabat yang bersuku Bugis-Makassar, tentu kita akan melihat suatu baruga (gerbang) yang dikenal dengan nama janur kuning di depan pintu rumah mempelai atau yang memiliki hajatan.

Bagi masyarakat Bugis-Makassar, Janur kuning adalah sebuah simbol adanya pesta pernikahan atau hajatan. Bahan intinya adalah daun kelapa yang dihias sedemikian rupa uniknya.

“Wala Suji 4 Sulapa “

Masyarakat bugis Makassar pasti tidak asing lagi terdengan akan sebutan itu, pasalnya Wala Suji ini kerap dijumpai pada pesta yang digelar oleh masyarakat bugis Makassar.

Wala Suji 4 Sulapa Maknanya apa?

Bagi masrayarakat bugis Makassar, Wala Suji 4 Sulapa adalah gambaran tentang kesempurnaan alam semesta yang mempengaruhi nilai-nilai kemanusiaan.

Empat sisi wala suji biasanya masih dapat ditemukan dalam pesta pernikahan adat Bugis-Makassar.

Yakni anyaman bambu persegi empat yang biasa menjadi hantaran pihak laki-laki untuk mempelai perempuan.

Dikutip dari jurnal Pusat Studi Pedesaan Unhas ‘Hurupu ‘ Sulapa’ Eppa’.

Etika Lingkungan dan Kearifan Lokal oleh M. Asar Said Mahbud, Dalam Jurnalnya konsep ‘Sulapa’ Appa’ dijelaskan almarhum Prof DR Mattulada, budayawan Sulawesi Selatan yang juga guru besar Universitas Hasanuddin Makassar.

Konsep tersebut ditempatkan secara horisontal dengan dunia tengah. Masyarakat Bugis-Makassar memandang dunia sebagai sebuah kesempurnaan.

Kesempurnaan yang dimaksud meliputi empat persegi penjuru mata angin, yaitu timur, barat, utara, dan selatan.

Bahan Untuk Wala Suji

Wala Suji 4 Sulapa menggunakan pohon bambu, karena menurut sejarahnya pohon bambu dipercaya memiliki makna filosofi.

Pohon bambu adalah sejenis tumbuhan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia.

Ada satu sisi dari pohon bambu dapat dijadikan bahan pembelajaran bermakna, yakni pada saat proses pertumbuhannya.

Pohon bambu ketika awal pertumbuhannya atau sebelum memunculkan tunas dan daunnya terlebih dahulu menyempurnakan struktur akarnya.

Akar yang menunjang ke dasar bumi membuat bambu menjadi sebatang pohon yang sangat kuat, lentur, dan tidak patah sekalipun ditiup angin kencang.

Asal usul walasuji ialah istilah wala suji tidak asing lagi bagi orang Bugis.

Jika Anda pernah mengunjungi acara adat atau perkawinan Kerabat orang Bugis.

Tentu Anda akan melihat suatu Baruga (gerbang) yang dikenal dengan nama Wala Suji 4 Sulapa di depan pintu rumah mempelai atau yang melaksanakan hajatan.

Motif Walasuji

Wala Suji adalah anyaman bambu yang bermotif segi empat belah ketupat.

Wala Suji 4 Sulapa berasal dari kata wala, yang berarti pemisah atau pagar atau penjaga dan suji yang berharfiah putri.

Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat.

Menurut almarhum Prof DR Mattulada, budayawan Sulawesi Selatan yang juga guru besar Universitas Hasanuddin Makassar, konsep tersebut ditempatkan secara horisontal dengan dunia tengah.

Masyarakat Bugis-Makassar memandang dunia sebagai sebuah kesempurnaan.

Kesempurnaan yang dimaksud meliputi empat persegi penjuru mata angin, yaitu timur, barat, utara, dan selatan.

MengapaWala Suji 4 Sulapa harus menggunakan pohon bambu, karena pohon bambu dipercaya memiliki makna filosofi.

Pohon bambu adalah sejenis tumbuhan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia.

Ada satu sisi dari pohon bambu dapat dijadikan bahan pembelajaran bermakna, yakni pada saat proses pertumbuhannya.

Pohon bambu ketika awal pertumbuhannya atau sebelum memunculkan tunas dan daunnya terlebih dahulu menyempurnakan struktur akarnya.

Akar yang menunjang ke dasar bumi membuat bambu menjadi sebatang pohon yang sangat kuat, lentur, dan tidak patah sekalipun ditiup angin kencang.

Hal tersebut mengajarkan kepada manusia agar tumbuh, berkembang dan mencapai kesempurnaan bergerak dari dalam ke luar, bukan sebaliknya.

Lebih jauh memahami filosofi pohon bambu tersebut, bahwa menjadi apa sesungguhnya kita ini sangat tergantung pada pemahaman, penghayatan, dan pengamalan kita tentang “Keimanan kepada Allah SWT” yang terdapat dalam hati (qalbu) kita masing-masing.

Cikal Bakal Tulisan Lontara Dari Walasuji

Karena pada masa-masa itu belum ada yang namanya pulpen, pensil dan sejenis alat tulis lainnya.

Huruf lontara ini pada awalnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan.

Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar.

Wala suji berasal dari kata wala yang artinya pemisah atau pagar atau penjaga dan suji yang berarti putri.

Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat.

Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah.

Sebenarnya konsep segi empat pada Wala Suji ini, berpangkal pada kebudayaan orang Bugis-Makassar yang memandang alam raya sebagai sulapaq eppaq wala suji (segi empat belah ketupat).

Menurut almarhum Prof DR Mattulada, budayawan Sulawesi Selatan yang juga guru besar Universitas Hasanuddin, Makassar, konsep tersebut ditempatkan secara horizontal dengan dunia tengah.

Dengan pandangan ini, masyarakat Bugis-Makassar memandang dunia sebagai sebuah kesempurnaan.

Kesempurnaan yang dimaksud meliputi empat persegi penjuru mata angin, yaitu timur, barat, utara, dan selatan. Secara makro, alam semesta adalah satu kesatuan yang tertuang dalam sebuah simbol aksara Bugis-Makassar, yaitu ‘sa’yang berarti seua, artinya tunggal atau esa.

Begitu pula secara mikro, manusia adalah sebuah kesatuan yang diwujudkan dalam sulapaq eppaq.

Berawal dari mulut manusia segala sesuatu dinyatakan, bunyi ke kata, kata ke perbuatan, dan perbuatan mewujudkan jati diri manusia.

Dengan demikian, Wala Suji dalam dunia ini, dipakai sebagai acuan untuk mengukur tingkat kesempurnaan yang dimiliki seseorang.

Kesempurnaan yang dimaksud itu adalah kabara-niang (keberanian), akkarungeng (kebangsawanan), asugireng (kekayaan), dan akkessi-ngeng (ketampanan/kecantikan).

Fungsi Dan Makna Simbolik

Fungsi dan makna Simbolik, bagi masyarakat Bugis-Makassar, Wala Suji, dipakai sebagai acuan untuk mengukur tingkat kesempurnaan yang dimiliki seseorang.

Kesempurnaan yang dimaksud itu adalah keberanian, kebangsawanan, kekayaan, dan ketampanan atau kecantikan.

Jika Anda pernah mengunjungi acara perkawinan suku Bugis-Makassar, tentu Anda akan melihat suatu baruga (gerbang) yang dikenal dengan nama Wala Suji di depan pintu rumah mempelai.

Bentuk Wala Suji seperti gapura dan menyerupai bagian depan rumah panggung suku Bugis-Makassar.

Atapnya berbentuk segitiga dan disangga oleh rangkaian anyaman bambu. Sebagai penghias, tak lupa diberi janur kuning.

Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat.

Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah.

-Alat dan bahan yang digunakan
Alat dan bahan yang diperlukan dalam membuat walasuji yakni:

Bahan utama:

  • Bambu tua, lurus dan masih hijau
  • Rotan, untuk mengikat tiap rangkaian
  • Pasak bambu, (bisa berupa kayu maupun kawat) Bahan tambahan (jika diperlukan)
  • Vernis, supaya lebih awet/tahan lama
  • Balok kayu untuk tiang dan penyangga
  • Papan
  • Bakkaweng atau atap yang terbuat dari daun nipa (Bahasa Bugis).

Alat:

  • Parang untuk membelah dan meraut
  • Gergaji untuk memotong bambu
  • Tobo’ (pisau kecil) yang tajam, untuk meraut bagian tertentu
  • Pahat, untuk membuat lubang bambu

Prosedur Pembuatan antara lain:

Dalam prosesi membuat walasuji biasanya dibuat satu sampai dua minggu sebelum acara pesta pernikahan suku bugis-makassar, tergantung seberapa besar strata sosial yang ada pada keluarga yang akan membuat pesta.

Menurut Mappeasse Gule salah seorang pemerhati kebudayawan di Bone.

Orang yang membuatnyapun tidak terbatas mulai dari satu orang sampai puluhan, awalnya walasuji dibuat dari beberapa batang pohon dan sebaiknya walasuji dibuat dari bambu tua yang berkwalitas baik, lurus dan masih biru.

Adapun tugas-tugas dalam membuat anyaman walasuji yakni:

  1. Orang yang bertugas memotong-motong bambu,
  2. Orang yang membelah menjadi beberapa bilah,
  3. Orang yang bertugas meraut bambu sampai halus,
  4. Orang yang membentuk atau yang merangkai (desainer) walasuji

Menurut Mappeasse tugas-tugas di atas tidak selamanya berjalan seperti itu tergantung seberapa besar pengalaman orang yang membuat walasuji.

Serta motif walasujipun sangat berfariasi seperti walasuji dengan bentuk segi empat besar dan segi empat kecil, dan yang segi empat kecil biasanya dibuat oleh kalangan profesional dan dikhususkan kepada strata yang lebih diatas sementara yang besar diperuntukkan bagi kalangan menengah dan pembuatannya tidak terlalu sulit dan lama.

Dewasa ini, Wala Suji bukan suatu hal yang langka lagi, karena bisa dilihat walaupun tidak ada acara perkawinan.

Tujuan Pembuatan

Sejatinya, Wala Suji hanya dipakai pada acara pernikahan atau pesta adat bagi warga Sulawesi Selatan yang masih memegang teguh adat setempat. Namun kini, Wala Suji telah menjadi gerbang permanen bagi rumah-rumah keturunan bangsawan lokal.

Bahkan pada beberapa keluarga yang pernah melakukan pesta perkawinan, membiarkan Wala Suji itu tetap berdiri kukuh dalam waktu lama.

Padahal semestinya, maksimal digunakan hingga 40 hari pasca perkawinan atau pesta adat.

Keengganan merubuhkan Wala Suji usai upacara perkawinan itu, selain merasa sayang menghancurkan bangunan mini itu karena harga pembuatannya yang mencapai ratusan ribu rupiah.

Wala Suji dapat pula difungsikan sebagai tempat bernaung dari panasnya matahari atau derasnya hujan pada musim penghujan.

Sebagian orang yang memiliki Wala Suji ini, justru membuat bangku panjang dari bambu atau kayu di sisi kiri dan kanan bagian bawah Wala Suji, sebagai tempat bersantai.

Bahkan sejumlah restoran atau hotel-hotel berbintang di Makassar, juga memasang Wala Suji di lokasi prasmanan atau tempat sajian hidangan dengan alasan menambahkan estetika dekorasi ruangan.

Sekaligus memperkenalkan salah satu karya seni budaya masyarakat Sulawesi Selatan.

Kesimpulan Wala Suji

Walasuji merupakan karya seni rupa anyaman yang khas bagi orang Bugis-Makassar.

Saat ini bukan lagi murupakan milik bagi keluarga bangsawan bugis makassar, siapapun bisa menggunakan walasuji dalam dalam mengadakan sebuah kegiatan.

Baik itu pesta pernikahan, peringatan hari lahir, perhiasan rumah-rumah makan, restoran, hotel, pagar rumah, rumah peristirahatan serta untuk sesajen (persembahan), dan ada kecenderungan Walasuji menjadi sebuah karya seni rupa sebagai penghias.

Namun terlepas dari semua itu walasuji tetap menyimbolkan budaya lokal bugis makassar yang sifatnya berkembang dan tak akan terlupakan sampai kapanpun.

Bagikan Ke