Bumi Panrita Lopi, Sejarah, Asimilasi Budaya Bulukumba
Bumi Panrita Lopi, Sebagai penghasil Perahu Pinisi Yang melegenda
Bumi Panrita Lopi, Sejarah, Asimilasi Budaya Bulukumba

Sering mendengar kata Pelaut Ulung. Adalah yang tangguh disamudera yang luas. Diantaranya Bumi Panrita Lopi Penghasil Pelaut tangguh tersebut.

Beritaku.Id, Budaya Maritim – Mendatangi daerah di Selatan-selatan dari Pusat Kota Makassar. Bulukumba.

Penghasil pelaut ulung yang kemampuannya bisa melipat-lipat ombak menjadi selimut tidur di hentakan gemuruh air bergemersik dilambung kapal. Menjadikan tiupan angin taupan sebagai tarian dilautan Samudera yang tak bertepi.

Pelaut Ulung tersemat buat mereka. Yang menjadikan laut sebagai ruang mencari arti dan memaknai kehidupan. Dari Bumi Panrita Lopi melahirkan karakter kuat yang melekat dalam diri mereka.

Menghargai laut dengan keganasannya, mencintai ombak dengan adaptasinya. Sehingga tidak heran orang Bulukumba memiliki sifat berkarakter dan bisa beradaptasi dengan menghargai oranglain.

Bagaimana Sejarah Bumi Panrita Lopi Kabupaten Bulukumba?

Adalah dua kerajaan besar yang ada di Sulawesi Selatan. Yakni Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Yang berseteru memperebutkan batas area kekuasaan.

Dalam mitologi penamaan Bulukumba terjadi pada abad ke XVII (tujuhbelas).  

Seperti tercatat dalam rentetan sejarah, secara naratif dijelaskan Pada tahun 1605 (Abad ke XVI) Kerajaan Gowa berubah menjadi Kesultanan dan menjadikan Agama Islam sebagai agama kerajaan yang dianut oleh Raja. (Sultan Alauddin). Selanjutnya, kerajaan Gowa menaklukkan banyak kerajaan yang ada di Pulau Sulawesi termasuk kerajaan Bone.

Hingga sampai pada abad ke XVII, 2 kerajaan tersebut membagi batas wilayah. Ketegangan 2 kerajaan adalah sesuatu yang tidak bisa terelakkan. Dalams ebuah sejarah menjelaskan bagaimana rivalitas antara Arung Palakka yang menyerang Sultan Hasanuddin.

Sehingga kedua kerajaan bersepakat untuk membagi wilayah kekuasaan. Dengan mengadakan pertemuan di tempat yang jauh dari masing-masing kedua kerajaan.

Permufakatan

Tepatnya di Tanah Kongkong. Didekat pesisir pantai yang ada di Kota Bulukumba saat ini. Utusan kedua kerajaan bertemu. Berdiplomasi. Mengurai ketegangan. Meski dalam kondisi tetap waspada.

Pasukan yang dating, tidak hanya yang menjadi juru runding, tapi juga dikawal dengan pasukan kerajaan perang. Jika kondisi tidak memenuhi unsur memuaskan kedua belah pihak. Maka perang bisa saja terjadi. Dan pertumpahan darah berpotensi terjadi di Butta Panrita Lopi tersebut.

Utusan Raja Gowa mengklaim, kaki Gunung Lompo Battang, dengan menyebut area Kindang, Gantarang hingga ke bagian Timur sebagai kekuasaannya.

Namun delegasi kerajaan Bone mempertahankan area tersebut. Dengan menyebut bahwa Lompo Battang adalah masih gunung dibawah kekuasaannya. Mereka menyebut bahwa Lompo Battang adalah “Bulukku Mupa”.

Bulukku artinya gunung kami, mupa artinya masih. Bulukku mupa, masih gunung kami

Perdebatan, ketegangan terjadi diantara mereka. Meski begitu keduanya kembali bersepakat bahwa daerah Bulukumba adalah daerah transisi diantara keduanya. Meski pada perjalanannya, Daerah Gantarang, Kindang, Ujungloe, Herlang, Bontobahari, Kajang, Bontotiro masuk dalam kerajaan Gowa. Dengan Ujung Bulu menjadi batas terluar kearah utara.

Sementara Bone, dengan kekuasaannya di Kecamatan Bulukumpa (Bulukkumupa), Rialu Ale’. Dengan luas wilayah yang dikuasai oleh Gowa lebih banyak dibandingkan Bone. Dinilai Wajar sebab dari segi besarnya kerajaan ketika itu. Gowa jauh lebih besar disbanding Bone.

Bulukkumupa Menjadi Bulukumba

Bulukkumupa itu dulu, sekarang bernama Bulukumba.

Seiring berjalannya waktu, Daerah Bulukumba yang ada sekarang belum memiliki nama. Dengan luas wilayah 1.154,67 km² dan berpenduduk sebanyak 394.757 jiwa (berdasarkan sensus penduduk 2010). Lambat laun berubah menjadi Bulukumba. Seperti yang dikenal sekarang.

Dengan 10 Kecamatan yang ada didalamnya dengan 2 Bahasa yang besar yakni Makassar/Konjo dan Bugis.

Meski perjanjian diantara dua kerajaan besar tersebut terjadi pada abad ke XVII, namun itu belum menjadi hari kelahiran Kabupaten Bulukumba.

Dengan landasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi. Selanjutnya terbit Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor 5 Tahun 1978 tentang Lambang Daerah.

Dengan melakukan kajian mendalam, mempertimbangkan hokum, sejarah dan budaya pada serangkaian kegiatan ilmiah pada tanggal  28 Maret 1994. Narasumber Prof. Dr. H. Ahmad Mattulada (Guru Besar Sejarah dan Budaya).

Melalui seminar tersebut, menghasilkan sebuah rekomendasi tanggal 4 Februari 1960, sebagai hari lahirnya Kabupaten Bulukumba.

Untuk mendapatkan kekuatan hokum makka ditindak lanjuti dengan Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 1994 tentang Hari Jadi Kabupaten Bulukumba.

Dasar Berpikir Penentuan Tanggal

Pembuatan Logo oleh DPRD Bulukumba dilaksanakan pada tanggal 4 Februari Tahun 1960.

Secara yuridis formal Kabupaten Bulukumba resmi menjadi daerah tingkat II setelah ditetapkan Lambang Daerah Kabupaten Bulukumba oleh DPRD Kabupaten Bulukumba pada tanggal 4 Februari 1960.

Bupati Pertama yaitu Andi Patarai dilantik pada tanggal 12 Februari 1960.

Asimiliasi Budaya Di Bumi Panrita Lopi

Bukan hanya Suku Makassar Konjo dan Bugis saja yang ada di Bulukumba, tapi juga suku lain seperti Mandar, Jawa, meski jumlah mereka minoritas. Meski mereka minoritas. Tapi mereka bisa rukun dan damai.

Sebab Suku mayoritas sangat toleran dengan orang lain yang ada didaerah ini. Dan tidak pernah terjadi konflik kesukuan.

Dengan semangat “Mali’ Siparappe, Tallang Sipahua”. Tagline tersebut merupakan penggalan dari 2 bahasa, yakni Bugis dan Konjo.

Mali Siparappe (Bugis) yang berarti Jika terhanyut saling mendamparkan, saling menolong.

Tallang Sipahua (Konjo) Jika tenggelam saling mengangkat kepermukaan.

Semua makna tagline adalah saling memberikan kehidupan, saling menghidupkan. Dengan gotong royong dan saling tolong menolong. Ini menjadi nafa skehidupan di Bumi Panrita Lopi Bulukumba.

Bulukumba Berlayar

Kenapa Bukan Bulukumba Berkebun? Toh di Bulukumba memiliki daratan yang luas?

Maka ini terinspirasi dengan kemampuan para pelaut Bulukumba yang tidak hanya hebat melaut tapi juga hebat dalam membuat Perahu Pinisi yang melegenda tersebut. Mereka memiliki nilai dan sikap kemaritiman yang menyatu dalam kehidupan mereka.

Beritaku: Sejarah Kapal Pinisi, Ritual, Panrita, Dan 3 Desa Pembuat

Tahun 1996, ketika Gubernur Sulsel, H.Zainal Basri Palaguna mencanangkan semua daerah memiliki Hastag khusus. Maka Bulukumba memiliki Hastag Berlayar. Dengan inspirasi pelaut ulung tersebut.

Menjadi sebuah catatan sejarah yang mendunia bahwa dari daerah ini menghasilkan budaya yang mahal. Yakni perahu layar Pinisi yang masih ada hingga saat ini.

Membuktikan karakter kuat mereka dalam mengarungi samudera yang membentang luas. Dengan menggunakan Lopi atau perahu karya Panrita Lopi.

Panrita adalah orang cerdas atau pintar. Sementara lopi adalah perahu.

Sumber Beritaku: DPRD Bulukumba, Sejarah Kabupaten Bulukumba