Menyoal Iklan Penghinaan Malaysia Terhadap TKW

18/05/2020-Opini

Menyoal Penghinaan Malaysia Terhadap TKW melalui Iklan Yang Dibuat, Membuat Banyak Orang Indonesia Yang Tersinggung

Beritaku.Id, Opini – Siapa yang tak tersinggung dengan iklan pembersih lantai berbunyi “Fire Your Indonesian Maid”? Betapa tidak, iklan tersebut menggambarkan bahwa pekerjaan pembantu bisa diganti dengan alat penemuan (pembersih lantai).

Abdul Haris Awie (Ketua GEMA NUSA Foundation)

Baca juga : Kaltara: Persiapan Pemulangan TKI Karena COVID-19

Negara memberikan reaksi baik secara terstruktur melalui birokrasi pemerintahan maupun broadcast lewat media.

Yang sekarang ini menjadi perbincangan, bahkan media televisipun ikut memberitakan “penghinaan ini”.

Menyoal Iklan Pecat Pembantu

Para boss yang ada di Malaysia dengan maksud padaa iklan pecat, Maka mari menyoal makna penghinaan iklan tersebut.

Pecat, pembantu Indonesia ini dianggap sebagai suatu penghinaan pada Negara yang besar ini.

Di rasionalisasi bahwa pembantu-pembantu yang bekerja di Malaysia dianggap sejajar dengan produk teknologi pembersih lantai tersebut.

Ratusan ribu orang Indonesia mengadu nasib di negara tetangga termasuk Malaysia.

Dan rata-rata bekerja sebagai pembantu baik yang masuk dengan jalur resmi perusahaan jasa Tenaga Kerja Indonesia. Maupun dengan menggunakan “jalur tikus”.

Intinya Negara Malaysia memberikan harapan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup warga negara Indonesia. Yang pesimis di negaranya yang kaya Raya ini.

Ini menjadi fakta nyata bahwa menjadi pembantu saja di Indonesia begitu tidak menjanjikan. Anehnya lagi, banyak yang bangga bekerja di Malaysia “meski hanya menjadi pembantu. Atau pelayan restoran, ataukah pelayan-pelayan lainnya”, bahkan sangat aneh!

Produk Indonesia adalah pembantu

Yang unik dari pergolakan issu ini adalah, pengiklan dengan menggunakan biaya seefektif dan seefisien mungkin, meskipun yang mejadi korbannya adalah pertarungan harga diri bangsa.

Jangan lupa bahwa beberapa waktu lalu di Malaysia telah beriklan “Dijual, pembantu rumah tangga Indonesia”.

Negara tidak seharusnya bereaksi hanya kepada masalah iklan-iklan murahan, yang dianggap penghinaan tersebut, tetapi harus mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian bangsa dalam hal mengelola hasil bumi.

Sebab jika dibandingkan dengan daratan Malaysia, maka Daratan Indonesia jauh lebih luas, belum lagi ketika menghitung potensi kelautan negara Indonesia.

Malaysia Belajar Pada Indonesia

Bahwa Malaysia mengirim para pelajar ke Indonesia untuk belajar, dengan berbagai disiplin ilmu :

Guru, dokter, teknik dan sebagainya, dan setelah bergelar sarjana maupun profesi ini kembali kenegaranya. Untuk mengembangkan pengetahuan yang didapatkannya dari Negara Indonesia yang hebat menciptakan sarjana ini.

Padahal, ketika kita memutar kembali pidato-pidato Presiden pertama Indonesia yang menggugah semangat Bangsa tentang “ganyang Malaysia”, membakar semangat nasionalisme, menggugah persatuan dan kesatuan dengan menjadikan Malaysia sebagai rivalitas untuk maju dan membentuk karakter keberanian bangsa untuk bertarung, inilah pembentukan karakter (caracter building) bangsa, dengan keberanian bersikap dan bertindak dengan mentalitas yang tinggi.

Malaysia Bergerak

Malaysia menjawabanya dengan belajar di Negara yang luas ini, tanpa ikut stagnan dengan pergolakan issu ganyang Malaysia, justru pemerintahannya dengan sabar terus mengirim pelajar-pelajarnya, dengan strategi pemamfaatan sumber daya manusia yang terstruktur.

Semangat nasionalisme Bangsa Indonesia dan keberanian tersebut kian memudar, beriring dengan berubahnya rezim pemerintahan.

Bangsa Indonesia mengalami degradasi kemajuan yang diukur dengan menurunnya semangat bertarung membangun bangsanya sendiri. Ditambah lagi dengan regulasi yang tidak berpihak secara adil kepada kaum marginal.

Dalam waktu yang bersamaan Negara Malaysia tetap memasok pelajar-pelajar ke Indonesia untuk belajar. Dan dengan bangganya pun kita pantas memproklamirkan bahwa orang Malaysiapun belajar di Indonesia.

Dari sisi masuknya mahasiswa-mahasiswa dari Malaysia untuk berburu ilmu adalah merupakan barometer bahwa perguruan tinggi di Indonesia mampu mencetak sarjana-sarjana yang luar biasa.

Dan mereka yang telah menyelesaikan pendidikan di atur dengan manajemen negara dalam hal menggunakan keahlian tersebut.

Kekurangan Tenaga Kerja Malasysia

Namun kenyataannya Negara Malaysia memiliki kekurangan tenaga kerja buruh kasar.

Maka salah satu solusi adalah membuka lowongan pekerjaan untuk buruh kasar, yang banyak didatangkan dari Indonesia. Belum lagi bahwa dibutuhkan banyak pembantu rumah tangga yang mengadu nasib mencari majikan orang Malaysia.

Kompetensi sebagai seorang pembantu yang salah satunya adalah bisa membersihkan lantai, kini telah tergeser oleh teknologi dengan melahirkan produk pembersih lantai, maka terjadilah persaingan antara pembantu dengan teknologi baru ini. Entahlah pula kalau teknologi canggih ini diciptakan oleh sarjana yang belajar dari negara Indonesia, entahlah.

Ketersinggungan pensejajaran ini adalah manusiawi sebagai nurani bangsa Indonesia yang terintimidasi.

Namun tidak cukup hanya melakukan counter issu tersebut dengan bebagai diplomasi ataupun kecaman.

Tetapi bangsa Indonesia harus mampu menjawab kecaman ini dengan langkah positif menciptakan lapangan kerja baru.

Dan mengembalikan pembantu-pembantu itu untuk bangga menjadi pembantu di negaranya. (Bahkan kitapun menjadi risih ketika menyebut menjadikan mereka pembantu yang bangga menjadi pembantu di negara ini).

Menghadapi persaingan global, negara-negara berlomba untuk menciptakan produk-produk baru dan di promosikan kenegara-negara lain, sementara Indonesia sibuk menciptakan pegangguran baru dan issu politik baru yang anti klimaks.

Jika saja negara ini tidak menjamin kehidupan layak bagi bangsanya, maka kedepan menghadapi MEA dan AFTA tersebut. Kehebatan-kehebatan negara ini adalah mengirim buruh kasar.

Atau lebih parah lagi kalau ini akan masuk dalam nota kesepahaman antar negara, untuk mengirim pembantu kepenjuru dunia.

Pembantu Dari Indonesia

Bukan tidak mungkin pula akan muncul slogan, “jika membutuhkan pembantu, silahkan datang ke Indonesia”.

Ataukah pula “aku pembantu Indonesia, sementara mencari majikan, dijamin profesional”.

Baca juga : Suami jadi TKI 2 Tahun, Istri Sibuk Mesum Dengan Lelaki Lain

Bahwa Negara Indonesia pernah menjadi macan Asia, jangan lupa bahwa di Era Pemerintahan Soekarno ketika memberikan pidato didepan parlemen Amerika Serikat.

Dengan karakter yang khas dan tegas, mendapatkan standing Aplaus dari para senator untuk menghormati presiden negara ini.

Tapi itu dulu, akan mungkin tinggal kenangan saja, sebab seorang pengusahapun sudah dengan berani memasang iklan “Pecat. Pembantu Indonesiamu”, seberapa besarkah harga diri bangsa Indonesia di mata negara tetangga? Revolusi Karakter?

Siapa yang akan menyoal iklan penghinaan tersebut? Wallahu Wa’lam

Note: Tulisan ini telah terbit di Fajar 2016

Baca juga : Bidan & Dokter RS Wahidin Digerebek Saat Slimbit

PILIHAN Beritaku

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *