Sejarah Dan Cerita Singkat Dzulkifli
Kisah Singkat Dzulkifli (Foto:BeritaIslami)

Sejarah Singkat Dzulkifli AS, Keteladanan & 2 Godaan Iblis

Diposting pada

Dalam melakukan syiar Islam, Maka Nabi Dzulkifli menjalankan tugas, berikut kisah dan sejarah singkat, penuh keteladanan untuk menjadi pelajaran.

Beritaku.Id, Kisah Nabi dan Rasul – Selama ini banyak di katakan dalam berbagai riwayat bahwa jumlah Nabi ada ribuan, namun jumlah Rasul yang ada di Al-Quran dan wajib di imani oleh umat Islam berjumlah 25.

Oleh: Ulfiana (Penulis Kisah Nabi dan Rasul)

Salah satu nama Nabi dan Rasul yang terabadikan dalam Al-Quran adalah Nabi Dzulkifli. Nabi Dzulkifli tertulis dalam surat Al-Anbiya ayat 85-86 dan juga surat Shad ayat 48, disandingkan dengan nama nabi yang lain.

Dalam Al-Quran surat Al-Anbiya ayat 85-86 tertulis bahwa Nabi Dzulkifli adalah termasuk golongan orang-orang yang sabar. Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar. Dan Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sungguh, mereka termasuk orang-orang yang saleh.”

Nabi Dzulkifli juga di kenal sebagai seorang Raja yang memerintah negri Syam. Beliau adalah seorang yang shaleh, sabar serta bijaksana sehingga dicintai oleh rakyatnya.

Nama nabi Dzulkifli mungkin tidak sepopuler nama Nabi Muhammad SAW, Nabi Musa As. dan Nabi Isa As. Yang banyak di sebutkan kisahnya dalam Al-Quran, namun Nabi Dzulkifli memiliki kisah yang tak kalah menariknya dan banyak keteladanan yang bisa di ambil dari kisahnya.

Sejarah Singkat Perjalanan Nabi Dzulkifli

Sebelum kita mengenal dengan sebutan Dzulkifli, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Bisyr atau Basyar adalah nama aslinya.

Ada yang mengatakan bahwa ia adalah putra Nabi Ayyub As dan ibunya adalah Rahmah. Hal ini di dukung oleh Syauqi Abu Khalil di dalam bukunya yang berjudul Athlas Al-Qur’an (hal 100) menyebutkan bahwa nama Nabi Dzulkifli terletak setelah urutan Nabi Ayyub ‘Alaihi Sallam.

Baca juga Beritaku: Kisah Nabi Ayyub.

Nama Dzulkifli adalah sebutan yang berarti “orang yang sanggup menepati janji”.

Sebutan ini bermula dari seorang raja yang sudah tua dan tidak memiliki keturunan mengadakan sayembara untuk mencari penggantinya memerintah negri Syam.

Beberapa riwayat menyebutkan Raja tersebut adalah Nabi Ilyasa.

Sayembara yang di adakan memiliki persyaratan yang cukup sulit, yaitu barang siapa yang bisa berpuasa di siang hari.

Kemudian beribadah di malam hari, serta bisa menahan amarahnya secara terus-menerus sepanjang waktu.

Maka ia yang akan di pilih menjadi Raja menggantikan Raja yang sudah memasuki usia senja tersebut.

Tidak ada seorangpun yang berani menyanggupi persyaratan dari Raja tersebut kecuali seorang pemuda.

Pemuda itu mengatakan “ Hamba, wahai Raja”, sambil mengacungkan tangannya menyanggupi sayembara Raja.

Pemuda tersebut adalah Basyar yang memiliki penampilan sederhana dan tidak cukup meyakinkan sehingga banyak yang meragukannya.

Raja tak langsung memilih pemuda itu saat itu juga.

Pada lain kesempatan, Raja mengulangi sayembara tersebut dan lagi-lagi tak ada yang menyanggupinya kecuali Basyar.

Hal itu berlangsung hingga tiga kali sampai akhirnya Raja merasa yakin dan menyerahkan kepemimpinannya kepada pemuda tersebut.

Sejak saat itulah rakyat menyebutnya Raja Dzulkifli, yang memiliki arti singkat dalam sejarah perjalannnya “Ia yang sanggup menepati janji”.

Bentuk Keteladanan Nabi Dzulkifli

Selama menjabat sebagai Raja dan memerintah rakyat negeri Syam, Nabi Dzulkifli memerintah dengan adil dan bijakasana.

Beliau sangat menyayangi rakyatnya dan selalu mementingkan kepentingan rakyat daripada kepentingan keluarga. Maupun dirinya sendiri.

Dikenal sebagai seorang Raja yang sangat dermawan. Menyebabkan Nabi Dzulkifli sangat di sukai oleh rakyatnya.

Nabi Dzulkifli adalah seorang yang shaleh. Keshalehannya tidak perlu di ragukan.

Beliau dikenal memegang teguh janjinya. Sampai akhir hayatnya untuk tetap berpuasa di siang hari dan juga beribadah di malam hari, serta menahan emosinya untuk tidak marah, secara terus-menerus.

Beliau hanya beristirahat di siang hari untuk tidur sebentar, kemudian melanjutkan tugasnya sebagai Raja memerintah rakyat dan mengurusi permasalahan mereka, serta terjaga di malam hari untuk beribadah kepada Allah SWT.

Beliau juga memiliki akhlak yang sangat baik. Dalam surat Sad ayat 48, Allah berfirman:

“Dan ingatlah Ismail, Ilyasa dan Dzulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.”

Penggolongan menjadi orang yang paling baik. Ini salah satu pembuktiannya adalah karena Beliau mampu menahan amarahnya ketika sebenarnya beliau berhak marah.

Dan punya kekuasaan untuk melampiaskan amarahnya sebagai Raja, namun beliau tidak melakukannya. Karena ketaatan kepada Allah SWT, serta tetap memegang teguh janji yang pernah ia ucapkannya.

Bentuk Kesabaran Nabi Dzulkifli

Secara singkat dari penggamabaran narasi dan kepribadian Dzulkifli, dalam sejarah perjalanan kenabiannya adalah memiliki kesabaran tinggi.

Kesabaran Nabi Dzulkifli pada Rakyatnya

Suatu hari pernah kesabarannya di uji oleh rakyatnya sendiri. Ada suatu kaum dzhalim yang akan menyerang dan berniat menghancurkan kerajaan Nabi Dzulkifli.

Beliau kemudian memerintah rakyatnya untuk ikut berperang bersamanya memerangi kaum yang dzhalim tersebut agar tidak bisa menjalankan rencananya untuk menghancurkan kerajaannya.

Ilustrasi Iblis
Ilustrasi Bentuk Iblis (Foto: Halloriau)

Jika kerajaannya hancur rakyatnya akan menderita dan menjadi budak bagi mereka. Namun, tidak ada satupun dari rakyatnya yang bergerak dan mau berperang karena di goda oleh iblis untuk takut mati jika berperang.

Mereka berkata “Wahai Raja kami, sesunggunguhnya kami mau berperang asalkan Engkau mau berdoa kepada Tuhanmu agar tidak ada korban jiwa yang mati dari kami setelah peperangan tersebut berakhir.”

Akhirnya, tanpa pikir panjang Nabi Dzulkifli berdoa dan meminta kepada Allah agar anggota pasukannya tidak ada yang menjadi korban jiwa dalam mengikuti peperangan tersebut.

Allah mengabulkan permintaan Nabi Dzulkifli tersebut. Tidak ada satupun dari anggota pasukannya yang gugur dalam medan perang dan mereka kembali dalam kondisi yang selamat.

Akhirnya rakyat kembali bersuka cita dan hidup sejahtera dalam kepemimpinan Nabi Dzulkifli.

Dalam hal ini, sebagai seorang Raja, berhak “marah” kepada pasukan yang enggan melaksanakan perintah. Sebab loyalitasnya menjadi tanda tanya. Jika mengalami ketakutan saat melakukan peperangan.

Nabi Dzulkifli Sabar Menghadapi Iblis yang Menjelma Menjadi Laki-Laki Tua

Kesabarannya pun pernah di uji dengan seorang laki-laki tua yang merupakan samaran dari iblis ketika setan sudah tak mampu menggoda kesabaran Nabi Dzulkifli.

Laki-laki tua atau iblis yang menyamar itu datang. Di waktu istirahat Nabi Dzulkifli. Hanya waktu itu Beliau bisa tidur karena malam di gunakan untuk beribadah.

Sebelumnya Iblis yang meyamar menjadi laki-laki tua itu di layani oleh pegawai pemerintahanya Nabi Dzulkifli.

Namun ia menolak dan meminta Nabi Dzulkifli sendiri yang melayaninya dan mendengarkan keluh kesahnya. Ia tak mau bergerak sedikitpun dari tempatnya sampai Nabi Dzulkifli melayaninya.

Akhirnya dengan sabar Nabi Dzulkifli mendengarkan aduannya hingga habis waktu istirahatnya.

Keesokan harinya iblis yang menyamar menjadi laki-laki tua itu mengetuk kamar Nabi Dzulkifli dengan keras.

Setelah di buka, ia mencaci maki Nabi Dzulkifli dan mengira Beliau akan marah.

Namun Nabi Dzulkifli justru dengan lembut menanyai masalahnya apa dan bersedia mendegarkan keluhannya.

Laki-laki tua itu mengatakan bahwa ia telah di dzalimi kaumnya sendiri dengan begini dan begitu.

Ceritanya begitu bertele-tele sehingga waktu istirahat Nabi Dzulkifli habis untuk menanggapi cerita laki-laki tua itu. Beliau lalu berkata

“Datanglah engkau besok di waktu sore. Ceritakan padaku keluhanmu hingga aku akan mengadili perkaramu di majelis pengadilan seperti biasanya”.

Laki-laki tua itu mengangguk dan menyadari hari itu ia gagal kembali membuat Nabi Dzulkifli marah-marah mengingkari janjinya.

Tidak Datang Pada Pengadilan

Keesokan harinya pada waktu yang disuruh, laki-laki tua itu tidak datang saat Nabi Dzulkifli menunggu dan mencarinya.

Ketika istirahat dan Nabi Dzulkifli akan tidur, laki-laki tua itu kembali mengetuk pintu kamar beliau dengan kencang sambil berteriak mengatakan ia meminta keadilan.

Nabi Dzulkifli membuka pintu dan berkata “Mengapa engkau tak datang saat di majelis peradilan?”

Laki-laki itu menjawab “Kaumku adalah kaum sangat zalim, mereka akan menghakimiku jika aku mengadukan perbuatan mereka di depan banyak orang yang bisa mendengar”

Ia kemudian kembali marah-marah serta berkeluh kesah pada Nabi Dzulkifli hingga waktu istirahat Nabi Dzulkifli kembali habis untuk mendengarkan cerita dari laki-laki tua itu.

Nabi Dzulkifli tetap sabar dan tidak terpancing emosinya meski waktu tidurnya telah di ambil berkali-kali.

Beliau kemudian mengatakan agar laki-laki tua tersebut kembali datang besok pagi atau sore untuk di selesaikan masalahnya.

Keesokan harinya laki-laki tua itu tak datang lagi di waktu peradilan namun datang di waktu istirahat Nabi Dzulkifli. Hal itu berlangsung secara terus menerus.

Namun Nabi Dzulkifli tetap sabar mendengarkan ketika laki-laki tua itu datang.

Sampai akhirnya Nabi Dzulkifli dalam keadaan sangat lelah dan mengantuk, mengatakan pada pengawal serta keluarganya agar tak membolehkan seorangpun untuk masuk ke kamarnya di waktu istirahat karena beliau sangat ingin tidur.

Laki-laki tua itupun datang kembali saat istirahat, namun kali ini di halangi oleh pengawal beserta keluarganya Nabi Dzulkifli.

Iblis Frustasi Menghadapi Kesabaran Nabi Dzulkifli AS

Laki-laki tua itu dengan frustasinya tetap ngotot ingin masuk sampai akhirnya menemukan ada lubang di dinding kamar tempat Nabi Dzulkifli tidur. Ia langsung masuk melalui lubang tersebut dan membangunkan Nabi Dzulkifli yang sedang tertidur.

“Lihatlah ada dimana aku!” kata laki-laki tua tersebut sambil menyeringai.

Nabi Dzulkifli kemudian terbangun dan kaget mengatakan “Bagaimana kau bisa masuk sedangkan pintu kamarku terkunci rapat serta ada pengawalku di luar yang akan menghalangi semua orang yang mau mencoba masuk membangunkanku? Apakah kau musuh Allah?”

Ia berkata “ Benar, Aku adalah Iblis musuh Allah”.

Ia berpikir bahwa dengan pengakuan tersebut Nabi Dzulkifli akan sangat marah terpancing emosinya.

Namun Nabi Dzulkifli tidak marah sedikitpun pada Iblis itu. Akhirnya Iblis itu menyerah untuk membuat Nabi Dzulkifli marah dan mematahkan janjinya untuk menjadi seorang yang tidak gampang terbawa emosi marah.

Begitulah akhirnya, sampai Iblis pun menyerah untuk membuat Nabi Dzulkifli mengingkari janjinya.

Nabi Dzulkifli sampai akhir hayatnya tetap teguh pendiriannya untuk memegang janjinya dan melaksanakannya secara istiqomah.

Kesimpulan

Demikian sekelumit cerita dari sejarah secara singkat mengenai Nabi Dzulkifli. Dari sana kita bisa belajar bahwa memegang janji itu memang tidak mudah dan begitu banyak ujiannya.

Bertubi-tubi jalan yang harus dilewati dan ditempuh. Namun jika diniati secara sungguh-sungguh dan dilaksanakan secara istiqomah, Allah SWT yang akan membantu kita sendiri untuk tetap bisa melaksanakan janji atau amanah itu dengan baik.

Memegang janji adalah salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT, dan salah satu ciri sifat para nabi adalah bersikap amanah. Yaitu dapat dipercaya.

Nabi Dzulkifli telah membuktikan bahwa beliau adalah seorang yang amanah, dapat dipercaya memegang janjinya, bahkan sampai dijuluki “Orang yang sanggup menepati janji”.

Itulah salah satu keistimewaan Nabi Dzulkifli dan kita sebagai umat muslim wajib meneladaninya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang di mampukan oleh Allah SWT untuk memegang janji yang kita ucapkan dan juga amanah dimanapun kita berada.  Aamin Aamin ya Rabbal’alamin.

Sumber : Merdeka, Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *