Si kaya dan si miskin
Kaya dan Miskin (Foto: muslimahdaily.com)

Si Miskin dan Si Kaya, 2 Kisah Islami Yang Menjadi Pelajaran

Diposting pada

Dalam kisah berikut ini, ada yang miskin hendak kaya raya, sementara ada yang kaya ingi segerah menjadi miskin.

Oleh: Ratna Bintari (Alumni FK-UNS)
Penulis Kisah Islami

Beritaku.Id, Kisah Islami – Ternyata, tidak semua orang berharap menjadi orang kaya, ada pula yang berdoa agar menjadi miskin.

Si Miskin yang Ingin Kaya

Keinginan Menjadi Kaya, sebab bosan menjadi orang miskin

Terkisah Tsa’labah Ibn Hathib al-Anshari adalah salah satu dari kaum Anshar yang hidup miskin dan serba kekurangan.

Terlepas dari kondisinya itu, ia merupakan seseorang yang begitu beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Baca juga: Kisah Cinta Ali dan Fatimah: Setelah Tertolaknya 3 Lamaran Orang Kaya

Ia selalu shalat berjamaah hingga mendapat julukan Merpatinya Masjid.

Setiap selesai mengucap salam di akhir shalatnya, Tsa’labah sering bersegera lari meninggalkan masjid.

Rasulullah SAW heran dengan kebiasaan tersebut dan menanyakannya kepada Tsa’labah.

Rasulullah SAW ingin tahu apa alasan dari kebiasaan anehnya tersebut.

Ternyata Tsa’labah hanya memiliki satu kain yang bisa ia pergunakan untuk shalat sehingga ia harus cepat pulang agar istrinya juga bisa shalat dengan tepat waktu.

Pengemis dan Orang Kaya
Ilustrasi Pengemis dan Orang Kaya (Foto: Riaumandiri)

Suatu hari ia mendatangi Rasulullah SAW dan meminta untuk didoakan menjadi kaya.

Mendengar hal tersebut, Rasulullah SAW mengingatkan Tsa’labah bahwasanya harta sedikit namun pandai bersyukur lebih baik daripada harta berlimpah namun kufur nikmat.

Lagipula Rasulullah SAW sebagai suri tauladan kaum muslimin pun hidup dalam kesederhanaan.

Meskipun sangat mudah bagi Rasulullah SAW menjadi kaya jika memang beliau menghendaki harta benda sebanyak apapun.

Tsa’labah akhirnya pulang ke rumah dengan rasa kecewa, namun beberapa saat kemudian ia kembali dan meminta hal yang sama.

Ia tak bosan-bosannya meminta untuk didoakan menjadi kaya oleh Rasulullah SAW.

Dalam permintaannya yang kesekian kali, ada satu hal yang berbeda kali ini.

Ia menambahkan janji bahwa ia akan tetap memberikan hak orang-orang yang membutuhkan apabila ia mendapatkan harta kekayaan yang berlimpah.

Ia terus membujuk dan meyakinkan Rasulullah SAW bahwa ia akan terus istiqamah di jalan kebajikan. Rasulullah SAW memegang janjinya lantas mendoakannya.

Sibuk Beternak

Tak lama setelah doa itu dipanjatkan, Tsa’labah memiliki satu ternak yang ia rawat dengan giat.

Ia pun masih sempat memenuhi panggilan jihad perang Badar. Akan tetapi sekembalinya dari perang, makin lama ternak yang ia miliki berkembang biak dengan pesat hingga kota Madinah tak lagi mampu menampung ternaknya.

Ia pun beternak di suatu lembah dekat kota Madinah. Saat itu ia masih bisa shalat Dzuhur dan Ashar berjamaah.

Kemudian karena ia merawat ternaknya dengan rajin, ternak yang ia miliki terus beranak pinak hingga ia pun dapat membuka peternakan di daerah yang lebih jauh lagi dan tentu ia pun menjadi lebih sibuk lagi dari sebelumnya.

Tsa’labah pun hanya bisa ikut shalat Jumat berjamaah di masjid. Ketika ternaknya bertambah banyak lagi, Tsa’labah bahkan kini tak lagi bisa mengikuti shalat berjamaah dan shalat Jumat.

Saking sibuknya, Tsa’labah hanya sempat bertegur sapa dengan orang-orang yang lewat di daerahnya serta sekedar menanyakan kabar.

Hingga Rasulullah SAW mulai bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada diri Tsa’labah.

Kabar Tsa’labah Sampai Pada Telinga Rasulullah

Si Miskin dan Si Kaya
Ilustrasi Memilih Jalan Antara Menjadi Kaya Atau Miskin (Foto: Pluang)

Kabar tentang Tsa’labah pun sampai ke telinga Rasulullah SAW dan membuat beliau begitu terkejut.

Kalimat yang terus-menerus keluar dari lisan Rasulullah SAW setelah mengetahui perubahan pada Tsa’labah adalah: Celakalah Tsa’labah.

Selain meninggalkan shalat berjamaah, Tsa’labah pun menjadi kikir.

Saat turun firman Allah SWT mengenai kewajiban membayar zakat harta, yaitu surah at-Taubah ayat 103, Rasullullah SAW pun mengutus dua orang lelaki untuk menarik zakat pada kaum muslim.

Mereka berdua membawa surat dari Rasulullah SAW yang berisi tata cara memungut dan membayar zakat harta.

Surat itu oleh Rasulullah SAW di tujukan salah satunya kepada Tsa’labah yang hartanya sudah mencukupi ketentuan untuk dibayarkan zakatnya.

Ketika utusan tersebut sampai di rumah Tsa’labah dan membacakan surat yang mereka bawa, Tsa’labah justru menolak dan berkata bahwa itu hanya suatu bentuk pajak.

Allah pun menurunkan surah at-Taubah ayat 75-77 yang di dalamnya menyindir orang-orang yang berjanji untuk bersedekah apabila di beri kekayaan, namun ketika doa mereka terkabul, justru sikap kikir yang muncul pada diri orang tersebut.

Baca juga: Perempuan Masuk Surga, 8 Yang Di jamin Nabi, Termasuk Keluarga Firaun

Zakat yang Tertolak

Si kaya dan si miskin
Kaya dan miskin (Foto: bijakkatajodoh.blogspot.com)

Rasulullah SAW segera menyampaikan firman Allah SWT kepada para sahabat. Seseorang yang mengenal Tsa’labah kemudian menyampaikan perihal tersebut kepada Tsa’labah.

Ia pun bingung tiada terkira. Tsa’labah sadar bahwa perbuatannya dapat membuatnya celaka.

Ia bergegas pergi menemui Rasulullah SAW dan memohon agar beliau mau menerima zakatnya. Namun sangat di sayangkan, akibat kekikiran dan kecongkakannya, maka zakatnya selalu tertolak.

Setelah Rasulullah SAW wafat, Tsa’labah mencoba membayarkan zakatnya di setiap masa pemerintahan para khalifah. Khalifah pertama, Abu Bakar r.a, menolak zakat Tsa’labah.

Begitu pula pada masa pemerintahan khalifah kedua, Umar bin Khattab r.a, zakatnya lagi-lagi tidak di terima.

Ketika pemerintahan di pimpin oleh Khalifah Ustman bin Affan, Tsa’labah kembali mencoba membawa zakatnya. Namun sudah dapat di tebak bahwa beliau pun tak akan mau menerimanya.

Pada masa pemerintahan khalifah ketiga inilah Tsa’labah akhirnya meninggal tanpa pernah sekalipun membayarkan zakat atas harta yang ia miliki selama ini.

Penyesalan Tsa’labah sangat sia-sia. Ia tidak mendengarkan nasehat dari Rasulullah SAW sejak awal yang mengkhawatirkan orang dapat tiba-tiba berubah hanya karena harta.

Berbagi dengan orang lain dapat di lakukan baik dalam kondisi miskin ataupun kaya.

Terbukti dari kisah Tsa’labah, meski ia kaya maka itu bukan jaminan ia menjadi seseorang yang lebih dermawan dan bersedia menunaikan zakat. Sejatinya, rasa syukur adalah yang kunci utamanya.

Bermohan Untuk Jadi Orang Miskin

Ternyata, ada pula orang yang bermohon untuk tidak menjadi kaya raya, sebab ia menyadari pertanggung jawaban harta di hari akhirat adalah sangat berat.

Orang kaya
Ilustrasi: Mimpin Menjadi Orang Kaya (Foto: Okezone)

Kegundahan Si Kaya

Sangat bertolak belakang dengan kisah Tsa’labah, tersebutlah salah seorang sahabat nabi yang sangat kaya dan dermawan, yaitu Abdurrahman bin Auf.

Meskpun demikian, ia justru merasa gundah karena Rasulullah SAW pernah bersabda.

Bahwa pada hari kebangkitan dan penghitungan amal semasa hidup, orang kaya akan lebih lama di hisab karena lebih banyak harta yang di mintai pertanggungjawaban.

Terlebih lagi Rasulullah SAW menyebutkan bahwa beliau bersama dengan orang-orang fakir dan miskin.

Oleh karena hal itu, Abdurrahman bin Auf berpikir bahwa dia ingin menjadi miskin agar tidak berlama-lama dalam penghitungan amal di yaumul hisab nanti.

Ia pun berdoa meminta kepada Allah SWT agar menjadi orang miskin sehingga dapat selalu bersama Rasulullah SAW.

Kedermawanan Abdurrahman Bin Auf

Abdurrahman bin Auf merupakan orang yang sangat dermawan. Ia menjadi kaya bukan karena pelit dan menimbun harta.

Ia menggunakan hartanya untuk memenuhi kebutuhan logistik selama Perang Tabuk.

Ia juga menyambut dengan senang hati seruan Rasulullah SAW untuk berinfak di jalan Allah.

Abdurrahman bin Auf menyumbangkan separuh hartanya ketika perintah berinfak bagi umat Islam pertama kali turun.

Seratus orang veteran Perang Badar juga mendapat santunan dari Abdurrahman bin Auf. Dengan masing-masing orang mendapatkan sekitar 400 dinar.

Kekayaan Abdurrahman bin Auf merupakan hasil dari kepintarannya dalam berbisnis.

Harta yang ia miliki ia hasilkan dari sektor perdagangan. Semua bisnis yang ia kelola tak pernah gagal dan selalu menghasilkan keuntungan yang berlimpah.

Walaupun ia telah mendonasikan hartanya, ia tetap dengan sukarela ikut berperang demi membela Islam, mulai dari Perang Uhud hingga Perang Badar.

Harta yang Berlipat Ganda

Cita-cita Abdurrahman bin Auf untuk menjadi miskin sepertinya semakin jauh dari kenyataan.

Abdurrahman bin Auf merasa harta kekayaannya justru semakin berlipat ganda setelah ia menggunakannya di jalan kebenaran.

Ia pusing mencari cara untuk menghabiskan hartanya.

Suatu hari di masa setelah Perang Tabuk usai, tumbuhan kurma yang harusnya siap panen justru menjadi busuk karena di tinggalkan para sahabat turun ke medan jihad.

Harganya pun anjlok dan kabar dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru kota Madinah. Kabar ini juga sampai ke telinga Abdurrahman bin Auf.

Abdurrahman bin Auf bergegas membuat pengumuman. Ia bersedia membeli semua kurma busuk yang di jual padanya dengan harga buah kurma normal.

Tentu saja warga kota Madinah segera menyambangi kediaman Abdurrahman bin Auf untuk menjual kurma-kurma busuk milik mereka.

Seperti yang telah ia umumkan sebelumnya, ia membeli semua kurma busuk yang di tawarkan padanya hingga hartanya ludes tak bersisa.

Abdurrahman bin Auf merasa sangat lega melihat kenyataan bahwa yang ia miliki sekarang hanyalah tumpukan kurma busuk.

Ia bersyukur karena doanya telah di kabulkan oleh Allah SWT. Begitu pula dengan para sahabat yang merasa tertolong dengan keputusan yang di buat oleh Abdurrahman bin Auf.

Kurma busuk yang awalnya mereka khawatirkan tidak akan laku, ternyata masih dapat mereka jual ke Abdurrahman bin Auf.

Kurma Busuk Terjual 10 Kali Lipat

Namun kemiskinan seakan bermusuhan dengan Abdurrahman bin Auf. Satu hari setelah ia berhasil mengganti hartanya menjadi kurma busuk, datanglah seorang utusan dari negeri Yaman ke kota Madinah.

Utusan tersebut menyampaikan kabar bahwa telah terjadi wabah penyakit aneh di negeri Yaman yang menurut dokter dapat di obati dengan buah kurma busuk.

Utusan dari negeri Yaman tersebut mengumumkan bahwa negeri Yaman sedang sangat membutuhkan buah kurma busuk untuk mengobati wabah aneh yang menjangkiti negerinya.

Mereka bersedia membeli sepuluh kali lipat dari harga buah kurma normal di pasar.

Lantas semua warga di kota Madinah yang mendengar pengumuman tersebut.

Segera menyuruh utusan itu pergi ke rumah Abdurrahman bin Auf, karena mereka tau semua kurma busuk di kota Madinah telah di beli olehnya.

Utusan tersebut langsung membeli semua kurma busuk milik Abdurrahman bin Auf dengan harga sepuluh kali lipat dari harga buah kurma yang biasanya. Sama seperti yang mereka janjikan dalam pengumuman yang beredar.

Harta Abdurrahman bun Auf yang awalnya habis, kini justru semakin berlipat ganda.

Ia semakin kaya raya hingga tak ada seorangpun yang mampu menandinginya.

Siapa yang mengira buah kurma busuk akan bisa terjual dengan harga yang begitu tingginya?

Abdurrahman Bin Auf Takut Menjelang Ajalnya

Menjelang kematiannya, Abdurrahman bin Auf bahkan menangis. Bukan karena takut menghadapi kematian, melainkan ia bersedih jika harus wafat dalam keadaan yang masih bergelimang kekayaan.

Ia merasa Mush’ab bin Umair lebih baik darinya karena meninggal tanpa memiliki apa-apa bahkan sehelai kain kafan pun tak ia punyai.

Begitu pula dengan Hamzah bin Abdul Muthalib.

Abdurrahman bin Auf takut jika sesungguhnya kenikmatan dunia berupa harta benda dan kekayaannya merupakan suatu nikmat yang di segerakan di dunia.

Ia juga takut apabila pada hari penghitungan amal nanti ia akan terpisah dari para sahabat hanya karena hartanya yang lebih banyak dari orang lain.

Demikian dua yang menginspirasi, antara Si kaya dan Si miskin, semoga bermanfaat untuk kita semua. Ternyata harta hanyalah bunga-bunga dunia, yang harumnya akan datang namun akan pergi entah kemana.

Referensi:

  1. Lifepal
  2. Merdeka
Bagikan Ke