Khotib Pada Khutbah Jumat
Khotib Membawakan Teks Pada Khutbah Jumat (Foto:Tirto)

Struktur Teks Khutbah Jumat, 5 Rukun, Hukum, Pembagian, Dan Cara

Diposting pada

Khutbah Jumat merupakan amalan yang harus memperhatikan hukum serta rukun yang mengatur untuk kaum muslim laki-laki. Dalam teks pun, terdapat pembagian serta tata cara, yang merujuk pada teknik untuk khatib.

Beritaku.id – Berita Islami, Tuhan, Allah Azza wajala telah mengajarkan kepada Rosul-Nya untuk menyeru satu dua bait agar ummat muslim mendapat hikmah untuk hidup mereka lewat khutbah Jumat. Hal tersebut turun temurun, menjelma menjadi kewajiban Muslim laki-laki untuk saling menyeru kebaikan dalam waktu berkhutbah.

Oleh Ayu Bumiayu (Penulis Berita Islami)

Islam merupakan ajaran yang sangat indah, sangat teratur, serta memperhatikan aspek-aspek kecil dalam hidup manusia.

Allah mengatur manusia sedemikian rupa, guna mendapatkan syafaat dan keselamatan dari-Nya saat akhirat datang menemui mereka.

Allah akan mencatat amal baik mereka dan menyuruh para malaikat turun ke bumi untuk mencatat hingga aspek yang lebih detail.

Namun saat majelis memulai untuk melaksanakan khutbah, para malaikat-malaikat tersebut berhenti mencatat, dan mulai mendengarkan tentang materi apa yang akan di bahas dalam majelis tersebut.

Dari hal itu, kita bisa mengartikan bahwa betapa pentingnya sebuah khotbah saat sholat Jumat, hingga membuat para malaikat berhenti sejenak mencatat amal baik manusia di dunia.

Baca juga beritaku:Pidato Khotbah dan Ceramah: Perbedaan 3 Jenis Dakwah Dan Contoh

Maka, tidak ada salahnya jika kita membahas lebih dalam mengenai Khutbah ini.

Bagian Khutbah Pertama
Bagian Khutbah Pertama Pada Jumatan (Foto: Detik)

Rukun Khutbah

Sungguh mulia bagi orang-orang yang berangkat dan menjadi orang pertama yang ada dalam majelis  saat sholat Jumat tiba, dan mereka mendengarkan khutbah yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah. Menguatkan iman dan taqwa, serta menanamkan pada dirinya tentang nilai-nilai dari materi khutbah sebagai warning dalam hidup agar senantiasa berada pada jalan kebenaran yang Allah ridhoi.

Namun sebelum itu, ada beberapa rukun khutbah yang perlu kita pahami dan taati, sehingga khutbah yang kita berikan kepada ummat bisa tersampaikan dengan benar.

Maka rukunnya antara lain:

Memuji Allah

Khotbah tanpa memuji maka tidak akan sempurna. Memuji kebesaran Allah saat khutbah pertama serta khutbah ke dua.

Dalam riwayat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, mengatakan bahwa saat khutbah pertama dan kedua, menyarankan untuk mengawalinya dengan memuji Allah seraya mengucapkan Alhamdulillah, nahmadu Lillah, Innalhamda Lillah, dan sebagainya.

Sholawat Kepada Rasulullah

Melantunkan shalawat Nabi pada khutbah ke dua, hal ini harus dilakukan oleh seorang khatib jumat.

Khatib, saat melaksanakan khutbah, pada khutbah kedua adalah melantunkan Shalawat Nabi sebagai pembukanya. Bahkan salah satu hadist mengatur bagaimana pelafalan shalawat Nabi yang bisa kita pakai saat melaksanakan khutbah sholat Jum’at.

Shighatnya membaca shalawat Nabi tertentu, ialah komponen kata berupa as-shalatu, serta isim dhamir dari beberapa asma Nabi Muhammad SAW..”

Wasiat Ketakwaan

Berwasiat mengenai ketakwaan kepada Allah

Untuk hal ini, prinsipnya ialah mengajak para ummat Muslim untuk selalu bertakwa kepada Allah serta menjauhi larangan yang tidak Allah sukai.

Menurut Syekh Ibrahim Al-Bajuri tentang hal ini, ialah: “Kemudian berwasiatlah pada ketakwaan. Belum ada ketentuan khusus dalam pendapat yang shahih.

Syekh Ibny Qasim mengatakan bahwa ummat muslim harus berkumpul atas seruan taat serta menghimbau untuk menghindari maksiat.

Sebab, takwa ialah mengerjakan perintah-Nya serta mengindari larangan-nya, padahal tidak demikian pada kesimpulannya.

Cukup menyampaikan salah satu pendapat yang sesuai dengan pendapat Syekh Ibnu Hajar.

Bukan hanya sebatas menghindarkan dari dunia serta segala tipu daya yang ada menurut ulama…”

Ayat Suci Alquran

Membaca ayat suci Al-Qur’an pada salah saat berkhutbah. Membaca Al-Qur’an saat pada salah satu khutbah, menjadi sebuah keharusan dengan tujuan materi khutbah bisa tersampaikan dengan baik serta mengandung banyak poin penting. Untuk jamaah sholat jumat.

Ayat Suci Al Quran Pada Khutbah
Terdapat Ayat Suci Pada Khutbah Jumat (Foto: Merdeka)

Dan saat membaca ayat suci Al-Qur’an, banyak yang menyarankan untuk membaca ayat Al-Qur’an secara sempurna agar makna yang terkandung pada ayat tersebut bisa tersampaikan langsung kepada jamaah sholat Jumat.

Seperti dalam riwayat hadist mengatakan “Rukun keempat ialah membaca satu ayat dengan tujuan memberikan pemahaman serta makna yang sempurna. Ayat-ayat tersebut dapat berupa janji-janji, ancaman, cerita, maupun sebuah hikmah dari ayat tersebut. Terkecuali ayat “tsumma nadhara”, atau “abasa” yang tidak memiliki pemahaman yang sempurna.

Dalam membacakan ayat Al-Qur’an lebih utama dilakukan pada khutbah pertama dengan penempatan pada khutbah kedua, agar ummat dapat mengerti keberadaan doa untuk kaum mukmin pada khutbah ke dua..”

Berdoa

Berdoa untuk para kaum mukmin saat selesai khutbah. Rukun yang terakhir adalah berdoa untuk para mukmin dengan tujuan agar selamat saat akhirat datang ke dunia pada saat khutbah terakhir. Untuk pemilihan doa awalannya, bisa menggunakan “Allahumma Ajirna Minnannar”, dsb.

Hukum Khutbah Jumat

Banyak sekali pendapat mengenai hukum dari khutbah Jum’at. Ada yang mensyariatkan untuk menghadiri khotbah Jumat.

Dan bagi mereka yang tidak bisa, maka harus melakukan shalat Jumat hadist riwayat dari berbagai ulama.

Lalu yang kedua adalah, tidak masalah jika tidak bisa menghadiri khutbah Jum’at.

Jadi, jika ada seseorang yang hanya bisa melaksanakan shalat Jumat, maka sudah dianggap sah serta amalan sholat Jumat sudah cukup. Hal tersebut juga merujuk kepada pendapat para ulama serta riwayat hadist, seperti riwayat hadist Abu Hanifah, dsb.

Pembagian Struktur Teks Khotbah Jumat

Khutbah memiliki struktur penting yang tersusun dalam bagian-bagiannya. Sebab berbeda antara khutbah dengan pidato maupun ceramah.

Pada dasarnya Khotbah pada sholat Jumat adalah wajib.

Ada beberapa teori yang membahas mengenai pembagian struktur teks untuk khotbah Jumat ini.

Salah satunya dari teori argumentasi oleh Abdul Rani, mengatakan bahwa ada lima unsur pembagian struktur khutbah Jum’at, yaitu:

Pernyataan

Merupakan sebuah kebenaran yang khotib ucapkan kepada para jamaah sholat Jumat, dengan memaparkan beberapa alasan mendasar dengan tujuan untuk memperkuat kebenaran yang khotib kemukakan tersebut.

Dalam pernyataan juga terbagi atas tiga dasar, yakni (1) fakta, (2) nilai-nilai, (3) tentang kebijakan.

Dalam bentuk ini, masuk dalam kajian komunikasi argumentatif, yang berisi dalil dan fakta serta alasan kuat.

Pada posisi inilah, harus ada Ayat Alquran, yang masuk dalam struktur ini. Atau bukan hanya hadits.

Alasan

Alasan, merupakan argumentasi kuat. Jawaban dari pertanyaan kenapa (why), maka narasi jawabannya mengandung alasan dan penjelasan: karena, sebab dan sebagainya.

Adalah sebuah bukti yang khotib paparkan kepada para jamaah khotbah Jumat dengan tujuan untuk memperkuat argument mengenai kebenaran yang khotib katakan dalam pernyataannya.

Hal ini biasanya berbentuk eksperimental, ilmu pengetahuan yang khotib dapat, maupun hasil uji dari sebuah penelitian.

Argumen Dalam Khotbah
Argumen Sebagai Penguat Pernyataan (Foto: Dede)

Namun yang paling baik adalah menggunakan Hadist, sebab pernyataan pada awal (diatas). Akan terdapat hadist yang mendukung pernyataan tersebut.

Pembenaran

Pembenaran merupakan sebuah pernyataan yang merujuk kepada kaidah-kaidah yang ada, dengan tujuan sebagai pertahanan antara alasan serta pernyataan.

Suatu pembenaran disini, berfungsi sebagai salah satu hal yang bisa jamaah shalat jumat terima dengan menggunakan logika mereka, serta dapat membuat mereka berpikir secara rasional.

Pembenaran ini berisi tambahan hadist atau kisah sahabat Rasulullah atau Nabi lainnya.

Baja juga beritaku:Urutan Lengkap 25 Nabi dan Rasul, Daftar Wajib Diketahui dan Kisahnya

Dukungan

Dukungan dalam hal ini, ialah senjata sebagai penguat dari ketiga aspek tadi. Hal ini biasanya berupa sebuah pengalaman dari khotib, ataupun orang lain, lalu berupa hasil wawancara dengan narasumber yang valid, dan sebagainya.

Dukungan maksudnya adalah yang memberikan gagasan penguat pada pembenaran dan alasan.

Modal

Merupakan sebuah bentuk dari frasa yang memberikan efek derajat kualitas pada pernyataan serta alasan yang khotib paparkan kepada jamaah sholat jumat.

Modal ini terbagi atas dua jenis, antara lain: Modal kepastian, serta modal kemungkinan. Oleh karenanya bentuk dari frasa modal ini antara lain: sangat mungkin, kiranya, rupanya, sejauh ini, masuk akal, dan sebagainya.

Lebih kepada pembahasan futuristik atau berbicara pada masa depan.

Tata Cara Khutbah Jumat

Khotbah jumat akan terlaksana pada saat setelah adzan berkumandang. Saat yang sama, khotib harus mempersiapkan diri untuk berdiri dan mulai menyampaikan beberapa materik khutbah Jum’at kepada jamaah sholat Jumat.

Pelaksanaan Khotbah
Kegiatan Sholat Jumat (Foto:Bumiayu)

Maka ada beberapa peraturan cara saat melakukan khotbah Jumat saat berada di mimbar.

  1. Khotib harus menyampaikan materi khutbah Jum’at dengan tidak memberikan sikap arogan, bahkan menyampaikan materi khutbah Jumat seperti sedang orasi.
    Cukup tawadhu agar semua materi tersampaikan dengan baik.
  2. Materi yang khotib sampaikan kepada Jamaah sholat Jumat haruslah yang bermanfaat bagi mereka.
  3. Mengajak para Jamaah untuk berdoa bersama untuk keselamatan ummat Muslim yang ada di dunia saat hari kiamat tersebut datang. Dengan memberikan isyarat kedua tangan menengadah saat akan melakukan doa bersama.

Apakah Isi Khutbah Dibaca Atau Dihafal?

Dalam sub ini, ada banya sekali pendapat yang memiliki value masing-masing, dan keduanya bisa khotib pakai untuk menyampaikan isi dari materi khotbah Jumat kepada para jamaah sholat Jumat.

Maka, kita bahas dari yang menghafal terlebih dahulu.

Kita berkaca saat zaman Nabi Muhammad SAW. Beliau merupakan seorang khatib yang sangat terhormat karena kemampuan beliau dalam menghafal.

Rosul tidak pernah mengajarkan para sahabat dan ummat terdahulu untuk membaca isi khotbah Jumat, selalu terlihat tidak membawa apa-apa ke depan mimbar.

Hal ini memberikan pandangan kepada para jamaah sholat Jumat, bahwa beliau memang benar-benar menguasai materi yang beliau sampaikan kepada ummat.

Hal tersebut turun temurun kepada sahabat-sahabat Nabi dalam melakukan khutbah Jum’at.

Dari hal tersebut apa yang bisa kita simpulkan? Yakni sebuah kepercayaan diri serta pandangan dari para jamaah tentang kemampuan kita. Kita bisa terlihat siap dengan materi yang kita berikan kepada para jamaah.

Selain itu kita juga bisa mengondisikan para jamaah untuk bisa memperhatikan apa yang kita ucapkan kepada mereka, dan membuat mereka bisa lebih paham mengenai materi khutbah.

Model Membaca

Lalu selanjutnya adalah teknik membaca.

Namun, kelemahannya adalah khotib terlihat kaku, serta biasanya gerak-geriknya sangat terlihat sedang menghafal teks isi bacaan khutbah. Apalagi jika dari awal khotib sudah merasa gerogi, dan sebagainya.

Biasanya mereka akan sedikit lupa mengenai materi yang akan khotib sampaikan kepada para Jamaah sholat Jumat.

Teknik ini ada setelah perubahan zaman, dengan kemajuan teknologi serta penemuan-penemuan baru bermunculan.

Teknik ini menitikberatkan pada pembacaan isi dari materi khutbah Jumat kepada para jamaah.

Tujuannya sama, yakni memberikan pemahaman kepada para jamaah mengenai materi yang khotib sampaikan, serta mereka bisa mengambil hikmah dari materi tersebut. Namun, untuk metode ini memiliki kelemahan tersendiri.

Salah satunya adalah pandangan para jamaah mengenai kesiapan dari khotib mengenai penguasaan materi yang khotib tersebut berikan kepada para Jamaah. Mengiingat pandangan Khotib tidak tertuju kepada para Jamaah.

Sehingga hal tersebut menjadikan mereka melakukan hal yang sama, yakni tidak memperhatikan apa yang khotib katakan. Juga akan terlihat kaku, mengingat khotib sangat terpatok dengan teks bacaan materi khutbah Jumat.

Kesimpulan

Jadi, mau menggunakan teknik membaca atau menghafal, hal tersebut kembali lagi kepada khotib.

Hal tersebut merujuk kepada kenyamanan khotib saat menggunakan salah satu teknik tersebut, apakah mereka nyaman menggunakan teknik menghafal, atau lebih terbantu dengan menggunakan teknik membaca.

Baca juga beritaku: Kalimat Penutup Islami: Pidato, Ceramah, 3 Organisasi Mahasiswa

Yang terpenting adalah, isi materi bisa tersampaikan kepada Jamaah sholat Jumat, dan mereka bisa mengambil hikmah dari materi tersebut, serta bisa mengimplementasikan ke kehidupan sehari-hari mereka.

Sekian ulasan kali ini, semoga menginspirasi.

Referensi: Republika, Islam.Nu.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *